Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Sebuket Krisan di Senja Gerimis


Bismillahirrahmanirrahim
Sebuket Krisan di Senja Gerimis
Oleh: Amerul Rizki dan Eros Rosita



Maghrib masih menyisakan gerimis tipis yang menyatu bersama senja berwarna ungu di pematang rumput. Guguran daun flamboyant terserak di antara mahkota krisan yang sudah separuh gundul, berwarna kuning gading. Aku memetik bunga itu, melepaskan sisa mahkotanya hingga menyisakan permukaan bulat yang berlubang halus. Masih ada sisa benih tertancap di sana. Aku mendesah, membuang bunga itu dan meninggalkannya dalam kondisi memprihatinkan. Bau ampo berbaur dengan aroma oceanic yang tercium samar-samar. Bau itu masih sama.
Degup itu kembali terasa. Gerimis tipis mengantarkan kakiku berlari ke dalam rumah. Nafasku terengah. Aroma oceanic itu kembali membuyarkan semuanya, aroma itu kembali menyeretku untuk selalu memperhatikannya. Dan di sana, di atas meja kecil tepat di samping tempat tidurku, bunga itu masih ada. Dengan vas mungil berbatik biru laut.
Aku duduk di tepi tempat tidur. Masih kupandangi krisan kuning itu. Selalu... Jika gerimis mencumbui senja di sepertiga maghrib yang hening dan aroma oceanic itu samar-samar membelai penciumanku, aku akan berlari masuk, dan memandangi krisan dalam vas mungil itu.
Krisan itu kini kering. Namun seakan aku masih bisa mencium aromanya, meski mungkin itu hanya halusinasi. Gemetar kuraih krisan itu, kuhirup perlahan, dan kutimang pelan-pelan. Ini krisan terakhir yang ia berikan untukku. Krisan itu, masih akan terus kusirami, meski dengan air mata.
Aku bisa mendengar degup jantungku. Merasakan kecamuk itu kembali memburu, seperti perasaan dua bulan silam ketika ia memperkenalkan cinta padaku. Bayangan itu mengabur kembali. Semua berlalu secepat detik stopwatch.
***
"Happy birthday, My Princess." Telapak tangan hangat itu menutup seluruh penglihatanku, membuat semburat senja ungu dan gerimis daun flamboyant berubah menjadi gelap. 
Aku meraba pergelangan tangan itu dengan hati-hati, menyentuh jari-jarinya yang kurus dan panjang, merasakan ada aliran darah yang berjalan di sana. Aroma oceanic itu merebak, lembut. Tidak salah lagi. Ia menyungkurkan kepalaku ke dadanya, seolah ia ingin aku mendengar degup jantung itu, degup jantung yang mendadak menjadi lullaby sewaktu aku akan menutup malam dengan satu tarikan nafas lega. Ia mencintaiku.
Ia memberikan kembali warna senja ungu yang selama ini aku tatap, menghadirkan kembali serpihan daun flamboyant yang gugur perlahan mengenai rambut ikalku.
"Look at this," dan sebuket krisan berwarna kuning gading mengaburkan pandanganku.
Aku tersenyum. Krisan yang cantik.
"Secantik air mata senja," katanya. Aku menatapnya. Meminta penjelasan akan kata-katanya dengan sorot mataku. Tapi ia hanya memberikan senyumnya, dan menyungkurkan kepalaku kembali ke dadanya.
"I love you..." Ia kembali mengatakan itu, dengan desah yang serak.
Aku bahagia. Hanya itu yang kurasakan ketika itu. Membiarkan perasaan ini menjadi satu dalam aliran darahku. 
***
Ia segera menyembunyikan kertas itu ketika aku akan membacanya. Dan seperti biasa, ia hanya akan tersenyum. 


"Hari ini tidak ada gerimis. Tapi sebentar lagi senja. Would you like...?" kuikuti ekor matanya yang melirik sepeda unta tuanya.
Kulengkungkan bibirku. Ia genggam tanganku, hingga bisa kurasakan ada sesuatu yang menjalar, masuk dalam aliran nadiku. Lalu aliran itu mengikat seluruh darahku, menjadi segumpal senja yang selalu saja gerimis. Ia memboncengku dengan sepeda unta tuanya, menyusuri jalan kecil yang saat itu tak lagi berlumpur. Padi di sawah masih menguning. Dan akan lebih kuning ketika senja tiba.
"Apakah kau sudah memikirkannya dengan matang?" Aku mempererat lengkungan tanganku di pinggangnya. "Apakah kau sudah memikirkan semuanya?" suaraku tertahan di tenggorokan, serak.
Ia mengenggam tanganku dengan satu tangannya yang hangat. "Aku berjanji akan pulang secepatnya. Aku akan melamarmu setelah itu. I promise you," desahan suaranya bercampur dengan gemericik air di sepanjang persawahan.
Aku mempererat pelukanku, menarik bajunya seolah aku tak ingin ia pergi secepat itu. Krisan itu memantulkan warna senja, kelopaknya gugur dan tertinggal di sepanjang jalan, menemani jejak roda sepeda yang melaju menembus angin. Aku tak ingin kau pergi. Suaraku tertahan di dalam hati.
***
Malam itu, laki-laki itu enggan memejamkan mata. Masih ia pandangi dua helai kertas di tangannya. Yang satu adalah sebuah tiket kereta ke Jakarta. Ya, ia mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan otomotif di kota besar itu. Dengan gelar Sarjana Teknik, memang kadang ia merasa ilmunya sia-sia jika hanya menetap dan menghabiskan hidup di desa kecil seperti ini. Hanya satu yang membuatnya bertahan. Krisanti... Gadis bermata senja yang selalu mencoba memeluk gerimis di sepertiga maghrib. 
Ia pandangi kertas yang lain. Ini yang sempat dilihat oleh gadis itu. Namun ia berharap, gadis itu tak mengerti dengan apa yang ada dalam kertas itu. 
Lelaki itu menghela nafas. Haruskah ia pergi? Ia tidak ingin. Ia hanya perlu menghabiskan waktu bersama Krisanti. Kalau toh ia pergi, ia harus pergi bersama Krisanti. Tapi, itu tidak mungkin. Belum mungkin untuk saat ini. Dan lagi, ia memang harus pergi, jika ia masih ingin bertahan hidup. 
Lagi, ia pandangi selembar kertas itu. Berisi obat-obat yang harus ia tebus.
***
Jatuh cinta itu seperti menyuntikkan jarum heroin ke dalam pembuluh darah sehingga menimbulkan candu yang mematikan. Setidaknya itu yang aku rasakan ketika aku mengenalnya sekaligus mengetahui bahwa ia akan pergi sebentar lagi. Bunga krisan kuning itu masih setia menatap gerimis yang hadir pada kaca bening kamarku. Aku menyibak korden berwarna abu-abu dan mendapati ia berdiri di sana dengan syal kotak-kotak berwarna merah dan sebuket krisan kuning yang sudah hampir layu di tangannya.
Kulihat ia menepukkan tangannya ke sadel sepeda, dengan matanya yang mengerling ke arahku. Aku tersenyum.
Tak lama, kami sudah ada di tepian sawah, duduk di samping sepeda untanya. Sepoi angin melambaikan rambutku.
“Aku percaya, kita telah ditakdirkan untuk bersama.”
“Kau pintar berbohong,” aku menyikut lengannya dengan lembut.
Dia mengusap rambutku, lantas mendaratkan lengannya ke bahuku.
“Apa aku terlihat sedang berbohong?” katanya dengan ujung mata yang mengerling, ujung mata itu memantulkan cahaya senja yang berwarna jingga. Aku suka menatap senja dari matanya, senja yang terlihat lebih hidup.
Lalu, ia mendesah. Pelan.
“Aku akan pergi, Krisan.” Senja tak lagi berwarna jingga saat aku mendengar perkataan itu. Perkataan polos yang terlontar dari sebuah suara serak yang basah.
Aku menelisik ke setiap pupil matanya, mencari kebohongan yang ia sembunyikan, tapi nihil. Matanya masih sama.
“Maukah kau berjanji padaku?” ia mendesah, matanya tak pernah lepas dari mataku. Aku merasakan perasaan dingin yang tiba-tiba menjalar dari tangannya. “Kau akan menungguku kan? Sampai aku kembali?”
Aku membuang tangannya dengan marah. “Kau ini bicara apa?”
“Maafkan aku, Krisan, tapi aku tak bisa berada di sini terus.”
Dan itulah saat paling menyesakkan saat kau merasakan jatuh cinta. Cinta seringkali menjebak kita pada dua pilihan yang sulit.
Dalam remang-remang gelombang air yang memenuhi mataku, aku melihat cairan merah tersembul dari sudut bibirnya.  
"Uhuk..." Lagi, cairan itu pekat. Darah.
Kutangkap tubuhnya. Aku melihat bulir bening memenuhi pelipisnya, juga dahinya. Aku mengusapnya, merasakan cairan itu dingin. Kenapa dia? 
"Uhuk!"
"Kau tidak bisa pergi!" geramku. Mataku memanas, menahan rintik yang ingin jatuh.
“Aku tak apa-apa, kau tak usah khawatir, Krisan. I’ll be fine.”
Ia mengeluarkan sapu tangan, dan mengusap bibirnya. Kupeluk tubuhnya. Erat. Aku tidak ingin melepaskannya!
***
Apa aku harus merasa bahagia karena telah membiarkannya pergi? Atau aku akan menyesal karena melakukan tindakan paling bodoh seumur hidup? Aroma oceanic yang melekat pada bunga krisan kering itu semakin memudar. Aku kembali menutup korden abu-abu itu. Lelaki itu sudah tidak ada. Akulah yang terlalu naïf. Akulah yang selama ini bersikap egois hingga perasaan alam bawah sadarku  menjelma menjadi sebuah imajinasi bahwa ia ada di sana, dengan syal kotak-kotak berwarna merah dengan sebuket krisan kuning yang hampir layu di tangannya. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur empuk berseprei biru langit. Detik jam memenuhi kamarku, hanya detik itu yang melekat jelas, detik yang kurasakan berjalan begitu cepat.
“Apa lebih baik aku pergi ke Jakarta untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja?”
***
Kertas berlogo kereta api itu telah penuh oleh bercak berwarna merah. Lembaran-lembaran resep dan butiran obat tercecer di atas meja kerja. Di depan meja itu terdapat komputer yang masih menyala, setangkai bunga krisan kuning yang sudah layu dan juga sebuah foto gadis berkepang dua yang membentuk siluet senja di pematang sawah. Kamar itu kosong. Hanya terdengar suara gerimis yang menampar kaca di ruangan itu, irama gerimis yang tenggelam oleh irama radio streamer yang tak lagi jernih.
***
Kukuatkan lagi tekadku. Sebuah tiket kereta ekonomi telah kugenggam. kupandangi sekeliling stasiun yang begitu ramai dengan hiruk pikuk calon penumpang.
Kulangkahkan kakiku memasuki gerbong kereta nomor satu, tepat di belakang lokomotif putih yang gagah.
Sudah penuh. Tidak ada tempat duduk lagi. Atau mungkin memang tidak ada tempat duduk untuk penumpang sepertiku?
Arian, kau masih baik-baik saja kan? Aku tidak bisa menunggumu, Arian. Kau yang harus menungguku. Masih ada waktu kan untuk sebentar saja menungguku sampai?
Braaaaakkkk!! Goncangan keras terjadi. Tubuhku oleng. Setelahnya, aku tidak merasakan apa-apa. 
***
Dok! Dok! Dok!
Lelaki bersyal itu mengetuk pintu. Tak lama, pintu terbuka.
"Arian? Kata Krisan, kamu ke Jakarta?" perempuan paruh baya yang membuka pintu itu bertanya dengan heran.
"Uhuk... Tidak jadi. Saya... ingin menikah dengan Krisan." Matanya sayu.
"Kamu bicara apa? Bukankah Krisan menyusulmu ke Jakarta?"
Mata pria itu terbelalak. Kepalanya kian terasa nyeri. Perih.
***
Aku melihatnya di sana, menatap senja dengan mata yang layu. Ternyata kau di sini? Gerimis terpantul samar, putih, ringan, lembut, seperti salju-salju yang turun di musim dingin. Ada semburat jingga yang tersembunyi di dalam bulir bening itu. Dia menggenggam sebuket krisan berwarna kuning yang hampir layu. Kelopak bunga itu separuh gundul, beberapa kelopaknya tercecer di dekat kaki jenjangnya yang sangat aku kenal. Sebuah sepeda unta terparkir manis, menutup bahunya yang bidang. Bahu yang sangat aku rindukan.
“Arian?” Aku mendekat ke arahnya. Ada goresan warna mejikuhibiniu di ufuk barat, sebelum mengabur menjadi warna ungu.
“Kenapa kau tak mau menungguku?” ia terisak. Sapu tangan itu ia remas dengan sangat marah. Aku melihat urat-urat nadi itu menyembul secara tidak rata.
Lidahku mendadak kelu ketika suaranya tertahan di tenggorokan. “Bukankah aku sudah berjanji aku akan menemuimu? Tapi kenapa kau menyusulku?” Tangan kurus itu mengusap bulir bening yang membasahi pelupuk matanya.
Aku hendak menyentuh pundaknya ketika suara itu mulai menggerakkan buku-buku jariku. Mengepal.
“Uhuk, uhuk, uhuk.”  Dia menutup mulutnya. Dan bercak merah itu sudah menghiasi sudut bibirnya, juga pergelangan tangannya.
“Aku mencintaimu, Krisan.” Suaranya masih serak dan berat.
“Arian, aku di sini. Apa kau baik-baik saja?” Aku memeluknya, merengkuh punggungnya. Tapi, samar. Aku seperti memeluk angin. Aku menyentuhnya berkali-kali, tetap sama. Aku tidak bisa menyentuhnya.
Aku melihat bercak darah itu semakin melumer, membasahi kerah bajunya.
“Lelucon macam apa ini?” Ada kecamuk yang memburu dadaku, kecamuk yang menjelma menjadi tangisan parau.
"Uhuk!" satu batuk lagi terdengar sangat keras. Sapu tangannya kuyup oleh merah.
"Aku... membencimu karena kau tidak menungguku! Padahal... uhuk... kau tahu, aku tidak pergi, Krisan! Aku masih di sini..."
"Aku juga di sini, Arian!" suaraku seperti orang yang berteriak. 
"Uhuk!" Ia terjatuh, lemas, mencium tanah yang basah oleh gerimis.
"Ariaaaan!!" Kucoba memeluknya lagi. Tapi aku seperti memeluk asap. Aku gusar.
Maghrib telah memburu malam. Ada pendar cahaya putih di ufuk barat, berkilau. Gerimis itu semakin menampar wajah-wajahnya yang penuh bercak merah. Aku melihat bulir bening menetes dari ujung pelupuk matanya. Sebuah bulir bening yang memantulkan cahaya senja.
Senja masih merah, dengan bulir gerimis membasahi tanah, pun membasahi hatiku yang entah merasakahan apa. Sapu tangannya tergeletak di sampingnya. Merah. Darah.
***
Kuletakkan kembali krisan yang telah memudar aroma oceanic-nya. Aku sudah hampir terbiasa, tapi tetap, bayang itu tidak juga hilang. Bayang ketika aku menyadari kereta diam yang kutumpangi itu dihantam oleh kereta lain yang salah jalur. Bayang ketika kulihat jasadnya yang tersenyum masuk ke dalam tanah, dan disiram dengan bunga merah. Ahh…
Kembali kubuang mataku keluar jendela. Berharap masih ada sisa kenangan di sana. Dan...
Sebuah siluet yang aku kenal, berjalan gagah ke arahku. Mata senja itu tak akan mungkin aku lupakan, juga senyum pelanginya. Yah, lelaki itu mendekat ke arahku. Dengan syal kotak-kotak berwarna merah, juga sebuket krisan kuning yang masih segar.
"Kau masih menungguku kan?" suaranya samar, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Ia memberiku senyum yang sangat aku rindukan.
Bulir bening mengaliri pipiku. Aku berlari, dan menubruknya dengan keras. Ia memelukku, erat. Selalu, Arian... Aku menunggumu, di bawah senja yang selalu gerimis, dengan sebuket krisan yang telah kering… 
***


Madiun, 070211
(Dimuat di Majalah Story, edisi ke... lupa! :P )

0 comments :

Post a Comment