Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Di Bawah Hujan


Bismillahirrahmanirrahim

                Apa yang sudah kamu lakukan pada saya? Sejak mengenal kamu, hari murung saya selalu penuh dengan tawa. Minimalnya, sekadar senyuman kecil.
                Sejauh ingatan saya, kita hanya berbagi canda. Berbagi tawa. Berbagi bahagia. Kamu senang mengirimi saya kata-kata yang selalu membuat bibir saya melengkung, bahkan sakit perut menahan tawa. Kamu terlihat puas ketika berhasil membuat muka saya memerah.
                Saya masih ingat, kamu berlari dari belakang, menyenggol bahu saya, lalu berbalik menghadap saya. Kamu julurkan lidah kamu. Kamu mengejek saya. Saya tersenyum, mengejar kamu yang sudah berlari seperti kuda. Ya, larimu seperti kuda. Bahkan saya tidak pernah bisa menyaingi larimu ketika saya tantang kamu balap lari bersama.

Mawar Hitam


Bismillahirrahmanirrahim



Mencintaimu seperti merasakan pagi. Semula dingin, lalu berangsur hangat ditemani cahaya fajar yang mulai mengintip. Jangan kamu tanya mengapa cinta itu bisa hadir. Saya pun tidak tahu. Dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu.  Pasti akan begitu sulit.
               
Tahukah kamu, saya sulit melepaskan senyum manja kamu? Atau, wajah merona yang kamu hadirkan ke hadapan saya. Atau, terkadang sentuhan kamu ke pundak ataupun punggung saya saat kamu sedang gemas pada saya.

Kamu...


Bismillahirrahmanirrahim

               
                Kereta saya masih melaju. Menuju stasiun yang selalu hujan ketika saya tiba. Entah mengapa, tahun ini hujan begitu angkuh. Turun semaunya. Tapi, saya suka. Karena saya akan melihatmu lari tergopoh-gopoh menghampiri saya yang sudah menunggu di depan loket. Kamu selalu datang terlambat. Saya tidak marah. Saya tidak pernah kecewa. Karena saya suka melihat wajahmu yang bersemu merah saat mengantar payung itu dengan berlari. Karena saya senang melihatmu menyeka air hujan yang menyentuh pelipismu.
                Dan kini, di bulan Juni yang kering, masihkah saya akan mendapati hujan di stasiun itu? Rasanya mustahil. Hanya ada angin kencang yang begitu kering. Juga terik yang membakar kulit.
                AC di kereta ini tak mampu menyejukkan tubuh saya. Kamu tahu sebabnya kan? Ini gara-gara kamu. Karena kamu tidak mau menjawab telepon saya. Karena kamu enggan menjawab sms saya. Karena Facebookmu pun sekarang tak pernah lagi kamu sentuh. Kemana kamu? Kenapa seakan sulit sekali ingin bertemu denganmu, meski hanya dalam maya?
                Hei, tidak ingatkah kamu, ketika awal-awal kita mengikatkan sumpah? Tak ada sehari tanpa suaramu. Karena hariku hanya berisi kamu.