Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Mata Itu Memerangkap Senja


Bismillahirrahmanirrahim

               
Mungkin, kali ini akan menjadi senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja. Saya bisa melihat bias senja itu di matanya, seperti rona yang pernah saya lihat hadir di wajahnya. Saat itu. Saat saya sedang menikmati nyanyian hujan di peron stasiun ini.

Tapi, ia pergi. Tanpa nama, hanya salam selamat tinggal. Basa basi. Memangnya saya siapa? Toh saya dan dia memang sama sekali tidak pernah saling mengenal. Hanya pertemuan singkat, dan obrolan yang tidak begitu jelas itu saja yang mengirimkan suasana hangat di antara kami. Begitu kereta datang, dia pergi. Saya memperhatikan ketika dia naik ke kereta. Saya masih bisa melihatnya dari jendela kereta, ketika dia sibuk mencari tempat duduk miliknya. Dan saya hanya berani mengulum senyum, lalu mengalihkan pandangan pada rel yang basah di emplasemen sana.

Pagi di Balik Jendela


Bismillahirrahmanirrahim


            Pagi ini terasa begitu berbeda. Bahkan tetesan embun yang masih diam di dedaunan pun, terasa jauh lebih menyejukkan mata saya.
            Pagi ini berbeda. Kicau burung di dahan-dahan itu, serasa menyenandungkan nada lain yang mewakili hati saya.
            Di balik jendela kamar, saya tersenyum. Menyandarkan kepala ke pinggir jendela, menanti matahari menampakkan diri.
            Perasaan macam apakah ini? tanya saya pada diri sendiri. Jawaban yang saya cari belum juga mampu saya temukan. Berkali-kali sudah saya bertanya pada Tuhan, tentang apa yang sedang terjadi pada diri saya. Tapi tampaknya, Dia masih ingin saya belajar mencari tahu sendiri.
            Hhh… Saya hela napas. Asap tipis menguar perlahan dari hembusan napas saya. Terbang perlahan, menjauh, tinggi, kemudian samar menghilang.