Bismillahirrahmanirrahim
Mungkin, kali ini akan menjadi senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja. Saya bisa melihat bias senja itu di matanya, seperti rona yang pernah saya lihat hadir di wajahnya. Saat itu. Saat saya sedang menikmati nyanyian hujan di peron stasiun ini.
Tapi, ia pergi. Tanpa nama, hanya salam selamat tinggal. Basa basi. Memangnya saya siapa? Toh saya dan dia memang sama sekali tidak pernah saling mengenal. Hanya pertemuan singkat, dan obrolan yang tidak begitu jelas itu saja yang mengirimkan suasana hangat di antara kami. Begitu kereta datang, dia pergi. Saya memperhatikan ketika dia naik ke kereta. Saya masih bisa melihatnya dari jendela kereta, ketika dia sibuk mencari tempat duduk miliknya. Dan saya hanya berani mengulum senyum, lalu mengalihkan pandangan pada rel yang basah di emplasemen sana.