Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Rindu Milik Leo


Bismillahirrahmanirrahim



            Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.

            Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.

            Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.

            Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.

            Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
-=O=-