Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

[Masih] Tentang Aleya


Bismillahirrahmanirrahim



“Kamu harus menerima. Popularitasmu sudah menurun drastis, Aleya!”

Kalimat itu masih menggema di telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya. Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.

Aleya bangkit dari tempat tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.

Tapi ia hanya diam saja. Hanya memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah, setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia mulai ditinggalkan.

Tepian Tegar


Bismillahirrahmanirrahim



ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat mata. Mampu kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.

Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka, justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah yang mulia?

Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar, dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan ketakutan yang entah dari mana datang.

Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!

Be My Valentine!


            Be My Valentine…

            Suara itu kembali berdesah di telinganya. Aliran hangat nafas meraba pipinya. Gadis itu menarik nafasnya yang memburu. Susah payah ia telan ludahnya. Seluruh persendiannya terasa kaku. Jantungnya seperti dipompa melebihi kapasitas.

            Kini, sosok itu berada di depan Gita. Mata itu… Itu bukan mata yang selama ini Gita lihat. Itu bukan mata seseorang yang selama ini menyimpan kehangatan. Mata yang kini tengah berkilat memandanginya, seperti menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini, belum Gita mengerti hakikatnya.

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Laki-laki itu menyeringai.

            Brengsek! Kata itu hanya tertahan di kerongkongan Gita. Ia meronta. Tapi percuma, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa.

Rindu Milik Leo


Bismillahirrahmanirrahim



            Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.

            Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.

            Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.

            Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.

            Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
-=O=-

Sebuket Krisan di Senja Gerimis


Bismillahirrahmanirrahim
Sebuket Krisan di Senja Gerimis
Oleh: Amerul Rizki dan Eros Rosita



Maghrib masih menyisakan gerimis tipis yang menyatu bersama senja berwarna ungu di pematang rumput. Guguran daun flamboyant terserak di antara mahkota krisan yang sudah separuh gundul, berwarna kuning gading. Aku memetik bunga itu, melepaskan sisa mahkotanya hingga menyisakan permukaan bulat yang berlubang halus. Masih ada sisa benih tertancap di sana. Aku mendesah, membuang bunga itu dan meninggalkannya dalam kondisi memprihatinkan. Bau ampo berbaur dengan aroma oceanic yang tercium samar-samar. Bau itu masih sama.

Dark Butterfly


Bismillahirrahmanirrahim

 By: Amerul Rizki dan Eros Rosita



            Clár memandangi wajahnya yang memantul di atas air, di tepian danau berwarna hijau. Tanpa senyum. Wajahnya sedikit sembab, ada guratan berwarna hitam melingkari matanya. Ia memainkan kecipak air tanpa semangat. Kakinya tenggelam sebagian ke dalam air, rambutnya yang merah membuat pantulan yang sangat jelas di danau itu.

            Musim gugur, cuaca di sekitar kastil Dunluce sedikit lembab. Gadis kecil itu melihat seekor kupu-kupu yang melintas di sampingnya. Seekor kupu-kupu berwarna biru dengan garis-garis hitam di sekitar sayap, juga badannya. Matanya yang secoklat musim gugur terkesiap-siap. Kupu-kupu itu mendarat di rambutnya, dan ia menyukainya. Kini, ia tersenyum. Saat kupu-kupu biru kembali mengepakkan sepasang sayap cantiknya, perlahan menjauhi Clár, gadis itu mengejarnya. Ia berlarian di tepian danau hijau, dengan senyum yang masih ia sungging.