Bismillahirrahmanirrahim
“Kamu harus menerima. Popularitasmu
sudah menurun drastis, Aleya!”
Kalimat itu masih menggema di
telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia
sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.
Aleya bangkit dari tempat
tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia
duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin
besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski
sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena
smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila
dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput
dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.
Tapi ia hanya diam saja. Hanya
memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah,
setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia
mulai ditinggalkan.