Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Satu 'Atap' Kok Beda?



Bismillahirrahmanirrahim


Sudah lama sekali gak mengikuti kajian langsung di masjid. Mumpung ada waktu luang di hari Ahad, okelah ayo ngaji bareng istri. Kita pun berangkat. Alhamdulillah, kayaknya sih kajiannya baru mulai. Tapi ya mungkin gara-gara lama gak ngaji rutin, jadinya waktu satu jam saja sudah terasa lamaa banget. Sampai ngantuk-ngantuk. xD

Selesai shalat Dhuhur, kita pulang dong. Lapar pisan. Lalu tiba-tiba, istri cerita, kalau dia ketemu dengan temannya di tempat akhwat tadi. Alhamdulillah, akhirnya istri saya gak bakal sendirian lagi kalau ngaji di tempat akhwat. Seenggaknya ada yang dia kenal.


Dan sampailah pada cerita yang membuat saya agak mengernyitkan dahi.

SMS (yang Ternyata) Alay


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, istri buka-buka hape saya. Lihat-lihat history smsnya. Dia nungguin lamaa banget sampai akhirnya ketemu dengan apa yang dia cari. Ternyata, dia pengen baca lagi sms-sms pertama kita. Berarti sms tahun lalu. Wew….

Setelah ketemu dengan apa yang selama ini ia cari (halah!), kita pun ngakak baca sms-sms awal kita. Ya ampun, geli banget deh baca sms sendiri saat belum resmi menyandang status suami-istri. Ngakak juga saat baca sms yang saya kirim pertama kali pasca ijab qabul. Haha, serius itu saya yang nulis?

 Alay kaaan?? xD

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.

Ilmu Dulu Deh!

Bismillahirrahmanirrahim

Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.


Dalam Islam, pemakaian akal itu gak dilarang. Justru akallah yang membedakan kita dengan makhluk selain manusia. Tapi pemakaiannya harus pada tempatnya. Mafhum dipahami, bahwa akal harus tunduk pada dalil. ‘Ali ibn Abi Thalib saja pernah bilang, yang intinya, jika akal adalah sumber utama, maka seharusnya yang dibasuh ketika wudhu adalah bagian bawah sepatu, bukan bagian atasnya (karena Rasulullah memerintahkan bagi yang memakai sepatu, bisa berwudhu tanpa harus melepas sepatu, dengan membasuh bagian atasnya).

Sayangnya, sebagian saudara kita, ada yang ‘tergesa-gesa’ dalam berpendapat. Mereka banyak baca. Dari berbagai sumber tentunya. Mereka merasa paham dan mengerti, padahal sejatinya mereka sedang berada dalam sebuah kebingungan akut. Akhirnya, kesalahan terfatalnya, adalah mereka berani bicara, bahkan melakukan judgement pada beberapa hukum dalam Islam, atau pada beberapa kelompok dalam Islam, hanya dengan berdasar apa yang dibaca dan apa yang dipahami oleh akal sempitnya.

Ambil contoh, ada yang mengatakan, “Islam itu moderat. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.” Ini betul. Karena Islam memang merupakan agama pertengahan. Islam tidak terlalu keras seperti Yahudi, ataupun terlalu lunak seperti Nashrani. Islam itu tengah-tengah.

Yang jadi permasalahan, ketika membahas sebuah masalah, ‘dalil’ itu juga dipakai untuk ‘menyerang’ kelompok yang tidak sepemahaman dengan jalan pikir mereka. Kita ambil contoh, tentang penolakan Miss World misalnya. Orang-orang dengan modal akal, seringkali saya dengar mencaci ormas-ormas Islam yang menolak penyelenggaraan Miss World. Mereka menyebut ormas-ormas itu adalah Islam yang kolot, konservatif dan primitif, yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak bisa bertoleransi. Hmm... padahal nih ya, orang-orang dalam ormas-ormas tersebut adalah mereka yang sudah dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari ulama-ulamanya, baik secara langsung ataupun melalui guru-gurunya. Sedang mereka yang mengatai kolot konservatif itu, menjejakkan kaki di majelis ilmu saja gak pernah. Gimana bisa mereka ‘menilai’ sebuah kelompok, kalau tolok ukur penilaiannya hanya berdasar akal yang tiap orang gak sama?

Contoh lain, tentang jilbab. Ada yang berpendapat, bahwa pemakaian jilbab itu wajib, tetapi harus diiringi dengan kesiapan dan kemantapan hati. Mereka dengan pedenya membawakan dalil dari Al Quran tentang perintah untuk mengenakan jilbab. Mereka meyakini kewajibannya. Tapi untuk memakainya, mereka butuh kemantapan hati. Mungkin, istilah kerennya, pengen ‘menjilbabi hati’ dulu kali ya? -_-

Oke, pantesan aja, orang banyak yang gak shalat. Mungkin, dasar mereka sama. Shalat itu wajib, tapi pelaksanaannya menunggu kemantapan hati mereka untuk melaksanakannya. Jadi, kalau gak mantap-mantap, gak ‘terpanggil’ juga, mereka gak akan shalat. Sama kan logikanya? Ntar nyesel lho, kalau hatinya belum ‘terpanggil’ juga, tapi sayangnya nyawanya udah dipanggil duluan. :3

Tentang jilbab lagi, yang berdasar pada akal manusia yang sempit. Dulu saya pernah mendengar, ada yang mengatakan, “Temen-temen gue banyak yang berjilbab, tapi akhlaknya kayak gitu. Pacaran, suka ngebogongin temen, suka marah-marah.” Oke, jadi ini masalah lingkungan, yang kemudian digeneralisir oleh akal, bahwa kebanyakan perempuan ‘berjilbab’ zaman sekarang adalah seperti apa yang ada di pikiran mereka.

Kalau mau sama-sama pakai akal, coba deh mereka ini cari pergaulan dengan teman-teman baru yang bener-bener shalih. Coba ikut ngaji deh. Saya jamin, pemikiran dangkal seperti itu bakalan berubah. Karena yang akan mereka lihat adalah perempuan-perempuan tangguh yang konsisten dengan jilbabnya, menjaga harga dirinya.

Orang yang gak berjilbab, belum tentu akhlaknya buruk. Orang yang berjilbab, belum tentu juga akhlaknya baik. Tapi setidaknya, dengan mereka berjilbab, mereka akan berusaha menjadi baik, memperbaiki akhlak dan keimanannya.

Logikanya begini. Ada seorang pasien yang divonis menderita sebuah penyakit. Dokter mewajibkan dia mengkonsumsi sebuah obat, yang dia gak suka banget. Tapi demi kesembuhannya dari penyakit, akhirnya, biarpun sebenernya hatinya menolak, tetep dia laksanakan juga. Awalnya mungkin dia masih ogah-ogahan. Tapi lama kelamaan, setelah dia bener-bener merasakan manfaat dari obat yang dikasih dokter tadi, dia jadi nyaman-nyaman aja, karena nyatanya penyakitnya berangsur sembuh. Setelah sembuh, dia masih harus mengkonsumsi vitamin atau apalah gitu, supaya penyakitnya itu gak kembali. Dan dia laksanakan itu, karena itu sebuah kewajiban demi dirinya sendiri.

Sama halnya dengan jilbab. Jilbab bisa saja mengobati penyakit hati lho. Katakanlah, saat ini hatinya masih gak siap dengan jilbab. Tapi karena wajib, ya ‘terpaksa’ dia kerjakan juga. Lama-kelamaan, dia belajar, gimana sih pakai jilbab yang bener? Gimana sih seharusnya sikap seseorang yang berjilbab? Mungkin aja pembelajarannya ini juga masih dalam keadaan ‘terpaksa’, karena hatinya yang belum mantap tadi. Tapi lama-lama, saat dia udah mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya, penyakit-penyakit hatinya jadi semakin lama semakin sembuh, dia akan dengan senang hati memakai jilbab, dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Demi dirinya sendiri juga kan? :)

Ada lagi yang bilang, bahwa Islam adalah agama yang fleksibel. Wew... fleksibel? Jadi kalau orang ke kiri, kita juga ke kiri. Orang ke kanan, kita juga ke kanan. Orang nyebur sumur, kita juga nyebur sumur? Kan fleksibel. -_-

Mungkin maksudnya dalam hal toleransi ya? Hmmm... toleransi pun ada batas-batasnya, dan ini yang gak dipahami oleh mereka yang suka asal bicara tanpa punya kapasitas ilmu yang cukup.

Udahan ah ngoceh paginya. Udah waktunya mandi dan ngantor. Eh iya, saya pernah denger seorang ulama salaf berkata, yang intinya, barang siapa yang gurunya adalah buku, maka salahnya lebih banyak dari benarnya. Jadi, belajar dengan seorang pembimbing, tentu lebih baik kan? ;)


Ngawi, 270913

Sunnah Style For Men

Bismillahirrahmanirrahim


Sebagai orang yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini, yang serba globalisasi, banyak banget kan invasi-invasi fashion dari dataran Eropa dan Amerika yang serta merta jadi tren, dan kemudian diikuti oleh sebagain kita? Biasanya sih, yang jadi ‘korban’ fashion adalah kaum wanita. Tapi jangan salah, Gan, kaum pria juga banyak kok yang ikut-ikutan tren. :p

Nah, berhubung kayaknya udah sering dan banyak banget ya yang bahas fashion wanita dalam Islam itu seperti apa, kayak tulisan saya tentang jilbab dan cadar kemaren, maka di tulisan kali ini, saya pengen ngobrolin tentang fashion buat para pria dalam Islam. Tapi kali ini, saya mencukupkan pada 2 fashion item yang seringkali disindir oleh masyarakat awam. Apa itu? Jenggot, dan celana ngatung!


Jenggot

Beberapa waktu lalu, keluar sebuah peraturan baru dari perusahaan saya yang mengatur penggunaan seragam dan tata cara berpakaian pegawai. Salah satu yang mengusik saya, adalah poin yang menyiggung tentang kumis dan jenggot. Intinya, bagi pegawai yang berkumis, berjambang atau berjenggot, harap mencukur rapi.

Ternyata bukan cuman saya yang terusik, tapi seorang teman saya yang masinis pun juga ketar-ketir dengan aturan itu. Secara, dia gak pernah memotong jenggotnya, sehingga jenggotnya sekarang panjang. Memotong jenggot, bagi dia sama halnya dengan dosa. Karena setahu saya, dia termasuk orang yang memegang pendapat bahwa memelihara jenggot itu wajib, dan tidak boleh dicukur.

Jenggot, dimiliki hampir seluruh laki-laki di Bumi ini, kecuali mereka yang emang terlahir dengan dagu dan wajah ‘polos’ dan ‘licin’, yang diusahakan bagaimanapun juga jenggot gak bisa numbuh di wajah mereka. Tapi jenggot menjadi kekhususan tersendiri bagi ummat Islam. Kenapa? Karena memang ada perintah dari Rasulullah untuk memelihara jenggot.

Salah satu dasar yang masyhur tentang sunnahnya memelihara jenggot ini, adalah hadits yang menyebutkan tentang 10 hal yang termasuk ke dalam fitrah manusia. Dan memelihara jenggot adalah salah satu hal fitrah tersebut. Banyak juga hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis.

Makanya, gak heran, kebanyakan orang yang disebut sebagai ulama, adalah mereka yang berjenggot. Entah panjang atau pendek, yang pasti ada jenggotnya. Yah, kecuali yang emang ‘licin’ tadi ya.

Jenggot juga merupakan pembeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkumis? Udah jamak kita jumpai. Tapi perempuan berjenggot? Dikit banget kan, karena hanya mereka dengan kelainan hormonal saja yang mengalaminya.  Makanya, dalam banyak hadits sering disebutkan bahwa anak laki-laki yang masih kecil itu mirip perempuan. Ya karena dia belum punya jenggot, dan suaranya pun masih kecil persis perempuan.

Saya sering disindir temen, yang nanya kenapa saya memelihara jenggot dan gak mencukurnya kecuali terpaksa. Sebagian temen menimpali bahwa itu sunnah. Sebagian lagi mengatakan, bahwa jenggot kita adalah tempat bergelantungannya para bidadari di surga nanti. Allahu a’lam deh. Untuk alasan kedua itu saya kok belum pernah nemu haditsnya ya? -_-

Tapi, bener gak sih, jenggot sama sekali gak boleh dicukur? Sebagian ulama emang gak membolehkan mencukur jenggot, karena lafadz-lafadz hadits dengan tegas mengatakan a’ful liha, peliharalah jenggot. Imam Nawawi –salah satu ulama dari madzhab Syafi’i- malah mengatakan bahwa seluruh kata tersebut maknanya sama, yakni biarkan saja sebagaimana adanya, tanpa harus diusik alias dicukur. Sebagian ulama lagi, mengatakan bahwa jenggot itu sunnah, tapi mencukurnya juga gak apa-apa, karena bukan sebuah kewajiban.

Nah, karena saya gak pengen terjebak dalam dilema khilafiyah seperti itu, saya ambil kesimpulan: jenggot itu sunnah, kalau bisa sih gak usah dicukur, dan hanya dicukur untuk merapikan jenggot yang posisinya gak karuan, atau karena terpaksa. Jika terpaksa mencukur, kalau bisa jangan sampai tercukur habis (kecuali terpaksaaaa banget).

Makanya, saya take it easy aja sama peraturan baru dari perusahaan yang saya singgung di atas itu. Yang diperintah sama perusahaan kan dirapikan, dan merapikan itu kan gak harus dicukur habis toh? Yang penting kan kelihatan rapi, dan saya udah rapi kok (menurut saya). So, saya sih nyantai aja. :p


Celana Ngatung

Ini fashion item pria yang cukup mencolok juga. Celana di atas mata kaki!

Dasar pemakaian fashion item yang satu ini cukup jelas juga. Banyak hadits yang mengatakan bahwa kain yang berada di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Banyak juga yang menyebutkan, bahwa Allah tidak akan mengajak bicara pada hari kiamat nanti, salah satunya adalah pada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Dan masih banyak lagi. Ente bisa gugling sendiri deh, Gan. :p

Tapi, sama halnya dengan masalah jenggot tadi, masalah yang satu ini pun gak lepas dari ranah khilafiyah alias perbedaan pendapat dan pandangan. Banyak ulama yang mengatakan bahwa yang dilarang hanyalah mereka yang melakukan isbal –mengulurkan pakaian melebihi mata kaki- dengan diiringi kesombongan saja yang diharamkan, kalau melihat pada nash hadits. Tapi juga gak sedikit, yang berpendapat bahwa isbal itu haram pada semua keadaan, baik karena sombong ataupun enggak. Bahkan dengan dia mengisbal kainnya saja, itu sudah masuk dalam kategori kesombongan, meski tanpa dia sadari.

Saya pribadi sih mendingan gak usah isbal-isbalan deh. Emang sih, banyak hadits tentang isbal, yang seringkali diiringi kata-kata ‘karena sombong’. Tapi banyak juga hadits yang lafadznya umum, yang gak mencakup kesombongan aja, dan hadits-hadits itu juga shahih. Sampai-sampai Al Hafizh Ibnu Hajar –seorang ulama dari madzhab Syafi’i juga- membuat kesimpulan dalam Fathul Bari, tentang 2 ketentuan batasan kain untuk laki-laki:
  • Dianjurkan, dengan mencukupkan diri pada pertengahan betis,
  • Diperbolehkan, yaitu hingga mata kaki.
Batasnya sampai mata kaki, Bro! Asal gak sampai di bawah mata kaki, insya Allah masih gak apa-apa. Celana dengan panjang segitu, kayaknya juga udah cukup panjang kan ya? Lagian, banyak kok manfaatnya gak isbal ini. Di antaranya:

  • Merasa tenang; karena niatnya mengikuti sunnah,
  • Gak ribet; seringkali pas beli celana kan panjangnya sampai lantai tuh, dan itu ribet banget kalau buat saya mah, karena harus melipat celana lagi biar gak nyentuh lantai dan gak keinjek sepatu,
  • Lebih bersih; karena gak menyentuh sepatu, apalagi lantai, alhasil jadinya lebih bersih dan lebih aman dari najis. ^_^
Ada sebagian besar orang, terutama yang mulai mengenal Islam, yang panjang celananya sampai di bawah mata kaki, tapi saat shalat mereka lipat celananya sampai ke atas mata kaki. Mungkin, anggapan mereka, hanya saat shalat saja kita wajib mengangkat kain ke atas mata kaki, karena emang ada hadits yang mengatakan bahwa orang yang shalat dalam keadaan isbal, mereka berada dalam keadaan yang tidak dihalalkan dan tidak pula diharamkan Allah. (Sipp... silakan gugling haditsnya)

Saya juga gak nge-judge mereka-mereka yang masih tetap isbal. Mungkin, mereka termasuk orang yang mengambil pendapat bahwa isbal itu boleh asalkan gak sombong. Nah itu Aa’ Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry Al Buchori –rahimahullah-, dan masih banyak lagi, celana dan sarungnya juga isbal. Nah, makanya itu saya gak nge-judge apalagi negative thinking. Beliau-beliau ini dikenal sebagai ulama lho, yang pasti keilmuannya gak diragukan lagi. Jadi pasti udah paham masalah kayak gini, dan juga sudah mengambil sikap. Tugas kita adalah menghormati sikap tersebut. Betul?

Yang menyedihkan itu, ada orang yang penampilannya nyunnah banget. Jenggot lebat, pakai gamis atau jubah, celana pakai sirwal yang longgar dan ngatung. Tapi selalu memandang negatif pada mereka-mereka yang jenggotnya tercukur, dan celananya isbal. Parahnya, menganggap dirinya lebih baik dalam hal pengamalan agama, karena tampilannya yang nyunnah itu. Hoho... apa itu malah bukan sebuah kesombongan yang terselubung, Gan? :p

Prinsip saya sih satu: kalau kita mampu, kenapa kita enggan melaksanakan sunnah yang sudah jelas pahalanya? Kalau gak bisa melaksanakan seluruhnya, ya minimalnya sebagiannya kita kerjakan. Insya Allah, hidup kita lebih tenang deh. Gak pakai galau-galauan lagi. :D



Ngawi, 150913


Muslimah Bercadar Itu Keren!

Bismillahirrahmanirrahim

 
Dulu, saya pernah sedikit membahas tentang aneka bentuk 'jilbab' yang tersebar di dunia Islam saat ini. Sekarang, saya ingin fokus pada satu topik yang lebih rinci. Tentang selembar kain. Bukan yang menutupi kepala seorang muslimah, melainkan yang menutupi wajahnya. Ya, ini tentang cadar, purdah, ataupun niqab.

Dulu, mungkin tahun 2008, saya punya blog di wordpress. Dan saya pernah mengunggah tulisan saya ke blog itu tentang cadar. Nama blognya apa, saya sendiri udah lupa. Yang pasti, tulisan saya tentang cadar waktu itu, kesannya ‘menggurui’ banget. Jauh berbeda dengan gaya tulisan saya yang jauh lebih santai kayak sekarang ini. :p

Lalu, emangnya sekarang apa sih yang mau saya obrolin tentang sehelai kain kecil penutup wajah itu? Haduh... apa ya? Saya sendiri kok jadi bingung. O.o


Dasar Pemakaian Cadar

Seperti yang sudah saya singgung di tulisan-tulisan saya yang lain, bahwa blog ini hanya berisi sharing saja, dan seringkali tidak menghadirkan teks dalil. Tapi insya Allah, yang saya sampaikan ini ada dalil yang menyertainya. Hanya saja, untuk teks lengkapnya, silakan gugling sendiri. Mbah Gugel kan pinter banget kalau disuruh nyari-nyari. :D

Dasar utama para pengguna cadar, adalah perintah Allah pada para muslimah untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuh mereka (Al Ahzab: 59). Dari sinilah, sebagian ulama berkesimpulan bahwa seluruh tubuh seorang muslimah adalah aurat. Tapi kemudian dibantah dengan hadits Asma’ binti Abu Bakr yang masyhur itu, bahwa wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

Selain itu juga banyak riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa para ummahatul mukminin dan sebagian shahabiyah di masa Rasulullah, menutup wajah mereka dari pandangan laki-laki ajnabi. Syaikh Al Albani menyebutkannya dalam 2 buku, Jilbab Al Mar’atul Muslimah dan Ar Raddul Mufhim.

Intinya, memakai cadar memang memiliki dasar dalam Islam, dan bukan sekadar budaya Arab. That’s it!


Wajibkah?

Hohoho... maap yeee... di sini bukan tempatnya bahas khilafiyah dalam fiqh. Sebagian ulama memang ada yang mewajibkan, tapi sebagian menganggapnya mustahab alias sunnah saja. Mau ngikut yang mana? Silakan dicari dalil-dalil dan penjelasannya sendiri ya... :)

Saya pribadi sih, mengikuti pendapat yang menganggap bahwa menutup wajah itu hukumnya mustahab saja, gak sampai wajib.


Serem dan Eksklusif

Beberapa orang di zaman sekarang ini, ternyata masih saja ada yang menganggap bahwa orang yang bercadar itu kelihatan serem. Seluruh pakaiannya berwarna gelap, panjang-panjang, masih ditambah wajahnya tertutup pula. Wajar sih kalau dianggap serem.

Ada juga yang menganggap pemakai cadar itu cenderung tertutup alias eksklusif. Mereka jarang mau bicara dengan orang lain, terutama laki-laki selain suaminya. Bener gak sih?

Soal serem? Hmm... okelah, ini subyektif banget. Tapi coba lihat deh dokter-dokter dan perawat-perawat di Rumah Sakit. Seringkali kita lihat mereka pake baju putih-putih, panjang, dan wajahnya ditutupi masker. Tapi kita ngelihatnya juga biasa aja kan? Terus kenapa kalau ada muslimah bercadar kita anggap serem? Karena bajunya hitam? Lah kalau bajunya putih, bisa jadi kita malah kencing berdiri. Apalagi pas ngelihat di kegelapan malam, tiba-tiba muncul sesosok serba putih yang mukanya gak kelihatan. Nah lho! -_-

Eksklusif? Hmm... emangnya ente siapanya dia, berani ngajakin ngobrol? Lagian yang diobrolin apaan dulu? Saya pribadi, menganggap ‘keeksklusifan’ mereka itu sebagai sesuatu yang classy, berkelas. Iya, mereka itu muslimah-muslimah berkelas, yang gak sembarangan bisa diajak ngobrol sama laki-laki yang gak mereka kenal. Ente pengen ngajak ngobrol Mariah Carey, yang diva dunia itu? Gak mungkin kan? Nah, muslimah bercadar itu jauh lebih berharga lho daripada sekadar diva dunia. Mereka ini divanya surga kali. #eeeaaaaa :D


Teroris

Ah, itu mah issue lama. Dulu, setelah bom Bali, emang sih istri-istri para tersangka itu pada pakai cadar. Dari situ, masyarakat menggeneralisir bahwa teroris itu berjenggot panjang, bercelana ngatung, dan perempuannya bercadar. Anggapan yang enggak banget.

Tapi setelah film Ayat-ayat Cinta booming pada 2008, sedikit banyak sepertinya masyarakat mulai tahu, bahwa ternyata seorang perempuan bercadar, memang ‘hanyalah’ perempuan ‘biasa’ seperti perempuan pada umumnya. Hanya tingkat iman dan pakaian saja yang membedakan mereka.

Setelah itu, booming juga sinetron-sinetron yang menampilkan tokoh bercadar. Hah... penyakit industri pertelevisian di Indonesia kan gitu; latah! -_-


Macam-macam Penutup Wajah

Banyak sih. Ada cadar yang satu sisinya udah dijahit di tepi jilbab bagian wajah, dan sisi lain dikasih kancing, sehingga bisa dibuka-tutup. Ada juga yang sudah dipatenkan menyatu dengan jilbabnya, gak bisa dilepas, tapi bisa dibuka-tutup karena dikasih resleting di sisi samping. Ada yang mengikatkan purdah ke dahinya, sehingga mata juga tertutup. Ada yang wajahnya sudah tertutup, tapi ditambah lagi dengan menarik kain tipis di atas jilbabnya untuk melapisi penutup wajahnya, sehingga mata juga ikutan tertutup. Ada yang kayak dipakai Aisha di film Ayat-ayat Cinta. Ada pula yang seperti dipakai sama perempuan-perempuan Afghanistan. Banyak deh. Terserah mau pakai yang mana. (eh, emang abis baca ini ada yang mau pakai ya? :D)
 

Mereka Muslimah Tangguh

Para muslimah bercadar itu memang muslimah-muslimah tangguh. Kebayang gak sih apa yang harus mereka hadapi saat mereka memutuskan untuk memakai cadar? Mulai dari keluarga yang mungkin syok dengan keputusan putrinya, kemudian tetangga-tetangga yang pastinya berkasak-kusuk, kesulitan mencari pekerjaan, pandangan aneh dari orang-orang saat berada di keramaian, dan sebagainya. Tapi para muslimah bercadar itu mencoba gak menghiraukan pandangan manusia, karena yang mereka cari adalah pandangan Allah pada mereka. Jika mereka belum bersuami, satu-satunya hal penting yang harus mereka yakinkan adalah kesiapan orang tuanya. Jika orang tuanya merestui, insya Allah, dada mereka akan lapang meski mendapat cemoohan dari orang lain.

Dulu, saya pernah mendengar seseorang bicara pada saya, tentang pendapatnya mengenai perempuan yang berjilbab dan bercadar, “Saya paling gak suka sama orang yang meninggalkan tradisi asli tempat dia dilahirkan dan justru membawa tradisi Arab! Sombong sekali, wajah saja gak kelihatan!” Di pikiran saya, kesannya justru pernyataan dia ini yang menyiratkan kesombongan. Ah, tapi mungkin karena dia juga belum ngerti sih apa dasar pemakaian jilbab dan cadar itu. :)

Di negeri barat sono, jangankan cadar, memakai hijab aja masih banyak yang membenci, yang merupakan efek dari Islamophobia. Jadi, muslimah yang berani bercadar di sana, apalagi kata yang tepat selain ‘keren’ dan ‘tangguh’?

Hanya muslimah tangguhlah yang akan bersedia menutupi wajahnya dari pandangan manusia, selain mahramnya, karena mereka yakin mereka melakukan sesuatu yang benar. Para istri Rasulullah melakukan ini. Para shahabiyah juga sebagian melakukan ini. Nyatanya, tidak ada larangan dari Rasulullah tentang menutup wajah, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan itu, bahkan merupakan sunnah yang disukai jika diniatkan untuk mengikuti jejak para istri Rasulullah.

Mereka ini muslimah tangguh yang super keren. Mereka menutup semua pintu fitnah, bahkan sampai celah terkecil sekalipun. Siapa yang akan tertarik dengan penampilan mereka? Mereka gak peduli kecantikan di mata manusia. Mereka sudah merasa cantik, dengan mempersembahkannya pada suaminya saja. Keren kan?!

Gimanapun juga, selalu, saya merasa kagum pada muslimah-muslimah tangguh itu. Yang istiqamah dengan jilbab lebarnya saja, saya sudah terkagum-kagum. Apalagi yang dengan keimanan penuh, memutuskan untuk bercadar, demi menutup celah-celah terkecil yang bisa menimbulkan fitnah di hati lawan jenisnya. Masya Allah... keren banget deh! Keren! Keren! Kereeenn!!! ;)

Sebagai penutup, berikut saya kutipkan apa yang disampaikan sama Syaikh Yusuf Al Qaradhawi -hafizhahullah- tentang perempuan yang bercadar dalam Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid II,

“Bahkan seandainya wanita muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup wajah, tetapi ia hanya menganggapnya lebih wara’ dan lebih taqwa demi membebaskan diri dari perselisihan pendapat, serta dia mengamalkan yang lebih hati-hati, maka siapakah yang akan melarang dia dari mengamalkan pendapat yang lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas dia dicela selama tidak mengganggu orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan (kepentingan) umum dan khusus? Sungguh mengherankan! Mengapa wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggang-lenggok dan bergaya untuk memikat orang lain kepada kemaksiatan dibebaskan saja tanpa ada seorang pun yang menegurnya? Kemudian mereka tumpahkan seluruh kebencian dan celaan serta caci-maki terhadap wanita-wanita berpurdah, yang berkeyakinan bahwa hal itu termasuk ajaran agama?“


Allahu a’lam. ^_^

Madiun, 140913





Vakum Menulis Fiksi Karena 'Haram'


Bismillahirrahmanirrahim

Perkenalan saya dengan dunia kepenulisan, bisa dibilang sudah cukup lama, sejak tahun 2005 lalu kalo gak salah. Berawal dari Annida, saya sadar, bahwa saya sudah jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta pada fiksi dengan nafas Islami. Maka sejak saat itu, saya mulai rajin corat coret di buku tulis. Maklum, modalnya memang cuma pulpen sama buku tulis, gak ada komputer. Kalo pengen ngetik, ya ke rental aja. Tapi untuk ke rental pun, saya harus melakukan ‘pengorbanan’, dengan memangkas uang untuk makan sehari-hari (maklum lagi, namanya juga anak kos).

Tapi biarpun cuman coretan-coretan di buku dengan tulisan ceker ayam, ada aja temen yang pinjam untuk dibaca. Saya heran, apa gak sakit ya matanya?

Sayangnya, saya harus vakum dari dunia tulis menulis. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Sepotong Catatan Pertemuan Kembali


Bismillahirrahmanirrahim




Berapa lama? Sepuluh. Sebelas tahun mungkin. Tak ada komunikasi antara kita. Tak ada sapa. Tak ada tatap muka. Jalinan enam tahun sebelumnya terasa pupus begitu saja.

Lalu tiba-tiba, setelah sebelas tahun berlalu, kita bertemu. Lagi. Di saat yang begitu tidak bersahabat bagiku. Saat menjelang senja.

Entahlah. Hanya aku yang merasa, ataukah memang seperti itu adanya. Kehangatan yang kalian ciptakan untukku, terasa semu dan tak bermakna. Senyum sapa kalian, tak lebih dari sekadar basa basi. Tak ada lagi keakraban yang tersisa untukku. Ataukah, memang aku sendiri yang menghindari semua itu? Mungkin.

Hanya sedikit kata yang keluar dari bibirku, selama kurang lebih sembilan puluh menit kita bersama. Sebab aku telah meringkuk di ruang sepi yang kuciptakan sendiri, di antara celoteh riang kalian. Sebab aku telah membentuk bentengku sendiri, mengucilkan diri dengan hanya membalas senyum dan sedikit kata-kata.

Pria Irish


Bismillahirrahmanirrahim



Wajahnya keras. Seperti biasa. Meski dilanda gelisah tak berkesudahan, wajah itu tetap seperti itu. Bahkan, sorot matanya pun tidak berubah. Tetap memancarkan ketegaran khas seorang perempuan yang enggan dianggap lemah. Dan Aleya memang bukan orang yang lemah. Lalu, apa namanya jika bukan lemah? Menghindari Nash, memutar tubuhnya kembali, dan berakhir di tepi danau kecil saat senja sudah hampir jatuh? Apakah itu yang namanya kuat?

Selendang cokelatnya menutup bahunya dengan sempurna. Sepoi angin sedikit membuat rambut cokelat keemasan yang dibuat keriting gantung itu menari, kadang hinggap di bulu mata lentiknya. Tak ada polesan apapun di wajah itu. Natural. Hanya sapuan bedak tipis yang pasti sudah luntur. Namun kecantikan alaminya jauh lebih memesona daripada penampilan glamournya di atas panggung. Setidaknya, itu menurutnya. Menurut seseorang yang diam-diam mengikutinya, dan kini mengendap-endap di antara pepohonan dan semak-semak beberapa meter dari tempat Aleya duduk seraya memeluk lutut.

Sebuah kamera kembali ia bidikkan ke arah Aleya. Debar aneh menjalari tangannya yang tiba-tiba terasa begitu gemetar. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia memang terbiasa memotret sambil bersembunyi dan mengendap-endap, tapi tidak pernah telapak tangannya sampai basah, dan jantungnya berdegup melebihi ritme yang biasanya.

Gamang


Bismillahirrahmanirrahim



Langkahnya tegas. Ada dia di rumah Rhea, pikirnya. Namun lama kelamaan, langkah itu kian mengendur. Ia gamang. Siapkah ia bertemu dengan Nash? Orang yang ia cintai, sekaligus ia benci?

Dulu, baginya Nash adalah segalanya. Pria itu hadir tepat pada saat ia tengah menikmati luka akibat perceraiannya. Hadir begitu saja, tanpa sebuah kebetulan ataupun pertemuan-pertemuan tak sengaja seperti yang sering terlihat di film drama ataupun sebuah novel. Hadir begitu saja, bahkan Aleya sendiri tak tahu bagaimana bisa-bisanya Nash memenuhi pikirannya sepanjang hari, membuatnya ingin bertemu untuk sekadar melihat wajahnya. Atau mendengar sebentar saja suara serak dan beratnya.

Cinta pertama. Mungkin terlalu berkesan bagi Aleya untuk dilupakan begitu saja. Ya, Nash adalah cinta pertamanya. Bukan karena sejak kecil mereka berteman akrab, lalu muncul benih-benih cinta. Tidak. Bukan pula karena mereka berasal dari sekolah yang sama, lalu Aleya diam-diam memendam cinta. Bukan. Nash memang teman lamanya. Tapi ia sama sekali tidak akrab dengan Nash. Tidak sampai perceraian itu terjadi.

[Masih] Tentang Aleya


Bismillahirrahmanirrahim



“Kamu harus menerima. Popularitasmu sudah menurun drastis, Aleya!”

Kalimat itu masih menggema di telinga Aleya. Ia pejamkan matanya rapat-rapat. Untuk saat ini, setidaknya, ia sama sekali tidak ingin mendengar kalimat itu terus berulang di kepalanya. Memberinya vonis yang mengerikan. Ia tidak lagi setenar dulu.

Aleya bangkit dari tempat tidurnya, ia lempar selimut putih yang sedari tadi membungkus tubuhnya. Kini ia duduk di depan meja rias. Ia pandangi wajah kuyu yang terpantul dari cermin besar di depannya. Aleya terdiam. Wajah itu cantik. Masih terlihat muda meski sejak tiga tahun yang lalu usianya telah berkepala tiga. Rambutnya lurus karena smoothing rutin yang ia lakukan. Wajahnya tirus, sedikit kurus bila dibandingkan dengan wajahnya tahun kemarin. Astaga! Ada satu hal yang terluput dari Aleya. Kantung matanya bertambah jelas.

Tapi ia hanya diam saja. Hanya memandangai pantulan dirinya. Benarkah ia tak lagi setenar dulu? Yah, setidaknya, penjualan dua album terakhirnya sudah cukup membuktikan bahwa ia mulai ditinggalkan.

Aleya, Luka dan Bahagia


Bismillahirrahmanirrahim



Bergumam sendiri dalam sepi yang jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.

Aku bukan seorang penguntit. Aku hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat itu.

Dari sisi itu, aku bisa melihat wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya, matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?

Sebuah Prolog


Bismillahirrahmanirrahim



Aku tidak akan bicara tentang cinta
Tapi ini tentang sebuah tanggung jawab
Bukan sebab dosa
Mungkin karena doanya
Aku memilihnya, dan tak akan melepaskannya
Bahkan jika Tuhan bersikeras merebutnya
Ah... tapi aku bisa apa?
Jika Dia sudah bertitah, semua Kata menjadi nyata

Lelaki itu diam seraya memandangi wajah tirus di hadapannya. Cantik, meski tanpa polesan make up apapun. Perlahan, lelaki itu mendekat dan duduk di samping perempuan yang tampak sangat lelap dalam mimpinya. Entahlah, lelaki itu tidak tahu pasti, apakah saat ini perempuan masih bisa bermimpi.

Be My Valentine!


            Be My Valentine…

            Suara itu kembali berdesah di telinganya. Aliran hangat nafas meraba pipinya. Gadis itu menarik nafasnya yang memburu. Susah payah ia telan ludahnya. Seluruh persendiannya terasa kaku. Jantungnya seperti dipompa melebihi kapasitas.

            Kini, sosok itu berada di depan Gita. Mata itu… Itu bukan mata yang selama ini Gita lihat. Itu bukan mata seseorang yang selama ini menyimpan kehangatan. Mata yang kini tengah berkilat memandanginya, seperti menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini, belum Gita mengerti hakikatnya.

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Laki-laki itu menyeringai.

            Brengsek! Kata itu hanya tertahan di kerongkongan Gita. Ia meronta. Tapi percuma, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa.

Rindu Milik Leo


Bismillahirrahmanirrahim



            Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.

            Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.

            Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.

            Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.

            Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
-=O=-

Sebuket Krisan di Senja Gerimis


Bismillahirrahmanirrahim
Sebuket Krisan di Senja Gerimis
Oleh: Amerul Rizki dan Eros Rosita



Maghrib masih menyisakan gerimis tipis yang menyatu bersama senja berwarna ungu di pematang rumput. Guguran daun flamboyant terserak di antara mahkota krisan yang sudah separuh gundul, berwarna kuning gading. Aku memetik bunga itu, melepaskan sisa mahkotanya hingga menyisakan permukaan bulat yang berlubang halus. Masih ada sisa benih tertancap di sana. Aku mendesah, membuang bunga itu dan meninggalkannya dalam kondisi memprihatinkan. Bau ampo berbaur dengan aroma oceanic yang tercium samar-samar. Bau itu masih sama.

Dark Butterfly


Bismillahirrahmanirrahim

 By: Amerul Rizki dan Eros Rosita



            Clár memandangi wajahnya yang memantul di atas air, di tepian danau berwarna hijau. Tanpa senyum. Wajahnya sedikit sembab, ada guratan berwarna hitam melingkari matanya. Ia memainkan kecipak air tanpa semangat. Kakinya tenggelam sebagian ke dalam air, rambutnya yang merah membuat pantulan yang sangat jelas di danau itu.

            Musim gugur, cuaca di sekitar kastil Dunluce sedikit lembab. Gadis kecil itu melihat seekor kupu-kupu yang melintas di sampingnya. Seekor kupu-kupu berwarna biru dengan garis-garis hitam di sekitar sayap, juga badannya. Matanya yang secoklat musim gugur terkesiap-siap. Kupu-kupu itu mendarat di rambutnya, dan ia menyukainya. Kini, ia tersenyum. Saat kupu-kupu biru kembali mengepakkan sepasang sayap cantiknya, perlahan menjauhi Clár, gadis itu mengejarnya. Ia berlarian di tepian danau hijau, dengan senyum yang masih ia sungging.

Tunggu Aku!


Bismillahirrahmanirrahim


“Dia cuma bilang, dia mau ke kota untuk cari kerja. Dan akan segera mengabari kalau sudah dapat kerja.”

Perkataan pria paruh baya dengan muka kecut itu masih terngiang di telingaku. Seperti ada yang dia sembunyikan dariku. Pria ini memang kelihatannya tidak pernah suka aku berhubungan dengan anaknya.

Ah, Nasha… Kemana kamu? Nomornya bahkan tidak bisa aku hubungi. Saat aku tanyakan nomor baru Nasha ke pria paruh baya itu, dia berkilah kalau dia juga tidak diberitahu  Nasha perihal nomor barunya. Sialan! Ada konspirasi apa ini?

Mata Itu Memerangkap Senja


Bismillahirrahmanirrahim

               
Mungkin, kali ini akan menjadi senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja. Saya bisa melihat bias senja itu di matanya, seperti rona yang pernah saya lihat hadir di wajahnya. Saat itu. Saat saya sedang menikmati nyanyian hujan di peron stasiun ini.

Tapi, ia pergi. Tanpa nama, hanya salam selamat tinggal. Basa basi. Memangnya saya siapa? Toh saya dan dia memang sama sekali tidak pernah saling mengenal. Hanya pertemuan singkat, dan obrolan yang tidak begitu jelas itu saja yang mengirimkan suasana hangat di antara kami. Begitu kereta datang, dia pergi. Saya memperhatikan ketika dia naik ke kereta. Saya masih bisa melihatnya dari jendela kereta, ketika dia sibuk mencari tempat duduk miliknya. Dan saya hanya berani mengulum senyum, lalu mengalihkan pandangan pada rel yang basah di emplasemen sana.