Bismillahirrahmanirrahim
Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...
Saya
sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan
tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman.
Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh
tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir
kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut
memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang
manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari
bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya
menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan,
“Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar
menguasai lautan?”
