Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Showing posts with label Diary Ramadhan 1433H. Show all posts
Showing posts with label Diary Ramadhan 1433H. Show all posts

Aleya, Luka dan Bahagia


Bismillahirrahmanirrahim



Bergumam sendiri dalam sepi yang jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.

Aku bukan seorang penguntit. Aku hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat itu.

Dari sisi itu, aku bisa melihat wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya, matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?

Nyamannya Internet Banking


Bismillahirrahmanirrahim



Gak tahu, layanan ini sudah jalan berapa bulan. Soalnya baru bulan kemaren saya nyadar, kalau ada tambahan di layanan transfer di internet banking-nya BNI. Kalau dulu, untuk transfer ke lain bank, kita cuman disuguhin sama layanan Kliring dan RTGS, sekarang ada 1 lagi layanan. Namanya, Transfer Online.

Apaan itu Transfer Online? Ternyata oh ternyata, setelah saya telusuri, selidiki dan investigasi mendalam (halah!), layanan Transfer Online sama dengan layanan transfer di ATM bersama! Maksudnya, kita bisa transfer ke bank lain yang tergabung dalam ATM bersama, via internet banking BNI, dengan charge cuman 5 ribu perak tok! Asyik gak tuh?? :D

Impian saya jadi kenyataan.  Hehe... Kalau pernah baca postingan saya yang ini, pasti ngerti dah uneg-uneg saya soal ber-internet banking.

Nyesel Berat


Bismillahirrahmanirrahim


Hari ini saya ‘terpaksa’ jalan-jalan ke Gramed, setelah lama gak pake banget saya gak menyambangi bookstore itu. Niatnya sih cuman jalan-jalan, lihat-lihat doang. Kalau toh ntar ada yang menarik ya boleh lah bawa ke kasir, tapi 1 aja. :P

Nyatanya, saya malah nyari-nyari buku salah satu nama penulis yang beberapa karyanya pernah difilmkan. Apalagi saya sering lihat di Twitter, banyak yang ngetwit bahwa setelah baca buku penulis itu, mereka nangis-nangis karena tulisannya mengandung banyak banget hikmah. Saya penasaran jadinya.

12th Day


Bismillahirrahmanirrahim


Dua hari saya lalui tanpa buka laptop di malam hari.  Sekarang pun sebenernya juga pengennya gitu. Tapi ntar diary Ramadhan saya bolong lagi. Kan gak enak. =,=

Kenapa sih, saya kok kekeuh dengan diary Ramadhan, padahal belom tentu ada yang baca? :p

Soalnya, untuk melatih manajemen waktu saya aja. Dan yang paling penting, latihan nulis apa aja setiap hari. Di luar Ramadhan, saya nulis pas waktu saya emang lagi mood aja. Sedangkan kalau untuk diary Ramadhan, mau gak mau saya harus memaksa mood saya, nyari-nyari ide, dan sebagainya untuk bisa jadi bahan tulisan. Apa aja. Ya cerita, ya prosa gak jelas, ya review, ya uneg-uneg sendiri, dan lain sebagainya.

Sudah Berapa Juz?


Bismillahirrahmanirrahim


Saya ngerasa sangat tersindir saat kemarin melihat komen seorang teman di sebuah status. Dia bilang, tadarusnya dia baru sampai di Surah Ibrahim. Itu juz 13. Ya Allah, berarti saya ketinggalan banget ya. :(

Akhirnya saya ‘ngebut’, saya harus bisa ngejar ketertinggalan saya. Target saya tahun ini, minimal adalah 2 kali khatam. Tapi nyatanya di hari kesembilan, malam kesepuluh ini, saya belum nyampe juga ke separuh Al Quran. Huhuhu...

New Look


Bismillahirrahmanirrahim


Hampir seharian ini saya ngutak-ngatik blog. Cari template, edit-edit template, benerin widget, dan sebagainya. Capek banget duduk seharian di depan laptop! (_ _”)

Saya sudah coba template A, ada yang saya gak suka. Lalu upload template B. Gak suka lagi. Upload lagi, sampe akhirnya pilihan saya jatuh ke template yang ini. Fiuhhh... perjuangan panjang untuk memutuskan template.

Ada satu hal yang saya pengen banget ada di blog saya. Musik autoplay. Norak ya? Hahaha... Gapapa, saya pengen aja. Tapi sayangnya, keinginan saya ini sulit sekali terealisasi. Gak tahu kenapa, tiap saya copas kode html dari musik yang saya pengen, blogger saya gak mau nge-save. Adaaa aja alasannya. Yang ‘Url mengandung karakter tidak sah’ lah, yang ‘Widget bermasalah’ lah, apa lah. Sampe mumet saya.

Tepian Tegar


Bismillahirrahmanirrahim



ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat mata. Mampu kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.

Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka, justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah yang mulia?

Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar, dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan ketakutan yang entah dari mana datang.

Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!

Sebuah Prolog


Bismillahirrahmanirrahim



Aku tidak akan bicara tentang cinta
Tapi ini tentang sebuah tanggung jawab
Bukan sebab dosa
Mungkin karena doanya
Aku memilihnya, dan tak akan melepaskannya
Bahkan jika Tuhan bersikeras merebutnya
Ah... tapi aku bisa apa?
Jika Dia sudah bertitah, semua Kata menjadi nyata

Lelaki itu diam seraya memandangi wajah tirus di hadapannya. Cantik, meski tanpa polesan make up apapun. Perlahan, lelaki itu mendekat dan duduk di samping perempuan yang tampak sangat lelap dalam mimpinya. Entahlah, lelaki itu tidak tahu pasti, apakah saat ini perempuan masih bisa bermimpi.

Melupakan Sebuah Masa


Bismillahirrahmanirrahim



Selalu ada masa yang ingin kita kubur dalam-dalam. Kita enyahkan jauh-jauh dari ingatan. Kita lupakan agar bahkan kenangan pun tak meninggalkan jejak. Jika ada yang bertanya, masa apakah yang begitu ingin dihilangkan? Jawab saya, masa enam tahun menempuh pendidikan dasar.

Entah kenapa, saya ingin melupakan masa itu. Pikiran saya seolah telah membentuk sebuah benteng memori, yang tidak bisa saya tembus satu per satu. Mungkin alam bawah sadar saya memang ‘baik’, hingga mengerti apa yang saya inginkan. Ya, begitu banyak kenangan di masa enam tahun itu yang telah terhapus sempurna. Sebagian masih membekas, menghadirkan slide-slide singkat yang sedikit buram. Tapi lagi-lagi, pikiran saya telah ‘membungkus’ memori itu, hingga yang buram tetaplah buram.

Mungkin, karena di masa itu, saya merasa sendiri. Sangat sendiri. Tidak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Saya merasa tidak berarti, justru setelah saya keluar dari masa itu dan menyadari keterasingan saya selama di sana. Saya hanyalah seorang anak cupu dan cengeng dengan tubuh kecil dan otak pas-pasan kala itu. Saya tidak suka bermain bola bersama teman-teman yang lain. Saya... entahlah. Saya sudah hampir lupa dengan sempurna, bagaimana sosok saya kala itu.

Rindu...


Bismillahirrahmanirrahim


Sudah berapa lama saya tidak menulis sebuah cerita utuh? Tepatnya, sudah berapa lama saya menulis sebuah kisah Islami seperti yang biasa saya tulis dulu?

Entah mengapa, ada kerinduan yang tiba-tiba menyergap. Saya merasa telah berkhianat pada komitmen yang dulu pernah saya pancangkan. Tulis cerita yang berhikmah dan mengandung nilai-nilai Islam. Sudah berapa lama saya melupakannya?

Kejenuhan saya pada fiksi Islami mulai muncul saat di toko buku hampir penuh oleh novel-novel maupun kumpulan cerpen ‘Islami’. Jujur, saya juga jenuh membaca novel milik seorang penulis sastra Islami ternama, yang buku-bukunya pernah difilmkan. Jenuh, karena meski cerita cukup bagus, saya sebagai pembaca merasa digurui oleh tokoh dalam cerita, ataupun oleh narasi cerita itu sendiri. Hei, saat saya membaca novel ataupun cerpen, saya menginginkan sebuah kisah yang indah dan berhikmah, bukan sebuah buku adab, akhlak, apalagi fiqh!

Berita Profil Yang Gak Valid


Bismillahirrahmanirrahim



Beberapa waktu lalu, bagian Humas menghubungi kantor saya untuk menanyakan, apakah ada pegawai yang punya hobi yang gak ada sangkut pautnya dengan perusahaan. Pimpinan saya langsung memanggil saya. Dia bilangnya, ada pegawainya yang hobinya nulis cerpen. Perasaan saya udah gak enak waktu itu. =,=

Dan benar saja. Ternyata wartawan dari Radar Madiun sedang mencari profil pegawai perusahaan saya yang hobinya gak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Jadilah saya ‘sasaran empuk’ buat dijadiin berita.

Setelah itu, si wartawan langsung ngirimin saya pesan. Tanya, bener gak hobi saya nulis? Ya jawab aja iya. Tapi juga saya jelasin, kalau sekarang mah saya lebih sering nulisnya di blog, gak di media manapun, dan bukan dalam bentuk cerpen.  Akhirnya, dia bikin janji wawancara, dan mewanti-wanti saya untuk bawa buku-buku saya yang pernah diterbitkan dan juga karya yang pernah dimuat di media.

Sehari, dua hari, si wartawan gak dateng. Padahal saya udah bela-belain bawa beberapa buku. Bikin jok motor saya penuh aja! Beberapa hari, si wartawan pun gak menghubungi saya. Saya udah ngerasa lega. Kali aja gak jadi.

Tapi ternyata, kemaren tiba-tiba si wartawan nelepon, bilang kalau mau ke kantor. Eh? Serius loh?? Saya lagi gak bawa bukunyaaaa, kata saya. Tapi wartawan itu bilang gak apa. Singkat cerita, kita ketemu di kantor, dia nanya-nanya, saya jawab, selesai. Setelah saya selesai shalat Jumat, giliran fotografernya yang datang buat foto-foto saya sambil disuruh pose-pose gak jelas dan gak banget. =,=


Nah, di hari pertama puasa ini, saya dapet surprise banget. Seorang supervisor saya tiba-tiba ke ruangan saya sambil nyeletuk, “Udah liat Jawa Pos hari ini?” Tuing tuing... langsung aja supervisor yang lain pada heboh sendiri. Saya gak ngira kalau bakalan dimuat hari ini. Alamaak... O.o