Bismillahirrahmanirrahim
Bergumam sendiri dalam sepi yang
jahat. Menekuri daun-daun mapel yang renta dan jatuh satu-satu. Itu hanya pada
saat, sebelum kutahu gadis itu bernama Aleya.
Aku bukan seorang penguntit. Aku
hanya senang mengabadikan momen-momen berharga dengan sebuah benda persegi yang
selalu tekalung di leherku. Begitu pun saat aku bertemu dia. Di sebuah taman
yang tak banyak orang tahu. Ia duduk sendirian di sebuah bangku yang penuh
dengan guguran daun-daun, tampak menulis sesuatu di sebuah buku putih di
pangkuannya. Aku mengamatinya dari pintu masuk taman yang tampak tak terawat
itu.
Dari sisi itu, aku bisa melihat
wajah tirusnya dari samping. Kulit wajahnya langsat, hidung yang mancung dan
runcing, dengan bibir tipis namun ranum. Matanya sedikit sipit. Ah... ya,
matanya. Mata itu basah. Beberapa kali kulihat tetes-tetes air jatuh dari mata
itu, membasahi kertas yang ia gunakan untuk menulis. Kenapa?







