Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Showing posts with label Diary Hati. Show all posts
Showing posts with label Diary Hati. Show all posts

Gelisah

Bismillahirrahmanirrahim


Apa yang Agan semua banyangin soal get a job? Dapet kerjaan yang prestisius? Diterima di bidang yang sesuai passion? Atau kerja apa aja deh yang penting halal dan gak nganggur? Kayaknya, semua orang juga bakalan jawab; pengen dapet kerjaan di tempat yang lumayan prestis, di bagian yang sesuai dengan passionnnya, dan yang pasti halal. Yah, itulah impian semua orang. Termasuk saya.

Pada awalnya, saya yang hanya iseng ngikutin rekrutmen pegawai yang diadakan oleh perusahaan tempat saya bekerja sekarang, sebenernya sudah siap-siap aja kalau nantinya bakal ditempatkan pada bagian yang sama sekali bukan passion saya. Karena di lamaran saya, saya memang melamar untuk posisi pegawai pemeliharaan. Yang artinya, saya bakalan berkutat dengan bidang teknik, hal yang sama sekali gak saya minati, gak saya sukai, dan yang paling sulit saya mengerti apalagi kuasai.

Satu 'Atap' Kok Beda?



Bismillahirrahmanirrahim


Sudah lama sekali gak mengikuti kajian langsung di masjid. Mumpung ada waktu luang di hari Ahad, okelah ayo ngaji bareng istri. Kita pun berangkat. Alhamdulillah, kayaknya sih kajiannya baru mulai. Tapi ya mungkin gara-gara lama gak ngaji rutin, jadinya waktu satu jam saja sudah terasa lamaa banget. Sampai ngantuk-ngantuk. xD

Selesai shalat Dhuhur, kita pulang dong. Lapar pisan. Lalu tiba-tiba, istri cerita, kalau dia ketemu dengan temannya di tempat akhwat tadi. Alhamdulillah, akhirnya istri saya gak bakal sendirian lagi kalau ngaji di tempat akhwat. Seenggaknya ada yang dia kenal.


Dan sampailah pada cerita yang membuat saya agak mengernyitkan dahi.

SMS (yang Ternyata) Alay


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, istri buka-buka hape saya. Lihat-lihat history smsnya. Dia nungguin lamaa banget sampai akhirnya ketemu dengan apa yang dia cari. Ternyata, dia pengen baca lagi sms-sms pertama kita. Berarti sms tahun lalu. Wew….

Setelah ketemu dengan apa yang selama ini ia cari (halah!), kita pun ngakak baca sms-sms awal kita. Ya ampun, geli banget deh baca sms sendiri saat belum resmi menyandang status suami-istri. Ngakak juga saat baca sms yang saya kirim pertama kali pasca ijab qabul. Haha, serius itu saya yang nulis?

 Alay kaaan?? xD

Masih Bertahan


Bismillahirrahmanirrahim


Belakangan ini, saya cukup ‘terusik’ dengan tulisan beberapa teman di pesbuk saya, terkait tentang keikutsertaannya dalam komunitas One Day One Juz, alias ODOJ.

Teman pertama, mengatakan bahwa di hati kecilnya, beliau berharap untuk keluar dari grup. Ternyata Allah benar-benar ‘mengabulkan’, dengan jalan hilangnya ponsel yang beliau gunakan untuk bergabung dalam grup ODOJ. Karena tidak pernah laporan, akhirnya beliaupun didepak dari grup. Beliau menyadari, bahwa mungkin itu adalah ‘teguran’ dari Allah. Tapi alhamdulillah, kemudian uluran tangan itu datang. Beliau kembali ditawari untuk masuk. Hingga kini, beliau masih istiqamah berada dalam komunitas itu. Walhamdulillah. Dan tulisannya yang sebenarnya hanya berupa status, kini terpampang di web resmi One Day One Juz.

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...

Decision


Bismillahirrahmanirrahim
 

Sejak beberapa waktu yang lalu, Akh J –sebut saja begitu- sangat bersemangat untuk menghubungkan saya dengan ‘organisasi tertentu’, agar saya bisa mengikuti kajiannya. Karena Akh J tahu –dari cerita saya- bahwa hati saya sudah cukup lama gak tersentuh oleh untaian ilmu diin. Akh J bilang, beliau sudah menghubungi bagian pengurus ‘organisasi tertentu’ itu. Nantinya, akan ada yang menghubungi saya.

Tapi sampai beberapa minggu, saya masih adem ayem aja, gak ada yang menghubungi. Hingga kemarin, saat sedang asyiknya bekerja, ada sebuah sms masuk. Katanya, dapat amanah dari Akh J di kota S untuk menghubungi saya. Saya baca aja. Karena saya masih cukup repot waktu itu.

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.

Ini Prinsip Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...


Saya sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman. Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan, “Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar menguasai lautan?”

Selangkah Lagi


Bismillahirrahmanirrahim

Dua minggu sebelumnya, saya udah menetapkan sebuah tanggal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup saya. Ia akan menjadi penanda, bahwa saya benar-benar telah siap untuk menjadi ‘manusia baru’, yang akan memimpin sebuah peradaban tersendiri.

Menanti tanggal itu, membuat perut saya selalu bergolak kagak jelas. Ada takut, cemas, was-was, grogi, dan sebagainya. Tapi anehnya, saya menikmati itu semua. Bagaimana mungkin perasaan-perasaan seperti itu gak akan muncul, kalau penyebabnya adalah hal yang akan mengubah hidup kita ke depannya?

Ah, ya. Ini hanyalah sebuah cerita. Tentang pinangan yang saya haturkan pada ia yang telah bersedia melanjutkan proses singkat itu.

Vakum Menulis Fiksi Karena 'Haram'


Bismillahirrahmanirrahim

Perkenalan saya dengan dunia kepenulisan, bisa dibilang sudah cukup lama, sejak tahun 2005 lalu kalo gak salah. Berawal dari Annida, saya sadar, bahwa saya sudah jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta pada fiksi dengan nafas Islami. Maka sejak saat itu, saya mulai rajin corat coret di buku tulis. Maklum, modalnya memang cuma pulpen sama buku tulis, gak ada komputer. Kalo pengen ngetik, ya ke rental aja. Tapi untuk ke rental pun, saya harus melakukan ‘pengorbanan’, dengan memangkas uang untuk makan sehari-hari (maklum lagi, namanya juga anak kos).

Tapi biarpun cuman coretan-coretan di buku dengan tulisan ceker ayam, ada aja temen yang pinjam untuk dibaca. Saya heran, apa gak sakit ya matanya?

Sayangnya, saya harus vakum dari dunia tulis menulis. Setidaknya untuk beberapa waktu.

Kembali di Persimpangan



Bismillahirrahmanirrahim


Semalam, saya sudah memutuskan. Saya harus ngaji lagi! Akhirnya, saya putuskan saja untuk menghubungi seorang teman di pesbuk yang saya percayai, untuk sekadar nanya-nanya aja dulu. Saya inbox ke beliau, tanya, bisakah bimbingan –semacam tausyiah gitu- dilakukan hanya lewat interaksi di dunia maya? Beliaunya nanya, bimbingan buat apa? Saya jawab aja, yah ngaji gitu lah. Saya pengen ngaji tarbiyah, tapi gak kenal sama orang-orang tarbiyah di kota saya. Setelah itu, ya ngobrol-ngobrol di inbox, beliau kasih masukan, dan sebagainya. Saya makin mantap untuk melangkah ke tarbiyah.
 
Saya juga udah menghubungi seorang temen di Madiun (yang saya tahu dia juga ikut tarbiyah). Sayangnya, gak ada kajian yang diadakan ba’da ‘Ashr. Kalau ba’da ‘Ashr, adanya kajian buat akhwat. Eeaaa... boleh ikut kali ya kalau saya pake jilbab? xD

I Should Be Grateful For This



Bismillahirrahmanirrahim


Satu hal yang seringkali membuat saya minder: tubuh saya.

Sejak kecil, saya tumbuh dengan tubuh kecil dan kurus, beda banget sama temen-temen seusia saya. Saat itu, pas ngelihat seorang anak laki-laki yang udah SMA, atau mungkin yang udah dewasa dan tubuhnya berisi, saya selalu mikir, “Ah, berarti ntar kalau gue udah gedhe, badan gue juga ikutan besar kayak mas-mas itu.” Saat SMP pun, saya masih punya pemikiran yang sama. Barulah, ketika udah mulai menginjak STM, pertumbuhan saya udah berhenti, saya baru menyadari bahwa tubuh saya gak bisa tumbuh besar seperti teman-teman saya yang lain. Hiks. T_T

Gak pengen segendhut itu juga si :3

Rise Me Up



Bismillahirrahmanirrahim


Belakangan ini, saya merasa sangat terpuruk. Yah, mungkin efek dari perasaan guilty yang saya ceritakan Senin kemarin. Efeknya masih terasa sampe sekarang. Perasaan-perasaan aneh yang buruk seringkali membuat saya harus terdiam sejenak, beristigfar, melakukan flashback, lalu memikirkan hal apa yang harus saya lakukan ke depannya. Perasaan bersalah, takut, was-was, tidak berguna, dan sebagainya itu belakangan begitu meneror saya. Entah apa yang sedang terjadi pada saya.

Dan... di saat seperti inilah, saya baru benar-benar tersadar akan satu hal: saya tidak mempunyai teman untuk berbagi cerita. Saya sendiri. Tak ada siapapun. Mungkin, saya mengidap ke-introvert-an yang parah, hingga untuk sekadar sharing saat saya mengalami kemunduran saja, saya merasa tak sanggup.

Hanya Allah yang saya miliki untuk curhat. Tapi, saya merasa, kini Dia sedang marah pada saya. Dia sedang memalingkan Wajah-Nya dari saya. Dia sedang tidak ingin Mendengar permintaan saya. Jika Dia saja sudah berpaling, lalu kemana lagi saya harus mencari pertolongan?

Feel Guilty



Bismillahirrahmanirrahim


Hari ini, hari pertama masuk kerja setelah Lebaran. Mmm... well... sebenernya, harusnya bukan hari ini hari pertamanya, melainkan hari Sabtu kemaren, karena emang liburnya cuman 2 hari waktu tanggal merah itu doang. Tapi... saya bolos! And, that was the problem today.

Hari Kamis kemarin, saat mau pulang, saya udah nanya dulu ke spv saya, Sabtu nanti kan harpitnas (hari kecepit nasional), enaknya masuk apa gak? Setelah spv saya nglihat jadwalnya, dan dia lagi gak kebagian posko Lebaran, akhirnya dia mutusin untuk gak masuk aja. Seneng dong saya. Akhirnya, berbekal ‘izin’ dari spv saya itulah, saya berani bolos hari Sabtu kemaren.

Apa Kabar Hati Kita?


Bismillahirrahmanirrahim




Yaa muqallibal qulub, tsabit qalbi ‘ala dinik...
Yaa musharrifal qulub, sharrif qulubana ‘ala tha’atik...


Kita ini manusia, Kawan. Makhluk yang mempunyai segumpal daging bernama hati. Ialah yang menjadi tolok ukur segalanya tentang kita. Karena bila ia baik, baik pula seluruh hal yang kita lakukan. Dan bila ia buruk, maka buruk pula amalan-amalan kita.


Sayangnya, segumpal daging itu, mudah sekali untuk terbolak-balik. Kadang, ia senang berada pada sisi kanan. Tapi tak jarang, ia bergeser, dan memilih sudut yang menyerong, pelan-pelan. Hingga pada saat yang tanpa kita sadari, ia sudah menghadap pada sisi kiri.

Catatan Kerinduan


Bismillahirrahmanirrahim

Sore selepas Magrib, sebuah pemberitahuan nongol di pesbuk saya. Dari seorang sahabat lama. Dia menandai saya di catatannya. Sebuah catatan yang berhasil membuat saya tercenung. Diam, merenungi apa yang tertulis di sana. Hati saya seakan berubah lembut seketika.

Catatan itu singkat. Simpel. Tapi sangat dalam. Tentang kerinduan seseorang terhadap sahabatnya. Itu bukan tulisan teman yang menandai saya, dia hanya copy paste. Namun, isinya, mungkin saja, sangat mewakili perasaannya.

Tentang kerinduan. Rindu masa-masa indah saat dulu sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu. Rindu akan masa-masa awal mengubah cara berpakaian, dan mendapat respon dari sekitar, dan tentunya dari orang tua. Rindu saat masih aktif mengikuti daurah di sini, daurah di sana, bahkan lintas provinsi. Ah... tahukah? Saya pun merindukan hal-hal itu.

Sepotong Catatan Pertemuan Kembali


Bismillahirrahmanirrahim




Berapa lama? Sepuluh. Sebelas tahun mungkin. Tak ada komunikasi antara kita. Tak ada sapa. Tak ada tatap muka. Jalinan enam tahun sebelumnya terasa pupus begitu saja.

Lalu tiba-tiba, setelah sebelas tahun berlalu, kita bertemu. Lagi. Di saat yang begitu tidak bersahabat bagiku. Saat menjelang senja.

Entahlah. Hanya aku yang merasa, ataukah memang seperti itu adanya. Kehangatan yang kalian ciptakan untukku, terasa semu dan tak bermakna. Senyum sapa kalian, tak lebih dari sekadar basa basi. Tak ada lagi keakraban yang tersisa untukku. Ataukah, memang aku sendiri yang menghindari semua itu? Mungkin.

Hanya sedikit kata yang keluar dari bibirku, selama kurang lebih sembilan puluh menit kita bersama. Sebab aku telah meringkuk di ruang sepi yang kuciptakan sendiri, di antara celoteh riang kalian. Sebab aku telah membentuk bentengku sendiri, mengucilkan diri dengan hanya membalas senyum dan sedikit kata-kata.

Melupakan Sebuah Masa


Bismillahirrahmanirrahim



Selalu ada masa yang ingin kita kubur dalam-dalam. Kita enyahkan jauh-jauh dari ingatan. Kita lupakan agar bahkan kenangan pun tak meninggalkan jejak. Jika ada yang bertanya, masa apakah yang begitu ingin dihilangkan? Jawab saya, masa enam tahun menempuh pendidikan dasar.

Entah kenapa, saya ingin melupakan masa itu. Pikiran saya seolah telah membentuk sebuah benteng memori, yang tidak bisa saya tembus satu per satu. Mungkin alam bawah sadar saya memang ‘baik’, hingga mengerti apa yang saya inginkan. Ya, begitu banyak kenangan di masa enam tahun itu yang telah terhapus sempurna. Sebagian masih membekas, menghadirkan slide-slide singkat yang sedikit buram. Tapi lagi-lagi, pikiran saya telah ‘membungkus’ memori itu, hingga yang buram tetaplah buram.

Mungkin, karena di masa itu, saya merasa sendiri. Sangat sendiri. Tidak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Saya merasa tidak berarti, justru setelah saya keluar dari masa itu dan menyadari keterasingan saya selama di sana. Saya hanyalah seorang anak cupu dan cengeng dengan tubuh kecil dan otak pas-pasan kala itu. Saya tidak suka bermain bola bersama teman-teman yang lain. Saya... entahlah. Saya sudah hampir lupa dengan sempurna, bagaimana sosok saya kala itu.

Penghuni Baru (Lagi)


Bismillahirrahmanirrahim



Lagi??? Ya Allah…. >.<

Ya, ada penghuni baru lagi! Langsung 2 orang pula! Bukan, bukan yang 2 orang kemaren. Ini 2 orang lain lagi. Tapi 2 orang yang baru ini temennya 2 orang yang kemaren. Bingung ya? Sama. (_ _”)

Pulang-pulang, heran aja, kok rame amat yak? Saya pikir, mungkin itu temennya orang baru yang kemaren. Tapi pas saya lihat kamar di depan kamar mandi kok kebuka, saya mulai curiga. Dan benarlah… ketambahan 2 orang lagi.

Kosan jadi rame banget tadi. Pada ngobrol-ngobrol sendiri. Nyetel musik keras-keras. Padahal biasanya kalau saya pulang kantor, suasananya tenang, sepi, jadi saya mau istirahat atau mau ngapa-ngapain pun nyaman aja. Tapi hari ini, jadi agak gimana gitu.

Saya seneng sepi. Seenggaknya, gak terlalu rame lah. Bukan yang sepi buanget gitu. Kalau sepi buanget mah malah nyeremin. Lha ini kayaknya terlalu rame deh. Apalagi mereka udah saling kenal, akrab, satu kerjaan, wihhh… ruame dah.

Gimana ya? Bukannya saya gak mau bersosialisasi. Saya cuman gak nyaman aja kalau terlalu rame dan banyak orang. Karena saya suka kenyamanan dan ketenangan.

Mungkin, ini karena saya belom terbiasa aja kali ya. Yah, moga aja ntar bisa terbiasa dan menyingkirkan uneg-uneg yang eneg dalam hati ini.

Tapi seenggaknya, ada berita baik juga yang saya terima hari ini. Sahabat yang udah saya anggep kayak sodara sendiri, alhamdulillah, hari ini keluar pengumuman yang menyatakan bahwa dia diterima sebagai pegawai tetap di perusahaan yang selama ini mempekerjakan dia sebagai outsourching. Alhamdulillah… Malamnya, saya ditraktir ke Es Teler. Wuareg, Rek! :D


Madiun, 11 April 2012

Penghuni Baru


Bismillahirrahmanirrahim


Apa doa saya terkabul ya? Kayaknya iya deh. Saya sering berdoa, supaya kosan ini cepetan nambah penghuninya. Dan hari ini, ada 2 orang yang langsung menempati kamar di deket kamar mandi sono. Alhamdulillah yah. Sesuatu banget kan? :D

Kosan di sini cuman ada 4 kamar. Dua kamar terisi, saya dan seorang temen dari Bali. Dan 2 kamar masih kosong. Rasanya sepi banget, kalau cuman diisi 2 orang. Apalagi bisanya ngobrol cuman kalau malem aja. Yah, emang si, saya suka dengan suasana sepi dan tenang. Tapi kalau terlalu sepi tuh, berasa gimanaaa gitu. Apalagi abis nonton film horror, kayak Paranormal Activity, atau The Awakening. Huaaahhh…. Paling berasa kalau saya beneran sendirian di sini, sedangkan temen saya yang satunya lagi pulang ke kediamannya. Huhuhu… terpaksa tidur sambil lampu tetep nyala. xD