Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

My Avilla, Akhir Sebuah Pencarian


Bismillahirrahmanirrahim

My Avilla. Nih nopel saya beli seminggu yang lalu. Tapi gak tahu kenapa, dorongan untuk segera membaca nopel ini begitu kuat, sehingga terpaksa saya tunda dulu buku-buku lain yang juga ngantri. Maap yeee... :3

Saya adalah penggemar nopel-nopel hasil racikan ‘tangan dingin’ seorang Ifa Avianty sejak dulu. Yang paling saya suka adalah cara berceritanya yang seringkali nyantai banget, sehingga yang baca ini sama sekali gak ngerasa bosan. Mau tema yang ringan, sampai yang ‘berat’, Ifa Avianty selalu menyajikannya dengan ringan. Atau, emang sudah berusaha nulis yang agak ‘berat’, tapi nyatanya tetep kebawa sama signature style-nya? :D

Salah satu nopel ‘berat’nya adalah My Avilla ini. Katanya sih, nopel ini beda dari nopel-nopel beliau yang sebelum-sebelumnya. Nopel ini lebih ‘berat’, karena mengangkat tema tentang pencarian Tuhan.
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Afra Publishing
Harga : Rp26.000,-

Mengangkat cerita tentang seorang cewek bernama Trudy. Dia punya seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya, Margriet. Kakaknya itu baik banget, berjilbab, bahkan bisa dengan mudah sekali memaafkan kesalahan paling fatal yang Trudy lakukan. Ada juga Fajar, teman sekelas yang ditaksir Trudy, tapi ternyata Fajar justru dengan ‘gagah berani’ menyatakan perasaan kagum dan cintanya pada Margriet yang terpaut usia 4 tahun di atasnya.

Ta'aruf, Yuk!



Bismillahirrahmanirrahim


Eits... Tenang-tenang... Sebelum pada mulai berdesas-desus dan nanya-nanya, saya luruskan aja dari sekarang. Ehm... FYI, judul itu cuman buat narik perhatian ente-ente semua supaya mau berkunjung ke sini dan baca tulisan ini. Haha... :D Tapi emang, tulisan ini bakal ngomongin soal yang satu itu. Ngomongin bukunya maksudnya. :”)

Kalau gak salah, menjelang pertengahan tahun 2012 kemaren, saya ngelihat Mbak Leyla Imtichanah sedang mempromosikan single terbarunya. Eh, maksudnya, buku terbarunya waktu itu. Judulnya, ehm... Taaruf, Proses Perjodohan Sesuai Syari Islam. Saya langsung mikir, “Gua musti dapet tuh buku begitu nongol di Gramed ntar!”

Yeah, It's Really First Time in Beijing


Bismillahirrahmanirrahim


Waktu bukan untuk disia-siakan
Untuk sesuatu yang tak kau sukai.
Nanti kamu akan ketinggalan dengan mereka
Yang berlari lebih kencang pada jalur yang tepat.
-Daniel-


Yuk, kita jalan-jalan dulu ke China. Tepatnya ke kota Beijing. Jangan takut tersesat, ada Lisa yang menemani kita. Eh, apa? Lisa juga baru pertama kali ke Beijing? O.o

Kita sih, ke Beijing tujuannya mau jalan-jalan ya (pura-puranya sih gitu). Tetapi Lisa? Dia ke Beijing karena terpaksa. Ibunya baru saja meninggal karena insiden kecelakaan. Satu-satunya keluarganya yang masih tersisa hanyalah ayahnya, yang tinggal di Beijing. Mau tak mau, Lisa harus ke sana. Meski itu sangat asing baginya.

Bagaimana tidak asing? Mungkin sekitar 12 tahun ia tidak pernah bertemu ayahnya, sekadar berkomunikasi pun tidak. Sejak bercerai, ibunya hampir tidak pernah membicarakan ayahnya sama sekali. Tapi kemudian, dia harus hidup dengan lelaki itu, di Beijing.

Aroma Kenangan di Katjoe Manis


Bismillahirrahmanirrahim


Kemarin, saya sudah puas jalan-jalan ke Ermera, di bumi Lorosa’e, ditemani Lon dan Royo. Menghirup aroma biji-biji kopi yang masih segar di dahannya, ataupun yang masih dijemur di halaman rumah Marsela dan Juanito. Berhubung tidak ada kesempatan untuk sekadar mencicipi kopi Ermera di kedai milik Juanito, saya memutuskan untuk berlayar ke Batam. Tepatnya daerah Nagoya. Di sana, saya mampir ke sebuah kafe yang sangat... hmm... sangat apa ya? Sangat kopi sekali.

Dimulai dari cat kafe yang hanya didominasi oleh unsur warna hitam dan putih, aroma biji-biji kopi dari berbagai jenis, hingga barista yang melukis latte art yang sangat cantik pada secangkir kopi yang disajikan. Di sinilah berbagai cerita itu dimulai. Tentang cinta dan kenangan yang tak pernah pergi. Dan yang pasti, tentang aroma kopi yang selalu membawa kenangan itu kembali.

Menghirup Udara Ermera, Pulang ke Lorosa'e


Bismillahirrahmanirrahim


 
Saat sang penulis, Mbak Shabrina Ws, tengah woro-woro soal cover novel barunya, saya sudah langsung ancang-ancang, “Gw harus baca!” Dan begitu bukunya terbit, saya memang langsung mendapatkannya di Gramed. Sayang dan disayang-sayangkan, belum ada keinginan kuat untuk membacanya, karena saya malah asyik sendiri sama My Stupid Boss yang saya beli barengan dengan novelnya Mbak Shabrina. -_-

Menguak Misteri Dalam Enigma


Bismillahirrahmanirrahim


Misteri dalam definisi sederhana berarti “segala sesuatu yang dirahasiakan atau tidak terjelaskan”.

Tenang, saya gak lagi ngomongin soal misteri yang berbau supranatural, paranormal, atau yang semisalnya. Misteri yang akan diomongin ini, adalah misteri-misteri yang akan coba dijelaskan dengan sains, sehingga ia tidak lagi bisa disebut misteri. :D

Oke, langsung aja. Pertama kali tertarik dengan yang namanya misteri, yaitu saat saya lagi getol-getolnya pengen tahu soal gerakan-gerakan rahasia yang mencoba menguasai dunia. Mbah Gugel membawa saya ke sebuah blog yang cukup detai membahas salah satu organisasi itu. Blog Enigma namanya. Bisa dikunjungi di xfile-enigma.blogspot.com. Dari situ, saya mulai baca tulisan-tulisan yang lain di blog itu. Saking ngefansnya, saya sampai subcribe email, biar kalau ada postingan baru, saya bisa cepet tahu karena ada pemberitahuan di email.

Izmi & Lila, It's About Survival


Bismillahirrahmanirrahim



Bak gemerlap bintang di langit
Meski jauh dan tinggi berada
Namun tak pernah bosan menghiasi langit
Serta mewarnai malam
Itulah persahabatan sejati

Izmi & Lila, Beanth a Million of Stars. Tentang Izmi, seorang student pass holder di negeri berlambang singa. Oh, juga Lila, seorang student pass holder juga, di negeri yang sama pula. So? Cerita berawal tentang siapa mereka berdua masing-masing, tanpa ada keterkaitan satu dengan yang lain. Yang pasti, masalah mereka rada-rada mirip, sama-sama foreigner, sama-sama butuh uang untuk menyambung hidup, tapi menyikapi dengan cara yang berbeda.

Izmi yang tinggal di flat milik Nyonya Jen, harus rela membantu Nyonya Jen di dapur untuk menjalankan bisnis sarapan paginya. Tapi dari sanalah ia mendapat tambahan dollar untuk sekadar mengisi dompet, sekaligus bertahan hidup di tengah meroketnya kurs dollar Singapura. Sedangkan Lila, sedang berusaha memahami gambling di bursa saham yang otaknya belum sepenuhnya bersedia untuk konek dengan bidang itu.

Tentang Tiga Manusia


Bismillahirrahmanirrahim



Tentang tiga manusia yang jatuh cinta, cemburu, patah hati, tertawa, sakit dan kehilangan.
Tentang tiga manusia yang mengharapkan hal paling utopis: selalu bersama tanpa ada yang terluka.
Ini tentang dilema; tiga cerita untuk satu rasa.

Alhamdulillah, buku ini nyampe hari Sabtu kemarin, dan langsung saya lahap habis selama hari Lebaran ini. Hehehe... gak ada kerjaan sih. :p

Seperti yang ditulis di sinopsis back cover-nya, buku ini bercerita tentang tiga manusia. Estrella, Kira dan Adri. Tiga remaja yang ‘dipertemukan’ dalama sebuah kerja kelompok. Yang awalnya saling canggung, namun setelah melalui suatu hal, mereka justru seperti tak terpisahkan.

Namun satu hal yang perlu diingat. Kira menyukai Adri. Singkat cerita, mereka jadian. Tetapi Adri gak ingin hal tersebut merusak persahabatan mereka. Jadilah, dalam setiap kencan Adri dan Kira, Estrella selalu ‘dipaksa’ untuk ikut. Yah, bisa ditebak. Hal itu yang akhirnya memicu konflik demi konflik di novel ini.

Mereka Yang Terbuang


Bismillahirrahmanirrahim



“Satu hal yang membedakan sebutan crackers dengan hackers. Tindakan crackers cenderung destruktif, merugikan, bahkan melumpuhkan sistem komputer yang dijebol, termasuk mengacaukan sistem penyimpanan data... Dan bagi para Cream Crackers, kepuasan di atas segala-galanya....”
(hal. 35)



Fiuhh... Akhirnya selesai juga baca buku ini, setelah beberapa kali harus tertunda karena waktunya terpaksa dicekal karena ada hal lain. Anggap aja lagi sok sibuk gitu. :p
Buku ini istimewa banget. Karena ngedapetinnya harus dengan berkali-kali ngirimin ‘terror’ ke penulisnya. Hahah... Selain itu, kedatangannya tepat pada hari saat umur saya tambah tua. Beneran pas banget dah. :D

Oke. Buku apaan si? Tuh, gambarnya. Sebuah buku yang covernya didominasi sama warna biru, my fav color. Dengan sepasang mata tampak ‘melayang’ di atas laut dan gambar gedung-gedung pencakar langit. Seorang laki-laki keliatan memandangi kota dengan gedung-gedung itu dari seberang lautan. Tapi ngapain juga ini saya kok jadi ngebahas cover? =.=

Jadi Yang Kedua?


Bismillahirrahmanirrahim


Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana…
Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.
Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu….

Romantis. Itu kesan pertama yang saya tangkap dari untaian kata di sampul belakang buku manis ini. Bukunya emang dikemas dengan manis banget. Ya gambar covernya, warnanya, kertas sampulnya. Acungin jempol lah buat Bukune yang rasanya punya something different dalam konsep pengemasan setiap buku yang mereka terbitkan.

Pesan Bening dari Hutan Borneo


Bismillahirrahmanirrahim



Jejak itu dia namai: luka.

Saya gak tahu harus mulai darimana. Gak seperti biasanya, selesai membaca buku, tangan saya pasti gatel pengen ngetik review-nya. Tapi kali ini, saya blank. Bukan karena buku yang saya baca ini jelek, ataupun gak menarik. Melainkan lebih karena saya speechless setelah membaca buku hijau yang satu ini. Sebuah buku yang hadir dengan bahasa yang bening dan jujur.

Berapa banyak buku bertema lingkungan, ataupun buku fabel dewasa yang pernah saya baca? Baru sedikit. Dihitung dengan lima jari saja tidak lengkap. Yang paling berkesan mungkin adalah Black Beauty, biarpun sampe sekarang belum kelar juga bacanya. Hehe… Dan sekarang, sebuah buku bersampul hijau dengan gambar empat orang dan seekor orang utan telah menyita perhatian saya seharian kemarin.

Hujan Terindah dan Lelaki Teduh


Bismillahirrahmanirrahim



Woaaahhh…. Finally, selesai juga saya baca sebuah nopel, pemberian seorang Mbak nun jauh di Gading Kirana sana. Hehehe… matur suwun yo mbak…
:D

Oke, seperti biasa, saya gak bisa cuman diem aja setelah selesai baca nopel, nonton film, ato dengerin musik yang saya suka. Saya pengen berbagi. Lebih tepatnya, saya pengen cuap-cuap sendiri soal apa yang saya dapatkan. Cuap-cuap gak penting, tapi penting juga si. Tapi sebelumnya, saya ingetin dulu, judul di atas kayaknya gak mencerminkan isi tulisan ini banget deh!
:P

Hati Saya Memilih-nya

Bismillahirrahmanirrahim



Sebuah paket datang ke kantor saya. Gak usah ngelihat pengirimnya juga saya udah tahu itu paket dari siapa. Gak usah ngelihat paketnya, juga saya udah tahu itu paket isinya apa. :p
Yup. Makasih banget buat Mpok yang baik hati dan tidak sombong (terpaksa memuji), yang juga merupakan salah satu penulis pavorit sayah, Riawani Elyta, atas nopelnya yang ciamik dan ber-cover soft banget, Hati Memilih.

Kebetulan, kemaren saya agak longgar. Jadi, saya pake aja waktunya untuk mulai membaca nopel itu. Nyampe di Thanks To, saya cengar cengir sendiri. Ternyata nama saya juga disebut euy sama si Mpok! Hihihi.... Tengkyu, Mpok... xD