Bismillahirrahmanirrahim
Rindu itu akan segera aku peluk, Tuhan. Mata lelaki itu memandangi langit dari jendela apartemennya, sembari menggenggam erat liotin di kalung yang menggantung di lehernya. Ia memang lebih senang memandangi langit dengan berjuta bintang dan satu wajah rembulan, ketimbang memandangi wajah malam Dubai yang penuh gemerlap lampu berwarna warni.
Pada bintang, sering ia titipkan rindu untuk Mama. Juga untuk Leo, kakaknya. Ia sudah menggantungkan rindu itu sekian lama. Dua tahun. Bukan waktu yang singkat baginya. Mungkin bagi sebagian orang, terasa ‘Wahh’ bisa berlama-lama di negeri orang, apalagi di Dubai. Tapi ia yakin, seandainya orang itu benar-benar ada dalam posisinya, pasti orang itu akan lebih memilih untuk di rumah saja.
Karena di sini, dua belas ribu kilometer jauhnya dari keluarga, kehidupan tidak akan terasa lengkap. Rindu itu. Ya, rindu yang tidak akan bisa ia peluk sebelum benar-benar bertemu dengan yang dirindukan. Baginya, ia ingin memeluk dua rindunya secepat yang ia bisa.
Lelaki itu tersenyum. Menyatukan keping-keping kebahagiaan yang lama menghilang dari wajahnya. Barusan ia menelepon Mama, dan mengatakan bahwa dua minggu lagi ia akan pulang. Dan suara sumringah Mama, membuat bening tulus itu meluncur tanpa diminta.
Dua tahun saja sudah cukup, Ma… Lagi, ia berharap malam ini bisa berayun dalam sulur cahaya bulan, meski hanya dalam mimpinya.
“Apa, Ma? Kambuh lagi?” dahinya berkerut. Ia usap keningnya.
“Iya, Her. Gak tahu kenapa, tiba-tiba aja dia mulai linglung lagi. Kayaknya perlu obat lagi, Her,” suara dari benda kecil yang menempel di telinganya itu terdengar panik.
“Ya udah, uangnya segera aku transfer, Ma.”
“Dia nanyain kamu terus, Her. Lagi-lagi Mama dianggap nyuruh kamu pergi dari rumah.”
“Gak usah ditanggepin, Ma. Bilangin aja sama Leo, Elang juga kangen dia. Elang segera pulang kok.”
Degup. Dadanya tiba-tiba sesak oleh degup yang kian bersicepat. Beberapa saat setelahnya, ia tutup teleponnya.
Leo perlu obat lagi, dan Mama belum ada biaya untuk menebusnya. Tidak ada biaya? Bagaimana bisa? Bukankah minggu kemarin ia juga baru mentransfer sejumlah uang ke rekening Mama? Oh ya, ia hampir lupa. Ia sudah meminta Mama agar menggunakan uang itu untuk memperbaiki rumah. Karena kata Mama, lagi-lagi atap banyak yang bocor.
Baru kemarin, ketika ia menelepon Mama lagi, Mama bilang bahwa rumah sekarang sudah bersih, sudah rapi, dan cantik. Mama sudah memperbaiki atap, mengganti lantai dapur yang keramiknya sudah usang dengan keramik baru, dan mengecat rumah, agar terbentuk suasana baru. Semuanya sesuai permintaan Elang.
Lelaki itu segera membuka internetnya, dan masuk ke situs bank di mana ia menyimpan uang hasil kerjanya selama ini. Waktunya mentransfer uang untuk Mama. Untuk Leo.
-=O=-
Banyak sekali makhluk aneh di depan matanya. Ada yang terbang, ada yang bergerak cepat, ada bersuara bising, membuat telinganya sakit. Kadang ada yang memandanginya. Matanya besar, merah. Menyeramkan. Kadang ada makhluk-makhluk kecil serupa kurcaci. Mereka bernyanyi-nyanyi mengelilinginya. Dan ia pun akan ikut bertepuk tangan, menirukan irama dari para kurcaci itu.
Tapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Segera, setelah para kurcaci itu bernyanyi-nyanyi mengitarinya, makhluk lain datang. Berwajah setan, dengan tanduk di kepala. Ia akan membentak para kurcaci itu, menyuruh mereka pergi, meninggalkan lelaki itu sendiri.
Lelaki itu takut, apalagi melihat sorot mata kejam makhluk itu. Lalu lengannya akan dicengkeram oleh tangan bersisik dengan jari panjang dan kuku yang runcing, kemudian diseret masuk. Dan ia akan kembali merasakan gelap, pengap, dalam ruangan yang memenjara kebebasannya bernyanyi bersama para kurcaci.
Dulu, dulu sekali, selalu ada malaikat berjubah putih, bersayap lebar dengan senyum terkulum yang datang padanya. Malaikat itu tidak pernah marah. Jika ia meminta bintang, maka malaikat itu akan segera terbang, memetikkan bintang dari langit dan merangkainya menjadi sesuatu yang indah.
Tapi, sudah lama sekali, ia tidak lagi melihat malaikat itu. Terakhir ia melihatnya, malaikat berjubah putih itu membawa sebuah gunung di punggungnya. Matanya mengalirkan sungai. Dan di belakangnya, ada perempuan berwajah setan dengan tanduk di kepala.
Perempuan berwajah setan itu yang telah mengusir malaikat berjubah putih bersayap lebar dari hidupnya. Ia merasa ada sebuah lubang di hatinya. Tiap malam ia menangis. Berharap malaikat berjubah putih kembali datang. Tapi yang ada justru perempuan berwajah setan. Menyuruhnya diam, kadang memegang kepalanya.
Ia berontak. Ia marah. Ia ingin lepas dari segala. Ia ingin mencari malaikat itu. Ia pikir, pasti makhluk-makhluk aneh yang sering berseliweran di jalan depan rumah telah bersekongkol dengan perempuan berwajah setan, menyembunyikan malaikat berjubah putih. Ia ambil batu-batu. Ia lempari mereka, seraya berteriak-teriak agar mereka mengembalikan malaikatnya.
Sejak itu, ia dikelilingi para kurcaci yang bernyanyi-nyanyi mengitarinya. Semula ia marah dengan kebisingannya. Tapi lama kelamaan, ia merasa nyaman. Kurcaci-kurcaci itu membuatnya bahagia. Dengan nyanyian mereka, tentunya. Tapi, selalu, perempuan berwajah setan itu mengusir mereka, menyeretnya masuk. Menguncinya dalam pengap. Seperti saat ini.
Kreeekk!! Pintu penjara itu terbuka. Muncul lagi sosok perempuan berwajah setan.
“Leo, kamu makan dulu ya, Sayang. Setelah itu minum obat ya,” perempuan itu mendekat, memberinya sebuah piring.
Apa itu?? Cacing? Perempuan berwajah setan itu menyuruhnya memakan cacing? Apa perempuan itu sudah gila?!
Pyarrr!!
Ia membanting piring itu. Cacing-cacing itu berserakan di mana-mana, dalam ruang pengapnya.
“Elang sebentar lagi pulang, Leo. Dia bilang dia juga kangen banget sama Leo.”
Matanya memicing, memandangi perempuan berwajah setan. Aneh, ada air yang keluar dari mata besar dan merah itu. Sebuah nama; Elang, telah mampu menyeret ingatannya. Ya, Elang adalah nama malaikat berjubah putih yang dulu selalu hadir dengan senyumnya.
-=O=-
Selepas menjemput Doni di St. Mary’s Church yang ada di samping Raffles Hotel, ia dan kawannya itu segera melompat ke dalam bus. Menuju The Dubai Mall. Biasa, hari Jumat begini, Doni, kawan sekerja yang dua tahun ini akrab dengannya, akan ikut misa berbahasa Inggris jam sembilan pagi. Sebenarnya, berhubung pekan depan ia sudah tidak lagi di sini, ia ingin Jumat ini bisa shalat Jumat di Masjid Shaikh Zayed di Abu Dhabi. Tapi 150 kilometer terlalu jauh baginya. Maka ia putuskan untuk belanja ke The Dubai Mall saja, mungkin sekadar membelikan Mama baju, lalu cepat kembali pulang agar bisa shalat Jumat di masjid dekat apartemen sewaannya.
Seperti biasa, The Dubai Mall selalu ramai. Maklum saja, hari Jumat begini kebanyakan para ekspatriat libur, sehingga memanfaatkan waktu untuk hang out. Yah, mungkin sekedar jalan-jalan ke Dubai Aquarium, atau nonton di Reel Cinemas.
Sebelum masuk menuju ke stand pakaian, ia terhenti di depan Dubai Aquarium.
“Pengen masuk, Her?” Doni heran melihatnya diam.
“Enggak. Cuman inget Leo, kakakku. Dia seneng banget liat ikan.”
Doni mengelus pundak Elang, pelan. Lalu mereka kembali berjalan.
“Aku mungkin masih dua tahun lagi, Her, di sini,” kata Doni sambil terus berjalan. “Kamu beneran mau pulang? Baru juga dua tahun, Her.”
Elang tersenyum. Memandang ke sekelilingnya. Banyak orang dari berbagai negara yang tumpah ruah di sini.
“Itu udah cukup, Don. Gimana pun juga, gak enak jauh dari keluarga. Pepatah ‘Makan gak makan, yang penting kumpul’, rasanya ada benernya juga.”
“Mati dong!”
“Hahaha….” Elang menepuk punggung Doni pelan. “Gak gitu, Don. Ya tetep lah kita cari penghasilan. Hanya saja, kalau deket sama keluarga kan enak, jadi semangat. Kalau di sini, gak kuat kangennya, Don. Apalagi ada Leo. Kayak yang sering aku bilang, selama ini dia cuman deket sama aku, Don. Dia gak pernah mau sama Mama.”
Doni mengangguk paham.
“Kata Mama, belakangan ini dia udah mulai sering lagi nanya-nanya tentang aku. Aku kasihan sama dia, Don. Aku juga kasihan sama Mama. Mama udah mulai tua, dan dia masih harus repot ngurusin Leo yang keadaannya kayak gitu.”
Nada rindu itu jelas terbaca. Ah, hidup jauh dari rumah memang menyiksa, meski materi seakan datang sendiri tanpa diminta. Pekerjaannya sebagainya game progammer, sebenarnya cukup menjanjikan. Tapi ia sudah tidak betah. Ia hanya ingin pulang. Dan Doni memahami itu.
Mereka tiba di depan stand Carolina Herrera. Elang ingin membelikan baju dulu untuk Mama. Setidaknya, baju yang bisa Mama pakai untuk ke pengajian ibu-ibu.
-=O=-
Matanya tidak bisa terpejam. Padahal bintang sudah memenuhi langit di luar sana, dan bulan juga barusan menyapanya. Tapi ia enggan. Ia terlalu sakit. Lagi-lagi ia harus mendapat kata-kata pedas dari wanita berwajah setan.
“Leo, sudah berapa kali Mama bilang, jangan ngelempar batu ke orang-orang. Itu gak baik, Leo. Kasihan orang-orang. Akibatnya Mama yang kena semprot. Kamu tolong ngertiin Mama dong, Leo.” Begitu oceh perempuan berwajah setan yang menyebut dirinya Mama itu sore tadi, sambil menyeretnya masuk dalam ruang pengap, gelap.
“Elang.” Kata itu meluncur dari bibirnya seketika.
“Iya, Leo. Elang sebentar lagi pulang.”
Padahal kau yang mengusirnya! Tidak mungkin malaikat itu akan kembali kemari setelah kau usir!! batin lelaki itu sambil menatap perempuan berwajah setan.
Kini lelaki tiga puluhan tahun itu sudah berdiri di samping tubuh perempuan berwajah setan yang tengah memejam mata. Ia pandangi wajah perempuan itu. Aneh. Tiba-tiba ia merasa wajah itu begitu teduh. Tenang. Seperti malaikat berjubah putih dengan sayap lebar bernama Elang. Wajah itu, adalah wajah yang sumringah ketika dulu ia berhasil membawa pulang nilai sepuluh selepas ujian dari sekolahnya. Wajah itu yang memandanginya penuh cinta, yang mendongengkan ia cerita tentang laut, tentang bintang dan bulan tempat berayun para peri. Itu wajah Mama. Wanita yang juga membesarkan malaikat berjubah putih.
Tapi lalu matanya menyipit. Tidak! Perempuan yang tengah berbaring ini bukanlah malaikat! Ia setan! Ia lah yang selama ini membela setan-setan yang lewat di depannya. Kenapa dilarang? Ia hanya melempari setan-setan yang seakan risih ketika melihatnya. Biar mereka pergi. Biar mereka tahu, bahwa ia tidak lemah. Ia berani melawan setan-setan itu. Tapi selalu, perempuan itu menghalanginya, memarahinya, lalu menyeretnya ke dalam ruang pengap.
Perempuan yang berbaring ini jugalah yang selalu mengusir para kurcaci yang bernyanyi-nyanyi riang mengitarinya.
“Orang gila…. Ada orang gila!! Leo gila!!” begitu nyanyi para kurcaci itu.
Dan perempuan itu akan datang, mengusir mereka sambil membentak-bentak. Dasar perempuan berwajah setan sialan!
Lagi, ingatannya terbang. Ke hari itu, di mana ia melihat malaikat berjubah putih menggendong gunung, dengan mata mengalirkan sungai, pergi dari istana ini. Perempuan ini mengusirnya! Perempuan berwajah setan ini tidak menghendaki kebahagiaan bagi dirinya. Perempuan ini selalu saja jahat dengannya. Perempuan ini memang setan!
Mata Leo nanar, menyusuri isi kamar. Ia bergerak, keluar. Ia kunci pintu itu dari luar. Lalu ia tersenyum.
Gegas ia keluar, ke ruang tamu, lalu mengambil botol-botol berisi cairan berwarna kekuningan yang sering dijual wanita itu. Ia kembali ke depan pintu kamar, menumpahkan dua botol di pintu dan lantai.
Sejenak ia linglung. Bingung. Apa yang mau dilakukannya? Ah ya! Ia ke dapur, mengambil sebuah benda. Korek api! Ia nyalakan. Matanya berkilat. Menyeramkan. Senyumnya melebar.
“Hihihiii….” Ia tertawa. Entah kenapa.
Ia lempar batang korek yang menyala itu ke pintu. Dan pintu itu memanas, api segera merambat.
Ia keluar, masih sambil tertawa-tawa, dan sesekali melompat-lompat kegirangan. Ia raih lagi botol-botol yang masih tersisa, lalu ia keluar rumah. Leo menuju jendela kamar Mama, dan menyiramkan satu botol bensin ke sana. Ia nyalakan korek, lalu ia buang.
“Hahaha…” Lagi, ia tertawa. Kali ini disertai tepuk tangan, seperti anak kecil yang baru saja menyaksikan pertunjukan spektakuler.
Ia berlari-lari lagi. Mengitari rumah, menumpahkan semua botol. Di dinding, di pintu, di atap. Ia nyalakan lagi koreknya. Dalam sekali sulut, api cepat merambat ke segala penjuru rumah.
Matanya makin berkilat. Ia menang. Perempuan berwajah setan itu pasti senang. Bukankah setan dari neraka, dan neraka adalah api? Ia mengirim wanita itu ‘pulang’ ke ‘rumah’nya yang sebenarnya.
“Hahahahaha….”
Bummm!!! Dhuaarrr!!!
Tampaknya tabung elpiji sudah meledak. Terdengar jerit memilukan di dalam.
“Leooooo!!!! Tolooooooongg!!! Tolooooooongg!!! Leooooooooo!!!!”
“Hahahaha…. Hahahaha…..” Ia masih tertawa. Terbahak-bahak sambil menunjuk rumah yang terbakar. Ia puas.
-=O=-
Elang menghela nafas. Ia sudah di Dubai Airport. Pesawatnya berangkat sebentar lagi. Wajah bahagia Mama sudah terbayang di matanya yang mengabut. Juga wajah Leo, tempatnya menambatkan rindu yang selama ini hanya mampu ia gantung di atas bintang. Aku pulang, Ma. Aku pulang, Leo.
Ngawi, 250910

2 comments :
Keren Rul. Sadis tapi. :)
Keren! :)
Post a Comment