Bismillahirrahmanirrahim
Jilbab. Hah... sudah lama banget
saya pengen bikin tulisan soal ini. Biarpun di blog-blog lain sudah banyak
banget yang membahas jilbab, mulai dari kewajibannya, sampai jenis-jenis jilbab
yang dikenal oleh masyarakat. Saya gak akan membahas kewajibannya, karena sudah
jelas sekali. Saya pengen membahas, apa aja sih jenis ‘jilbab’ yang dikenal
oleh masyarakat muslim, baik di Indonesia maupun di dunia? Oke, iya saya tahu,
ini juga udah sering dibahas. Tapi gak tahu kenapa, saya pengen aja bikin yang
versi pengamatan saya sendiri. :p
Oke. Langsung aja cekidot
beberapa list yang udah saya bikin. :D
Selendang Kerudung
Maksud saya, ini aslinya
selendang, tapi dijadiin penutup kepala, yang dikerudungkan ala kadarnya aja di
kepala. Sehingga, dengan kerudung model begini, rambut bagian depan masih akan
kelihatan, leher pun gak tertutup. Tahu istrinya Gusdur kan? Yeni Wahid dan
ibunya itu merupakan ‘penganut’ gaya ‘berjilbab’ model ginian. Ada juga
penyanyi yang kemana-kemana pake kerudung kayak gini, tapi kadang dipadu dengan
baju yang belahan dadanya rendah banget. -_-
Katanya, istri ulama-ulama di Indonesia
jaman dulu, kerudungnya ya model-model seperti ini. Istri Buya Hamka, misalnya.
Masyarakat pesantren dulu, kayaknya sih emang menganut model gini. Bisa kita
lihat di film Di Bawah Lindungan Ka’bah, misalnya.
Yang perlu diingat, kalau pakai
kerudung dengan model ginian, jelas sama sekali itu tidak bisa disebut sebagai
jilbab. Gak memenuhi syarat banget. Bahkan, itu sangat mirip dengan pakaian
masyarakat Arab sebelum turunnya perintah jilbab, yaitu kerudung tidak ditutupkan
ke dadanya, sehingga leher juga kelihatan.
Ciput / ‘Peci’ Kerudung
Saya gak tahu harus menyebutnya
gimana. Saya gak tahu namanya. Tapi saya masih inget dengan jelas, zaman saya
kecil dulu, menjamur banget qasidah-qasidah yang personelnya ibu-ibu, atau
perempuan-perempuan muslimah, dengan memakai sesuatu kayak ciput, bahkan kayak
peci, tapi ada kain yang terulur ke bawah. Kalau dipikir-pikir, mirip lah
dengan yang pertama tadi. Cuman ditambahin ciput atau sesuatu yang mirip peci
aja. Leher juga masih kelihatan jelas. Gak memenuhi syarat untuk disebut
jilbab. Padahal lagunya ada yang judulnya ‘Jilbab Putih’. -_-
Kerudung Klasik
Ya, simpel sekali, tapi cukup memenuhi syarat kerudung. Sejak awal 90-an sampai awal 2000-an, muslimah yang memilih berjilbab, biasanya memakai kerudung jenis ini. Cukup dengan kain segiempat yang lebar, lalu dibentuk segitiga, dan dipasangkan di kepala. Tidak lupa, bagian depan ditutup dengan peniti atau jarum pentul. Saya juga ingat, guru agama saya waktu SD (tahun 90-an) memakai kerudung seperti ini. Tapi, zaman dulu mah, pakai kerudung begini aja udah susah. Makanya gak heran kalau masih banyak yang berkerudung model begini, tapi roknya di atas mata kaki, dan gak pakai kaus kaki pula. Yah, karena emang simpel sih. Yang penting syarat kerudung yang harus menutup dada terpenuhi. Gaya kerudung klasik yang simpel ini gak akan pernah lekang dimakan waktu.
‘Jilbab’ Lilit
Seinget saya, awal 2000-an, mulai muncul gaya ‘berjilbab’ yang sepertinya bisa dibilang tonggak awal mulai diterimanya ‘jilbab’ di kalangan masyarakat luas. Inneke Koesherawati tiba-tiba muncul dengan ‘berjilbab rapi’. Ujung kerudung yang biasanya menjuntai menutup dada, oleh Inneke dililitkan ke lehernya, sehingga kesannya lebih praktis dan gak ribet, bisa bergerak lebih bebas. Dia pun berani pakai baju-baju muslimah yang trendi (biarpun trendinya tentu saja gak kayak sekarang). Pakai ‘jilbab’ yang dililitkan di leher, pakaian lengan panjang, dan celana panjang. Jadilah ‘muslimah modern’ yang dinamis dan gak kayak ‘karung berjalan’.
Sayang, hal paling pokok dari kerudung, yaitu harus menutup hingga dada, justru ditabrak dengan gaya semacam ini. Biasanya juga ada yang memilin ujung sisa jilbabnya jadi kayak pilinan rambut. Hedeh...
Kerudung Praktis
Mirip sih dengan gaya kerudung klasik. Cuman, kainnya lebih beragam. Ada yang tetep pakai katun, banyak juga yang pakai kain paris. Semuanya segiempat, lalu dibuat jadi segitiga untuk selanjutnya dipakai di kepala. Menutup dada juga. Tapi yang ini lebih kreatif, dengan menambahkan bros, atau sekadar pin. Kerudung jenis ini yang banyak dipakai oleh sebagian besar muslimah yang gak mau ribet. Praktis, simpel, tapi tetap elegan.
Biasanya, pemakainya memadupadankan dengan kemeja atau kaos lengan panjang, dengan rok atau pun celana bahan panjang. Tapi gak jarang juga yang dengan pede pakai jeans yang jelas-jelas membentuk lekuk kaki. Ada yang juga menutup kakinya dengan kaos kaki, ada pula yang membiarkan kakinya kelihatan.
Untuk pemakai kerudung jenis ini, saya cukup mengapresiasi, selama pakaian mereka gak ketat. Meskipun, belum bisa juga untuk disebut sebagai jilbab.
Kerudung Langsung Pakai
Awal hingga pertengahan 2000-an juga adalah tahun dimana menjamurnya ‘jilbab-jilbab’ dari bahan kaos. Yang jauh lebih bikin praktis adalah, kerudung jenis ini gak perlu ribet-ribet pakainya. Langsung pakai aja, beres. Padu padannya juga sama kayak yang di atas.
‘Jilbab’
Gaul
Gaul banget. Saking gaulnya, orang cuman perlu celana jeans ketat, kaos
ketat, kerudung yang dililitkan di leher, ataupun dibiarkan menjuntai tapi
kepalanya seperti punuk unta. Ini yang make asli kayak gak berpakaian. Ber’jilbab’
tapi telanjang. Karena seluruh lekuk tubuhnya masih kelihatan dengan jelas.
Banyak juga yang kalau membungkuk, ujung kaos belakangnya tertarik ke atas
sehingga memperlihatkan auratnya dengan jelas. Parah banget kalau yang kayak
gini.
Kerudung Turban
Modelnya
dililit-lilit ke kepala, kayak sorban yang biasa dipakai ulama-ulama itu. Tapi
jatuhnya malah kayak topi. Bahkan ada yang jadi ke atas banget. Hati-hati, kena
hadist soal ‘punuk unta’ itu lho... :(
Kerudung Tumpuk
Namanya aja tumpuk.
Iya, ini dibikin bertumpuk-tumpuk. Ada yang cuman 2 kain, ada yang sampe 3 atau
4 kain. Dibikin aneh-aneh. Apa gak berat ya kepalanya?
Kerudung
Hijaber
Yang ini nih yang
lagi ngetren sekarang ini. Mereka menyebutnya, ala ‘hijaber’. Dian Pelangi
adalah salah satu nama yang populer di kalangan ini. Biasanya, mereka pakai
dalaman yang menutup sampai ke leher, terus kerudung paris, atau pashmina, atau
selendang, atau kain apapun lah itu, mereka atur-atur sedemikian rupa biar jadi
sangat menarik. Ada pula yang dibiarkan berkibar-kibar tertiup angin (karena
gak rapat, dan emang sengaja dibikin gitu), sementara dalaman atau ciput
merekalah yang kelihatan jelas.
Pakaian pun sangat
beragam. Mulai dari kaos-kaos besar, rok-rok dan celana-celana yang bentuknya
unik-unik. Hingga pernak-pernik yang lumayan rame.
Memenuhi syaratkah?
Mungkin dari sisi panjang kerudung, banyak di antara mereka yang kerudungnya
dibuat menutup dada. Dari sisi loggar dan gak membentuk tubuh, baju-baju mereka
biasanya longgar-longgar dan besar-besar. Tapi dari sisi yang lain? Dari sisi
‘tidak menarik perhatian’, itu terlewatkan. Karena dengan gaya yang rame
seperti itu, mereka justru menarik mata orang-orang untuk memperhatikan mereka.
Apa ini berarti, yang mereka kenakan adalah yang disebut Syaikh Al Albani
sebagai libasy syurah, pakaian ketenaran, atau untuk menjadikan dirinya pusat
perhatian? Dari niat dan hati, Allahu a’lam. Tapi zhahirnya, iya. Jadi? Saya
harus mengatakan bahwa sebagian besarnya tidak memenuhi syarat jilbab.
Jilbab Syar’i
Ini pakaian yang biasanya dipakai
oleh muslimah-muslimah yang berada dalam sebuah harakah atau pergerakan Islam.
Tapi sekarang, banyak juga dipakai oleh muslimah-muslimah yang memang mulai
menyadari arti jilbab yang sebenarnya.
Jilbab ini juga simpel kok. Cukup kerudung segiempat yang lebar, dan dibentuk seperti kerudung klasik. Atau bisa juga dengan kerudung langsung pakai yang panjang dan lebar. Biasanya akan dipadu dengan gamis selutut, rok panjang, ataupun jubah. Sebagai dalaman, mereka juga pakai celana panjang agar waktu naik motor betis gak kelihatan. Gak usah ditanya, mereka pasti juga pakai kaos kaki karena memang telapak kaki juga aurat yang harus ditutupi.
Ya, inilah jilbab. Pakaian yang terdiri dari kerudung minimal sedada, gamis dan rok, ataupun jubah, plus kaos kaki untuk menutupi telapak kaki. Seperti inilah yang diperintahkan Allah, dan dijelaskan dalam kitab-kitab para ulama, semisal Jilbab Al Mar’atul Muslimah karya Syaikh Al Albani –rahimahullah.
Niqab
Sering lihat perempuan-perempuan dengan kerudung hitam yang sangat panjang, bahkan ada yang melebihi betis? Wajah mereka pun tertutup, dan hanya terlihat kedua matanya saja. Bahkan kadang ada yang menutupkan kain tipis di atas niqabnya, agar matanya gak kelihatan, tapi dia sendiri masih bisa melihat dengan jelas dari balik kain tipis itu.
Pakaian mereka biasanya berupa abaya atau jubah yang panjang, dan berwarna gelap, atau minimalnya yang tidak mencolok, seperti hitam, merah hati, biru donker, cokelat tua, hijau tua. Biasanya juga, jilbab mereka polos, tanpa hiasan apapun. Tapi sekarang, sudah banyak juga yang diberi sekadar bordir-bordir cantik yang tidak mencolok di pinggir-pinggir kerudung ataupun abayanya.
Arab Saudi adalah negara yang kaum perempuannya keluar rumah dengan memakai abaya dan niqab. Gak peduli setelah berkumpul dengan para wanita, atau masuk dalam sebuah gedung, mereka melepas niqab dan kerudungnya atau tidak, yang pasti saat berada di jalan raya atau tempat umum, adalah tabu memperlihatkan wajah.
Mengenai hukum niqab sendiri, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tapi yang saya yakini, niqab itu sunnah. Sangat baik seorang perempuan yang menutup wajahnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Sebagaimana hal ini pula yang kita contoh dari para Ummahatul Mukminin dan para shahabiyah.
Burqa
Kalau pernah browsing soal
Afghanistan, pasti sering mendapati gambar perempuan-perempuan yang seluruh tubuhnya ‘terbungkus’ kain biru, atau
warna-warna tidak mencolok. Di bagian wajahnya, terutama mata, pun tertutup
kain. Hanya saja di bagian itu dibuat seperti jaring-jaring untuk memudahkan
pemakainya melihat dengan jelas.
Sebenarnya fungsinya sama dengan niqab, karena sama-sama bertujuan untuk menutup wajah perempuan. Yang membedakan hanya bentuknya saja. Niqab biasanya bisa dilepas, kebanyakan juga terpisah dengan kerudung. Sedangkan burqa, adalah kerudung yang langsung menutup seluruh kepala, wajah, hingga betis atau lebih dari itu.
Yang seperti ini memang kelihatan ‘kumuh’ dan seperti ‘karung berjalan’, kalau kita melihat dari kacamata orang awam. Tapi lihatlah dari sudut pandang fiqh. Insya Allah, pakaian seperti ini adalah pakaian yang jauh dari fitnah, karena saat perempuan keluar dari rumahnya, mereka sama sekali tidak menarik di mata lelaki ajnabi. Lha gimana mau menarik, wong gak ada yang bisa dilihat dari dirinya? :D
Itulah sekelumit jenis-jenis jilbab dan kerudung yang saya tahu. Pesan saya, berjilbablah, minimalnya yang syar’i. Kalau belum bisa, ya pakailah kerudung simpel yang menutup sampai dada, pakaian lengan panjang, dan rok atau celana panjang yang cukup longgar dan tidak membentuk lekuk tubuh (ada yang mengatakan bahwa celana panjang adalah pakaian lelaki, maka untuk membedakannya hendaknya perempuan yang bercelana panjang menutupinya dengan rok panjang). Selamat berjilbab, Saudariku... Ingat, berjilbab ya, bukan berkerudung... Menutup aurat ya, bukan membalut aurat... ^_^
Wallahul muwwafiq...
Ngawi, 160113


















15 comments :
Takjub, ternyata loe care soal jilbab, semoga byk yg baca ini jd tercerahkan n sejenak ngelongok jilbab style nya udh bener apa belom
Artikel yang sangat bermanfaat. Tfs :)
Pengen punya istri yang pake jilbab syari'i. :p
ulasan yang menarik, informatif, dan komprehensif. Terima kasih sudah berbagi... Terus semangat ngeblog! :D
Alhamdulillah,memperluas wawasan saya..
:)
terima kasih banyak,,,
^_^
naaaaaaaaaa ini tugas kamu sebagai suami (imam) dari istrimu nanti...!
jadi tambah ilmu
terima kasih sudah bersedia mampir :D
alhamdulillah... terima kasih juga sudah berkunjung ^_^
walhamdulillah ^_^
iya dong... dari dulu saya care, cuman belom sempet nulis aja :p
alhamdulillah... makasih :)
cari doooong :p
JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari 'Tabarruj'
berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31
'Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,
"Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!"
Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.
Kesopanan Iman
Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur'an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?
Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur'an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?
Al-Qur'an bukan buku mode!
Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.
Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam, dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.
Kebaya model Jawa yang sebagian dadanya terbuka, tidak dilindungi oleh selendang, dalam pandangan Islam adalah termasuk pakaian "You can see" juga. Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islam.'
MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA
Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA
"paling konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, HAMKA mengusulkan agar dalam Sila Pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang 'kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya', sebagaimana yang termaktub dalam Piagam Jakarta."
mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html
Mantan Menteri Agama H. A. Mukti Ali mengatakan, "Berdirinya MUI adalah jasa HAMKA terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri."
kemenag.go.id/file/dokumen/HAMKA.pdf
"Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib."
disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau
"Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab." nu.or.id
"Antara Syari'ah dan Fiqh
(a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat'i dan ini Syari'ah)
(b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)
Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat."
*Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html
Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:
1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
2. Menganggap pasti (Qhat'i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).
*Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013
www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html
*bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai Salafi Wahabi (yang notabene identik dengan Arab Saudi). "Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama" #HAMKA #MenolakLupa
bukannya kalo niqab dan burka itu justru menarik perhatian ya?
Post a Comment