Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Kenangan. Tentang Kita...


Bismillahirrahmanirrahim


I won’t let time erase one bit of yesterday
Cause I have learned that nobody can take your place...
-Mariah Carey-


Malam ini, saya kembali mengingat kalian. Kenangan-kenangan yang pernah kita abadikan bersama, satu persatu saya buka. Di sana ada tawa. Ada saat di mana kepala kita seperti diputar-putar, lalu ternyata di depan kita adalah sebuah tembok yang tak berpintu. Ada saat di mana kita usai menghapus keringat sebab lelah yang membawa bahagia. Boleh kan, saya kembali mengingat masa-masa itu? Masa yang sebenarnya baru sebentar kita lepas di belakang. Masa yang hanya mengizinkan kita sebentar saja bersama. Namun bagaimanapun juga, kenangan telah tertulis. Tentang kita.

Saya ingat saat pertama kali kaki ini menginjakkan kaki di asrama itu. Berjuta perasaan aneh mendera saya. Takut, nervous, mual, gemetar, dan sebagainya. Sebab saat itu semuanya masih sangat abu-abu. Pertama kali melihat kalian pun, saya seperti, “Oh gosh! Apakah saya akan bisa akrab dengan makhluk-makhluk ini nantinya?”

Saat memasuki kamar itu pertama kalinya, yah, saya nervous bukan main. Bertemu dengan wajah-wajah baru, yang akan melalui dua bulan ke depan dalam satu ruangan. Apalagi, ingat kan, saat itu kita semua dalam keadaan botak? Rambut yang tersisa di kepala kita, panjangnya mungkin kurang dari setengah mili. Penampilan tersebut membuat tampang-tampang baru itu terlihat ‘sangar’ di mata saya. Dan, untuk pertama kalinya, saya akan sekamar dengan empat orang Sumatera sekaligus. Saya berpikir, komunikasi mungkin akan sedikit ada ganjalan, karena saya sendiri sebenarnya kurang nyaman berbicara dalam bahasa Indonesia secara terus-menerus.


Tapi, guess what? Setelah beberapa hari, beberapa minggu kita jalani bersama, kekakuan itu cair dengan sendirinya. Meski di minggu-minggu awal, saya merasa masih sangat sendiri, karena belum menemukan teman yang benar-benar ‘teman’, yang bisa diajak mengobrol apa saja tanpa rasa canggung. Alhamdulillah, semakin bertambahnya pekan yang kita lalui, semakin saya mengerti karakter dari masing-masing kalian. Meski saya sendiri tetap pada karakter saya yang pendiam, tapi setidaknya, saya merasa, kalian pun mulai bisa menerima saya dan menganggap saya ‘ada’. Saya mulai bisa masuk ke dalam obrolan-obrolan kalian. Saya mulai bisa merasakan kehangatan persahabatan yang kalian beri.

Saya tidak akan pernah melupakan hari itu. Saat kita semua merayakan ulang tahun perusahaan. Beberapa dari kita, termasuk saya, tergabung dalam tim PBB, yang akan mewakili kelas kita di lomba antar kelas. Haha... iya, iya. Saya ingat, lomba balap karung, lomba bagiak, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, bahkan lomba voli, tak satupun gelar juara didapatkan oleh kelas kita. Maka lomba PBB-lah satu-satunya harapan. Dan, benar saja, di tengah terik matahari, usai makan siang dan disuguhi dangdut (yang bagi saya amat sangat membosankan), kita bersorak bersama, karena kelas kita diumumkan sebagai juara pertama lomba PBB. Alhamdulillah... saya bersyukur saat itu. Karena setidaknya, saya sudah memberi kontribusi bagi kelas kita. Meskipun... kalian pasti juga tidak akan lupa, hadiah apa yang kita dapat sebagai juara pertama. Haha... menggelikan memang. Karena kotak sebesar itu ternyata hanya berisi mangga, kacang, permen, dan rokok. Yah, maklum, mungkin tempat pendidikan kita sedang miskin waktu itu. :D

Tidak akan pernah pula kita lupakan, bagaimana kecamuk perasaan kita kala menghadapi ujian lisan. Terutama dari dosen yang mengajar rangka bawah. Bagaimana tidak kebingungan, jika 1 siswa saja ‘disidang’ selama 1 jam, bahkan lebih?! Dari pagi, sampai malam hari, kita masih di kampus menunggu giliran untuk dipanggil. Wajah yang kusam, pakaian yang kusut, pikiran yang semrawut dan badan yang lelah. Hmm... tapi setidaknya, satu kenangan lagi telah tertulis kan? ;)

Kita juga sangat kesal, ketika waktu penutupan kita ditunda dan diundur-undur terus oleh pihak kampus. Bahkan kita pernah berdemo bersama-sama di depan kantor manajer. Haha... meski tetap saja, ujung-ujungnya kita kalah juga, dan terpaksa menurut pada aturan yang ditetapkan, yang tentunya disertai ancaman-ancaman itu.

Ah... masih banyak sekali hal tentang kita. Tidak mungkin saya bisa menuliskannya satu persatu.

Diklat itu telah berakhir. Tapi saya harap, jalinan ukhuwah yang telah terjalin baik selama dua bulan kita bersama, tidak ikut berakhir di sana. :)

Semua yang kita lalui telah tertulis dalam lembar-lembar kenangan. Menjadi rindu yang menggebu saat kita mengurainya kata demi kata, episode demi episode. Saya merindukan kalian semua. Saya merindukan suasana belajar saat kita sama-sama tak bisa menahan kantuk ketika dosen menjelaskan. Saya merindukan suasana asrama, dan yang pasti, saya sangat merindukan kamar yang saya huni, beserta penghuni-penghuni dari Sumatera dan Yogya (cak mano kabarnyo? :D). Saya merindukan semuanya, karena tak akan ada yang bisa menggantikan kenangan itu.

Tapi, ada 1 hal yang tidak bisa saya rindukan. Haha... seriously, saya sama sekali tidak kangen dengan menu di asrama yang berupa ‘lingkaran setan’; ikan, telor, ayam. :D


Ngawi, 151112



1 comments :

jiaaahhh peh bar tak kirimi foto kamarmu mau mesti ki... hahaha... *Ngakungaku xD

 

Post a Comment