Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Cukup Sekali Saja!!!

Bismillahirrahmanirrahim

            Sore tadi, kebetulan saya lagi pengen nonton tivi. Penasaran sama serial Glee yang tayang di GlobalTv, yang dari kabar-kabar yang saya baca, itu serial tivi paling digemari di negerinya Obama sono.

            Masih jam 3, Glee belom mulai. Saya pindah channel ke Tv7. Eh, ada Base Camp! Kali ini, pesertanya cewek-cewek. Lucu juga lho dilihatnya. :D

            Selama nonton Base Camp, beberapa kali mata saya sembab. Hampir menangis. Apalagi saat sesi psikologi. Mengingat orang tua, mengingat perjuangan mereka, lalu mengingat apa saja yang sudah kita beri untuk mereka. Terlalu banyak dosa, rasa bersalah, dan sebagainya, yang pasti, tiba-tiba saja muncul selama sesi psikologi.

            Menonton Base Camp, bikin saya ingat dengan kenangan setahun lebih yang lalu. Kenangan yang gak bakalan pernah saya lupakan. Tapi, kayaknya cukup sekali seumur hidup aja deh.


Akhir Januari 2009
            Perusahaan mewajibkan kepada seluruh pegawai magang yang baru, untuk mengikuti pendidikan dasar kewiraan, atau yang biasa disingkat sebagai Diksar Wira. Hal ini sebagai syarat agar pegawai tersebut kelak bisa diangkat menjadi pegawai tetap.

            Akhirnya, akhir Januari itu, saya dan teman-teman satu angkatan, berangkat ke Bandung. Setelah sebelumnya kami juga diwajibkan untuk memangkas habis rambut yang menghiasi kepala.

            Perasaan saya…. selama perjalanan sebelas jam dengan kereta Mutiara Selatan itu, masih nyantai dan tenang-tenang saja. Tapi begitu tiba di kantor pusat di Bandung, suasana berubah.

            Serba terburu-buru, wajib rapi, dan sebagainya, memacu denyut jantung saya. Apalagi, di sekitar sana banyak banget pak tentaranya!! >_<

            Setelah dari sana, kami semua, pegawai-pegawai baru dari seluruh pulau Jawa dan Sumatera, dibawa sama para pak tentara itu dengan sebuah truk. Terus naik. Ke Lembang. Dan tibalah kami di sebuah tempat bernama Pusdik Ajen, Lembang.

            Kami didata untuk diberi buku-buku dan keperluan MCK. Tentunya dengan antri sambil duduk jongkok di lapangan. Nah, hal yang gak mengenakkan buat saya, mulai terjadi.

            “Heh, kamu! Sini kamu!!”

            Saya toleh-toleh. Oh, saya to yang dipanggil? Perasaan saya sudah gak enak banget.

            “Anak buahnya Amrozi ya kamu?” kata seorang tentara itu sambil memegang celana saya. Waktu itu saya pake celana bahan warna hitam, yang panjangnya hanya sampai di atas mata kaki.

            “Ini apa ini?” Beberapa kawannya datang. Memegang celana saya.

            “Kamu aliran apa?”

            Saya bingung. Maksud loh???

            “Saya muslim, Ndan.”

            “Iya, saya juga tahu. Tapi muslim kan banyak. Ada NU, ada Muhammadiyah, ada yang kayak Amrozi. Kamu anak buahnya Amrozi ya? Pake jenggot segala!”

            “Enggak, Ndan. Saya muslim!”

            Lalu seorang dari mereka memegangi jenggot saya. Dan, tanpa saya duga, dia menyalakan korek tepat di bawah dagu saya. Mau bakar jenggot gue nih?? Spontan saya menghindar. Tapi yang namanya siswa baru, saya gak bisa berkutik saat seseorang datang membawa pisau cukur.

            Ia mendekatkan pisau cukurnya ke saya. Saya menahan nafas. Dan… tragedi itupun terjadi.

            Srek.. srekk… Suara gesekan silet dengan dagu saya, memotong jenggot yang sudah tiga tahun saya pertahankan. Saya menangis, biarpun cuma dalam hati. Hiks… Bye bye my jenggotPerjalananmu ternyata berakhir di Pusdik Ajen. T_T


Hari-hari Melelahkan
            Saya harus bangun sebelum jam tiga pagi, untuk mandi dan buang hajat. Karena kalau sudah mulai mendekati waktu Subuh, kamar mandi akan penuh oleh mereka-mereka yang mandi secara berjamaah. Bagi saya, mandi berjamaah tuh gak banget!!! >_<

            Selama di sana, tidak ada waktu kosong tanpa kegiatan. Selalu adaaaaaa aja kegiatannya. Kalau gak baris berbaris, ya push up, tiarap-tiarapan, berguling-guling di halaman, jalan jongkok, dan sebagainya. Tentu saja perintah-perintahnya gak dengan suara lemah lembut, tapi dengan suara keras sambil bentak-bentak.

            Hal yang paling bikin saya ilfil, adalah ketika makan. Ya Allah… Mau makan aja kebanyakan aturan! Yang ketika masuk dan keluar ruangan harus menghormat dulu lah, yang harus baris rapi dulu lah sebelum makan, yang makannya gak boleh bungkuk-bungkuk lah (“Sendok cari mulut! Bukan mulut cari sendok!!” begitu biasanya bentakan dari para Komandan), dan yang paling nyebelin, semua makanan harus habis, dalam waktu yang sangat singkat. Dihitung lho sama Komandan, mulai dari satu sampe sepuluh! Gila apa?!!

            Saya yang biasanya makannya klemar-klemer, alias lambat banget, kali ini harus berjuang ekstra keras. Mana nasinya masih kurang mateng lagi. Belum lagi lauk dagingnya yang alotnya na’udzubillah! Akhirnya, pas Komandannya lengah, saya comot tuh nasi, saya masukin ke saku baju! Hehehehe….

            Yang agak membuat saya haru, adalah ketika outbond menuju Tangkuban Perahu. Waktu disuruh melintasi tali, qadarallah kaki saya tiba-tiba kram, gak bisa digerakkan. Ini membuat saya gak bisa mengikuti tantangan yang satu itu. Tapi, seorang komandan justru mengajak saya ngobrol.

            “Doain saya ya, biar saya bisa cepet balik ke Palembang,” begitu kata komandan itu (saya lupa namanya siapa. Kalo gak salah, Komandan Edi)

            “Doain saya juga, biar cepet dipindah ke Bali,” kata Komandan yang satu lagi.

            Lahh… Emangnya saya biro doa?

            Sebelumnya, komandan Edi mengajak saya berbincang-bincang. Mengenai apa-apa saja yang dibahas dalam kajian-kajian yang saya ikuti. Yang ternyata, beliau juga memahami lho kitab-kitab apa saja yang dipelajari.

            Hangat sekali perbincangan waktu itu. Sampai waktu habis, dan saya harus berlanjut ke tantangan berikutnya.

            Sialnya, ketika jam istirahat, saya sudah dicari-cari lagi sama Komandan Simare-mare.

            “Hei, Pak Haji, ke sini kau!! Pimpin itu yel yel!”

            Waks!! Disuruh mimpin yel yel?? Ini bener-bener pengalaman gila, yang justru saya syukuri di kemudian hari, karena sudah diberi kesempatan merasakan pengalaman seperti ini.


Pelajaran yang Saya Dapat
            Sebetulnya, banyak sekali yang bisa saya tulis di sini. Tapi ntar kepanjangan. Jadi to the poin saja.

            Ada banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan selama sepuluh hari di sana. Saya merasakan jiwa yang semakin dewasa. Yang tadinya saya hanyalah seorang pemalu, di sana, saya bisa berkespresi tanpa harus takut dicemooh. Yang tadinya saya pikir fisik saya lemah, ternyata di sana, saya malah segar bugar terus kok, biarpun tiap hari harus diguyur gerimis pas kegiatan. Yang tadinya saya suka memolor-molorkan jam, di sana, saya harus selalu on time, karena kalo gak, bisa kena hukum. Dan yang paling penting, terbentuknya jiwa korsa, yakni merasakan senasib sepenanggungan dengan teman-teman yang lain. Timbul sebuah kesetiakawanan yang sangat erat di sana.

            Ah… Mengenang masa-masa itu, ada sebersit kerinduan yang sangat mendalam. Rasa kebersamaan itu…  Kemandirian itu… Tapi, kalo disuruh balik lagi ke sana, saya adalah orang pertama yang akan mengacungkan tangan, dan teriak, “OGAAAAHHH!!”

            Cukup deh sekali seumur hidup aja!!! >_<

Ngawi, 131110

5 comments :

This comment has been removed by the author.
 
This comment has been removed by the author.
 

Jadi gak bisa berhenti ngakak setelah baca. Dari awal sampai akhir semuanya bikin ngakak. Apalagi yang bagian jenggot itu, wkwkwk :D

 

heh, jangan kebanyakan ngakak! :D

 

masa-masa perjuangan...makanya sekarang dijaga tu amanah pekerjaannya pak,,,inget perjuangan mendapatkannya....

 

Post a Comment