Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Kamu...


Bismillahirrahmanirrahim

               
                Kereta saya masih melaju. Menuju stasiun yang selalu hujan ketika saya tiba. Entah mengapa, tahun ini hujan begitu angkuh. Turun semaunya. Tapi, saya suka. Karena saya akan melihatmu lari tergopoh-gopoh menghampiri saya yang sudah menunggu di depan loket. Kamu selalu datang terlambat. Saya tidak marah. Saya tidak pernah kecewa. Karena saya suka melihat wajahmu yang bersemu merah saat mengantar payung itu dengan berlari. Karena saya senang melihatmu menyeka air hujan yang menyentuh pelipismu.
                Dan kini, di bulan Juni yang kering, masihkah saya akan mendapati hujan di stasiun itu? Rasanya mustahil. Hanya ada angin kencang yang begitu kering. Juga terik yang membakar kulit.
                AC di kereta ini tak mampu menyejukkan tubuh saya. Kamu tahu sebabnya kan? Ini gara-gara kamu. Karena kamu tidak mau menjawab telepon saya. Karena kamu enggan menjawab sms saya. Karena Facebookmu pun sekarang tak pernah lagi kamu sentuh. Kemana kamu? Kenapa seakan sulit sekali ingin bertemu denganmu, meski hanya dalam maya?
                Hei, tidak ingatkah kamu, ketika awal-awal kita mengikatkan sumpah? Tak ada sehari tanpa suaramu. Karena hariku hanya berisi kamu.
                Tiap sore, kita akan memandangi senja di dekat rel kereta, di pematang sawah yang mulai menguning. Ditemani burung-burung kecil yang sesekali hinggap di pucuk-pucuk padi. Atau tarian rerumputan yang gemulai bersama angin. Kita akan duduk di sana, di hamparan rumput yang masih segar. Memandangi senja emas yang perlahan menggiring surya ke ufuk sana.
                Saya merangkul lembut bahumu, dan kamu akan menyandarkan kepalamu ke pundak saya. Terkadang, jilbab panjangmu akan sedikit berkibar dihempas angin sore yang dingin. Lalu saya akan memberikan jaket saya padamu. Sebagai bentuk perlindungan kecil, seperti ikrar yang sudah saya sampaikan di depan kedua orang tuamu.
                Di sana, kita akan bercerita. Tentang sepeda tua yang ingin kamu naiki lagi, berboncengan dengan saya menyusuri jalanan di sekitar pematang ini. Tentang kereta senja yang selalu kamu nantikan sirinenya, pertanda ayahmu akan segera kembali ke rumah. Ataupun tentang cinta, yang kamu bilang sudah menitipkannya di mata saya. Ah, kamu hanya menggombal.
                Kamu ingat, beberapa saat sebelum Subuh menjelang, kamu akan bangun, lalu mengguncang tubuh saya perlahan. Sambil menahan tawa geli, kamu gelitiki kaki saya. Tapi kadang saya justru merapatkan selimut. Mungkin, kamu masih tersenyum, dan mengambil sedikit air dalam gelas. Kamu perciki wajah saya dengan air itu. Pada awalnya, saya terganggu dengan itu. Saya kesal. Tapi begitu saya membuka mata, dan yang terlihat hanyalah wajahmu yang dibalut mukena, dengan senyum yang bagi saya melebihi permata bidadari, hati saya mendadak dingin. Setelahnya, kamu akan ada di belakang saya. Kita mengadu bersama-sama, mengisak bersama-sama, bermesra dengan Kekasih kita.
                Ah, saya rindu masa-masa itu. Sebelum saya dipindahtugaskan, hingga tak lagi bisa setiap saat bersama kamu. Tapi, kamu selalu tersenyum. Menguarkan semangat yang sempat padam. Ini jihad saya. Untuk kamu.
                Kini, kamu kemana? Tak ada telepon, tak ada sms, tak ada Facebook. Kamu kemana sejak empat belas jam lima menit tiga puluh enam detik yang lalu? Ada apakah? Ah, kamu membuat saya diliputi perasaan aneh, seperti hitam yang tiba-tiba saja menyergap.
                Kereta berhenti. Saya turun. Di stasiun ini lagi. Yang dulu selalu hujan ketika saya tiba. Tapi, sekarang hanya ada angin. Saya berjalan keluar. Kamu di mana? Bahkan kamu tidak menjemput saya? Kamu baik-baik saja kan?
                Baru saja saya akan memencet nomormu lagi, ketika mata saya menangkap kelebatan itu. Jilbab panjang oranye yang berkelebat ditohok angin. Senyum yang masih sama. Bahkan kali ini, terasa jauh lebih manis. Kamu datang.
                Sesampainya di depan saya, kamu hanya diam. Tersenyum. Tidak bisakah kamu membaca geram di mata saya? Kenapa kamu diam saja? Setidaknya cium tangan saya lah. Atau, peluk saya mungkin? Tapi nyatanya kamu masih diam.
                Kamu menatap saya. Saya menatap kamu. Tanpa ekspresi. Seperti arca yang dipahat untuk diam. Lalu, kamu tersenyum, saya tersenyum. Dan tawa kita meledak bersama. Saya peluk kamu. Erat. Tak ingin saya lepaskan lagi. Karena hidup tanpa kamu, begitu sulit.


Ngawi, 250611

0 comments :

Post a Comment