Bismillahirrahmanirrahim
Mungkin, kali ini akan menjadi senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja. Saya bisa melihat bias senja itu di matanya, seperti rona yang pernah saya lihat hadir di wajahnya. Saat itu. Saat saya sedang menikmati nyanyian hujan di peron stasiun ini.
Tapi, ia pergi. Tanpa nama, hanya salam selamat tinggal. Basa basi. Memangnya saya siapa? Toh saya dan dia memang sama sekali tidak pernah saling mengenal. Hanya pertemuan singkat, dan obrolan yang tidak begitu jelas itu saja yang mengirimkan suasana hangat di antara kami. Begitu kereta datang, dia pergi. Saya memperhatikan ketika dia naik ke kereta. Saya masih bisa melihatnya dari jendela kereta, ketika dia sibuk mencari tempat duduk miliknya. Dan saya hanya berani mengulum senyum, lalu mengalihkan pandangan pada rel yang basah di emplasemen sana.
Begitu kereta itu pergi, membawa pemilik sepasang mata yang memerangkap senja, saya kembali bisa menikmati tetes demi tetes hujan yang begitu cantik dari peron ini. Hujan itu turun, mencumbu tanah, kerikil, rerumput, dan rel di area emplasemen. Sejenak mengalihkan perhatian saya. Dari gadis bermata senja. Dan… dari dia.
Saya melirik layar ponsel. Sebuah pesan terpampang. Ada yang menunggu saya. Saya harus bergegas. Meninggalkan hujan di stasiun ini. Demi dia.
-=O=-
“Just… stay… Please…” Dia menahan saya.
Sudah dua hari ia ada di ruang putih ini. Dengan selang oksigen tertancap di kedua lubang hidungnya. Matanya sayu dan berkantung hitam. Saya menerjemahkannya sebagai sebuah keputusasaan. Sejak dia menjalani kemotherapy, seluruh rambut di tubuhnya perlahan rontok dengan sendirinya. Tapi, ia tetap cantik di mata saya.
Perempuan itu mencintai saya. Sejak kami berteman akrab semasa SMA dulu. Dan di tahun terakhir SMA, dia harus terguncang hebat. Vonis kanker kelenjar getah bening dijatuhkan. Lepas SMA, dia mulai menjalani kemo, karena stadium yang sudah berada di ambang kritis. Saya lah satu-satunya teman yang bersedia menemani hari-hari sepinya. Saya yang membawakan dia air untuk membasahi tenggorokan dan lehernya, karena kelenjar ludahnya sudah kering. Saya yang memberinya topi, atau pun kerudung, agar ia tetap percaya diri dengan kondisinya. Namun semua semakin buruk, ketika kemo tak memberikan dampak apapun.
“Kamu akan pergi lagi, Rain?” Pertanyaan itu terloncar dari bibir keringnya yang pucat.
Saya terdiam. Sekarang waktunya bagi saya untuk kembali ke stasiun itu, menunggu hujan yang akan melarungkan kesedihan saya. Menunggu hujan, yang mungkin akan menyirami hati saya dengan sebuah rasa bernama cinta. Untuk dia yang mencintai saya.
“Saya masih akan di sini.” Saya genggam tangannya yang berinfus. Ia tersenyum. Lemah.
“Tolong tinggal sejenak, Rain. Aku ingin melihatmu duduk di sampingku. Karena dengan begitu aku tidak merasakan takut.”
“Saya di sini.”
Perlahan, rintik itu mulai terdengar. Saya menoleh. Kaca jendela mulai basah. Hujan sudah datang. Dan saya tidak berada di stasiun hujan. Saya ‘terjebak’ di sini, dalam situasi yang rumit.
“Hujan selalu turun saat siang, dan berakhir sebelum senja. Kapan terakhir kalinya kamu melihat senja, Rain, jika saat seperti itu kamu selalu ada di sini?”
“Apa yang kamu bicarakan?”
Dia menghela napas. Memejamkan mata. “Maafkan aku, Rain…”
Dia tertidur. Mungkin pengaruh obat yang tadi dia minum. Saya lepaskan genggaman tangan saya. Saya berjalan ke arah jendela. Menengok matahari di ufuk sana yang sama sekali tidak terlihat. Tak ada warna jingga senja. Yang ada hanyalah hitam yang menggumpal di langit sana.
Kapan terakhir kali saya melihat senja? Beberapa waktu lalu. Di stasiun hujan. Di mata itu. Itu terakhir kalinya saya melihat senja. Senja yang tanpa hujan. Entah mengapa saya merindukan mata itu. Dan pemiliknya, yang bahkan tak menyebutkan nama.
Hujan berubah gerimis kecil-kecil. Arakan awan di atas sana, perlahan namun pasti, mulai kembali menyingkap tabir yang menutupi matahari. Saya hanya mampu tersenyum, melihat senja meskipun samar, di tengah gerimis kecil-kecil di balik jendela ini.
I’ll leave my window open
Cause I’m too tired tonight to call your name
Just know I’m right here hopin’
You should come in with the rain
-=O=-
Mungkin, kali ini adalah senja pertama yang berwarna jingga, tanpa iringan hujan, sejak saya menyangka bahwa mata itu telah memerangkap senja.
Saya kembali ke stasiun ini. Berjalan menuju tempat duduk yang biasa saya duduki. Di waktu yang sama, seperti setiap kali saya menantikan hujan. Tapi, kali ini ada yang berbeda. Entah mengapa, saya berharap, saya akan menemui kembali mata itu. Mata yang pertama kali saya lihat beberapa bulan lalu. Mata yang memerangkap kehangatan senja.
Tapi, penantian saya tentang senja, sepertinya akan sia-sia. Langit mulai gelap. Angin berhembus pelan, namun dingin. Ponsel saya bergetar. Sebuah pesan terpampang di layar. Membuat saya kesulitan bernapas.
Saya beranjak. Meski dia tidak lagi menunggu saya. Dia... perempuan yang mencintai saya. Namun hujan tak juga mengirimkan rasa yang sama untuk membasahi hati saya. Hati saya justru menantikan mata senja itu. Ah, betapa berdosanya saya.
Saya pergi. Menembus hujan yang kali ini jauh lebih dingin.
-=O=-
Ngawi, 130711

4 comments :
komentarnya tetap sama,suka dengan tulisan ini,hehe....
hehehe... makasih
sellau kereeen. :)
'Saya' jatuh cinta sama orang lain? :O
Kok jahat, yaa.. hahahha...
Btw, suka lagunya... :P
Post a Comment