Bismillahirrahmanirrahim
Pagi ini terasa begitu berbeda. Bahkan tetesan embun yang masih diam di dedaunan pun, terasa jauh lebih menyejukkan mata saya.
Pagi ini berbeda. Kicau burung di dahan-dahan itu, serasa menyenandungkan nada lain yang mewakili hati saya.
Di balik jendela kamar, saya tersenyum. Menyandarkan kepala ke pinggir jendela, menanti matahari menampakkan diri.
Perasaan macam apakah ini? tanya saya pada diri sendiri. Jawaban yang saya cari belum juga mampu saya temukan. Berkali-kali sudah saya bertanya pada Tuhan, tentang apa yang sedang terjadi pada diri saya. Tapi tampaknya, Dia masih ingin saya belajar mencari tahu sendiri.
Hhh… Saya hela napas. Asap tipis menguar perlahan dari hembusan napas saya. Terbang perlahan, menjauh, tinggi, kemudian samar menghilang.
Apakah ini rasa yang sama seperti yang pernah saya rasakan dulu? Tapi, kenapa kali ini senyum saya jauh lebih sering terlukis, tawa saya jauh lebih sering terdera, dan … dada saya terasa jauh lebih sesak, menghimpit jantung yang tiba-tiba saja seperti digenggam erat-erat, entah karena apa?
Mungkin terlalu dini menyebut desir-desir ini sebagai cinta. Meski perlahan ia menjalari hampir seluruh pikiran saya, bahkan ia pernah masuk ke dalam alam bawah sadar saya. Belum lagi, nama itu selalu terngiang di telinga saya. Tuhan, saya takut jatuh cinta.
Ya. Saya takut. Bukan saya enggan merasakan dada yang perlahan menghangat jika mengingatnya. Bukan pula saya tidak mau menikmati galau yang sejatinya terasa begitu indah bagi saya. Tapi, saya takut, karena pasti kelak saya akan merasakan nyeri yang menghantam dada saya, jika saya tak mampu memberikannya kebahagiaan lagi. Dan, yang paling saya takutkan, bertahan sampai kapankah perasaan itu dalam dada saya dan dia? Berapa lama? Berapa tahun? Berapa bulan? Berapa minggu? Atau, berapa hari? Salah satu pasti akan merasakan sakit yang luar biasa, jika seorang dari kami telah kehilangan rasa itu dari hatiya. Saya takut, rasa itu pergi dari hatinya, dan membuat saya kesakitan. Oh, itu tidak masalah. Yang pasti, saya lebih takut jika rasa itu hilang dari diri saya, dan membuat dia meneteskan airmata, menahan perih dan nyeri yang mungkin sakitnya jauh lebih sakit dari sayatan pisau.
Ketika kami yakin akan perasaan ini, dan memutuskan perlahan membangun sebuah bahtera, saya takut, ia akan menjalani hidup tanpa rasa, namun mati juga tak mau, saat saya ataupun dia, terjebak dalam sebuah dilema yang mengaramkan bahtera yang baru mulai akan kami bangun itu.
Saya takut, kelak saya akan merasakan kehilangan, serasa tak memiliki lagi gairah untuk membuka mata, jika Tuhan mengambilnya tiba-tiba. Ketika bangun, saya akan meraba tempat di samping saya, dan mendapatinya tak ada lagi di sana. Ketika senja, saya hanya akan sendiri duduk di teras rumah, tanpa teh tawar hangat yang selalu ia racik untuk menemani senja kami. Mungkin, saya akan tertawa hambar jika melihat buku-buku kami yang berisi kenangan.
Atau, sebaliknya, saya takut akan merasakan airmatanya jatuh setiap malam, ketika mengiba pada Tuhan agar menempatkan saya pada sisi yang Dia berkahi. Saya takut, ia tidak akan lagi tersenyum ketika melihat ponselnya berdering, karena pasti dering itu bukan dari saya.
Hhh… kembali saya hela napas. Tak ada lagi asap putih yang keluar dari mulut saya. Langit sudah terang. Hangat. Kicauan burung masih bersenandung riang.
Ah, saya merasa konyol. Apa yang saya pikirkan tadi? Hanya bayangan-bayangan yang belum jelas. Bagaimana bisa saya membayangkan akan menjalani hidup berdua dengannya, dalam sebuah ikatan demi mencari ridha Tuhan? Sedangkan, sekarang saja saya masih belum mengerti tentang perasaan yang akhir-akhir ini selalu meneror saya. Terlalu jauh pikiran saya tadi. Terlalu jauh.
Saya masih takut. Jika ini adalah cinta, saya masih enggan membayangkan jika saya tidak bisa memberinya kebahagiaan. Jika ini adalah cinta, saya masih takut, apakah perasaan ini akan bertahan lama, ataukah jangan-jangan, hanya anggapan yang keliru semata. Entahlah, saya masih takut. Hanya itu yang saya tahu.
Entah baginya. Apakah ia juga merasakan ketakutan yang sama dengan saya? Ataukah justru ia hanya merasakan rona yang membuatnya selalu merasa bahagia? Saya tidak tahu. Jika ia merasakan hal yang sama, maka, saya hanya mampu bertanya, siapkah kelak ia merasakan sakit akibat konsekuensi dari desir rasa yang kita namai cinta?
Matahari meninggi. Tetangga di sebelah rumah sudah mulai terdengar beraktifitas. Masih saya pandangi setitik embun yang berada di ujung daun. Perlahan, ia jatuh. Menyentuh tanah. Dan saya beranjak dari balik jendela.
Ngawi, 030711

7 comments :
Jadi itu yang sekarang saya rasakan T.T . Saya suka baca yang beginian, sekarang saya jadi tahu itu namanya apa :D
emangnya namanya apaan?? :D
ow, jadi judulnya, "lelaki yang takut jatuh cinta" ah tapi ini judul bukunya pak Sakti wibowo. hehehehe :)
Namanya: Cinta :D
Mbak eni: Hahaha... Lelaki yang takut jatuh cinta? Kata2nya Sakti Wibowo banget itu! :D
MRPK: masaseh???? :D
ini fiksi apa curhat terselubung??? xD
Entah kenapa lebih suka posting sebelumnya.. :P
Post a Comment