Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Kamu Islam Apa?

Bismillahirrahmanirrahim



Entah sudah berapa kali saya menuliskan uneg-uneg saya tentang masalah ini. Rasanya yang biasa baca tulisan saya pun sudah bosan kalau saya kembali membahasnya. Tapi gara-gara saya melihat status seseorang di Beranda facebook saya, lalu melihat komen-komen yang berdatangan, tangan saya kok gatel lagi pengen menuliskan kembali uneg-uneg ini.

Seseorang dengan nama akun Ahlus Sunnah menulis status ini:

Berkata Syaikh al-Utsaimin rahimahullah : Tdk diragukan bahwa semua muslim wajib mengikuti manhaj salaf, bukan mengikuti kelompok bernama salafi, beda manhaj dan kelompok. ( Syarhu Arba'in Hal. 304 )


Saya pribadi, sangat setuju dengan apa yang dia sampaikan. Saya juga pernah -dulu- beberapa kali mendapatkan materi serupa. Tapi sayang, kemudian ada orang-orang yang memberikan komen yang negatif atas postingan status ini.

Setiap orang yang mengikuti manhaj salaf maka ia dinamakan salafi!. Fahimtum?!. (Muhammad I****)

Hmm... saya setuju juga dengan komen dia. Tapi sayangnya, komennya ini mengandung unsur lain. Kita lihat aja komen dia berikutnya,

Pemilik akun ahlussunnah @ Dan tidaklah ana merasa aman apabila berita disampaikan oleh antum. Karena boleh jadi antum telah membubuhi racun.

Subhanallah... Dengan terang-terangan dia bilang, bahwa pemilik akun Ahlus Sunnah ini boleh jadi telah membubuhi 'racun' dalam status yang dia sampaikan. 

Di komen-komen status ini, beberapa membela, beberapa mengkritisi. Termasuk yang komennya saya tulis itu. Dia yang paling getol dalam 'mengkritisi'. Buktinya, kembali dia menulis,

Memangnya dia menerjemahkannya nukil ustadz siapa atau menerjemahkan sendiri?. ayo jawab!!!, yang alain boleh bantu jawab!. 

Juga,
Ana tanya dia pakai "TERJEMAHAN SIAPA" sendiri atau siapa?

Itu komen terakhirnya. Setelahnya, belum ada komen lagi. Dan total komen dalam status itu hanya berjumlah 12 komen. Dikit kan? Mayoritasnya dikomen sama orang di atas itu.
Kalau saya boleh bilang, mungkin saja, yang menulis status adalah 'salafy'nya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz (ada yang menyebutnya sebagai salafy haraki), dan yang 'mengkritisi' adalah 'salafy'nya Ustadz Muhammad As Sewed (ada yang menyebutnya sebagai salafy Yamani). Sejak dulu saya memang ikut ngaji di salafynya Ustadz As Sewed, jadi sedikit banyak saya tahu gimana sikap ikhwan-ikhwannya.

Saya banyak melihat perdebatan seperti ini. Perdebatan yang gak berakhir pada kesepahaman, tapi seolah-olah hanya untuk menunjukkan siapa yang lebih faqih soal manhaj salaf, dan siapa yang salah kaprah dalam memahaminya. Ujung-ujungnya, masing-masing pihak gak ada yang mau kalah dan debatnya hanya menjadi debat kusir.

Secara sosial kemasyarakatan, saya melihat orang-orang salafy, entah yang disebut Yamani ataupun Haraki, orangnya baik-baik, menjaga amanah, jujur, dan sebagainya. Tapi untuk soal dakwah, saya jutru melihat, yang dinamakan salafy Haraki itu mulai bisa diterima dengan mudah oleh masyrakat, karena mereka emang agak 'kalem'. Beda dengan yang salafy Yamani. Bagi ikhwan salafy Yamani, apalagi yang baru aja belajar ngaji (kayak saya dulu), mereka gak akan mau kalah, dan justru terlihat garang dalam menyampaikan sesuatu. Garangnya emang bukan garang yang mukanya serem dan sebagainya, tapi kesannya lebih kaku aja.

Yah, memang gak bisa dipukul rata sih. Bisa jadi itu hanya oknum-oknum ikhwan yang belum ngerti betul soal yang mereka yakini, atau mereka hanya merasa geram melihat kemaksiatan ada di depan mereka, dan mereka ngerasa harus bertindak meski hanya dengan lisan.

Tapi, itu sudah jadi salah satu poin negatif di mata saya pribadi. Karenanya, sejak hampir setahun terakhir ini, saya menghindar dari ikhwan-ikhwan yang dulu pernah sangat dekat dengan saya. Kenapa ya? Kalau kita udah ngrasa gak nyaman dengan sesuatu, apa kita akan terus memaksa diri kita? Sedangkan di luar sana banyak alternatif lain.

Ada satu hal lagi. Jamaah yang menamakan dirinya sebagai 'salafy', entah itu yang haraki ataupun Yamani, masing-masing pihak gak akan mau membaca buku yang ditulis, diterjemahkan, dan diterbitkan oleh pihak lainnya. Juga, masing-masing pihak gak akan mau membaca buku-buku terbitan penerbit Islam lain yang tidak sepaham dengan mereka. Dan lagi, mereka juga gak akan mau ikut kajian di tempat-tempat yang ustadznya 'gak jelas', alias gak dikenal di kalangan mereka sendiri. Misalnya, salafy Yamani gak akan mau membaca buku-buku terbitan Pustaka Al Kautsar, At Tibyan, Azam, Darul Qalam, dan sebagainya, yang terindikasi bermanhaj haraki, apalagi tarbiyah. Demikian juga, yang berafiliasi ke Ustadz As Sewed gak akan mau ikut kajian dari asatidz yang afiliasinya ke Ustadz Yazid Jawwaz. 

Memang secara ilmu-ilmu fiqh, adab, muamalah, dan sebagainya, hampir gak ada perbedaan mendasar di antara kedua kelompok ini. Yang membedakan hanyalah pada pemahaman manhajnya, yang sampe sekarang saya masih saja gak paham tentang perbedaan yang akhirnya justru memunculkan perselisihan tak berujung.

Saya yang sekarang, memang bukan saya yang dulu. Saya yang dulu mah juga garang banget, dikit-dikit mengeluarkan dalil ini itu, dengan bahasa yang mungkin saja bagi orang awam, bahasa saya sudah sangat 'keras'. Saya memang yakin, manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj yang lurus, karena manhaj ini bener-bener merujuk pada Rasulullah dan tiga masa terbaik ummat ini. Tapi untuk ikut-ikutan dalam sebuah kelompok bernama 'salafy', saya yang sekarang merasa kurang nyaman. Kalau toh saya masih ikut kajiannya, saya hanya mengambil ilmunya saja, dan gak mau terlibat terlalu jauh dengan ikhwan-ikhwannya seperti dulu. Karena berdasar pengalaman saya, kalau ikhwan-ikhwan itu udah kumpul, kemudian misalnya ada sebuah jamaah yang mereka bicarakan, pasti ujung-ujungnya mereka seakan merendahkan jamaah lain. Dan saya gak suka itu. Dengan menganggap jamaah lain salah kaprah dan hanya jamaahnya sendiri yang bener, saya yakin itu gak akan bikin kita masuk surga kan?

Di sini saya terpaksa memunculkan nama-nama asatidz yang paling dikenal di antara dua jamaah 'salafy' itu. Soalnya tiap baca 'pertengkaran' antar jamaah itu di forum manapun, saya udah gerah sendiri dan pengen buru-buru pergi. Beda dengan saya yang dulu, yang justru tersenyum penuh kemenangan ketika ada salah satu ikhwan dari salafy Yamani yang bisa membuat ikhwan dari salafy Haraki diam tanpa suara.

Kalau ada temen-temen ikhwan dari kedua jamaah itu yang membaca tulisan saya ini, pastilah saya sudah dianggap menyimpang dari kebenaran, dan apa yang saya bicarakan gak perlu digubris karena hanya cuap-cuap tanpa arti. Whatever. Ini blog saya, dan apa yang saya tuliskan hanyalah apa yang saya rasakan. Itu saja.

Madiun, 230911

 




5 comments :

Bingung sama soal salafy, dan kelompok2 islam lainnya. :/
aku gatau aku ada di mana, yang terpenting berdasarkan al-qur'an dan hadist...

 

bahkan semua org mengaku ahlussunnah wal jama'ah.. tp saling mencela satu golongan dg golongan yg lain..
krna stiap org akan selalu mmbenarkan golongan yg diikuti'a dan mnghitamkan golongan yg lain'a..

Wallahu a'lam.. semoga kita selalu berada d jalan yg bnar..

 

Alvi: gak usah diambil pusing deh kalo gak ngerti. hehehe

Mawar: aamiin... :)

adelia: ^^

 

Yups... Tulisannya Bagus :D
Yang penting, jangan berhenti belajar dan jujur dalam menerima kebenaran.

Salam Kenal

Anonim, Bukan Dua "Salafy" Itu.

 

Post a Comment