Bismillahirrahmanirrahim
By: Amerul Rizki dan Eros Rosita
Clár memandangi wajahnya yang
memantul di atas air, di tepian danau berwarna hijau. Tanpa senyum. Wajahnya
sedikit sembab, ada guratan berwarna hitam melingkari matanya. Ia memainkan
kecipak air tanpa semangat. Kakinya tenggelam sebagian ke dalam air, rambutnya
yang merah membuat pantulan yang sangat jelas di danau itu.
Musim gugur, cuaca di sekitar kastil
Dunluce sedikit lembab. Gadis kecil itu melihat seekor kupu-kupu yang melintas
di sampingnya. Seekor kupu-kupu berwarna biru dengan garis-garis hitam di
sekitar sayap, juga badannya. Matanya yang secoklat musim gugur terkesiap-siap.
Kupu-kupu itu mendarat di rambutnya, dan ia menyukainya. Kini, ia tersenyum.
Saat kupu-kupu biru kembali mengepakkan sepasang sayap cantiknya, perlahan
menjauhi Clár, gadis itu mengejarnya. Ia berlarian di tepian danau hijau,
dengan senyum yang masih ia sungging.
oOo
“Dan mereka hidup bahagia
selamanya.” Ciara mengakhiri cerita dongengnya.
“Máthair, apakah Áthair akan lama?”
Ciara menangkap mata anaknya, lalu
mengelus rambut merah itu dengan keibuan. Perempuan itu tersenyum.
“Tidak, Sayang. Áthair hanya pergi sebentar.”
“Aintín
Émer bilang, jika seorang ksatria berperang, hanya ada dua kemungkinan. Pulang
dengan badan yang segar, atau pulang dengan tubuh kaku.”
“Jangan dengarkan bibimu, Clár.” Ciara
berusaha menghindari tatapan polos Clár.
“Oh iya, Máthair, tadi aku bertemu dengan teman baru.” Ia tertawa polos, tak
menghiraukan apa yang ibunya katakan. Matanya berbinar seperti kunang-kunang.
“Oh ya? Siapa, Sayang?”
“Seekor kupu-kupu biru yang cantik.
Dan kita bermain bersama sepanjang siang.”
“Kupu-kupu? Di mana?”
“Di danau hijau. Dia cantik sekali.”
“Jangan terlalu sering ke danau, Clár.”
Tapi Clár seolah tak mendengar
ucapan terakhir ibunya. Pikirannya justru melayang bersama sayap kupu-kupu yang
ia temui siang tadi. Andai ia memiliki sayap, tentu ia akan terbang, menyusul
ayahnya yang berada entah di mana. Yang jelas, ia tidak akan membiarkan rindu
itu tanpa penawar.
oOo
Malam tak terlalu dingin. Clár
menatap hitam pekat yang menyelimuti seluruh ruang di luar jendela kamarnya,
sedikit berkabut.. Tanpa ayah, ia menjadi anak yang sangat kesepian. Ia
merindukan saat-saat ayahnya membacakan cerita, berpacu kuda, memancing di danau
hijau, dan semuanya.
Beberapa kunang-kunang memendarkan
cahaya hijau yang mengingatkannya pada satu tempat. Danau itu. Kupu-kupu itu
dan ia selalu tersenyum jika mengingat kupu-kupu itu.
“Hai, Clár…. Masih memikirkan
ayahmu?”
Ia ingat suara itu. Émer menghampirinya
saat ia tengah termenung di atas tempat tidurnya. Clár hanya mengangguk lemah,
matanya kosong.
Émer duduk di tepi ranjang Clár. Ia menghela napas.
Berat. Matanya menerawang. Wajahnya murung, semurung wajah gadis kecil itu.
“Aku hanya berharap, Eilish tidak akan bernyanyi.”
“Eilish?” Clár memincingkan matanya.
Émer menatap mata Clár. Dalam. “Banshee[1]
yang tinggal di danau hijau.”
Napas Clár seakan terhenti. Ia
tercekat saat itu juga. Tapi ia alihkan matanya dari tatapan bibinya.
“Ibumu bilang, belakangan ini kau
sering sekali bermain di danau itu?”
“Itu karena aku sangat merindukan Áthair. Aku tidak punya teman di kastil
ini.” Mata Clár berkilat, tanda tidak menyukai ucapan bibinya.
Émer hanya menghela napas. Mencoba
mengelus kepala Clár, namun gadis kecil itu menolak. Ia menjauhi Émer.
“Banshee
tidak akan bernyanyi!” Clár menegaskan kata-katanya. Ada sorot yang hitam di matanya, bukan sorot
keputusasaan seperti sorot mata bibi dam ibunya, tapi lebih kepada sorot
kerinduan yang dalam.
Gadis itu beranjak dari tempat
tidurnya. Ia hampiri jendela besar yang membuatnya bisa melihat ke segala
penjuru, menyibak korden berwarna hijau tosca dengan tatapan yang menerawang ke
danau hijau di seberang jendelanya. Tapi hanya gelap.
“Dan akan baik-baik saja, Aintín! Áthair akan pulang dengan badan yang segar dan senyuman di bibir.
Dia akan pulang, mencium Máthair,
lalu menggendongku dan memutar-mutar tubuhku di udara, lalu kami akan berlatih
berpacu kuda bersama,” kata Clár dingin. Ada
yang merembes di matanya.
Émer menghela napas. “Sudah larut. Tidurlah, Clár.”
Perempuan yang merupakan kakak ayahnya itu berlalu. Ujung gaunnya menyapu
lantai kamar Clár, meninggalkan hawa dingin yang sepi.
Clár masih di tepian jendela. Rambut
merahnya tergerai ketika angin membelainya. Samar,
ia melihat sebuah cahaya. Redup. Bergerak perlahan di antara pepohonan. Arahnya
pasti. Menuju danau! Tengkuk Clár tiba-tiba meremang saat ia menyadari apa yang
dilihatnya.
Clár masih menggigil. Tatapannya
masih tertuju di tempat yang sama. Wanita itu… Baju putih itu… Rambut panjang
itu… Ia ada di sana,
duduk di sebuah batu besar di tepian danau, menyisir rambut putihnya dengan
sisir perak yang berkilau.
oOo
Kupu-kupu itu datang lagi saat Clár
memainkan daun maple di danau hijau selepas siang. Seolah tahu apa yang ada di
pikiran gadis kecil itu, kupu-kupu itu datang untuk menghiburnya. Makhluk kecil
itu terbang mengitari Clár. Kadang hinggap di rambut merahnya yang terkepang ke
belakang. Clár membiarkannya. Justru ia sangat senang kupu-kupu itu datang
lagi. Ia melengkungkan jarinya dan kupu-kupu itu mendarat manis di jari
telunjuknya yang kecil. Sayapnya naik turun sebelum akhirnya diam menatap Clár
dengan sorot mata yang tidak biasa.
“Hai, Teman kecil. Apa kau tahu
rasanya jika salah satu anggota tubuhmu hilang?” Clár justru bergumam sendiri.
Sayap kupu-kupu biru masih naik
turun. Namun ia tetap diam di jari Clár.
“Rasanya aneh. Dan seluruh tubuhmu
akan merasakan perasaan yang tidak biasa. Setidaknya itu yang kurasakan sekarang,
karena ayahku belum juga pulang. Padahal sudah lama sekali dia pergi.” Gadis
itu menghela napas sejenak, lantas menghembuskannya begitu saja. Dadanya sesak.
Ia teringat lagi perkataan Aintín
Émer tempo hari, dan itu cukup membuatnya tertekan.
“Apakah menurutmu ayahku akan
baik-baik saja?” Clár berbisik, lebih kepada suara yang serak dan berat.
Kupu-kupu itu tidak menjawab.
Bersama angin musim gugur yang dingin, kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya.
“Hei, aku belum selesai bercerita!”
Clár memutuskan untuk mengejarnya.
Kupu-kupu itu terbang rendah. Lalu
tak lama, hinggap di sebuah batu kecil, beberapa kaki dari danau. Clár berlari
mendekat, lalu berjongkok di depan kupu-kupu biru. Anehnya, kupu-kupu itu tak
bergeming. Tetap diam di batu itu.
Clár menolehkan kepalanya. Khawatir
ada yang mendengar apa yang akan dikatakannya.
“Kau
tahu, sepertinya semalam aku melihatnya di sini… Eilish!” Clár berbisik.
Kupu-kupu itu diam. Sayapnya tak
lagi naik turun.
oOo
“Bagaimana keadaan Clár?” Wajah Émer
dipenuhi aura kepanikan. Bintik-bintik merah di wajahnya berkerut-kerut.
Ciara mengelus pelan kepala
putrinya. “Demamnya belum turun. Ia terus mengingau, memanggil-manggil Áron.”
Émer hanya mampu menatap mata Ciara.
Ada kecamuk di
dadanya.
“Aku khawatir, Ciara…”
“Jangan katakan itu, Émer! Jangan
katakan apapun tentang banshee!
Terlebih di depan Clár!” Mata Ciara menusuk masuk ke dalam pupil mata Émer.
Wanita itu hanya diam mendapat tatapan seperti itu.
oOo
“Wow! Ini luar biasa! Di kastil aku
belum pernah melihat tempat seindah ini!” Mata Clár berbinar. Di hadapannya
terhampar padang
rumput hijau dengan beraneka macam bunga dan peri kupu-kupu yang cantik. Di
sebuah gundukan tanah, ia melihat makhluk kecil berwarna hijau. Sangat kecil.
Mungkin leprechaun, seperti yang
sering diceritakan Máthair kepadanya.
Tapi gaun panjangnya segera
berkibar. Ia merasakan angin yang menghempas tubuhnya. Kencang, namun lembut.
Hanya membuat rambut merahnya menari-nari, dan ujung gaunnya menimbulkan bunyi
saat berkelebat. Matanya menangkap sebuah bayang yang tersenyum ke arahnya.
Wajah tampan dengan janggut yang baru dicukur, tubuh tegap dan kekar, serta
jubah khas kebangsawanan Irish.
“Áthair…,”
gumam Clár.
“Beidh mé ar ais[2], Clár.” Lelaki
yang dipanggil Áthair itu tersenyum,
lantas perlahan menghilang di antara kabut musim gugur yang samar dengan sebuah
kuda berwarna putih. Di samping lelaki itu tampak bayangan seorang wanita
bergaun putih yang cantik. Wajahnya samar, hanya terlihat sekelebat bibirnya
yang ranum tanpa polesan pewarna. Rambutnya terurai, putih. Di telinganya
tersemat daun semanggi yang sudah rontok sebagian kelopaknya.
Clár
mengejarnya. Namun kakinya tertahan sesuatu yang membuatnya terjatuh,
tersungkur ke dalam guguran daun-daun maple yang mengering. Lututnya berdarah-darah,
dan ia menemukan benda perak berkilat di dekat kakinya. Sisir yang tempo hari
dilihatnya dari balik jendela.
Clár mengambil benda itu. Benar-benar hanya sebuah sisir,
berwarna perak dan berkilat. Dengan ukiran-ukiran aneh yang tidak Clár mengerti.
Sangat kecil-kecil dan detail. Indah sekali. Clár tersentak. Kenapa ia justru
memperhatikan sisir itu? Ia arahkan pandangannya ke depan. Ayahnya sudah tidak
ada. Pun dengan wanita di samping ayahnya tadi. Siapa wanita itu? Yang jelas,
itu bukan ibunya!
“Cepat sekali malam. Apakah aku sudah selama itu berada
di luar kastil?” Gadis kecil itu mengamati keadaan di
sekelilingnya.
Kabut semakin terlihat pekat. Clár menggerakkan kakinya
yang kecil menyusuri setapak jalan yang asing. Bukan jalan pulang ke kastil, melainkan jalan yang lain. Jalan yang hanya
terdengar gaung burung hantu serta beberapa pohon pinus yang berjajar rapi.
Langit sudah mulai gelap dan angin mulai turun menyapa tengkuknya yang tanpa
kain pelindung.
oOo
Helaan napasnya terdengar cukup keras. Lalu ia membuka
matanya. Napasnya tersengal, seperti sehabis berlarian mengitari kastil. Butir-butir
bening yang dingin memenuhi dahinya. Ia menoleh ke sekitarnya. Ia ada di
kamarnya, dengan selimut tebal yang membungkus sebagian tubuhnya. Clár hendak
turun dari tempat tidur. Tapi gerakannya terhenti. Ia merasakan sesutu
mengganjal di balik selimutnya. Ragu, ia masukkan tangannya ke dalam selimut.
Ia bisa merasakan sensasi dingin segera menjalar dari benda yang ia sentuh.
Pelan, ia tarik benda itu. Matanya terbelalak ketika ia melihat kilauan benda
yang ada dalam genggaman tangannya. Sisir perak itu!
Dengan gugup, ia membuang benda itu, “Matháir! Matháir!” Ia memanggil-manggil ibunya. Wajahnya pias. Ia teringat
perkataan bibinya, pemandangan yang dilihatnya, juga ingat mimpinya barusan.
Clár meraung, tidak seorangpun memasuki kamarnya. Tapi perlahan dan samar, matanya
menangkap seorang wanita
berbaju putih yang memainkan ujung rambut putihnya di dekat jendela, melawan desau angin yang menggerakkan
korden hijau tosca itu. Wanita itu tersenyum, dengan sorot mata seperti
salju. Dingin. Sedingin malam-malam
Clár tanpa ayahnya.
oOo
“I feel like our world's been infected, and somehow you left me neglected.... We've found our lives been changes... Áron, I lost you...,[3]” suara lirih yang keluar dari bibir mungil Clár terdengar
melantunkan nada-nada rendah yang sendu. Atau, mengerikan. Gadis itu duduk
termenung di tepi tempat tidurnya, menghadap keluar jendela. Ciara dan Émer
berpelukan, menangis di ambang pintu kamar Clár. Ciara mengerang, memeluk tubuh
Émer dengan erat. Tubuhnya terguncang hebat.
“Sudah terjadi, Ciara. Sudah terjadi. Kita hanya tinggal
menunggu berita resmi dari tentara kerajaan.” Émer menghapus air matanya.
Tangannya mengelus lembut pundak adik iparnya. Mata Émer tak lepas dari tubuh
keponakannya di dekat jendela itu. Tubuh kecil yang terlihat lunglai dengan
sorot mata kosong dan suara yang terus melantunkan nada-nada mengerikan.
“Áron... I
lost you…”
“Haaa...” Ciara hanya bisa mengerang dalam pelukan Émer.
oOo
Clár baru saja membuka matanya ketika di sekitarnya sudah berdiri
ibu dan bibinya. Mata mereka sembab dan merah, bahkan hidung mereka pun berubah
ranum seperti buah ceri kesukaan ayahnya.
“Mathair, Áintin,
kenapa kalian menangis?” Ciara dan Émer berpandangan, tanpa mengucap sepatah
kata pun,
hanya senyum simpul yang sedikit dipaksakan menghiasi wajah mereka. “Aku senang
sekali hari ini,” lanjut gadis itu. “Áthair
akan pulang sebentar lagi. Tadi Áthair menemuiku
di sebuah padang rumput yang luas dan hijau. Aku melihat Áthair menunggang kuda putih dengan baju perangnya. Áthair berkata padaku bahwa akan pulang
sebentar lagi. Aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya setelah kecemasan dan
kerinduan itu,” suaranya terdengar sangat polos dan membuat gemuruh di dada dua
wanita itu berkecamuk, hebat.
“Ná bíodh brón[4].” Clár turun dari tempat tidurnya. Ia melukiskan senyum
di wajahnya, sebuah senyum yang beberapa hari tersembunyi dari balik wajah
piasnya. “Aku ingin ke danau. Siapa tahu Áthair
akan pulang melewati jalan di pinggir danau itu!”
“Mmm...” tangan Émer mengambang di udara, seperti menahan
langkah Clár. “Boleh Áintin ikut? Aku
ingin menanti ayahmu juga, Clár.” Setitik bening meluncur perlahan dari
matanya.
Gadis kecil itu tersenyum lebar. “Tentu. Ayo, Áintin!” Clár
berlari, keluar dari kamarnya. Émer menatap mata Ciara. Tak ada kata-kata.
Hanya airmata yang lagi-lagi berbicara.
Émer segera berpaling menyusul Clár sambil menghapus air matanya.
Meninggalkan Ciara sendirian di ruang itu. Perempuan itu duduk, di tepi tempat
tidur Clár. Matanya belum juga kering. Ia terguncang sekali lagi.
Seekor
kupu-kupu biru terbang keluar dari kamar Clár. Entah dari mana ia datang. Ciara
hanya mampu diam.
oOo
Ngawi-Madiun,
010511
[1] Dalam mitologi Irlandia,
dipercaya sebagai sosok wanita misterius yang akan muncul untuk memberitakan
adanya anggota keluarga yang meninggal. Ketika seseorang yang meninggal, banshee dipercaya akan muncul dan
menyanyikan sebuah lagu dengan nada sendu. Bisa jadi ia muncul dengan menjelma
menjadi sosok wanita, atau merasuki salah seorang anggota keluarga dari orang
yang meninggal itu.
[2] Aku akan kembali.
[3]
Lirik I Lost You – Christina Aguilera
[4] Jangan bersedih.

2 comments :
Aku bookmark dulu, ya, Mas! :D
Belum sempet baca. Banyak pr. :(
nice blog,, saya suka tulisan anda,, salam kenal.. :-)
Post a Comment