Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Puing-puing Kenangan

Bismillahirrahmanirrahim


Kabar pagi itu membuat hari saya tidak setenang biasanya. Sebuah sms dari Bapak, saat saya baru saja sampai di kantor.


Ki…omahe jare ws payu aq jaluk wektu 4 hr nggo pndhan

Saya tertunduk. Akhirnya, saya harus tiba di hari itu. Saat saya harus meninggalkan rumah tempat saya bernaung selama ini.

Dari depan
Sejak saya masih duduk di kelas 1 atau 2 SD (lupa kapan tepatnya), saya sudah menempati rumah itu dengan status kost, karena pemilik rumah juga masih tinggal di sana. Kalau tidak salah, orang tua saya harus bayar 20 ribuan untuk sebulan. Semula, kita cuman dikasih sepetak ruang kecil di ruang depan, untuk tinggal 1 keluarga (4 orang, tapi saya dan adek waktu itu masih kecil). Dapurnya bikin sendiri, di seberang ruang kecil itu. Tapi seiring waktu berjalan, istri yang punya rumah meninggal, akhirnya kita diizinkan untuk tinggal di ruang dalam, menempati sebuah ruang yang cukup besar, karena bisa untuk kamar, plus meja makan dan ruang nonton tivi. Dapurnya pun pindah ke belakang, di dapur yang punya rumah.

Ruang tamu
Waktu berjalan lagi, yang punya rumah sakit-sakitan, dan dibawa anaknya ke desa. Qadarallah, meninggal di sana. Rumah itu sepenuhnya saya dan keluarga yang menempati. Kamar saya pindah ke ruang yang sebelumnya merupakan kamar yang punya rumah. Kita sudah gak dibebani lagi dengan biaya bulanan, dengan kata lain, kita cuman numpang aja di rumah itu tanpa bayar (selain bayar listrik dan air). Tapi… Ternyata, pihak ahli waris sudah menjual tanah dan rumah itu. Yah… apa boleh buat?

Ruang tengah, sebagai jalan akses dan untuk memarkir motor, sepeda, serta beberapa kandang hamster
Alhamdulillah, pemilik barunya cukup baik. Berhubung beliau juga gak berminat untuk membangun rumah ini dalam waktu dekat, kita diizinkan untuk tinggal di sini, sekadar biar rumahnya gak kosong. Sebenernya, kita disuruh bayar 1 juta untuk setahun. Tapi terang-terangan saya dan Bapak menolak, melihat kondisi rumah yang semakin hari semakin gak layak huni.

Dapur, dan di ujung sana adalah tempat kandang kelinci
Singkat cerita, pemilik baru itu kena stroke. Dia kembali menjual tanah dan rumah itu. Dan gak tahu kenapa, tanah bisa cepat terjual pada kerabatnya sendiri. Sedangkan rumah, beberapa saat kemudian pun laku.

Dari belakang
Hal yang mencengangkan saya adalah sms dari Bapak saya itu. Pemberitahuan bahwa rumah itu sudah ganti pemilik, begitu mendadak. Pagi-pagi, belum ada jam 7, beberapa orang datang ke rumah, dan mengatakan bahwa rumah sudah terjual dan akan segera dibongkar hari itu juga! Gila! Akhirnya, Bapak meminta waktu sampai hari Sabtu untuk mengeluarkan barang-barang.

Alhamdulillah, rumah Mbah (ibunya Bapak) cuman berjarak beberapa meter dari rumah itu. Kita putuskan untuk menumpang di sana, entah sampai kapan. Sejak Jumat kemarin, saya dan keluarga sudah mulai sibuk mengangkut barang-barang. Dan puncaknya adalah Sabtu kemarin, di mana saya sampai terpaksa izin untuk gak masuk sehari.

Hari Sabtu, 8 Oktober 2011, menjadi hari paling melelahkan. Lelah secara fisik karena harus memindahkan barang-barang dan membongkar beberapa bagian rumah yang menjadi milik kami. Dan lelah secara batin dan pikiran, karena harus menyaksikan kenangan demi kenangan yang berkelebat, namun harus ditinggalkan.
Rumah itu, hanya sebuah rumah tua peninggalan Belanda, yang mungkin bisa saja dibilang tidak terurus, dan semakin lama kondisinya semakin memprihatinkan, bahkan tak layak huni. Tapi bagaimanapun juga, di sanalah saya tumbuh. Di sanalah saya pertama kali menonton acara tivi di tivi hitam putih milik sendiri, hasil membeli dari tetangga. Di sanalah saya bermain bersama adek saya saat masih kecil. Di tembok-tembok itulah coretan tangan-tangan jahil saya terukir sebagai sebuah kenangan.

Saat rumah itu sudah mulai kosong dari perabot, saya dan adek kembali memasukinya. Bayang-bayang itu terus berkelebat tiap saya memasuki ruang demi ruang. Bayangan saat saya dan keluarga makan bersama di lantai sambil menonton tivi. Ataupun, bayangan ketika pertama kali Mumu datang ke keluarga ini dan memberi warna berbeda dalam setiap harinya. Ah… iya, bahkan Mumu pun saya kuburkan di rumah itu.

Dari depan
Hari ini, 091011, seperti mimpi buruk. Rumah itu, telah dihancurkan. Semua elemen kayu yang ada di sana sudah diambil oleh pemilik barunya. Menyisakan tembok-tembok tebal dan puing-puing. Menyedihkan. Dada saya sesak, tapi tidak bisa menangis. Adek saya lah yang berkali-kali menangis tiap mengingat kenangan di sana.

'Bangkai' kursi di ruang tamu
Sekarang, saya tinggal di rumah Mbah, entah sampai kapan, dengan perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Hidup tanpa punya rumah milik sendiri, begitu sulit dan menyedihkan ternyata. Dan saya –mau tidak mau- harus mengalami ini, sebagai pelajaran, bahwa saya tidak boleh membiarkan anak-anak saya kelak hidup luntang lantung tanpa ada kejelasan tempat tinggal.
Puing-puing kenangan

Saya menengok ke ruang tengah dan ruang tamu rumah Mbah ini. Barang-barang saya; kasur-kasur, pakaian-pakaian, sandal sepatu, dan sebagainya, masih tergeletak tak beraturan. Sedangkan di samping rumah, masih ada lemari-lemari, meja-meja, kandang kelinci dan hamster, tripleks, seng, kayu, dan perabot lain yang tidak bisa masuk ke dalam rumah sempit ini.

Puing-puing kenangan
Bekas ruang keluarga
Melihat dan mengingat kondisi ini, saya sering merasa lemah. Dan lelah. Bagaimana tidak? Semuanya seolah digantungkan begitu saja di pundak saya. Bukan secara fisik, karena jelas, Bapak saya jauh lebih kuat dari saya soal fisik. Tapi soal finasial dan pemikiran ke depannya. Saya harus menanggung semua beban yang dulu ditanggung oleh orang tua ketika saya masih sekolah. Delapan puluh persen. Dari mulai biaya hidup sehari-hari, sekolah adek saya, bahkan jika seandainya nekat membeli rumah, semuanya pun harus saya sendiri yang menanggungnya.
Kamar saya

Ah… anggap saja ini sebagai keluhan. Saya tidak tahu lagi, setelah pada Allah, kemana lagi saya harus mengeluh sedangkan pikiran ini sangat perlu untuk dikeluarkan. Saya sampai pada titik kelelahan. Sangat lelah. Tapi belum saatnya untuk beristirahat. Saya adalah anak pertama. Laki-laki. Beban ini memang berat. Tapi bukan berarti saya tidak akan sanggup memikulnya. Buktinya, Allah memberikan beban ini pada saya. Bukankah itu artinya, Dia tahu kalau suatu hari nanti, saya akan bisa melaluinya. Saya yakin, akan ada masanya saya membaca ulang tulisan ini, sambil duduk santai dengan perasaan tenang, mengenang kembali, atau menceritakan kisah-kisah kenangan pada pendamping hidup saya, anak-anak saya, ataupun orang lain yang mau mendengarkannya. Yah, akan ada masa itu. Saya yakin.

Hanya satu yang saya harapkan saat ini. Semoga Allah tak henti mengulurkan Tangan-Nya…

I'm not afraid because I know
This was our temporary home...

Ngawi, 091011

2 comments :

amin ya Allah... :)

 

Post a Comment