Bismillahirrahmanirrahim
Kabar pagi itu membuat hari saya
tidak setenang biasanya. Sebuah sms dari Bapak, saat saya baru saja sampai di
kantor.
‘Ki…omahe jare ws payu aq jaluk
wektu 4 hr nggo pndhan’
Saya tertunduk. Akhirnya, saya
harus tiba di hari itu. Saat saya harus meninggalkan rumah tempat saya bernaung
selama ini.
![]() |
| Dari depan |
Sejak saya masih duduk di kelas 1
atau 2 SD (lupa kapan tepatnya), saya sudah menempati rumah itu dengan status
kost, karena pemilik rumah juga masih tinggal di sana. Kalau tidak salah, orang
tua saya harus bayar 20 ribuan untuk sebulan. Semula, kita cuman dikasih
sepetak ruang kecil di ruang depan, untuk tinggal 1 keluarga (4 orang, tapi
saya dan adek waktu itu masih kecil). Dapurnya bikin sendiri, di seberang ruang
kecil itu. Tapi seiring waktu berjalan, istri yang punya rumah meninggal,
akhirnya kita diizinkan untuk tinggal di ruang dalam, menempati sebuah ruang
yang cukup besar, karena bisa untuk kamar, plus meja makan dan ruang nonton
tivi. Dapurnya pun pindah ke belakang, di dapur yang punya rumah.
![]() |
| Ruang tamu |
Waktu berjalan lagi, yang punya
rumah sakit-sakitan, dan dibawa anaknya ke desa. Qadarallah, meninggal di sana.
Rumah itu sepenuhnya saya dan keluarga yang menempati. Kamar saya pindah ke
ruang yang sebelumnya merupakan kamar yang punya rumah. Kita sudah gak dibebani
lagi dengan biaya bulanan, dengan kata lain, kita cuman numpang aja di rumah
itu tanpa bayar (selain bayar listrik dan air). Tapi… Ternyata, pihak ahli
waris sudah menjual tanah dan rumah itu. Yah… apa boleh buat?
![]() |
| Ruang tengah, sebagai jalan akses dan untuk memarkir motor, sepeda, serta beberapa kandang hamster |
Alhamdulillah, pemilik barunya
cukup baik. Berhubung beliau juga gak berminat untuk membangun rumah ini dalam
waktu dekat, kita diizinkan untuk tinggal di sini, sekadar biar rumahnya gak
kosong. Sebenernya, kita disuruh bayar 1 juta untuk setahun. Tapi
terang-terangan saya dan Bapak menolak, melihat kondisi rumah yang semakin hari
semakin gak layak huni.
![]() |
| Dapur, dan di ujung sana adalah tempat kandang kelinci |
Singkat cerita, pemilik baru itu
kena stroke. Dia kembali menjual tanah dan rumah itu. Dan gak tahu kenapa,
tanah bisa cepat terjual pada kerabatnya sendiri. Sedangkan rumah, beberapa
saat kemudian pun laku.
![]() |
| Dari belakang |
Hal yang mencengangkan saya
adalah sms dari Bapak saya itu. Pemberitahuan bahwa rumah itu sudah ganti
pemilik, begitu mendadak. Pagi-pagi, belum ada jam 7, beberapa orang datang ke
rumah, dan mengatakan bahwa rumah sudah terjual dan akan segera dibongkar hari
itu juga! Gila! Akhirnya, Bapak meminta waktu sampai hari Sabtu untuk
mengeluarkan barang-barang.
Alhamdulillah, rumah Mbah (ibunya
Bapak) cuman berjarak beberapa meter dari rumah itu. Kita putuskan untuk
menumpang di sana, entah sampai kapan. Sejak Jumat kemarin, saya dan keluarga
sudah mulai sibuk mengangkut barang-barang. Dan puncaknya adalah Sabtu kemarin,
di mana saya sampai terpaksa izin untuk gak masuk sehari.
Hari Sabtu, 8 Oktober 2011,
menjadi hari paling melelahkan. Lelah secara fisik karena harus memindahkan
barang-barang dan membongkar beberapa bagian rumah yang menjadi milik kami. Dan
lelah secara batin dan pikiran, karena harus menyaksikan kenangan demi kenangan
yang berkelebat, namun harus ditinggalkan.
Rumah itu, hanya sebuah rumah tua
peninggalan Belanda, yang mungkin bisa saja dibilang tidak terurus, dan semakin
lama kondisinya semakin memprihatinkan, bahkan tak layak huni. Tapi
bagaimanapun juga, di sanalah saya tumbuh. Di sanalah saya pertama kali
menonton acara tivi di tivi hitam putih milik sendiri, hasil membeli dari
tetangga. Di sanalah saya bermain bersama adek saya saat masih kecil. Di
tembok-tembok itulah coretan tangan-tangan jahil saya terukir sebagai sebuah
kenangan.
Saat rumah itu sudah mulai kosong
dari perabot, saya dan adek kembali memasukinya. Bayang-bayang itu terus
berkelebat tiap saya memasuki ruang demi ruang. Bayangan saat saya dan keluarga
makan bersama di lantai sambil menonton tivi. Ataupun, bayangan ketika pertama
kali Mumu datang ke keluarga ini dan memberi warna berbeda dalam setiap
harinya. Ah… iya, bahkan Mumu pun saya kuburkan di rumah itu.
![]() |
| Dari depan |
Hari ini, 091011, seperti mimpi buruk. Rumah itu,
telah dihancurkan. Semua elemen kayu yang ada di sana sudah diambil oleh
pemilik barunya. Menyisakan tembok-tembok tebal dan puing-puing. Menyedihkan.
Dada saya sesak, tapi tidak bisa menangis. Adek saya lah yang berkali-kali
menangis tiap mengingat kenangan di sana.
![]() |
| 'Bangkai' kursi di ruang tamu |
Sekarang, saya tinggal di rumah
Mbah, entah sampai kapan, dengan perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Hidup
tanpa punya rumah milik sendiri, begitu sulit dan menyedihkan ternyata. Dan
saya –mau tidak mau- harus mengalami ini, sebagai pelajaran, bahwa saya tidak
boleh membiarkan anak-anak saya kelak hidup luntang lantung tanpa ada kejelasan
tempat tinggal.
![]() |
| Puing-puing kenangan |
Saya menengok ke ruang tengah dan
ruang tamu rumah Mbah ini. Barang-barang saya; kasur-kasur, pakaian-pakaian, sandal
sepatu, dan sebagainya, masih tergeletak tak beraturan. Sedangkan di samping
rumah, masih ada lemari-lemari, meja-meja, kandang kelinci dan hamster,
tripleks, seng, kayu, dan perabot lain yang tidak bisa masuk ke dalam rumah
sempit ini.
![]() |
| Puing-puing kenangan |
![]() |
| Bekas ruang keluarga |
Melihat dan mengingat kondisi
ini, saya sering merasa lemah. Dan lelah. Bagaimana tidak? Semuanya seolah
digantungkan begitu saja di pundak saya. Bukan secara fisik, karena jelas,
Bapak saya jauh lebih kuat dari saya soal fisik. Tapi soal finasial dan
pemikiran ke depannya. Saya harus menanggung semua beban yang dulu ditanggung
oleh orang tua ketika saya masih sekolah. Delapan puluh persen. Dari mulai
biaya hidup sehari-hari, sekolah adek saya, bahkan jika seandainya nekat
membeli rumah, semuanya pun harus saya sendiri yang menanggungnya.
![]() |
| Kamar saya |
Ah… anggap saja ini sebagai
keluhan. Saya tidak tahu lagi, setelah pada Allah, kemana lagi saya harus
mengeluh sedangkan pikiran ini sangat perlu untuk dikeluarkan. Saya sampai pada
titik kelelahan. Sangat lelah. Tapi belum saatnya untuk beristirahat. Saya
adalah anak pertama. Laki-laki. Beban ini memang berat. Tapi bukan berarti saya
tidak akan sanggup memikulnya. Buktinya, Allah memberikan beban ini pada saya.
Bukankah itu artinya, Dia tahu kalau suatu hari nanti, saya akan bisa
melaluinya. Saya yakin, akan ada masanya saya membaca ulang tulisan ini, sambil
duduk santai dengan perasaan tenang, mengenang kembali, atau menceritakan
kisah-kisah kenangan pada pendamping hidup saya, anak-anak saya, ataupun orang
lain yang mau mendengarkannya. Yah, akan ada masa itu. Saya yakin.
Hanya satu yang saya harapkan
saat ini. Semoga Allah tak henti mengulurkan Tangan-Nya…
I'm not afraid because I know
This was our temporary home...
Ngawi, 091011











2 comments :
amin ya Allah... :)
Aamiin.
:)
Post a Comment