Bismillahirrahmanirrahim
Woaaahhh…. Finally, selesai juga
saya baca sebuah nopel, pemberian seorang Mbak nun jauh di Gading Kirana sana.
Hehehe… matur suwun yo mbak…
:D
:D
Oke, seperti biasa, saya gak bisa
cuman diem aja setelah selesai baca nopel, nonton film, ato dengerin musik yang
saya suka. Saya pengen berbagi. Lebih tepatnya, saya pengen cuap-cuap sendiri soal
apa yang saya dapatkan. Cuap-cuap gak penting, tapi penting juga si. Tapi
sebelumnya, saya ingetin dulu, judul di atas kayaknya gak mencerminkan isi
tulisan ini banget deh!
:P
:P
Gak usah berlama-lama deh,
kemaren siang, datang sebuah paket lagi ke kantor saya. Setelah dibuka, wow…
sebuah buku yang sampulnya teduh banget. Adem gitu diliatnya. Apalagi judulnya,
Hujan dan Teduh.
Yup, ini adalah nopel dari juara
pertama dari sebuah lomba kemaren-kemaren hari. Jadi gak sabar pengen baca. Juara pertama gitu loh! Pastinya keren!
Apalagi dapet endors dari jurinya juga, “Menyentuh
dengan sederhana, real apa adanya, cara bertutur yang tidak rumit, tetapi jujur
dan indah.”
Hmm… berhubung nopel ini ‘istimewa’,
saya jadi kepikiran sebuah nopel yang juga ‘istimewa’ yang saya punya dan sudah
saya baca habis dalam sehari dua hari. Tau judulnya? Lelaki Terindah milik
Andrei Aksana.
:D
:D
Kenapa saya kepikiran nopelnya
Andrei yang itu? Ya soalnya, di buku Hujan dan Teduh ini, si tokoh utama yang
seorang cewek bernama Bintang, dikarakterkan sebagai seorang yang lesbong! Ya,
gak ada yang salah baca. L-E-S-B-O-N-G. Tapi, dia juga bisa jatuh cinta sama
cowok. Dengan demikian, dia gak lesbong murni, tetapi masuk dalam kategori
biseksual. Nah, gak beda jauh kan sama Lelaki Terindah, yang mengusung tema
maho. Oyi, M-A-H-O. Padahal sebelumnya si tokoh adalah seorang yang
normal-normal aja.
Gaya Tutur
Lanjuuutt… Gaya bertutur H&T
ini sangat ringan sekali. Itulah kenapa juri mengatakan bahwa cara bertuturnya
gak rumit, gak njelimet. Orang bisa langsung paham, tanpa perlu harus membaca
berulang-ulang (soalnya saya sering harus mengulang membaca sebuah paragraf
biar paham bener apa maksudnya, saking ‘tinggi’nya diksi penulisnya). Dengan
gaya seperti ini, alur jadi terasa cepat biarpun sebenernya masih dalam batas
kecepatan wajar. Tapi sayang, di sini saya gak bisa menemukan sesuatu yang bisa
menyentuh saya. Gak tahu kenapa.
Untuk LT, gak perlu diragukan
lagi diksinya Andrei Aksana yang selangit. Jujur aje, saya sampe klepek-klepek
baca paragraf demi paragraf, apalagi pas nyampe ke puisi-puisinya. Seorang
temen cowok juga ngaku kayak gitu pas baca nopel ini. Hahaha… Tapi sayang, jadi
ilpil pas inget bahwa kata-kata seperti itu ditujukan untuk sesama jenis.
Yeeekkk…
(_ _”)
(_ _”)
Isi
Nah, di sini nih the most
important thing dari sebuah bacaan ataupun tontonan. Dan untuk H&T, hmmm…
gimana ya? Boleh ngomong jujur kan ya? Saya sangat terganggu dengan banyaknya
adegan XXX di sini. Sebelumnya saya pikir, oh, cuman sekali ini aja. Tapi lha
kok di halaman berikutnya ada lagi, ada lagi, ada lagi. Hedeh… Berasa nonton
P.S. I Love You. Bedanya, di P.S. I Love You itu yang ‘begituan’ diceritakan
sebagai suami istri (eh, ada 1 adegan yang gak suam istri ding). Kalau di nopel ini? Hmmm…
Gak beda jauh dengan yang saya
jumpai pada Lelaki Terindah. Saya mencatat ada banyak adegan kayak gitu di
sana. Ya dengan sesama jenis, ya dengan lawan jenis. Sumpah, saya sampe malu
sendiri bacanya. Makanya nopel itu langsung saya sembunyiin setelah selesai
saya baca, biar gak dipinjem sama adek saya.
Yah, emang sih, di dua nopel itu,
bahasa untuk menerjemahkan hal seperti itu dibuat demikian ‘indah’ dan nyastra
banget. Tentu beda banget dengan yang pernah saya baca di tulisan-tulisannya
Djenar, ataupun Agus Noor, yang biarpun nyastra, tapi hot beudh... Tapi tetep aja, risih bacanya.
Untuk H&T, saya ngerasa
tertipu dengan foto penulisnya yang berkerudung. Beneran kecewa. Isinya jauh
dari ekspektasi saya. Saya gak bisa menemukan something yang romantis,
menggugah, apalagi menyentuh di nopel ini.
Emosi pun hanya sesekali menghampiri saya saat membacanya. Sampe saya
pengen nanya, ini beneran karya yang menang itu? Kok…? Tapi segera saya tepis,
karena saya tahu, juri pasti punya pendapat dan penilaian yang jauh berbeda
dengan saya yang suka sotoy ini.
Dalam nopel ini, akan kita temui
seorang tokoh utama cewek yang lesbong. Tapi gak akan kita temuin alasan apa
yang membuatnya jadi seperti itu. Biarpun mungkin itu kelainan sedari kecil,
tapi saya pikir seenggaknya diceritakan lah, sejak kapan dia mulai ngrasa seperti itu.
Pergolakan batin juga gak terasa sama sekali. Di nopel ini kita juga akan nemu
seorang tokoh cowok yang rada-rada psycho dengan rasa posesif dan cemburu yang
berlebih.
Oh iya, saya pengen protes satu
hal tentang ini. Ada sebuah bab dengan judul “Yang Maha Pencemburu”. Setelah
sebelumnya saya disuguhi adegan begituan, dan lalu dilanjut dengan penyesalan
si cewek, saya merasa sedikit adem membaca judul bab itu. Wah… mungkin si cewek
mau tobat, gitu pikir saya. Tapi, saya kecewa, karena ternyata yang dimaksud ‘Yang
Maha Pencemburu’ di bab ini, bukan seperti yang saya pikir. Yang maha
pencemburu itu adalah si cowok yang rada psycho itu.
Astaghfirullah… Setahu saya, kata
‘maha’ mengindikasikan kedudukan tertinggi yang tidak ada tandingannya. Lalu,
pantaskah kata ini disandangkan pada seorang manusia psycho yang akhlaknya
rusak? Innalillah… pergeseran makna banget… Adakah yang lebih pencemburu
dibanding Dia Yang Maha Pencemburu?
Ending H&T juga saya gak
begitu suka. Ada akibat dari hasil perbuatan tokoh utama yang menjalani gaya
hidup freesex sebelumnya. Rahimnya harus diangkat. Di sini, saya pengennya
bisa ngrasain penyesalan dia yang sedalam-dalamnya. Tapi nyatanya enggak. Hhh…
sayang banget.
Tapi saya mengapresiasi maksud
penulisnya, yang kalau diterjemahkan secara bebas, bakal berbunyi gini, “Jauhi
pergaulan bebas! Kalo masih nekat, akibatnya lo tanggung sendiri!”
Kalau dalam LT, oke, memang diksinya
indah dan mendayu-dayu banget dan bikin klepek-klepek. Tapi sayang, itu juga
gak membantu saya mendapatkan feel yang nyata dari situ. Mungkin karena
ceritanya soal gay kali ya? Biarpun diceritain dengan sediiiiihhh banget (di
nopel-nopel biasa, saya bisa sampe nangis lho pas baca yang sedih-sedih), saya
tetep gak bisa mendapatkan feel apa-apa. Lha gimana bisa? Wong dia nangisin
nasibnya yang sekarang jadi gay, atau nangisin kematian si pacar gay-nya itu!
Dari segi isi pesan, LT dapet
banget. Ya, dapet banget untuk menyuarakan suara ‘kaum minoritas’ itu. Seakan
pengen bilang, “Mereka juga manusia yang butuh dihargai dan berhak memperjuangkan
cintanya.” What? Ke laut aja kaleee… sebelum bumi dijungkirbalikkan lagi kayak
zaman Nabi Luth!
(_ _”)
(_ _”)
Hedeh… saya sampe bingung harus
ngomong apa lagi. Dua nopel itu sama-sama bercerita tentang ‘realita’ yang ada
di masyarakat kita saat ini. Tapi, saya pernah dinasihati oleh seseorang, boleh
kita mengangkat realita, tapi potretlah dari sudut yang aman untuk dikonsumsi
publik. Karena otak manusia adalah otak negasi. Ketika kita menunjukkan
bobroknya sebuah dunia hitam, biarpun di akhir cerita ada kisah tobat-tobatnya,
tetep aja akan ada yang mikir, ‘Oh, jadi kayak gitu ya dunianya? Serem.’
Komen yang bagus? Sebentaaar…
jangan lupakan pikiran-pikiran polos berotak negasi yang justru akan penasaran
dan pengen coba-coba, karena dari yang mereka baca, melakukan hal seperti itu
(freesex, homoseksual, dsb) terlihat sangat ‘indah’ dan ‘menyenangkan’.
:(
:(
Maaf ya, tulisan ini bukan untuk
mendiskreditkan sebuah karya, karena saya hanya menulis berdasar apa yang saya
rasakan aja. Tapi tulisan ini, seenggaknya, untuk mengingatkan saya sendiri,
bahwa saya harus lebih berhati-hati dalam menulis. Jangan sampe tulisan saya
justru mengandung hal-hal yang gak sepantasnya saya ungkap ke permukaan dengan
bahasa yang terkesan 'indah'.
Maaf lagi, saya baru nyadar,
tulisan ini kayaknya acak-acakan banget! >.<
Ngawi, 041011

5 comments :
karena dipaksa komen ya saya komen lah,bagus kuq tulisannya :D
Nyari novel "Hujan dan Teduh" susah bangett yak..
skali liat d Gramedia Bandung tinggal satu, tp baget gk ckup..
skrg nyari d toko" buku lain, gk dapet..
Hiks.
adelia: halahhh... (_ _")
mbak Mawar Merah: di gramed madiun kemaren sempet liat, tapi gak saya beli, hehehe... gak taunya malah dapet kiriman dari temen.
Aku udah baca HT. Adegan XXX yang dimaksud itu apa, sih? Adegan yang lebih dari ciuman, ya? *polos*
Menurutku, HT itu bagus. Si penulis juga ngasih akibat dari free seks, sehingga pesan moralnya dapat. Ya, untuk feel, nggak dapet2 banget sih. Aku juga nggak suka endingnya soalnya gantung. :D
Kita nggak boleh ya menuliskan adegan pelukan/ciuman dalam sebuah tulisan (yg tentunya bakal dikonsumsi orang banyak)? Tapi ada maksud tersendiri dari tulisan itu.
Aku jadi kepikiran novelku. :( Soalnya isinya juga agak 'dewasa' untuk remaja. Tapi itu ya gambaran remaja masa kini. Tapi aku nggak menjelaskan adegan XXX itu. Hanya kasih clue kalo mereka baru melakukan *astaghfirullah*. Paling maks itu (maaf) ciuman. Gimana? Boleh nggak sih?
Ditunggu jawabannya...
-Alvi-
Wah, belum pernah baca tuh. Hahaha. Boleh pinjem gak?
Post a Comment