Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Be My Valentine!


            Be My Valentine…

            Suara itu kembali berdesah di telinganya. Aliran hangat nafas meraba pipinya. Gadis itu menarik nafasnya yang memburu. Susah payah ia telan ludahnya. Seluruh persendiannya terasa kaku. Jantungnya seperti dipompa melebihi kapasitas.

            Kini, sosok itu berada di depan Gita. Mata itu… Itu bukan mata yang selama ini Gita lihat. Itu bukan mata seseorang yang selama ini menyimpan kehangatan. Mata yang kini tengah berkilat memandanginya, seperti menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini, belum Gita mengerti hakikatnya.

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Laki-laki itu menyeringai.

            Brengsek! Kata itu hanya tertahan di kerongkongan Gita. Ia meronta. Tapi percuma, tubuhnya lemas. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa.

            “Hehe…” Laki-laki itu terkekeh pelan. “Pelan-pelan, Sweetheart… Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita.”

            Lagi, seringaiannya itu yang Gita lihat, dengan mata berkilat yang masih menyimpan misteri.

            Laki-laki jangkung bertuxedo itu membalikkan badan, dan pergi. Tubuhnya segera lenyap ditelan gelap.

            Ya. Yang Gita tahu hanyalah, ia kini berada dalam sebuah ruang dengan pencahayaan yang minim. Hanya ada dua batang lilin sebagai sumber cahaya di meja kecil di depannya. Sedang ia, tersungkur lemah merapat di dinding sudut ruang.

            Ia kembali mencoba menggerakkan bagian tubuhnya. Jari-jarinya sepertinya sudah bisa digerakkan. Ia sudah mampu merasakan dingin di kulitnya. Nafasnya masih memburu, sembari mencoba mengatur irama detak yang menggedor dadanya sejak ia mendapatkan kesadarannya tadi.

            Ia mencoba bangkit. Susah payah, akhirnya ia mampu duduk. Ya Tuhan… Ia tidak tahan. Matanya telah basah. Ia menangis. Apa yang terjadi denganku? Kenapa dia melakukan semua ini padaku? Pertanyaan itu hanya mampu bergaung di dinding-dinding hatinya.

            Gadis itu mencoba mengingat-ingat, tentang apa yang ia dan Robert lakukan tadi. Perlahan tapi pasti, potongan-potongan ingatannya kembali.

            Bermula ketika pagi tadi, ia mendapati sekotak cokelat dengan kertas wangi berwarna pink di laci meja kerjanya. Tanpa nama pengirim. Tapi Gita tahu dengan pasti siapa pengirimnya. Tulisan tangan itu tidak bisa berbohong. Pasti Robert, laki-laki dari bagian HRD yang sudah hampir satu bulan ini dekat dengannya.

            Tak lama kemudian, hapenya berdering. Dari Robert. Gita tersenyum lebar.

            “Be my Valentine…” Itu kalimat pertama yang Gita dengar dari ujung sana. Senyumnya makin mengembang.

            Bagaimana ia bisa menolak permintaan dari seseorang seperfect Robert. Dengan tubuh jangkung dan atletis, serta wajah bersih yang tanpa cela, rasanya hanya perempuan yang kurang normal saja yang akan menolak.

            “Robert mengajakmu?” tanya Alya, sahabat satu kostnya ketika mereka pulang bersama.

            “Hm mm…” Hati Gita masih bermekaran ketika itu.

            “Tapi, Ta, dia kan… Dia non Muslim, Ta.”

           Gita sedikit manyun ketika Alya mengatakan itu. “Mmmmm… Yah, siapa tahu saja, Al, aku bisa mengenalkan Islam padanya. Lagipula, sayang kan, Al, di malam Valentine, aku harus sendiri. Mumpung ada yang mengajak dating, ya kenapa tidak. Dating malam ini belum tentu akan berlanjut kan…”

            “Memangnya apa keistimewaan Valentine? Padahal kamu juga sudah paham betul sejarahnya kan?”

            “Sejarah yang simpang siur dan belum bisa dibuktikan, Alya…”

            Gita tahu, mungkin temannya yang berjilbab rapi itu sedang istighfar sambil menghela nafas. Tapi, Gita mencoba untuk tidak peduli. Ia hanya ingin agar malam ini, ia tidak kesepian. Dan besok ketika di kantor, ia bisa ikut ngrumpi bersama teman-temannya yang lain, membicarakan malam Valentine mereka.

            Selepas Isya’, Robert menjemputnya di kost. Alya kembali berpesan padanya.

            “Kalian hanya berdua? Hati-hati ya, Ta. Perasaanku tidak enak.”

            “Ya Allah, Alya… Aku sudah bilang, aku masih punya rasio. Kalau kamu berpikir tentang ‘something’ yang lebih, insya Allah aku bisa menjaga diri kok.”

            Gita bisa melihat raut Alya kali ini benar-benar berbeda. Kecemasan berlebih.

            Beberapa saat kemudian, ia sudah ada dalam mobil Robert. Dengan gaun biru tua yang bagian punggungnya terbuka, Gita merasa sangat cantik malam ini. Apalagi setelah Robert memujinya.

            Tak lama, mobil memasuki halaman sebuah rumah besar. Gita mulai merasa takut.

            “Kamu tidak perlu berpikir macam-macam. Aku hanya ingin mengambil dompet. Tertinggal tadi. Hehe…” Robert turun. Meninggalkan Gita sendirian.

            Ia amati rumah berlantai dua itu. Apa lampu belum dinyalakan? Gita merasa agak gelap. Pun dengan halaman yang sebenarnya cantik dengan taman kecil dan kolam ikan. Tapi, tidak ada lampu. Hingga suasana terasa cukup bisa untuk sekadar membuat bulu kuduk meremang.

            “Aaaaaa…..” Terdengar teriakan dari dalam. Itu suara Robert!

            Gita bingung. Ada apa di dalam?

            Pyaaaarr!!

Sepertinya ada sesuatu yang pecah. Apa ada rampok? Dengan keberanian yang dipaksakannya, sambil sedikit meyakinkan dirinya bahwa ia masih ingat teknik-teknik taekwondo yang dulu pernah ia ikuti ketika kuliah, ia turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah.

            Sampai di ambang pintu, ia berhenti. Sebuah guci tampak berantakan di lantai. Belum lagi sofa yang letaknya tidak keruan. Ia khawatir. Di mana Robert?

            “Robert?” Suaranya bergema, memantul di lantai dan dinding putih itu. Rumah ini begitu gelap. Padahal ada lampu gantung yang mewah di langit-langitnya. Kenapa tidak dinyalakan? Ah, kenapa Gita harus berpikir tentang penerangan?! Ia harus tahu di mana Robert! Apa ia baik-baik saja? Lalu…

            Seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. Gita tersentak. Kaget.

            “Be my Valentine…” Sebuah suara serak dan dalam yang ia kenal. Itu suara Robert. Hembusan nafas Robert di tengkuknya, membuat aliran darah Gita memanas, tak menentu.

            Kenapa tadi Robert berteriak? Ah, setidaknya, Gita sudah tenang, karena ternyata Robert baik-baik saja. Ia mencoba berbalik. Tapi…

            “Ah…” Mata Gita membesar. Mulutnya ternganga. Tiba-tiba ia merasa limbung. Sesuatu menusuk punggungnya, dan ia bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir memasuki kulitnya. Panas. Perih. Dan yang Gita tahu, itu terakhir kalinya ia bisa mengingat sesuatu.

*

            Suara langkah kaki mendekat. Ia kembali. Siluetnya tampak bagai raksasa ketika ditimpa cahaya lilin. Gita masih meringkuk, menggigil ketakutan di sudut ruang. Ya Tuhan… Apa yang akan dia lakukan padaku?

            Laki-laki itu melepas tuxedonya. Kini, ia bertelanjang dada. Sesuatu membuat mata Gita terbelalak. Bukan karena ia melihat pemandangan yang sebenarnya ‘indah’ jika saja tidak dalam situasi seperti ini. Tapi, astaga… Tubuh Robert hampir penuh dengan gambar-gambar tato! Mengerikan!

            Gita melihat laki-laki itu tersenyum lebar. 

            “Indah bukan? Aku adalah mahakarya…”**

            Robert membungkuk, menyingkirkan karpet yang menutupi lantai marmernya. Kali ini, mata Gita harus lebih lebar lagi. Ada sebuah gambar di lantai itu, yang tadinya ditutup oleh karpet. Sebuah gambar bintang bersegi lima yang berada dalam lingkaran. Pentagram! 

            “You will be my Valentine, Sweetheart…” Kali ini, suara itu benar-benar terdengar mengerikan bagi Gita.

            “Apa maksudmu? Apa yang akan kamu lakukan???” Gita berteriak, diiringi air mata yang enggan berhenti mengalir sejak tadi.

            “Hahaha…” Pria itu terkekeh. “Pertanyaan standar. Apa masih kurang jelas? Kamu akan menjadi Valentineku, Sayang. Valentine… Yang Maha Kuasa bagiku…”

            Mulut Gita menganga. Ia masih belum mengerti.

*

            Lucifer pasti akan bahagia dengan persembahanku. 

            Laki-laki itu memamerkan deretan gigi putihnya, lalu kembali menekuri hal yang harus ia lakukan. Tepat pada hari Lupercalia ini, ia akan mempersembahkan darahnya dan darah Valentinenya. Hanya sedikit orang yang tahu tentang ritual rahasia ini. Orang yang menjadi Valentine, haruslah yang lahir pada hari Lupercalia, 14 Februari tepat pada saat bulan tengah sabit sepertiganya. Orang yang akan dia ambil darahnya disebut sebagai Valentine, tidak lain karena darah itu akan dipersembahkan pada Sang Cahaya, Lucifer The Fallen Angel. Bukankah Valentine, kata yang dipopulerkan Paus Gelasius itu, berarti Sang Maha Kuasa?

            Tapi, ada sesuatu yang mengusik jiwa laki-laki itu. Sesuatu yang sangat jauh di dalam dasar hatinya. Hah? Apakah makhluk sepertiku masih ditakdirkan memiliki sesuatu yang dinamakan nurani? Dia mendengus pelan, mencoba untuk menepis perasaan itu.

            Kini, ia kembali bergelut dengan benda-benda di atas meja kecil setinggi pinggangnya itu. Sebuah tanduk unicorn, bandul kalung berbentuk bintang David, sebuah ankhy, sebuah tiruan pisau Akedah, sebuah cawan dan sesuatu berbentuk tengkorak manusia. Ia mengambil tiruan pisau Akedah itu. Biarpun ini bukan pisau Akedah asli, setidaknya ini cukup untuk sekadar menggores jasad maya dan mengeluarkan air kehidupan bagi Lucifer. 

            “Aku pikir kamu mencintaiku…” suara Gita terdengar sangat lemah di belakangnya. Ada isak di sana.

            Robert mencoba melirik siluet itu di belakangnya. Mencintai? Bahkan ia sudah lupa bagaimana rasanya mencintai dan dicintai. Apakah seperti orang tuanya yang meletakkan dia di tempat sampah dulu? Yang ia tahu, cinta adalah seperti perlakuan Tuan Moses padanya. Mengambil ia dari tempat sampah, lalu memasukkannya dalam lingkaran kaum satanis. Cinta adalah penyerahan jiwa kepada Sang Cahaya, Lucifer The Fallen Angel. Bukan cinta ala Valentine’s day seperti yang diyakini para pemuda di seluruh dunia.

            Ia kembali memusatkan perhatiaannya pada cawan dan pisau Akedahnya. Ia ambil kedua benda itu. Pisau Akedah berkilau ketika tertimpa cahaya lilin yang samar. Ia balikkan tubuhnya, menghadap pada Gita yang masih meringkuk ketakutan, sambil memeluk lututnya. Ia bisa melihat keringat membasahi seluruh tubuh Gita.

            Robert menghampiri Gita, mencengkeram lengannya dan menariknya untuk bangkit. Gita menjerit tertahan. Ia menuntunnya kasar menuju pentagram. Aku tidak bisa kasar terhadap perempuan! Jerit batinnya hanya mematul sesaat, lalu gemanya kembali menghilang.

            Bug! 

            “Auwh!” keluh Gita, setelah Robert menjatuhkannya tepat di tengah pentagram. 

            Sakitkah? Robert meraih pisau dan cawannya. Ia mencoba tetap mempertahankan sikap dan senyum dinginnya.

            “It won’t hurt, Sweetheart. Just relax…” suaranya masih dalam, meski ia bisa merasakan getar ragu di sana.

            Ujung pisau itu telah ia tempelkan pada permukaan kulit Gita. Begitu kulit terbuka, darah akan mengucur pada cawan yang telah ia siapkan. Hanya setengah cawan saja. Setelahnya, ia akan merobek dadanya, lalu mengucurkan darahnya sendiri, agar genap satu cawan. Ya, harus dari dada. Agar Lucifer tahu, bahwa ia benar-benar telah menyerahkan segalanya; hati dan jiwanya.

            “Kamu ragu kan? Ini bukan dirimu kan?”

            Mata Gita menatap pupil matanya. “Shut up,” suaranya pelan.

            “Robert yang kukenal adalah orang yang sangat baik. Biarpun berbeda agama, dia selalu mengingatkanku saat waktu shalat tiba. Ia adalah orang yang mengingat Tuhan dalam setiap desah nafasnya. Bukan pemuja setan!” Gita menahan isak.

            “Bisakah kamu diam?”

            “I will not… be your Valentine! Aaaaaauwhh!!” Gita menjerit. 

            Pisau itu telah menancap. Robert menggerakkannya, lalu perlahan mulai merobek kulit Gita. Jeritan Gita seperti orang yang sangat pasrah. Ia tahu, Gita pasti masih sangat lemah karena obat bius yang ia suntikkan tadi.

            Cawan itu telah terisi separuhnya. Ia mencabut pisaunya. Nafasnya terengah-engah. Matanya nanar memandang luka Gita, lalu beralih pada wajah gadis itu yang menangis dan meringis kesakitan.

            “I’m sorry… I’m so sorry…” pelan, suara itu keluar dari bibir Robert. Tangannya gemetar. Ia ingin memeluk Gita, mengatakan penyesalan yang dalam. Menenangkan Gita dari rasa sakitnya. Tapi ada kekuatan lain dari dalam dirinya yang menghalanginya.

            Robert beringsut menjauhi Gita. Pisau itu masih di tangannya. Tapi, matanya lagi-lagi harus menangkap visual Gita yang tengah terbaring di tengah pentagram. Aku tidak bisa… 

            Sudah tidak ia pedulikan lagi suara-suara penghalang itu. Kini ia berlari, menuju Gita. Membopong tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Pelukan yang ia harap mampu sedikit saja meringankan sakit akibat perbuatannya. 

            “I’m so sorry…

            Laki-laki itu  sudah mengambil keputusan.

*

            Gita merasa hangat dalam dekapannya. Gadis itu bisa merasakan ada gejolak yang tidak biasa yang sedang terjadi dalam dada Robert. Sebuah perang batin.

            “Go…” kata Robert, berbisik pelan di telinganya.

            Robert melepas pelukannya pada Gita. Mata itu… Begitu indah. Dan sembab. Robert menangis? Gita belum bisa mencerna perubahan-perubahan emosi Robert yang begitu cepat dan tiba-tiba.

            “Kamu tidak akan meneruskan semua ini kan?”

            Robert berdiri, mengambil cawan yang setengahnya telah penuh oleh darah Gita. Ia letakkan cawan itu di meja kecilnya.

            “Lucifer sudah menanti persembahanku. Di malam Lupercalia ini… atau… kalian menyebutnya dengan Valentine, aku tetap harus melakukan kewajibanku.” 

            Gita tidak bisa melihat ekspresi lelaki itu, sebab ia memunggungi Gita. 

            “Kewajiban? Apakah setiap tahun selalu seperti ini? Setiap hari Valentine kau selalu mencari mangsa untuk persembahan bagi Lucifer brengsekmu itu? Hah?” Merasa kekuatannya mulai bangkit, Gita berani berkata lebih keras. Ia siap, seandainya Robert marah dan menyiksanya lagi. Tapi, bukan itu yang ia dapatkan. Sosok di depannya masih saja berdiri mematung membelakanginya.

            “Ini pertama kalinya bagiku. Seterusnya, tidak akan setiap tahun. Hanya pada saat aku menemukan gadis yang lahir pada 14 Februari tepat saat bulan tengah sabit sepertiganya saja, aku akan melakukannya.”

            Robert berbalik. Gita bisa melihat mata itu hampir kembali. Mata yang sama, seperti ketika ia mendapatkan tatapan hangat dari lelaki itu. 

            “Pergilah… Setelah ini aku tidak akan menyakitimu.”

            “Robert, listen to me… Kamu tidak harus melakukan semua ini, kalau…”

            “Shut up! Just go!!” Robert beringas.

            Tangan kekar lelaki itu tiba-tiba saja sudah menggenggam keras lengan Gita, menyeretnya. Gita berontak, namun apa daya, tenaganya terlalu lemah jika dibanding dengan Robert. 

            Pintu depan terbuka. Robert melemparkannya ke halaman. Gita tersungkur di tanah berumput. 

            “Gita… Maafkan aku… Pergilah…”

            Sesaat, Gita masih bisa melihat sembab di mata Robert. Lalu, pintu tertutup. Keras. Setelahnya, Gita hanya melihat kegelapan di rumah itu. 

            Ia mencoba bangkit, seraya menutup luka menganga di lengannya. Dadanya masih naik turun. Ia  berjalan meski sedikit terseok.

            Sesampainya di gerbang, Gita mendengar teriakan itu. Mengerikan.

            “Aaaaaaa…..”

            Apa yang dilakukan Robert pada dirinya sendiri? Entahlah… Gita masih berjalan. Dan akan terus berjalan ke depan. Menuju sebuah titik cahaya iman. Ia tahu, imannya masih lemah, dan ia harus pandai menjaganya. Hanya satu yang pasti; ia tidak akan pernah lagi menganggap Valentine sebagai simbol kasih sayang. 

            Langit mulai muram. Rintik hujan mengiringi perjalanan gadis itu. Pulang. Pada iman.

*
Ngawi, 110211          



NB: Nama-nama benda adalah nyata. Sedangkan ritual dalam kisah ini hanya fiksi belaka (Allahu a’lam ya kalau memang betul-betul ada).
** Dalam The Lost Symbol (Dan Brown)

0 comments :

Post a Comment