Bismillahirrahmanirrahim
Jejak itu dia namai: luka.
Saya gak tahu harus mulai
darimana. Gak seperti biasanya, selesai membaca buku, tangan saya pasti gatel
pengen ngetik review-nya. Tapi kali
ini, saya blank. Bukan karena buku
yang saya baca ini jelek, ataupun gak menarik. Melainkan lebih karena saya speechless setelah membaca buku hijau
yang satu ini. Sebuah buku yang hadir dengan bahasa yang bening dan jujur.
Berapa banyak buku bertema
lingkungan, ataupun buku fabel dewasa yang pernah saya baca? Baru sedikit.
Dihitung dengan lima jari saja tidak lengkap. Yang paling berkesan mungkin
adalah Black Beauty, biarpun sampe
sekarang belum kelar juga bacanya. Hehe… Dan sekarang, sebuah buku bersampul
hijau dengan gambar empat orang dan seekor orang utan telah menyita perhatian
saya seharian kemarin.
Ping! A Message from Borneo.
Begitu judul yang dipilih sama kedua penulisnya, si Mpok Riawani Elyta dan Mbak
Shabrina W.S. Dua mbak-mbak saya yang sangat produktif, inspiratif dan keren
banget. :D
Buku ini bercerita dengan dua
sudut pandang berbeda, dengan gaya tutur yang sangat berbeda pula. Tokoh Ping
dihadirkan Mbak Shabrina dengan kebeningan gaya berceritanya. Dan Molly
dibawakan oleh Mpok Ria dengan kerealistisan dan intelektualitasnya.
Berkisah tentang Ping, seekor
anak orang utan yang harus terpisah dari ibunya. Tapi ia segera mendapatkan
keluarga baru, Jong dan ibunya yang juga Ping panggil dengan ‘Ibu’. Dari Ibu
dan Jong lah Ping kembali merasakan arti bahagia. Ibu mengasihi Ping dan Jong
tanpa membeda-bedakan. Ibu mengajari mereka tentang hidup, tentang hutan yang
Tuhan berikan. Saya seperti menonton film-film animasi Hollywood melalui tokoh orang
utan ini.
Tapi sayang, kebahagiaan Ping
harus kembali terenggut saat ia terpisah dari Ibu dan Jong. Yang pada akhirnya
ia justru mendapati kenyataan mengerikan itu untuk kedua kalinya.
Di sisi lain, ada Molly, seorang
gadis pecinta satwa. Ia langsung menyetujui ajakan Nick, teman bulenya, untuk
pergi ke Samboja, Kalimantan, bersama dengan Andy, adik Nick. Di Kalimantan,
Molly bertemu kembali dengan Archie, sahabat lamanya sewaktu di SMA, yang
menurut Molly sudah jauh berubah.
Cerita bergulir. Ada sisipan
kisah asmara Archie yang menginginkan Molly menjadi pacarnya, tapi ditolak
mentah-mentah oleh Molly. Ada sisipan kisah background
kehidupan Molly yang bercita-cita menjadi penulis seperti ayahnya, namun
sedikit tersandung karena ibunya, meski pada akhirnya ia bisa membuktikan pada
ibunya bahwa mimpinya bisa diwujudkan.
Awalnya, saya mulai gemes dengan
alur yang dibentuk oleh penulis. Ganti bab, ganti tokoh. Begitu seterusnya.
Tapi kok belum ketemu juga keterkaitan antara Ping dengan Molly. Hingga
akhirnya di bab-bab tengah menjelang akhir, bertemulah Molly dengan seekor anak
orang utan yang terlihat depresi di konservasi, bernama Karro. Di situ saya
sudah bisa menebak, siapa Karro yang dimaksud. Dan tebakan saya benar lho! xD
*biasa aja kaleeee!
Jujur, beberapa kali saya trenyuh
saat menyaksikan adegan-adegan Ping, Jong dan ibunya yang penuh dengan
kehangatan dan kebahagiaan. Begitulah hutan mengajarkan pada mereka untuk
bahagia. Lalu berubah jadi sedih dan pengen nangis saat Ping kembali menemukan
sesuatu yang ia sebut luka, untuk
kesekian kalinya.
Beberapa kali saya juga merasa
geram dengan pernyataan-pernyataan manusia yang tak bertanggung jawab. Saya
geram dengan Archie yang sama sekali gak punya perikehewanan. Mentang-mentang
anak pengusaha kelapa sawit yang sukses, dia melupakan bagaimana seharusnya
mencintai hutan dan penghuninya. Saya marah pada mereka-mereka yang menangkap
Ping dan orang utan-orang utan lain untuk dibunuh, dan dijual dengan harga
murah. Andaikan ini film Hollywood, mungkin akan ada penyerbuan balas dendam
besar-besaran oleh orang utan. (ngaco!)
Biasanya nih, saya suka banget
ngritik-ngritik sebuah buku. Tapi di sini, saya gak menemukan satu celah pun
yang bisa saya kritisi. Ahhh… kedua penulisnya seperti sudah mengantisipasi ini
dengan menutup celah-celah yang kira-kira bisa saya masukin kritik. Hehe… Keren
bener dah! :D
Gak salah deh, kalau naskah ini
berhasil lolos dan bertengger dengan anteng sebagai Juara 1 dari Lomba Novel 30
Hari 30 Buku yang diadakan sama Bentang Belia tempo hari. Bahasanya bener-bener
ringan dan gak ada yang berkesan sok menggurui. Semuanya mengalir begitu saja.
Membuat kita sebagai pembaca ikut nimbrung bersama Ping, merasakan apa yang dia
rasakan sebagai orang utan. Membuat kita sebagai pembaca ikut berpetualang
bersama Molly, mendengar dengan kuping dan melihat dengan mata kepala sendiri
tentang realita mengerikan yang sudah dibiarkan terjadi selama puluhan tahun.
Mbak Shabrina beneran berhasil
membuat saya ketularan tokohnya. Ya, beneran ketularan. Saya jadi pengen menjadi orang utan! xD
Oh iya, ada bagian dalam sebuah
paragraf yang saya suka banget. Yaitu saat Molly meng-update status Facebooknya
dengan “Yes! Alhamdulillah, novel
perdanaku terbit!” Tulisannya begini:
“Status yang dalam beberapa detik saja langsng menuai puluhan komentar. Ada yang mengucapkan selamat. Tak sedikit pula yang langsung menodong traktiran dan novel gratis.”
Saya langsung #JLEB! Nyindir,
Mpok??? (_ _”)
Overall, sekali lagi saya katakan, naskah ini memang layak banget
jadi juara 1, dan akhirnya menjadi sebuah buku novel yang diantar Pak Pos ke
saya kemarin. Kasih bintang berapa ya? Empat bintang kayaknya gak berlebihan
deh. Karena dari sinilah saya belajar memahami kehidupan orang utan dalam dunia
hutannya. Dari sinilah saya tahu begitu banyak manusia-manusia tak bermoral, tak
bertanggung jawab, tak berperikehewanan, yang dengan sadis membantai orang
utan, menebang paru-paru dunia, hanya demi uang yang tak seberapa. Selama ini
saya hampir menangis saat mendapati foto-foto maupun video orang utan yang mati
mengenaskan. Dan dalam buku ini, semuanya memang diceritakan apa adanya.
Semuanya tentang luka mereka. Luka
kita juga sebagai oknum yang seharusnya memberi mereka rasa aman tinggal dalam rumah mereka sendiri.
Btw, pengen dong kapan-kapan bisa
lihat secara langsung ke konservasi, ketemu orang utan, atau… jadi orang tua
asuh sekalian. :D
Madiun, 24 April 2012
Sendiri di kosan yang
sepi.


0 comments :
Post a Comment