Bismillahirrahmanirrahim
Kau bagai lagu indah, yang membuatku jatuh cinta dalam cara yang sederhana…Tak ada yang salah dengan cinta antara kau dan aku.Mungkin, yang salah hanyalah waktu. Kau dan aku, seharusnya sejak dulu bertemu….
Romantis. Itu kesan pertama yang
saya tangkap dari untaian kata di sampul belakang buku manis ini. Bukunya emang
dikemas dengan manis banget. Ya gambar covernya,
warnanya, kertas sampulnya. Acungin jempol lah buat Bukune yang rasanya punya something different dalam konsep
pengemasan setiap buku yang mereka terbitkan.
Yang Kedua. Mungkin, bagi yang cuman baca judul dan baca sinopsis
belakang cover aja, bakalan ngira kalau tulisan Mpok Riawani Elyta ini bicara
soal poligami. Atau, minimalnya, ada orang ketiga dalam sebuah relationship. Gak sepenuhnya salah. Cuman, emang buku ini
sama sekali gak ada sangkut pautnya sama topik sensitif buat perempuan itu.
Buku ini emang bercerita tentang adanya orang ketiga dalam sebuah rumah tangga.
Berkisah di dua tokoh sentral.
Dave dan Vienna. Yang bertemu pertama kali saat menghadiri acara ulang tahun
teman SMA mereka. Tapi saat itu, mereka gak saling kenal. Yang pasti, Dave
menyadari, sejak dia mendengar suara Vienna yang jernih saat menyanyikan I Will Always Love You di acara itu,
sebagian dari diri Dave sudah dibawa pergi oleh Vienna.
Bertahun-tahun kemudian, mereka
kembali dipertemukan secara ‘kebetulan’, karena sama-sama menjuarai festival
menyanyi sebagai juara 1 dan 2. Dari sana, mereka lagi-lagi dipertemukan untuk
mengikuti festival menyanyi tingkat Asia di Singapura, secara duet. Nah, di
situlah segalanya berawal. Kesuksesan terus menghampiri mereka, hingga mereka
cukup dikenal di Asia.
Di sisi lain, Vienna tampak gak
nyaman dengan pencapaiannya. Karena tekanan dari Haris, suaminya. Dia ngerasa
selama ini diperalat, kayak sapi perahan. Vienna yang banting tulang, tapi
Haris yang ngabisin duit yang katanya buat modal ini itu.
Di saat-saat seperti itu, Dave
justru membuat Vienna makin galau. Waduh waduh… ngebayanginnya aja berat bener
dah. Gimana lagi? Vienna itu tipe istri yang setia banget, biarpun suaminya
seorang yang amburadul. Dia jarang banget bersentuhan secara fisik dengan Dave,
lawan duetnya, yang seharusnya ada chemistry
di antara mereka.
Vienna sudah terlanjur ‘terdoktrin’
sama Haris, bahwa gak akan ada laki-laki yang mau dengan Vienna selain Haris,
karena kekurangan yang Vienna miliki. Itu sebabnya Vienna mati-matian menjaga
hati dari Dave, pun menjaga kesabaran menghadapi sikap Haris yang terus-terusan
menggerogoti hasil jerih payah Vienna.
Terus? Apanya yang terus?
Ceritanya? Gini aja. Silakan mampir ke toko buku, cari judul buku Yang Kedua
dari Riawani Elyta, bawa buku itu ke kasir, bayar, lalu baca. Case closed. :p
Yang Kedua. Bener-bener buku
kedua yang saya baca yang isinya tentang perasaan seorang perempuan yang
tertarik sama laki-laki lain, dalam keadaan perempuan itu sudah bersuami. Dulu,
saya baca Cinta Semusimnya Ifa
Avianty. Temanya sama. Cuman beda jauh. Loh? Hehe… bukan di sini ngebahasnya.
:p
Sejujurnya, membaca sinopsis di
cover belakang, saya berharap bakal menemukan scene-scene romantis antar tokoh-tokohnya. Sayangnya, menurut saya,
minim banget scene romantisnya. Romantis gak harus melulu tentang interaksi
tokoh kan ya? Tapi suasana sekeliling yang ciamik juga salah satu sebab sesuatu
itu bisa dibilang romantis. Atau, pendeskripsian perasaan tokoh-tokohnya, juga
bisa dibilang romantis kok. Tapi saya ngerti dengan pakemnya si Mpok. Dan ini
juga sebuah nilai plus dari penulis yang satu ini. Si mpok kayaknya gak pernah
mau mengeksplor terlalu dalam dan intens tentang perasaan tokoh-tokohnya yang
bukan suami istri. Mungkin dalam, tapi kurang jleb gitu. Apa sayanya aja ya
yang gak bisa ngerasain? O.o #efekkebanyakanbacaromance
Ada juga beberapa hal bikin dahi
saya berkerut-kerut. Bahkan sempet juga terlintas di pikiran, “Ini beneran
bikinannya si Mpok ye?”, kalau aja saya gak ngenalin gaya tuturnya Mpok Ria.
Karena beberapa detail ‘kecil’ ini cukup mengganggu saya.
First, tentang waktu, dan ini yang bikin dahi saya berkerut banget.
Di prolog kan dengan jelas disebutkan bahwa segalanya bermula pada tahun 1997.
Di bagian selanjutnya, waktu berlalu 10 tahun kemudian. Artinya 2007 kan? Nah,
kok si Vienna nyanyi Matahariku-nya Agnes Monica?? Lagu itu kan rilis 2008. O.o
Yang bikin saya jleb, di halaman
92, saat MC membacakan pengumumannya, MC itu bilang, “And the first winner of Asian Song Couple Festival 2011 is…”
Waks??? 2011??? Jauh amaaaattt??? Tuing tuing. O.o
Pertemuan kembali antara Vienna
dan Dave dalam festival kan 10 tahun dari 1997, yang artinya tahun 2007. Nah,
beberapa minggu setelahnya, mereka masuk ke festival Asia. Yah, anggep aja udah
pindah tahun jadi 2008 awal. Tapi kok MC-nya bilang Song Festival 2011? Ah,
mungkin salah ketik. Ya ya… mungkin salah ketik nih. Berkali-kali saya meyakinkan
diri soal itu. Dan syukurlah, saya sedikit nglupain soal tahun-tahun itu.
Yang meyakinkan saya bahwa itu
salah ketik adalah pernyataan Dave di halaman 186. Dave bilang soal 13 tahun
yang lalu. Berarti, 1997 ditambah 13, jadinya 2010. Ini sih wajar, karena sudah
beberapa tahun sejak pertemuan mereka di festival. Hehe… abaikan saja komen
sotoy ini. :p
Second, saya agak bingung dengan background tindak kriminal apa yang dilakukan si Haris?
Penggelapan? For what? Seenggaknya,
disinggung sedikit lah, biarpun gak banyak, karena fokus cerita emang gak di
situ. Tapi kalau aja dijelaskan sedikit, pembaca pasti bisa lebih lega.
Third, penulis kelihatan pengen memasukkan cerita lain sebagai
hikmah, sebuah cerita nyata yang pernah saya baca (penulisnya juga si Mpok sih,
di note pesbuk kalau gak salah). Si Mpok memasukkan cerita ini secara ‘halus’.
Tapi bagi saya, kelihatan emang ‘maksa’ dimasukin. Kenapa ‘maksa’? Tiba-tiba
aja kakak Dave nyeletuk untuk berkunjung ke seorang kerabat jauh yang lama gak
dikunjungi. Mungkin, emang karena ‘kasus’nya mirip sama Dave, jadi tiba-tiba
aja kakak Dave terceletuk. Tapi bagi saya, tetep ‘dipaksa’ kisah tentang Paman
Goh Kee ini harus bisa masuk sebagai hikmah. Tapi ‘maksa’nya emang smooth banget, sehingga gak begitu
terasa sih. Gak jadi soal kok. Dinikmatin aja, gak usah sambil mikir-mikir
kayak saya yang sotoy ini. :D
Fourth, mungkin udah ciri khasnya si Mpok ya. Selalu aja, di setiap
tulisannya itu, dalam satu paragraf akan ada dua dialog dari dua tokoh. Kalau
biasanya kan, dialog antar tokoh selalu diberi jeda dengan ganti baris,
sekaligus menandakan kalau dialog yang ini adalah dialog milik tokoh yang lain.
Kalau si Mpok, sering banget, tokoh A bilang ‘bla bla bla’ di awal paragraf,
nah di tengah atau akhir paragraf, tokoh B menjawab ‘la la la’. Jadi agak
sedikit kurang nyaman aja.
Ada satu bagian yang paling saya
suka, dan paling punya soul di sini
(bagi saya lho). Bagian di mana Dave dan Vienna bicara, yang pada akhirnya
Vienna mengungkapkan kekurangannya pada Dave. Gak tahu kenapa, saya suka aja
sama scene ini. Kerasa intensnya. Kerasa gimana perasaan Vienna, dan gamangnya
Dave. Sip lah.
Saya juga suka sama epilognya.
Bikin adem. Haha… :D
Satu hal yang pasti, ini buku
yang layak dibaca. Berkisah tentang arti sebuah kesetiaan. Beneran dah, kalau
saya dapet istri yang pandai menjaga diri (dan hati) kayak Vienna, bakal saya
pertahanin abis-abisan.
Kayaknya segini dulu deh, sebelum
ngelantur kemana-mana. Maapin ye kalau sotoy… :D
Madiun, 8 Mei 2012
Sedikit meriang di
kosan

0 comments :
Post a Comment