Bismillahirrahmanirrahim
“Satu hal yang membedakan sebutan crackers dengan hackers. Tindakan crackers cenderung destruktif, merugikan, bahkan
melumpuhkan sistem komputer yang dijebol, termasuk mengacaukan sistem
penyimpanan data... Dan bagi para Cream Crackers, kepuasan di atas segala-galanya....”
(hal. 35)
Fiuhh... Akhirnya selesai juga
baca buku ini, setelah beberapa kali harus tertunda karena waktunya terpaksa
dicekal karena ada hal lain. Anggap aja lagi sok sibuk gitu. :p
Buku ini istimewa banget. Karena
ngedapetinnya harus dengan berkali-kali ngirimin ‘terror’ ke penulisnya.
Hahah... Selain itu, kedatangannya tepat pada hari saat umur saya tambah tua.
Beneran pas banget dah. :D
Oke. Buku apaan si? Tuh,
gambarnya. Sebuah buku yang covernya didominasi sama warna biru, my fav color.
Dengan sepasang mata tampak ‘melayang’ di atas laut dan gambar gedung-gedung
pencakar langit. Seorang laki-laki keliatan memandangi kota dengan
gedung-gedung itu dari seberang lautan. Tapi ngapain juga ini saya kok jadi
ngebahas cover? =.=
Persona Non Grata (Yang Terbuang)
judul yang dikasih penulisnya untuk buku itu. Agak asing ya bahasanya? Saya aja
baru denger. Ternyata perbendaharaan bahasa Indonesia saya masih terbatas pake
banget banget. Kalau liat di KBBI di hape saya si, persona non grata itu
definisinya ‘orang yang tidak disukai (disenangi)’. Gak tahu deh, ini aplikasi
lagi ngibulin saya atau enggak. Tapi tenang aja, bagi yang gak ngerti arti
istilah ini, ada sebuah percakapan kok yang membahas tentang maksud persona non
grata dalam buku ini.
Buku ini tentang Dean Pramudya,
seorang pemuda tampan, tajir, namun misterius dan berbahaya. Dean punya
aktivitas, yah anggep aja ‘hobi’, bersama temen-temennya yang tergabung dalam
Cream Crackers. Hobi mereka, seperti paragraf yang saya tulis di awal, adalah
meng-crack sebuah sistem. Terutama, sistem perbankan. Yup! Mereka ahlinya kalau
soal bobol membobol rekening orang! Keren kan?
Buku ini juga bercerita tentang
Sarah. Seorang gadis yang pura-pura amnesia, karena ingin melupakan masa lalu
yang sama sekali gak pengen dia kenang lagi. Selama ini, dia menjadi korban
human trafficking oleh satu-satunya keluarga yang dia miliki. Dia terus
menghindar dan mengatakan lupa kalau ada orang yang mulai menanyakan hal-hal
tentang masa lalunya. Tapi satu hal yang gak pengen dia lupakan. Sebuah nama.
Dean Pramudya.
Ada isu cyber crime, ada isu
human trafficking. Oh, bukan itu aja tema yang diangkat di buku ini. Tema tentang
HIV/AIDS dan para ODHA, dikemas dengan apiks di sini. Di sana ada Luthfi, sang
pengelola sebuah yayasan yang menaungi para ODHA. Juga ada Malika, seorang ODHA
yang tabah dan optimis menjalani hidup dan takdir yang sudah digariskan sama
Sang Pencipta.
Eits, tunggu dulu. Jangan panggil
penulisnya Riawani Elyta, kalau di dalam karya-karyanya gak ada sedikit pun
unsur religi. Gak terkecuali dalam Persona Non Grata. Mpok Ria begitu piawai
memasukkan nilai-nilai dakwah Islam di sini.
Menurut saya, bener kata seorang
temen yang bilang bahwa baca buku ini berasa kayak nonton film –tepatnya thriller.
Dari ketegangan satu beralih ke ketegangan berikut. Dari satu bab, lanjut ke
bab berikut dengan dada yang dag dig dug, nebak-nebak apa yang bakalan terjadi
sama Dean dan Sarah? Apa Dean akan ketangkep polisi? Apa Sarah akan mau
mengakui Rowena sebagai ibunya? Apakah Sarah dan Dean akan bisa menikah? Dan
apakah Sailormoon akan menghukum Dean dengan kekuatan bulan?
Saya inget, tahun 2010, Mpok Ria pernah
bilang dia punya nopel yang membahas tentang cyber crime. Kita juga pernah
sharing soal alur yang dia bentuk di salah satu nopelnya. Tapi, saya sama
sekali gak nyangka, ternyata nopel yang dia maksud adalah buku keren ini. Fufufu...
:’)
Tau gak sih? Saya sampe hampir
nangis saking terharunya saat tiba di sebuah scene. Tentang dua orang perempuan
yang dengan ikhlasnya menjalani takdirnya masing-masing. Tentang suka cita dan
syukur mereka, perbincangan mereka di dapur sembari memasak bersama. Asli! Saya paling gak tahan sama
scene beginian. Pengen nangis aja rasanya.
Saya juga suka banget sama pesan
yang ditulis Dean buat Sarah.
“Siapa bilang dirimu tak berharga? Bahkan dirimu jauh lebih berharga
dariku yang gagal menghargai diriku sendiri dan hanya berani menyimpan kenangan
tentangmu –Your Prince-“
(hal. 275)
Romantis, tapi sangat
berkarakter.
Dari tadi ngomong mulu, emang
gimana sih ceritanya? Hohoho... sorry, saya speechless abis baca buku ini sampe
gak bisa nyeritain ulang. Kalau pengen tahu ceritanya, ya mangga ke toko buku,
cari Persona Non Grata, dan bawa ke kasir. Jangan cuman dibawa doang, dibayar
atuh. =.=
Kritik? Iya sih, tadinya saya
pengen ngritik. Tapi gak jadi ah. Cuman kesalahan teknis dikit kok. Juga karena
kelemotan otak saya dalam mencerna informasi. Tadinya sih, saya mau nanya,
siapa sih si cewek tak bernama yang ada di awal-awal cerita? Kok kayak gak ada
korelasi antara awal-awal cerita dengan bagian-bagian selanjutnya? Tapi
kemudian saya mikir untuk mencerna ulang sambil mengingat-ingat. Akhirnya saya
nyengir sendiri. Oh, gitu toh ternyata... *apaan si?? :D
Udah deh, yang pasti ini
recomended book banget. Dari sini, saya jadi tahu tentang dunia cyber crime
yang ternyata gak kalah ‘sadis’ dengan aksi perampokan biasa. Dari sini, saya
juga jadi tahu tentang human trafficking yang kasusnya massiiihh aja ada, juga
tentang isu HIV/AIDS dan para ODHA yang semakin hari jumlahnya semakin
bertambah, dan gak cuman menimpa mereka yang ‘kotor’, yang terkesan ‘bersih’
pun kena juga imbasnya. Ngeri. Prihatin.
Inilah cerita tentang
mereka-mereka yang terpinggirkan. Terbuang dari dunia nyata, dan ‘terpaksa’
membentuk ‘benteng’ dalam dunia mereka sendiri. Menunggu saat dunia bisa
menerima mereka apa adanya. Entah kapan.
Ngawi, 300612
2 comments :
pengeeeeeennnnn.... @_@
aih, penasaraan..
Post a Comment