Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Dropped Moment


Bismillahirrahmanirrahim



Waktu pelatihan tinggal 3 minggu lagi. Dua minggu ke depan adalah praktek lapangan, dengan rincian 1 minggu untuk praktek di Balai Yasa, dan 1 minggu untu praktek di Dipo. Yeah, tentu saya senang dengan segera berakhirnya pelatihan yang sangat menguras tenaga dan pikiran ini. Sebelum-sebelumnya, saya semangat dan seneng banget, karena pelajaran-pelajaran teori akan berakhir minggu ini. Setelah itu, tinggal praktek dan menunggu untuk ujian lisan. Tapi...

Pagi ini, semangat saya yang sudah saya susun secara susah payah, langsung menguap begitu saja saat sang Manager Training masuk ke kelas dan mengumumkan beberapa pemberitahuan. Yang pertama, praktek ditunda hingga hari Selasa, karena hari Senin ada arahan atau ceramah dari Dirsar. Yang kedua, adalah yang paling bikin mood saya turun drastis, nilai praktek nanti akan ditentukan oleh seorang pejabat paling killer dari Balai Yasa. Untuk bisa lulus, para siswa harus hafal mati tentang apa yang tertulis dalam lembaran checksheet harian pemeliharaan. God, he’s joking, right? Pikir saya pagi tadi.

Kenapa mood saya bisa langsung turun drastis? Pertama, karena saya gak di bagian itu, dan saya gak pernah melakukan pekerjaan itu. Saya di gudang, administrasi, gimana saya bisa disuruh untuk menghafalkan pekerjaan yang gak pernah saya lakukan? Kedua, mengingat yang akan menguji nanti adalah pejabat yang killer banget, yang pastinya siswa gak akan dibiarkan hanya menghafal checksheet itu, tapi pertanyaan pasti akan melebar kemana-mana, mengenai gangguan lah, kerusakan lah. Gimana saya bisa tahu gangguan ataupun kerusakan kalau megang kerjaan itu saja saya gak pernah?

Kemudian, sekali lagi manager itu menegaskan tentang satu hal, bahwa syarat kelulusan ada 3; nilai terori minimal 75, nilai praktek minimal 80, dan nilai kedisiplinan minimal 90. Okelah, untuk teori –alhamdulillah- sampai sekarang saya belum pernah sampai ikut remidi. Kalaupun nanti saya terjatuh dan harus remidi, insya Allah saya bisa mengerjakan itu dan mendapatkan nilai minimal. Untuk kedisiplinan, saya gak pernah neko-neko, selalu patuh peraturan dan jalur yang sudah ditetapkan. Sedangkan untuk praktek?

Gini ya, siswa cuman dikasih waktu praktek 5 hari di Dipo. Bagi mereka yang sudah biasa kerja dengan hal-hal itu, tentu saja mereka tinggal mendalami aja. Tapi bagi yang kesehariannya gak pernah melakukan hal-hal itu, praktek nanti akan menjadi sesuatu yang baru, bahkan mungkin sama sekali baru. Dan dengan waktu 5 hari itu, siswa dituntut untuk mengerti dan menghafal pekerjaan tersebut. Tekanan banget gak sih?

Minggu-minggu terakhir ini adalah minggu stress yang penuh tekanan, demi menghadapi ujian lisan, dan mendapatkan sertifikat bertuliskan huruf kapital “LULUS”. Dan nantinya, harus mengikuti lagi uji kompetensi yang akan dilakukan oleh pemerintah. Bagi yang gagal, diberi kesempatan untuk mengulang. Jika gagal lagi, konsekwensinya adalah resign.

Tapi, dengan begini, saya berpikir, mungkin Allah ingin mengatakan pada saya, bahwa inilah saatnya bagi saya untuk keluar dari cangkang comfy zone yang selama ini saya tinggali. Mungkin ini saatnya saya untuk menggali potensi yang sebenarnya ada dalam diri saya. Mungkin ini saatnya saya untuk... yah, mengerjakan banyak hal, bukan hal yang itu-itu saja.

Saya akan berusaha semampu yang saya bisa, semaksimal mungkin. Untuk mengejar kelulusan itu, tentu saja. Tapi, kalau nanti Allah berkehendak lain, saya percaya kok sama Dia, bahwa Dia gak akan membiarkan saya sendirian. Saya percaya kok, bahwa jalan rizki sudah Dia atur. Dia tahu yang terbaik buat saya. Saya cuman ikut maunya Allah aja.

Tawakkal adalah kunci bagi saya. Usaha maksimal, doa, lalu pasrah pada Yang Mengatur Hidup. Para pejabat killer dan jajaran direksi? Who are they? :)


Yogya, 041012

0 comments :

Post a Comment