Bismillahirrahmanirrahim
Waktu pelatihan tinggal 3 minggu
lagi. Dua minggu ke depan adalah praktek lapangan, dengan rincian 1 minggu
untuk praktek di Balai Yasa, dan 1 minggu untu praktek di Dipo. Yeah, tentu
saya senang dengan segera berakhirnya pelatihan yang sangat menguras tenaga dan
pikiran ini. Sebelum-sebelumnya, saya semangat dan seneng banget, karena
pelajaran-pelajaran teori akan berakhir minggu ini. Setelah itu, tinggal
praktek dan menunggu untuk ujian lisan. Tapi...
Pagi ini, semangat saya yang
sudah saya susun secara susah payah, langsung menguap begitu saja saat sang
Manager Training masuk ke kelas dan mengumumkan beberapa pemberitahuan. Yang
pertama, praktek ditunda hingga hari Selasa, karena hari Senin ada arahan atau
ceramah dari Dirsar. Yang kedua, adalah yang paling bikin mood saya turun drastis, nilai praktek nanti akan ditentukan oleh
seorang pejabat paling killer dari
Balai Yasa. Untuk bisa lulus, para siswa harus hafal mati tentang apa yang
tertulis dalam lembaran checksheet harian pemeliharaan. God, he’s joking, right? Pikir saya pagi tadi.
Kenapa mood saya bisa langsung
turun drastis? Pertama, karena saya gak di bagian itu, dan saya gak pernah
melakukan pekerjaan itu. Saya di gudang, administrasi, gimana saya bisa disuruh
untuk menghafalkan pekerjaan yang gak pernah saya lakukan? Kedua, mengingat
yang akan menguji nanti adalah pejabat yang killer banget, yang pastinya siswa
gak akan dibiarkan hanya menghafal checksheet itu, tapi pertanyaan pasti akan
melebar kemana-mana, mengenai gangguan lah, kerusakan lah. Gimana saya bisa
tahu gangguan ataupun kerusakan kalau megang kerjaan itu saja saya gak pernah?
Kemudian, sekali lagi manager itu
menegaskan tentang satu hal, bahwa syarat kelulusan ada 3; nilai terori minimal
75, nilai praktek minimal 80, dan nilai kedisiplinan minimal 90. Okelah, untuk
teori –alhamdulillah- sampai sekarang saya belum pernah sampai ikut remidi.
Kalaupun nanti saya terjatuh dan harus remidi, insya Allah saya bisa
mengerjakan itu dan mendapatkan nilai minimal. Untuk kedisiplinan, saya gak
pernah neko-neko, selalu patuh peraturan dan jalur yang sudah ditetapkan.
Sedangkan untuk praktek?
Gini ya, siswa cuman dikasih
waktu praktek 5 hari di Dipo. Bagi mereka yang sudah biasa kerja dengan hal-hal
itu, tentu saja mereka tinggal mendalami aja. Tapi bagi yang kesehariannya gak
pernah melakukan hal-hal itu, praktek nanti akan menjadi sesuatu yang baru,
bahkan mungkin sama sekali baru. Dan dengan waktu 5 hari itu, siswa dituntut
untuk mengerti dan menghafal pekerjaan tersebut. Tekanan banget gak sih?
Minggu-minggu terakhir ini adalah
minggu stress yang penuh tekanan, demi menghadapi ujian lisan, dan mendapatkan
sertifikat bertuliskan huruf kapital “LULUS”.
Dan nantinya, harus mengikuti lagi uji kompetensi yang akan dilakukan oleh
pemerintah. Bagi yang gagal, diberi kesempatan untuk mengulang. Jika gagal
lagi, konsekwensinya adalah resign.
Tapi, dengan begini, saya
berpikir, mungkin Allah ingin mengatakan pada saya, bahwa inilah saatnya bagi
saya untuk keluar dari cangkang comfy
zone yang selama ini saya tinggali. Mungkin ini saatnya saya untuk menggali
potensi yang sebenarnya ada dalam diri saya. Mungkin ini saatnya saya untuk...
yah, mengerjakan banyak hal, bukan hal yang itu-itu saja.
Saya akan berusaha semampu yang
saya bisa, semaksimal mungkin. Untuk mengejar kelulusan itu, tentu saja. Tapi,
kalau nanti Allah berkehendak lain, saya percaya kok sama Dia, bahwa Dia gak
akan membiarkan saya sendirian. Saya percaya kok, bahwa jalan rizki sudah Dia
atur. Dia tahu yang terbaik buat saya. Saya cuman ikut maunya Allah aja.
Tawakkal adalah kunci bagi saya.
Usaha maksimal, doa, lalu pasrah pada Yang Mengatur Hidup. Para pejabat killer dan
jajaran direksi? Who are they? :)
Yogya, 041012
0 comments :
Post a Comment