Bismillahirrahmanirrahim
Pertama kali melihat beliau
berada satu kamar dengan saya, perasaan biasa saja. Saya pikir, beliau sama lah
ya dengan orang-orang lain yang seumuran dengan beliau di tempat kerja saya.
Lagipula, saat itu, beliau belum terlihat terlalu tua. Kumisnya tercukur
bersih, rambut di kepalanya pun hampir bersih. Saya ingat hal pertama yang saya
dengar dari beliau,
“Seumur-umur baru kali ini
dicukur gundul.”
Saya hanya tersenyum
mendengarnya.
Singkat cerita, beliau dari
Tanjung Karang, dengan usia 50 tahun, satu kelas dengan saya, dan satu kamar
pula di asrama. Sejak pertama kali masuk kelas, beliau sudah jadi sorotan para
dosen, karena di kelas saya, beliaulah yang terlihat paling ‘senior’.
Berkali-kali pula, para dosen mengatakan,
“Bapak santai saja. Ikuti saja.
Tapi kalau memang tidak sanggup, jangan dipaksakan. Bilang saja.”
Atau,
“Tapi Bapak masih bisa mengikuti
apa yang disampaikan dosen kan?”
Teman beliau, sama-sama dari
Tanjung Karang, mengatakan bahwa sebenarnya beliau sudah dianjurkan untuk tidak
mengikuti diklat ini. Tapi beliau ngotot pengen ikut. Pengen ke Jawa.
Jujur saja, saya sendiri,
meskipun satu kamar, jarang berdialog secara intens dengan beliau. Karena
biasanya, beliau cuman sebentar di kamar, ambil kopi, lalu menelepon
keluarganya sambil duduk-duduk di dekat balkon.
Saya kasihan dengan beliau. Semua
teman di kelas, para dosen, para pengawas ujian, pun kasian dengan beliau, dan
berkali-kali menanyakan kesanggupan beliau untuk terus mengikuti diklat.
Bagaimana tidak kasihan, jika seringkali beliau terlihat seperti orang linglung
saat ditanya? Atau, saat disuruh dosen untuk membaca, beliau sudah terbata-bata
dan kesulitan dalam membaca? Bagaimana tidak kasihan, jika setiap pengumuman
hasil ujian, beliau tidak absen untuk masuk ke daftar siswa yang harus
mengikuti remidial?
Hati saya sering miris kalau gak
sengaja dengar pembicaraan beliau di telepon dengan keluarganya. Dengan
antusiasnya beliau bercerita tentang apa yang beliau alami hari itu.
Sedetil-detilnya. Seakan menegaskan, betapa dekatnya beliau dengan keluarganya.
Kemarin, saat beliau mengikuti 2
ujian remidial, dan sama sekali tidak bisa mengerjakan, pengawas ujian keluar
dari kelas, meminta tolong pada siswa yang tidak mengikuti remidi untuk
membantu beliau. Pada akhirnya, pengawas tersebut membawakan selembar soal dan
selembar kertas jawaban pada kami yang tidak mengikuti remidi. Berhubung ujian
itu tentang pergudangan, sayalah yang mengambil bagian mengerjakan soal ujian
remidi yang jumlah soalnya 4 kali lipat dibanding soal ujian asli yang
sebelumnya. Ujian remidial yang satu lagi, dikerjakan oleh teman saya.
Beberapa saat setelahnya, sang
pengawas ujian keluar lagi, memberi tahu pada kami yang ada di luar, bahwa
Bapak itu menangis di bangkunya. Dan benar saja, saat ujian remidi sudah
selesai kami kerjakan, dan diserahkan pada pengawas, Bapak itu keluar ruang
ujian, lalu menangis di depan pengawas, memeluknya. Mengucapkan terima kasih,
dan merasa malu karena telah membebani teman-teman yang lain. Saya trenyuh
melihatnya.
Saat hendak pulang, di stasiun
sambil menunggu kereta, saya ambil kesempatan untuk berdialog dan mengenal
beliau lebih dekat. Meskipun jawaban-jawaban beliau sering tidak klop, alias
tidak nyambung dengan pertanyaan saya, tapi saya berusaha memahami dan mencerna
sebisa saya. Oh iya, apa saya belum bilang, bahwa beliau memiliki delapan orang
anak kandung, ditambah dua orang anak yatim yang beliau tanggung? Yah, itulah
sosok beliau. Mungkin beliau hanya seorang pegawai rendahan, dengan ijazah SD.
Tapi di mata Tuhan, saya yakin, ketulusan dan kebaikan hati beliau tak akan
pernah sia-sia. :)
Ngawi, 061012
1 comments :
Hu hu
Bapak yang super, :'(
Post a Comment