Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Bapak Itu...


Bismillahirrahmanirrahim



Pertama kali melihat beliau berada satu kamar dengan saya, perasaan biasa saja. Saya pikir, beliau sama lah ya dengan orang-orang lain yang seumuran dengan beliau di tempat kerja saya. Lagipula, saat itu, beliau belum terlihat terlalu tua. Kumisnya tercukur bersih, rambut di kepalanya pun hampir bersih. Saya ingat hal pertama yang saya dengar dari beliau,

“Seumur-umur baru kali ini dicukur gundul.”


Saya hanya tersenyum mendengarnya.
Singkat cerita, beliau dari Tanjung Karang, dengan usia 50 tahun, satu kelas dengan saya, dan satu kamar pula di asrama. Sejak pertama kali masuk kelas, beliau sudah jadi sorotan para dosen, karena di kelas saya, beliaulah yang terlihat paling ‘senior’. Berkali-kali pula, para dosen mengatakan,

“Bapak santai saja. Ikuti saja. Tapi kalau memang tidak sanggup, jangan dipaksakan. Bilang saja.”

Atau,

“Tapi Bapak masih bisa mengikuti apa yang disampaikan dosen kan?”

Teman beliau, sama-sama dari Tanjung Karang, mengatakan bahwa sebenarnya beliau sudah dianjurkan untuk tidak mengikuti diklat ini. Tapi beliau ngotot pengen ikut. Pengen ke Jawa.

Jujur saja, saya sendiri, meskipun satu kamar, jarang berdialog secara intens dengan beliau. Karena biasanya, beliau cuman sebentar di kamar, ambil kopi, lalu menelepon keluarganya sambil duduk-duduk di dekat balkon.

Saya kasihan dengan beliau. Semua teman di kelas, para dosen, para pengawas ujian, pun kasian dengan beliau, dan berkali-kali menanyakan kesanggupan beliau untuk terus mengikuti diklat. Bagaimana tidak kasihan, jika seringkali beliau terlihat seperti orang linglung saat ditanya? Atau, saat disuruh dosen untuk membaca, beliau sudah terbata-bata dan kesulitan dalam membaca? Bagaimana tidak kasihan, jika setiap pengumuman hasil ujian, beliau tidak absen untuk masuk ke daftar siswa yang harus mengikuti remidial?

Hati saya sering miris kalau gak sengaja dengar pembicaraan beliau di telepon dengan keluarganya. Dengan antusiasnya beliau bercerita tentang apa yang beliau alami hari itu. Sedetil-detilnya. Seakan menegaskan, betapa dekatnya beliau dengan keluarganya.

Kemarin, saat beliau mengikuti 2 ujian remidial, dan sama sekali tidak bisa mengerjakan, pengawas ujian keluar dari kelas, meminta tolong pada siswa yang tidak mengikuti remidi untuk membantu beliau. Pada akhirnya, pengawas tersebut membawakan selembar soal dan selembar kertas jawaban pada kami yang tidak mengikuti remidi. Berhubung ujian itu tentang pergudangan, sayalah yang mengambil bagian mengerjakan soal ujian remidi yang jumlah soalnya 4 kali lipat dibanding soal ujian asli yang sebelumnya. Ujian remidial yang satu lagi, dikerjakan oleh teman saya.

Beberapa saat setelahnya, sang pengawas ujian keluar lagi, memberi tahu pada kami yang ada di luar, bahwa Bapak itu menangis di bangkunya. Dan benar saja, saat ujian remidi sudah selesai kami kerjakan, dan diserahkan pada pengawas, Bapak itu keluar ruang ujian, lalu menangis di depan pengawas, memeluknya. Mengucapkan terima kasih, dan merasa malu karena telah membebani teman-teman yang lain. Saya trenyuh melihatnya.

Saat hendak pulang, di stasiun sambil menunggu kereta, saya ambil kesempatan untuk berdialog dan mengenal beliau lebih dekat. Meskipun jawaban-jawaban beliau sering tidak klop, alias tidak nyambung dengan pertanyaan saya, tapi saya berusaha memahami dan mencerna sebisa saya. Oh iya, apa saya belum bilang, bahwa beliau memiliki delapan orang anak kandung, ditambah dua orang anak yatim yang beliau tanggung? Yah, itulah sosok beliau. Mungkin beliau hanya seorang pegawai rendahan, dengan ijazah SD. Tapi di mata Tuhan, saya yakin, ketulusan dan kebaikan hati beliau tak akan pernah sia-sia. :)


Ngawi, 061012

1 comments :

Hu hu
Bapak yang super, :'(

 

Post a Comment