Bismillahirrahmanirrahim
Sore selepas Magrib, sebuah
pemberitahuan nongol di pesbuk saya. Dari seorang sahabat lama. Dia menandai
saya di catatannya. Sebuah catatan yang berhasil membuat saya tercenung. Diam,
merenungi apa yang tertulis di sana. Hati saya seakan berubah lembut seketika.
Catatan itu singkat. Simpel. Tapi
sangat dalam. Tentang kerinduan seseorang terhadap sahabatnya. Itu bukan
tulisan teman yang menandai saya, dia hanya copy
paste. Namun, isinya, mungkin saja, sangat mewakili perasaannya.
Tentang kerinduan. Rindu
masa-masa indah saat dulu sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu.
Rindu akan masa-masa awal mengubah cara berpakaian, dan mendapat respon dari
sekitar, dan tentunya dari orang tua. Rindu saat masih aktif mengikuti daurah di
sini, daurah di sana, bahkan lintas provinsi. Ah... tahukah? Saya pun
merindukan hal-hal itu.
Dia menandai saya. Menjadikan
saya seolah-olah adalah sahabat yang dirindukan itu. Karena jelas saya yang
sekarang tidak lagi seperti dulu. Saya akui, saya sangat sering absen dari
majelis. Bukan karena kesibukan seperti yang selalu saya jadikan alasan saat
ditanyai. Namun karena... kemalasan. Hal itu, ternyata, secara tidak langsung,
benar-benar mempengaruhi cara berpikir saya, mempengaruhi diri saya hampir secara
total.
Benar, sekarang rasanya saya
tidak begitu nyaman berada di majelis itu. Terlebih saat mulai pembahas
perbedaan dengan gerakan lain, memunculkan imej seolah-olah orang-orang yang
bergabung dalam majelis itu sajalah yang paling benar, sedang yang lainnya
golongan yang tersesat, atau minimalnya salah. Tapi terlepas dari itu, majelis
itu adalah hal terindah yang pernah saya rasakan.
Saya rindu saat berjubel di dalam
mobil, dalam perjalanan ke Bantul, menghadiri daurah ulama dari Yaman dan
negeri Timur Tengah. Saya rindu tidur numpang di masjid-masjid kecil saat di
sana. Lalu antri saat akan mandi. Makan bersama-sama. Bahkan kadang tertidur
saat daurah.
Saya kangen saat saya dengan
sigap membantu persiapan daurah di Masjid Agung. Membelikan makanan kecil dan
minuman untuk para asatidz, membereskan berbagai perlengkapan, dan sebagainya.
Saya kangen canda tawa dengan mereka. Pun dengan dia, orang yang menandai saya
catatan itu.
Saya ingin kembali. Saya ingin
merasakan hangatnya atmosfer cinta yang dulu pernah saya rasakan. Tapi apa yang
saya dapati akhir-akhir kemarin, yang akhirnya membuat saya benar-benar malas
(atau malu?) untuk hadir kembali dalam majelis itu? Tidak ada lagi kehangatan
seperti dulu. Interaksi terkesan kaku. Saya sudah mencoba untuk melebur
kembali. Tapi pada akhirnya, saya hanya terduduk diam sendirian. Entahlah, saya
hanya merasa, kini saya dijauhi.
Kenapa? Karena apa? Apa saya
sudah menyimpang? Apa saya salah? Mungkin di mata mereka, iya. Tapi, bukankah
kalau seperti itu, harusnya mereka lebih intens mendekati saya kembali? Seperti
teori-teori yang selama ini mereka dapati di majelis? Tapi saya sempat
tersentuh saat salah seorang ustadz masih mengingat dengan jelas siapa saya,
padahal sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu. Menjabat tangan beliau,
melihat senyum beliau, pikiran-pikiran kedongkolan saya sedikit hilang.
Lalu sekarang, apa saya akan
kembali? Saya memang merindukan semua itu. Saya memang merindukan hal-hal yang
dulu membuat saya merasa begitu ‘wow’. Tapi untuk kembali ke sana, saya belum
siap.
Dulu, dia, orang yang menandai
saya dalam catatan itu, adalah sahabat yang paling saya tunggu kehadirannya
untuk sama-sama berjalan ke majelis itu. Tapi sudah lama dia pergi. Dan saya
hanya sendirian. Saya hanya butuh kawan dalam jalan ini. Saya terlalu takut.
Saya terlalu malu. Maka, jika ada kawan yang bersedia membimbing saya kembali,
saya akan menyambutnya dengan tangan terbuka dan pelukan ukhuwah yang paling
hangat.
Ngawi, 310613
(Untuk Akh S, jazzakallah khairan katsir atas ‘surat cinta’ yang antum tag pada saya. I miss you, and I
still love you becoz Allah... Semoga
‘perbedaan’ di antara kita kini, tak membuat perbedaan berarti.)

1 comments :
"Perbedaan". Kadang aku takut kata ini.
Post a Comment