Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Catatan Kerinduan


Bismillahirrahmanirrahim

Sore selepas Magrib, sebuah pemberitahuan nongol di pesbuk saya. Dari seorang sahabat lama. Dia menandai saya di catatannya. Sebuah catatan yang berhasil membuat saya tercenung. Diam, merenungi apa yang tertulis di sana. Hati saya seakan berubah lembut seketika.

Catatan itu singkat. Simpel. Tapi sangat dalam. Tentang kerinduan seseorang terhadap sahabatnya. Itu bukan tulisan teman yang menandai saya, dia hanya copy paste. Namun, isinya, mungkin saja, sangat mewakili perasaannya.

Tentang kerinduan. Rindu masa-masa indah saat dulu sangat bersemangat menghadiri majelis-majelis ilmu. Rindu akan masa-masa awal mengubah cara berpakaian, dan mendapat respon dari sekitar, dan tentunya dari orang tua. Rindu saat masih aktif mengikuti daurah di sini, daurah di sana, bahkan lintas provinsi. Ah... tahukah? Saya pun merindukan hal-hal itu.


Dia menandai saya. Menjadikan saya seolah-olah adalah sahabat yang dirindukan itu. Karena jelas saya yang sekarang tidak lagi seperti dulu. Saya akui, saya sangat sering absen dari majelis. Bukan karena kesibukan seperti yang selalu saya jadikan alasan saat ditanyai. Namun karena... kemalasan. Hal itu, ternyata, secara tidak langsung, benar-benar mempengaruhi cara berpikir saya, mempengaruhi diri saya hampir secara total.

Benar, sekarang rasanya saya tidak begitu nyaman berada di majelis itu. Terlebih saat mulai pembahas perbedaan dengan gerakan lain, memunculkan imej seolah-olah orang-orang yang bergabung dalam majelis itu sajalah yang paling benar, sedang yang lainnya golongan yang tersesat, atau minimalnya salah. Tapi terlepas dari itu, majelis itu adalah hal terindah yang pernah saya rasakan.

Saya rindu saat berjubel di dalam mobil, dalam perjalanan ke Bantul, menghadiri daurah ulama dari Yaman dan negeri Timur Tengah. Saya rindu tidur numpang di masjid-masjid kecil saat di sana. Lalu antri saat akan mandi. Makan bersama-sama. Bahkan kadang tertidur saat daurah.

Saya kangen saat saya dengan sigap membantu persiapan daurah di Masjid Agung. Membelikan makanan kecil dan minuman untuk para asatidz, membereskan berbagai perlengkapan, dan sebagainya. Saya kangen canda tawa dengan mereka. Pun dengan dia, orang yang menandai saya catatan itu.

Saya ingin kembali. Saya ingin merasakan hangatnya atmosfer cinta yang dulu pernah saya rasakan. Tapi apa yang saya dapati akhir-akhir kemarin, yang akhirnya membuat saya benar-benar malas (atau malu?) untuk hadir kembali dalam majelis itu? Tidak ada lagi kehangatan seperti dulu. Interaksi terkesan kaku. Saya sudah mencoba untuk melebur kembali. Tapi pada akhirnya, saya hanya terduduk diam sendirian. Entahlah, saya hanya merasa, kini saya dijauhi.

Kenapa? Karena apa? Apa saya sudah menyimpang? Apa saya salah? Mungkin di mata mereka, iya. Tapi, bukankah kalau seperti itu, harusnya mereka lebih intens mendekati saya kembali? Seperti teori-teori yang selama ini mereka dapati di majelis? Tapi saya sempat tersentuh saat salah seorang ustadz masih mengingat dengan jelas siapa saya, padahal sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu. Menjabat tangan beliau, melihat senyum beliau, pikiran-pikiran kedongkolan saya sedikit hilang.

Lalu sekarang, apa saya akan kembali? Saya memang merindukan semua itu. Saya memang merindukan hal-hal yang dulu membuat saya merasa begitu ‘wow’. Tapi untuk kembali ke sana, saya belum siap.

Dulu, dia, orang yang menandai saya dalam catatan itu, adalah sahabat yang paling saya tunggu kehadirannya untuk sama-sama berjalan ke majelis itu. Tapi sudah lama dia pergi. Dan saya hanya sendirian. Saya hanya butuh kawan dalam jalan ini. Saya terlalu takut. Saya terlalu malu. Maka, jika ada kawan yang bersedia membimbing saya kembali, saya akan menyambutnya dengan tangan terbuka dan pelukan ukhuwah yang paling hangat.


Ngawi, 310613


(Untuk Akh S, jazzakallah khairan katsir atas ‘surat cinta’ yang antum tag pada saya. I miss you, and I still love you becoz Allah... Semoga ‘perbedaan’ di antara kita kini, tak membuat perbedaan berarti.)

1 comments :

"Perbedaan". Kadang aku takut kata ini.

 

Post a Comment