Bismillahirrahmanirrahim
Waktu bukan untuk disia-siakan
Untuk sesuatu yang tak kau sukai.
Nanti kamu akan ketinggalan dengan mereka
Yang berlari lebih kencang pada jalur yang tepat.
-Daniel-
Yuk, kita jalan-jalan dulu ke
China. Tepatnya ke kota Beijing. Jangan takut tersesat, ada Lisa yang menemani
kita. Eh, apa? Lisa juga baru pertama kali ke Beijing? O.o
Kita sih, ke Beijing tujuannya
mau jalan-jalan ya (pura-puranya sih gitu). Tetapi Lisa? Dia ke Beijing karena
terpaksa. Ibunya baru saja meninggal karena insiden kecelakaan. Satu-satunya
keluarganya yang masih tersisa hanyalah ayahnya, yang tinggal di Beijing. Mau
tak mau, Lisa harus ke sana. Meski itu sangat asing baginya.
Bagaimana tidak asing? Mungkin
sekitar 12 tahun ia tidak pernah bertemu ayahnya, sekadar berkomunikasi pun tidak.
Sejak bercerai, ibunya hampir tidak pernah membicarakan ayahnya sama sekali.
Tapi kemudian, dia harus hidup dengan lelaki itu, di Beijing.
Keterasingan benar-benar Lisa rasakan, saat melalui
hari-hari di flat ayahnya. Di sana ada Vivian, istri ayahnya. Ada dua pemuda,
yang merupakan anak Vivian dari pernikahannya sebelumnya. Juga ada seorang
balita yang belum genap 2 tahun, yang merupakan anak ayahnya dan Vivian. Ah,
benar-benar asing. Apalagi komunikasi antar mereka selalu terjadi dalam volume
suara yang keras. Sesuatu yang kadang membuat jantung Lisa serasa terloncat.
Beberapa waktu di sana, Tuan
Shan, ayah Lisa, memberi Lisa ‘mandat’ agar kelak menjadi penerus usaha
restoran yang telah dirintisnya sejak belasan tahun lalu. Karena Lisa sama
sekali tidak punya skill memasak, ayahnya menyuruh Lisa untuk ikut belajar dan
bekerja di dapur restoran. Lagi-lagi, Lisa harus berhadapan dengan suatu hal
yang sama sekai asing baginya.
Di sanalah, di dapur Restoran
Shan, Lisa bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang jarang tersenyum, dan
lebih sering berekspresi datar, namun kadang bersuara dalam. Seorang koki
serabutan andalan Restoran Shan, yang selalu datang paling akhir dibanding
karyawan yang lain. Kepada Daniel, laki-laki itu, Lisa belajar menyesuaikan
diri, dan yang paling penting, belajar memahami cara memasak.
Nah, sekarang kita ke sana yuk.
Bersama rombongan tur dari Indonesia. Tuan Juan, sang pemandu tur, membawa kita
ke restoran itu. Kata Tuan Juan, rombongan-rombongan yang dari Indonesia yang
ia pandu, biasanya selalu minta untuk singgah ke Restoran Shan. Dan... memang
benar, masakan di sana enak sekali. Tapi, eh, itu sedang apa si Alex, salah
satu pemandu tur kita, ngobrol dengan Lisa? Bahkan sepertinya, mereka cepat
sekali akrab.
Alex itu seorang mahasiswa Indonesia
di Beijing. Orangnya santai, sangat santai. Gaya bicaranya pun sangat santai,
hingga nyaris tak ada kesan serius dalam setiap hal yang ia ucapkan. Ia bekerja
sebagai freelancer untuk menjadi tour guide bersama Tuan Juan. Itu pula yang
akhirnya mempertemukannya dengan Lisa di Restoran Shan itu.
Dengar-dengar, setelah perkenalan
itu, Alex sering menemui Lisa. Bahkan mereka menghabiskan waktu dua hari
bersama, dalam serangkaian tur yang Alex komandoi. Sayangnya, begitu kembali masuk
kerja, Lisa justru kesulitan jalan gara-gara terkilir sewaktu berwisata bersama
Alex. Itu membuat Daniel cemas.
Kemampuan Lisa memasak semakin
meningkat. Pernah dia membuatkan Daniel cake, yang tanpa sepengetahuannya dibuang
oleh Yu Shiwen, cewek yang selama ini selalu sewot karena Lisa dekat dengan
Daniel. Dan, tanpa Lisa sadari, cake itu adalah awal segalanya. Hingga di malam
perayaan Moon Cake di Restoran Shan, terjadilah peristiwa yang Lisa sesali,
yang menjadikan ia dan Daniel seperti dua orang asing. Beberapa saat setelah
itu, Daniel mengundurkan diri dari Restoran Shan. Disusul oleh Yu Shiwen
beberapa waktu kemudian.
Lisa terpuruk? Lisa kehilangan?
Yang pasti, Restoran Shan kembali kehilangan salah satu koki terbaiknya.
Bagaimana kabar Daniel setelah itu? Ah, nomor Daniel saja Lisa tak pernah tahu.
Lalu, bagaimana juga dengan Alex? Apa cowok itu masih mendekati Lisa?
Entahlah... saya gak suka ngasih spoiler berlebihan, karena itu akan merusak
kenyamanan mereka yang belum membacanya secara tuntas.
Membaca? Ya iyalah. Kan dari tadi
kita jalan-jalannya cuman lewat nopel cantik dengan judul First Time in
Beijing. Karya siapa sih? Itu tuh... lagi-lagi... punyanya si Mpok. Saya
langganan banget ya ngreview nopel-nopelnya dia? Abis, kadang ‘disogok’ sih.
Eh, gak ding, saya yang minta ‘disogok’. xD #disambitsamaMpok
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Bukune
Tebal: 352 halm
ISBN: 602-220-099-7
Harga: Rp55.000,-
Sebelum baca nopel ini, si Mpok
pernah bilang, kalau alurnya rada-rada lambat di awal, jadi jangan bosen untuk
nerusin baca ye. Eh, ternyata beneran. Makanya setelah baca beberapa bab, saya
pending dulu bacanya. Setelah dua minggu dipending, akhirnya selesailah saya
membaca nopel Mpok Ria yang paling tebel itu dalam waktu satu hari aja.
Fiuuuhhh... :*
Ini nopel bagus lho. Detail
setting tempatnya juga gak terasa seperti tempelan yang asal comot, tapi
disesuaikan dengan jalan cerita. Saya paling males kalau baca nopel isinya
malah kebanyakan tentang informasi. Maksudnya, saat sampai pada pendeskripsian
setting, malah rasanya kayak lagi baca buku panduan wisata daripada baca sebuah
cerita. Tapi, untungnya, gak begitu di nopel ini.
Saya gak terlalu suka negara
China. Hahaha... gak tahu kenapa. Saya juga gak suka bahasa Mandarin. Makanya,
waktu ada dialog-dialog yang disisipi bahasa Mandarin, saya memilih untuk
langsung lihat terjemahannya di footnote.
China, adalah negara di urutan kesekian puluh dari daftar negara yang ingin
saya kunjungi (kalau mampu). Hampir gak masuk dalam list malah. Tapi, jangan
anggap saya rasis ya. Yah, cuman gak terlalu suka aja sih.
Di nopel ini, lagi-lagi yang saya
rasakan bukanlah sebuah roman picisan, yang ‘menjual’ kata-kata indah dengan
persentuhan fisik dua lawan jenis. Ini buktinya, bahwa genre romance gak harus ada adegan pegangan
tangan yang lama, kissing, or even... sex. Pengambilan sudut
pandang, dan penyelesaian konflik, jauh lebih utama daripada sekadar memasukkan
adegan-adegan itu, meski dengan alasan sebagai ‘bumbu’.
Di nopel ini pula, kita akan
belajar bagaimana sih bisnis restoran itu? Hmm... jangan heran deh. Riawani
Elyta emang dikenal piawai memasukkan unsur-unsur bisnis dan kuliner dalam
setiap nopelnya. Mulai dari Tarapuccino, Coffee Memory, hingga First
Time in Beijing ini. Dalam Yang Kedua, ujung-ujungnya si tokoh
utama wanita juga bikin usaha kue. Di Persona Non Grata (sekarang judulnya
Jasmine),
di akhir-akhirnya juga ada adegan-adegan masak. Kayaknya, cuman di Hati Memilih yang gak ada. Atau, saya yang lupa?
Selalu, abis membaca nopelnya si
Mpok, kapan-kapan saya jadi kepingin terbang ke Tanjung Pinang, terus mampir ke
rumah Mpok bersama istri saya. Di sana, si Mpok menjamu dengan
masakan-masakannya. Setelahnya, pas saya dan istri mau pulang, dibawain
oleh-oleh yang banyak buanget. Hahaha... #ngilersambilngayal
Ngawi, 240613

3 comments :
hadeeeehhh tulisan istri kenapa musti dicoret? itu doa kakak. :)
betewe ripiunya mengingatkanku pada Madre. huwaaa... tapi mahal ye... *tengokdompet*
Iya kenapa ya tulisan istri nya dicoret ? Padahal kalo lo dateng sendiri kayanya gak rela jg gue kasih oleh2 yg banyak:-)
Post a Comment