Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Yeah, It's Really First Time in Beijing


Bismillahirrahmanirrahim


Waktu bukan untuk disia-siakan
Untuk sesuatu yang tak kau sukai.
Nanti kamu akan ketinggalan dengan mereka
Yang berlari lebih kencang pada jalur yang tepat.
-Daniel-


Yuk, kita jalan-jalan dulu ke China. Tepatnya ke kota Beijing. Jangan takut tersesat, ada Lisa yang menemani kita. Eh, apa? Lisa juga baru pertama kali ke Beijing? O.o

Kita sih, ke Beijing tujuannya mau jalan-jalan ya (pura-puranya sih gitu). Tetapi Lisa? Dia ke Beijing karena terpaksa. Ibunya baru saja meninggal karena insiden kecelakaan. Satu-satunya keluarganya yang masih tersisa hanyalah ayahnya, yang tinggal di Beijing. Mau tak mau, Lisa harus ke sana. Meski itu sangat asing baginya.

Bagaimana tidak asing? Mungkin sekitar 12 tahun ia tidak pernah bertemu ayahnya, sekadar berkomunikasi pun tidak. Sejak bercerai, ibunya hampir tidak pernah membicarakan ayahnya sama sekali. Tapi kemudian, dia harus hidup dengan lelaki itu, di Beijing.


Keterasingan  benar-benar Lisa rasakan, saat melalui hari-hari di flat ayahnya. Di sana ada Vivian, istri ayahnya. Ada dua pemuda, yang merupakan anak Vivian dari pernikahannya sebelumnya. Juga ada seorang balita yang belum genap 2 tahun, yang merupakan anak ayahnya dan Vivian. Ah, benar-benar asing. Apalagi komunikasi antar mereka selalu terjadi dalam volume suara yang keras. Sesuatu yang kadang membuat jantung Lisa serasa terloncat.

Beberapa waktu di sana, Tuan Shan, ayah Lisa, memberi Lisa ‘mandat’ agar kelak menjadi penerus usaha restoran yang telah dirintisnya sejak belasan tahun lalu. Karena Lisa sama sekali tidak punya skill memasak, ayahnya menyuruh Lisa untuk ikut belajar dan bekerja di dapur restoran. Lagi-lagi, Lisa harus berhadapan dengan suatu hal yang sama sekai asing baginya.

Di sanalah, di dapur Restoran Shan, Lisa bertemu dengannya. Seorang laki-laki yang jarang tersenyum, dan lebih sering berekspresi datar, namun kadang bersuara dalam. Seorang koki serabutan andalan Restoran Shan, yang selalu datang paling akhir dibanding karyawan yang lain. Kepada Daniel, laki-laki itu, Lisa belajar menyesuaikan diri, dan yang paling penting, belajar memahami cara memasak.

Nah, sekarang kita ke sana yuk. Bersama rombongan tur dari Indonesia. Tuan Juan, sang pemandu tur, membawa kita ke restoran itu. Kata Tuan Juan, rombongan-rombongan yang dari Indonesia yang ia pandu, biasanya selalu minta untuk singgah ke Restoran Shan. Dan... memang benar, masakan di sana enak sekali. Tapi, eh, itu sedang apa si Alex, salah satu pemandu tur kita, ngobrol dengan Lisa? Bahkan sepertinya, mereka cepat sekali akrab.

Alex itu seorang mahasiswa Indonesia di Beijing. Orangnya santai, sangat santai. Gaya bicaranya pun sangat santai, hingga nyaris tak ada kesan serius dalam setiap hal yang ia ucapkan. Ia bekerja sebagai freelancer untuk menjadi tour guide bersama Tuan Juan. Itu pula yang akhirnya mempertemukannya dengan Lisa di Restoran Shan itu.

Dengar-dengar, setelah perkenalan itu, Alex sering menemui Lisa. Bahkan mereka menghabiskan waktu dua hari bersama, dalam serangkaian tur yang Alex komandoi. Sayangnya, begitu kembali masuk kerja, Lisa justru kesulitan jalan gara-gara terkilir sewaktu berwisata bersama Alex. Itu membuat Daniel cemas.

Kemampuan Lisa memasak semakin meningkat. Pernah dia membuatkan Daniel cake, yang tanpa sepengetahuannya dibuang oleh Yu Shiwen, cewek yang selama ini selalu sewot karena Lisa dekat dengan Daniel. Dan, tanpa Lisa sadari, cake itu adalah awal segalanya. Hingga di malam perayaan Moon Cake di Restoran Shan, terjadilah peristiwa yang Lisa sesali, yang menjadikan ia dan Daniel seperti dua orang asing. Beberapa saat setelah itu, Daniel mengundurkan diri dari Restoran Shan. Disusul oleh Yu Shiwen beberapa waktu kemudian.

Lisa terpuruk? Lisa kehilangan? Yang pasti, Restoran Shan kembali kehilangan salah satu koki terbaiknya. Bagaimana kabar Daniel setelah itu? Ah, nomor Daniel saja Lisa tak pernah tahu. Lalu, bagaimana juga dengan Alex? Apa cowok itu masih mendekati Lisa? Entahlah... saya gak suka ngasih spoiler berlebihan, karena itu akan merusak kenyamanan mereka yang belum membacanya secara tuntas.

Membaca? Ya iyalah. Kan dari tadi kita jalan-jalannya cuman lewat nopel cantik dengan judul First Time in Beijing. Karya siapa sih? Itu tuh... lagi-lagi... punyanya si Mpok. Saya langganan banget ya ngreview nopel-nopelnya dia? Abis, kadang ‘disogok’ sih. Eh, gak ding, saya yang minta ‘disogok’. xD #disambitsamaMpok
Judul: First Time in Beijing, Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Bukune
Tebal: 352 halm
ISBN: 602-220-099-7
Harga: Rp55.000,-

Sebelum baca nopel ini, si Mpok pernah bilang, kalau alurnya rada-rada lambat di awal, jadi jangan bosen untuk nerusin baca ye. Eh, ternyata beneran. Makanya setelah baca beberapa bab, saya pending dulu bacanya. Setelah dua minggu dipending, akhirnya selesailah saya membaca nopel Mpok Ria yang paling tebel itu dalam waktu satu hari aja. Fiuuuhhh... :*

Ini nopel bagus lho. Detail setting tempatnya juga gak terasa seperti tempelan yang asal comot, tapi disesuaikan dengan jalan cerita. Saya paling males kalau baca nopel isinya malah kebanyakan tentang informasi. Maksudnya, saat sampai pada pendeskripsian setting, malah rasanya kayak lagi baca buku panduan wisata daripada baca sebuah cerita. Tapi, untungnya, gak begitu di nopel ini.

Saya gak terlalu suka negara China. Hahaha... gak tahu kenapa. Saya juga gak suka bahasa Mandarin. Makanya, waktu ada dialog-dialog yang disisipi bahasa Mandarin, saya memilih untuk langsung lihat terjemahannya di footnote. China, adalah negara di urutan kesekian puluh dari daftar negara yang ingin saya kunjungi (kalau mampu). Hampir gak masuk dalam list malah. Tapi, jangan anggap saya rasis ya. Yah, cuman gak terlalu suka aja sih.

Di nopel ini, lagi-lagi yang saya rasakan bukanlah sebuah roman picisan, yang ‘menjual’ kata-kata indah dengan persentuhan fisik dua lawan jenis. Ini buktinya, bahwa genre romance gak harus ada adegan pegangan tangan yang lama, kissing, or even... sex.  Pengambilan sudut pandang, dan penyelesaian konflik, jauh lebih utama daripada sekadar memasukkan adegan-adegan itu, meski dengan alasan sebagai ‘bumbu’.

Di nopel ini pula, kita akan belajar bagaimana sih bisnis restoran itu? Hmm... jangan heran deh. Riawani Elyta emang dikenal piawai memasukkan unsur-unsur bisnis dan kuliner dalam setiap nopelnya. Mulai dari Tarapuccino, Coffee Memory, hingga First Time in Beijing ini. Dalam Yang Kedua, ujung-ujungnya si tokoh utama wanita juga bikin usaha kue. Di Persona Non Grata (sekarang judulnya Jasmine), di akhir-akhirnya juga ada adegan-adegan masak. Kayaknya, cuman di Hati Memilih yang gak ada. Atau, saya yang lupa?

Selalu, abis membaca nopelnya si Mpok, kapan-kapan saya jadi kepingin terbang ke Tanjung Pinang, terus mampir ke rumah Mpok bersama istri saya. Di sana, si Mpok menjamu dengan masakan-masakannya. Setelahnya, pas saya dan istri mau pulang, dibawain oleh-oleh yang banyak buanget. Hahaha... #ngilersambilngayal


Ngawi, 240613

3 comments :

hadeeeehhh tulisan istri kenapa musti dicoret? itu doa kakak. :)
betewe ripiunya mengingatkanku pada Madre. huwaaa... tapi mahal ye... *tengokdompet*

 

Iya kenapa ya tulisan istri nya dicoret ? Padahal kalo lo dateng sendiri kayanya gak rela jg gue kasih oleh2 yg banyak:-)

 
This comment has been removed by the author.
 

Post a Comment