Bismillahirrahmanirrahim
Yaa muqallibal qulub, tsabit
qalbi ‘ala dinik...
Yaa musharrifal qulub, sharrif
qulubana ‘ala tha’atik...
Kita ini manusia, Kawan. Makhluk
yang mempunyai segumpal daging bernama hati. Ialah yang menjadi tolok ukur
segalanya tentang kita. Karena bila ia baik, baik pula seluruh hal yang kita
lakukan. Dan bila ia buruk, maka buruk pula amalan-amalan kita.
Sayangnya, segumpal daging itu,
mudah sekali untuk terbolak-balik. Kadang, ia senang berada pada sisi kanan.
Tapi tak jarang, ia bergeser, dan memilih sudut yang menyerong, pelan-pelan.
Hingga pada saat yang tanpa kita sadari, ia sudah menghadap pada sisi kiri.
Kita ini manusia, Kawan. Lemah.
Saaangat lemah. Kita sama sekali tak punya daya apapun, jika tanpa Allah yang
membimbing kita. Pun dengan masalah hati yang mudah sekali berpaling.
Saya sering memikirkan ini: sudah
berapa kali hati kita berpaling? Bahkan, terkadang warnanya pun menggelap?
Pekat. Yang menandakan bahwa ia tengah dilanda penyakit medium akut.
Sudah betapa banyak orang-orang
yang dulunya saya kenal sangat buruk. Shalat tak pernah, apalah lagi membaca Al
Quran. Suka menghardik, meminum khamr, dan segala perilaku buruk lainnya. Tapi
sekarang? Lihatlah. Betapa Allah menyayangi mereka. Sama sekali tak terlihat
lagi tanda-tanda ‘hitam’ dari diri mereka. Pakaian mereka sederhana, namun
bersahaja. Tutur mereka lembut. Dan, masya Allah, wajah mereka terlihat begitu
tenang dan bercahaya. Tak pernah absen ke masjid. Sebelum Subuh, mereka gemar
sekali bercengkerama dengan Penciptanya. Masya Allah...
Sebaliknya, berapa banyak
orang-orang yang dulunya baik. Berada dalam hidayah Allah. Rajin ke masjid,
mempunyai hafalan yang banyak, dan berbagai keutamaan lain yang Allah beri padanya.
Tapi apa yang terjadi dengan mereka sekarang? Shalat hanya sebagai penggugur
kewajiban saja, mushafnya berdebu, masjid sudah jarang ia sambangi. Bila
dinasehati, ia mendengarkan, tapi berat untuk melaksanakan. Jika membaca
artikel tentang Islam, ia membenarkan, namun tak sekalipun menggerakkan badan. Sedih
sekali kalau mengingat yang satu ini, karena saya pun pernah mengalami fase
serupa. Jauh dari Allah. Tak ada ketenangan, karena hanya dunia yang ada di
pikiran. Seolah hati ini tengah sekarat, tinggal menunggu ajal.
Astagfirullah....
Sejenak, kita lihat hati kita.
Bagaimana kabarnya hari ini? Apakah sedang sakit? Ataukah sedang sehat, dan
bersemangat dalam mengerjakan kebaikan? Jika ia sakit, mari segera obati dengan
perbanyak ketaatan. Semoga, hati kita tak menghitam, dan mati. Karena bila
Allah sudah mengunci mati hati kita, siapa lagi yang bisa kita harapkan untuk keselamatan
kita kelak?
Allah lah Yang Maha
Membolak-balikkan hati. Kita tak pernah tahu, akan seperti apa ajal kita nanti.
Masihkah sanggup bibir ini sekadar melafalkan kalimat tauhid? Ataukah hanya
akan berupa gumaman yang tak dimengerti? Atau justru hanya diam, hingga malakul
maut mencabut ruh kita perlahan-lahan agar kita merasakan derita sakit yang
luar biasa? Allahu a’lam, Kawan. Tak ada yang tahu.
Ngawi, 300713
21 Ramadhan 1434H

0 comments :
Post a Comment