Bismillahirrahmanirrahim
Dua minggu sebelumnya, saya udah
menetapkan sebuah tanggal yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidup
saya. Ia akan menjadi penanda, bahwa saya benar-benar telah siap untuk menjadi
‘manusia baru’, yang akan memimpin sebuah peradaban tersendiri.
Menanti tanggal itu, membuat
perut saya selalu bergolak kagak jelas. Ada takut, cemas, was-was, grogi, dan
sebagainya. Tapi anehnya, saya menikmati itu semua. Bagaimana mungkin
perasaan-perasaan seperti itu gak akan muncul, kalau penyebabnya adalah hal
yang akan mengubah hidup kita ke depannya?
Ah, ya. Ini hanyalah sebuah
cerita. Tentang pinangan yang saya haturkan pada ia yang telah bersedia
melanjutkan proses singkat itu.
Awal
Saya masih ingat, tanggal 21 Februari 2014 itu, Bapak gak begitu kaget
saat saya mengutarakan bahwa sejak kemarin saya tengah menjalani sebuah proses
dengan seseorang. Justru sayalah yang bingung cara menyampaikannya. Haha...
Aneh! Bicara terus terang tentang pernikahan, dengan Bapak sendiri aja udah grogi
begitu. Tapi lega, saat Bapak bersedia untuk bersilaturrahim ke rumah orang
yang sedang berproses dengan saya.
Ibu sengaja gak saya kasih tahu
dulu sebelum saya dan Bapak bersilaturrahim ke sana. Dan setelah saya beritahu,
beliau tampak kaget. Secepat inikah? Mungkin begitu pikirnya.
Tanggal 23 Februari 2014, berangkat ke Karangmojo, sejak baru keluar dari
pintu rumah, saya sudah dihadang oleh gerimis. Makin lama makin deras.
Syukurlah, makin ke selatan, hujan makin berhenti.
Saat tiba di rumahnya, itu untuk
kedua kalinya saya melihat dia. Setelah 3 hari sebelumnya, ketika pertemuan
pertama, saya hanya berani sedikit melirik dari samping. Pun wajahnya gak
begitu terlihat jelas. Tiba-tiba, saat silaturrahim itu, dia berhadapan dengan
saya, hingga saya bisa melihatnya dengan lebih jelas. Masya Allah... ternyata, anggunnya... :”)
Di rumahnya, saya ditemui oleh
Ibunya, Pak Liknya, Kakak pertamanya, berserta istri. Sambutan yang diberikan
cukup hangat. Keluarganya ramah. Meski beberapa kali sering terjadi momen
#krikkrikkrik, alias bingung mau bicara apa lagi. -_- Sebenarnya, saya
berharap, Bapak bisa menjelaskan maksud kedatangan saya ke sana. Tapi, harapan
saya sia-sia. Bapak diam aja. Akhirnya, terpaksa saya yang mengambil alih.
“Sebelumnya saya minta maaf.
Mungkin sudah diberitahu oleh putri Ibu, bahwa saat ini, kami sedang dalam
sebuah proses. Awalnya, saya hanya bercanda dengan teman saya, ‘Eh, cariin,
dong!’ Tapi ternyata, teman saya menanggapi serius, dan akhirnya memang serius
seperti ini. Setelah kemarin bertemu dan masing-masing masih mantap, maka saya
kemari. Sekedar menegaskan, bahwa hal ini memang serius, dan bukan main-main
belaka,” kata saya, setelah sebelumnya mengucap basmalah berulang kali dalam
hati.
Saya pikir, tanggapannya akan
bagaimana, tapi ternyata cukup melegakan.
“Yah, sebagai orang tua, Ibunya
hanya bisa memberi restu. Kami selaku keluargapun hanya bisa merestui. Kami
hanya berharap, semoga kelak bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa
rahmah, dan tidak terputus silaturrahim dengan keluarga ini. Karena keluarga
ini memang keluarga besar,” jawab Pak Liknya, mewakili Ibunya.
Alhamdulillah... Legaaaaa... :D
Oh iya, saat saya bicara tadi,
dia sedang gak berada di ruang tamu. Mungkin sedang ke dapur, atau kemana. Dia
baru hadir lagi saat pembicaraan serius itu selesai. Yang jadi pertanyaan saya,
tadi dia ‘nguping’ gak ya pas saya ngomong? :p
Beneran, rasanya lega sudah
mengatakan hal itu. Mungkin, secara fiqh, sindiran yang saya lakukan seperti
itu sudah termasuk dalam kategori khitbah. Tapi tetap saja, secara adat di
sini, yang namanya khitbah alias lamaran, biasanya dilakukan dalam acara
tersendiri yang semi formal.
Usai dari sana, saya sms teman
saya yang jadi perantara antara saya dan dia. Jawabnya sungguh melegakan.
“Sana oke. Rencana kapan
khitbah?”
Alhamdulillah.... sungguh! :D
Persiapan Khitbah
Maka berikutnya adalah hari-hari
persiapan khitbah. Saya mulai browsing
ke sana kemari, tentang apa saja yang dibawa saat lamaran. Saya juga nanya ke
beberapa teman yang sudah pengalaman, alias sudah menikah. Katanya, saat
lamaran, sekalian membawa seserahan, atau peningset. Isinya adalah perlengkapan
sandang untuk perempuan, dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari yang
terdalam hingga yang terluar. Wow...
Saya pun bertanya ke dia, melalui
teman saya, adat lamaran di tempat dia itu bagaimana. Ternyata, di sana saat
lamaran belum menggunakan seserahan, dan hanya menyerahkan hantaran yang berupa
makanan-makanan. Alhamdulillah, agak lega. Gak begitu ribet ternyata.
Alhasil, saya kesana benar-benar
hanya modal beberapa makanan saja. Tapi ternyata, Bu Dhe, Bu Lik, dan sepupu
saya membawakan beberapa jenis makanan lain. Itu masih ditambah lagi dengan
beberapa tetangga dan Mbah, yang juga membawa hantarannya sendiri-sendiri.
Padahal saya sama sekali gak meminta mereka melakukan itu. Alhamdulillah....
Benar-benar berkah tersendiri. Kemudahan yang Allah beri.
Mual dan Mulas Jadi
Satu
Sejak semalam, saya sudah mulai
merasakan nervous yang luar biasa. Pagi harinya, tanggal 12 Maret 2014, di kantor, saya juga kurang bisa fokus, meski tetap
saya kerjakan juga hal-hal yang memang tugas harian saya. Jam 12.30, saya izin
untuk pulang. Sampai di rumah, nervous bukannya hilang, malah menjadi-jadi.
Apalagi setelah melihat jajanan yang akan jadi hantaran. Ini beneran ya? Saya
masih belum bisa percaya. Sebentar lagi saya akan melamar anak orang! >_<
Saya gunakan waktu yang tersisa
sedikit itu untuk istirahat, menenangkan diri. Tapi boro-boro mau tenang, Bu Dhe,
Bu Lik dan sepupu malah sudah datang lebih dulu. Haduh!
Satu hal yang gak akan saya
lupakan, adalah pernyataan dari Bu Lik saya;
“Beneran sudah berani belum, Ki?
Soalnya aku ngelihat kamu tuh, kayak masih bocah,” kata Bu Lik Rus, adik
terakhir Ibu.
“Insya Allah... Wah, berarti awet
muda dong ya?” Saya mencoba bercanda.
“Bukan gitu. Tapi... kayak belum
dewasa, gitu. Kalau dilihat tuh kayak belum mandiri, soalnya kamu gak pernah
ngumpul sama teman-teman kamu sih.”
Jleb! Apa maksudnya coba? Apa
hubungannya antara kedewasaan dan kemandirian, dengan pernah atau enggaknya
kumpul bersama teman-teman? Saya hanya membatin, “You just don’t know me.”
Singkat cerita, usai shalat
‘Ashr, kita berangkat. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar setengah jam,
karena memang gak terlalu jauh.
Sampai di sana, kami disambut
oleh banyak orang, yang nantinya saya ketahui adalah keluarganya juga. Nah,
memasuki ruang tamu yang telah ditutup dengan alas tikar itulah, rasa mual dan
mulas di perut saya kian menjadi-jadi.
Setelah semuanya duduk, gak
berapa lama, acarapun dimulai oleh seorang laki-laki, yang intinya mengucapkan
selamat datang pada rombongan saya. Menggunakan bahasa Jawa, krama inggil, yang
saya cuman ngerti dikit-dikit. Mana sering diulang-ulang pula, “Inggih punika bla bla bla... Inggih punika...” Bikin saya tambah
dag-dig-dug-serr gak jelas aje! -_-
Next, gantian juru bicara dari pihak saya yang ngomong. Bapak
mendaulat seorang tetangga, sebut saja namanya Pak Gatut (bukan nama yang tidak
sebenarnya). Awal, seperti biasa, Pak Gatut mengucapkan terima kasih telah
diterima. Menit pertama, masih terasa tegangnya. Tapi memasuki menit
selanjutnya, seakan suasana cair seketika saat Pak Gatut mulai melancarkan aksi
banyolannya. Yah, meski banyolannya itu tetap saja pake bahasa Jawa krama
inggil yang saya ngerti dikit-dikit doang, tapi suasana beneran cair. Saya
melirik ke arah dia dan ibunya, juga ketawa terpingkal-pingkal ternyata.
“Maaf, ini saya sambil lihat
catatan. Karena saya tadi melihat, pihak sini juga pakai catatan. Ini kalau
latihan sudah sejak 10 hari yang lalu, padahal,” begitu kata Pak Gatut. Tapi
dalam bahasa Jawa ya. Saya kesusahan translate
ke Javanesse language-nya. -_-
Intinya, Pak Gatut hanya
menyampaikan, bahwa saya sekeluarga, berkepentingan untuk melamar putri dari
keluarga itu. Selanjutnya, Pak Gatut menyerahkan waktu pada pihak keluarga
sana, untuk menjawab lamaran ini.
Seorang laki-laki paruh baya,
gantian berbicara. Beliau adalah adik dari ibu akhwat yang saya pinang.
Wajahnya gak asing. Kayak pernah lihat, tapi blank, dimana ya?
Ketika itu, suasana sudah cair.
Pak Liknya juga lumayan bisa mencairkan kata-kata. Untuk menjawab, apakah
lamaran diterima atau tidak, beliau bertanya pada keponakannya yang duduk agak
di belakangnya bersama ibunya.
“Gimana, ini ada yang melamar.
Diterima?” tanya Pak Liknya.
Saya menunduk aja, tapi sesekali
melirik. Sumpah! Mual dan mulas banget!!! >_<
“Nggih!” jawab akhwat itu, mantap.
Alhamdulillah...
“Alhamdulillah... Nggih, katanya. Mantap bener sepertinya.
Ibunya juga sepertinya sudah memberikan restu. Jadi, dengan ini berarti lamaran
sudah diterima. Artinya juga, pihak sini tidak perlu mengembalikan lamaran ke
sana, karena sudah dijawab ya.”
Kemudian, acara kembali dipegang
MC. Tapi gak lama, Pak Gatut menginterupsi.
“Mohon maaf. Mohon maaf. Izin
interupsi sebentar,” kata Pak Gatut. Lalu tiba-tiba, beliau menyalami saya
mantap.
“Yes!!!” serunya. Disambut tawa dari hadirin yang lain.
Apa-apaan ini? -_-
Tapi jujur, suasana jadi cair
sekali. Yang tadinya tegang gak karuan, akhirnya bisa bernapas lega. :”)
Alhamdulillah, dengan ini,
berarti saya sudah akan menjadi seorang suami. Tinggal selangkah lagi untuk
benar-benar sah. Sayangnya, pengesahan itu disepakati dalam jarak waktu yang
bagi saya lumayan lama. Masih hampir setengah tahun dari sekarang. Ya ampun...
-_-
Padahal kan, seperti kata Pak
Gatut, “Hari Jumat pakai batik. Lebih cepat lebih baik.”
Tapi gak apa lah. Sekalian, saya
masih bisa nabung. Soalnya, mulai dari taaruf, hingga sejauh ini sampai ke
khitbah, saya cuman modal 3 hal saja:
1. Niat untuk menggenapkan separuh
agama, sesuai dengan sunnah Rasulullah.
2. Kesiapan untuk bertanggung
jawab, dunia dan akhirat.
3. Keyakinan, bahwa Allah akan
membantu hamba-Nya. Allah sudah memerintahkan agar menikahkan orang-orang yang
sudah mampu. Jika mereka miskin, Allah-lah yang akan mengayakan mereka. Satu
ayat saja. Tapi itulah iman, bukan? :’)
Sekarang, saya menunggu kepastian
tanggal untuk mengikatkan mitsaqan
ghalizha itu. Sebuah tanggal yang akan mengubah hidup saya selamanya.
Meninggalkan segala kemalasan saya selama ini. Menuju sebuah tanggung jawab,
yang akan saya emban dan pertanggungjawabkan di dunia, terlebih di hadapan
Allah kelak.
Bismillah... Dengan menyebut nama Allah, saya siap melangkahkan
kaki ke tahap berikutnya. Ya, selangkah lagi. Doakan saya... :)
Suasana saat acara
Keluarga dan tetangga saya
Pura-pura lihat hape >_<
Ngawi, 160314
7 comments :
Alhamdulillah.
Ameruul...duh aku melu deg-degan bacanya.
Terharu juga
Semoga Allah memudahkan semuanya ya. aamiin
akhirnyaaa...semoga aq gak nemu status galau2 lagi hbs hari-H, selamat yaaa :D
Aamiin, ya Rabb... makasih lho mbak... >_<
yey... perasaan saya udah lama kagak pasang status galau lagi. gak pernah merhatiin nih si mpok kayaknya :/
Itu pisang apa namanya kok warna merah? Di Solo nggak ada kayaknya. *kalem aja pura-pura nggak tahu kalau ini acara khitbah
gak ngerti mbak. saya juga gak paham. xD
Saya baru tahu ada post ini. :O
Post a Comment