Bismillahirrahmanirrahim
Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...
Saya
sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan
tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman.
Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh
tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir
kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut
memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang
manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari
bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya
menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan,
“Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar
menguasai lautan?”
Sejuk
sekali, jika nanti saya benar-benar mendengar itu dari kamu. :)
Mungkin,
untuk saat ini, keinginan itu masih jauh, ya? Atau, sudah dekatkah untuk terealisasi?
Yang
pasti, satu hal, kamu jangan pernah berpikir, bahwa saya sama sekali gak pernah
mencarimu. Sudah. Allah sebagai saksi, bahwa saya sudah pernah meminta tolong
pada beberapa teman yang saya kenal baik, untuk mempertemukan saya dengan kamu.
Tapi, yah, Allah Maha Baik, dan Dia memang tahu waktu yang terbaik; saat ini bukanlah waktu terbaik itu.
Apa
kamu juga tengah mencari saya? Sabarlah. Kelak, biodata itu pasti akan bertemu
di satu titik. Di sebuah waktu yang pasti gak akan pernah kita lupakan seumur
hidup kita.
Lalu
sekarang, apa yang harus saya, dan kamu, lakukan, dalam masa-masa menanti
bertemunya titik itu di sebuah waktu? Berbenah. Perbaiki diri. Pantaskan diri.
Terutama bagi saya. Saya rasa, Allah gak mungkin akan sudi mempertemukan kamu dengan
saya, saat kondisi keimanan saya masih sangat compang-camping begini.
Tapi,
izinkan saya mengatakan beberapa hal. Insya
Allah, kelak, kita akan memegangnya erat-erat, sebagai pondasi dan bahan
bakar bahtera yang akan saya nahkodai, dengan kamu sebagai asistennya. :)
Kamu
gak lupa kan, tujuan kita diciptakan? Ah, saya bukan ahlinya membawa-bawa
hafalan sebuah ayat atau hadits, karena saya ini pelupa. :p Tapi, tentunya
sudah mafhum, bahwa Allah menciptakan
kita adalah untuk beribadah kepada-Nya saja. Dan, pertemuan kita kelak, apakah
sudah kita niatkan sebagai sebuah ibadah, untuk semakin mendekat kepada-Nya?
Mungkin, salah satu sebab Dia masih enggan mempertemukan kita, adalah karena
niat kita.
Pernikahan
adalah sebuah ibadah. Setidaknya, itu yang kita dapat dari halaqah-halaqah yang kita ikuti selama ini, bukan? Dan memang begitulah
kata manusia paling mulia; Rasulullah. Jika keinginan kita menikah, adalah agar
tersalurkan hasrat-hasrat fitrah, apa itu salah? Tergantung. Ya, mungkin, niat
yang kita anggap ibadah, ternyata hanyalah selubung tipis yang menutupi
keinginan nafsu yang sebenarnya. Salah satu tujuan pernikahan, memang agar kita
bisa saling menyalurkan hasrat biologis pada satu sama lain. Tapi jika berhenti
di situ, rasanya kok kurang ya? Mungkin, niat itu harus ‘digali’ lagi.
Misalnya, dengan menikah, kita berniat menghindari zina dari berbagai arah. Dan
penyaluran keinginan biologis, adalah sebuah ritual penuh pahala jika kita
niatkan sebagai bentuk ibadah pula pada Allah. Wah... indah ya, kalau segala
hal, sampai yang terkecil sekalipun, kita niatkan untuk Allah semata. Untuk
mencari ridha-Nya, dengan menghindari sesuatu yang telah Dia haramkan untuk
kita.
Misal
lagi, saya jujur saja ya, pernah, ada keinginan cepat menikah, agar setiap pagi
ada yang membuatkan sarapan, mencuci baju-baju kotor, memijit bahu, menyapu dan
mengepel lantai, membereskan tempat tidur, dan sebagainya. Lho? Saya jadi
mikir, ini saya sedang nyari istri, atau nyari pembantu? Kok angan-angannya
begitu amat? Akhirnya, saya buang jauh-jauh pikiran itu. Saya pun membiasakan
untuk mencuci baju-baju saya sendiri, menyapu dan membereskan kamar tidur
sendiri, kadang juga memasak sendiri. Saya melihat ke Ibu saya. Ternyata,
hal-hal kecil seperti itu cukup meringankan beban beliau. Saya ber-azzam, jika kelak saya memiliki istri,
maka, tidak sepenuhnya tugas mengurus rumah tangga itu menjadi tanggung jawab
istri. Saya, sebagai suami, harus mau juga berbagi tugas. Kalau bisa, mungkin
kadang-kadang kita bisa mengepel lantai bersama, cuci baju bersama, sampai
saling bermain air sabun. Ah... menyenangkan, bukan? ;)
Nah,
niat yang berubah, dari ‘memanfaatkan’ kamu menjadi ‘meringankan beban’ kamu,
tentu akan tercatat sebagai sebuah ibadah tersendiri juga kan? Insya Allah. Saya yakin kok, karena
Allah memang gak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya sekecil apapun.
Jadi,
gimana sekarang niat kamu? Sudah benar-benar ikhlas berniat ibadah, atau masih
disisipi keinginan-keinginan duniawi yang sesaat? Saya pun juga kembali
memeriksa niat saya. Bismillah...
mari kita koreksi niat sampai hati yang terdalam.
Bicara
soal ikhlas, saya harap, kamu memahaminya sebagaimana saya memahaminya. Karena
ada beberapa perempuan, yang mengatakan bahwa seseorang belum dikatakan ikhlas,
jika masih mengharapkan pahala dan surga, serta takut akan dosa dan neraka.
Maaf, saya sangat gak setuju dengan itu. Karena, bagi saya, ikhlas berkaitan
erat dengan tauhid. Bagi saya, ikhlas berarti menyerahkan segala yang kita
lakukan, sebagai bentuk ibadah kepada Allah, dengan rasa takut, cemas, dan
penuh harap. Takut jika amal kita salah, tidak sesuai dengan petunjuk-Nya dan
Rasulullah. Cemas, jika ternyata amal kita selama ini tidak diterima
sedikitpun. Dan penuh harap, semoga Allah sudi membuka Tangan-Nya, dan menerima
amal-amal kita, mengumpulkan kita di Surga-Nya bersama orang-orang shalih.
Ikhlas,
bagi saya, adalah mentauhidkan Allah, dalam ‘uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya,
serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tak ada sekutu bagi-Nya. Salah satu
tujuan pernikahan kita, bukankah melahirkan jundullah-jundullah
yang akan semakin memberatkan bumi ini dengan kalimat laa ilaha illallah? Lalu, bagaimana mungkin, hal itu akan bisa
terwujud nyata, jika orang tuanya saja –kita- masih salah kaprah dalam memahami
makna kalimat tauhid itu? Akan jauh sekali panggang dari api, ya. Kita
memimpikan sebuah peradaban luhur berdasar nilai-nilai Islam. Tapi dasar dari
semua itu saja, kita masih belepotan. Kita masih percaya pada para sesepuh yang
mengatakan bahwa jika kita berdua nekat menikah, maka salah satu akan celaka.
Kita masih percaya, jika menikah pada hari kesekian, akan ada malapetaka. Innalillah... Lalu darimana peradaban
yang kita impikan itu akan bisa kita wujudkan?
Satu-satunya
cara, agar saya dan kamu, bisa benar-benar satu pemahaman tentang masalah ini,
adalah dengan belajar. Bukan belajar sendiri tentunya, tapi dengan bimbingan
orang yang berilmu. Kita akan tahu, bahwa pembahasan pahala dan dosa, surga dan
neraka, dalam esensi ikhlas, itu adalah suatu hal krusial yang sangat penting.
Kita juga akan mengerti, bahwa syaithan
bisa saja menyelipkan perasaan-perasaan dan keyakinan-keyakinan yang bisa
menodai tauhid yang telah kita pancangkan sepenuh hati. Nah, apakah kamu
memahami tauhid dan ikhlas seperti saya? Jika iya, maka insya Allah, Allah akan segera mempertemukan kita. Hehe...
Oh
iya, saya juga berharap, kamu adalah sosok perempuan yang open minded, mau berbagi wawasan dan saling menghargai perbedaan.
Lho, suami-istri masih bisa berbeda? Bisa saja. Dan boleh saja, bukan? Selama
perbedaan itu bukan menyangkut hal-hal prinsipil, seperti pemahaman soal tauhid
dan ikhlas yang tadi saya bilang itu.
Saya
tidak pernah berharap, akan menemukan kamu di jamaah A, atau di jamaah B, atau
bahkan di jamaah X. Terserah, saat ini, atau bahkan saat sudah menikah nanti,
kamu aktif di jamaah manapun. Saya tidak akan melarang. Karena saya adalah
orang yang terbuka terhadap hal seperti itu. Saya harap, kamu pun begitu.
Jika
saat ini, kamu tengah bersama dengan sebuah jamaah, satu saja pesan saya sama
kamu; jangan pernah bersikap, atau melontarkan statement, seolah-olah hanya jamaah yang kamu ikutilah yang
memegang kunci surga, sedang jamaah yang lain pasti ke neraka karena mereka
berbeda dengan kamu. Saya rasa, pemahaman kita tentang ahlus sunnah seperti yang diceritakan dalam berbagai hadits
Rasulullah itu sama, bahwa hanya ahlus
sunnah-lah yang akan selamat kelak, di tengah berbagai golongan yang muncul
hingga akhir zaman nanti. Tapi, kita tidak punya lisensi pasti, bukan, apakah
kita sudah termasuk dalam ahlus sunnah
itu? Bukankah kita cuma bisa mengikuti ciri-ciri ahlus sunnah, seperti yang sudah diberitakan oleh Nabi kita?
Jangan
sampai, ukhuwah kita dengan sesama
saudara seiman rusak, hanya gara-gara kita saling mengklaim ‘kunci surga’. Apa
kita tidak takut, jika saat ini susah payah kita membela hal yang kita anggap
benar, tapi saat sakaratul maut,
justru perkataan kufur yang terucap, hingga jatuhlah kita ke neraka dan gugur
segala pahala yang telah kita tanam sebelumnya? Na’udzubillah... :(
Pernikahan
kita kelak, jika kita dipertemukan dari dua jamaah berbeda, saya harap justru
akan bisa mempererat ukhuwah
antarharakah, meski hanya dalam skala mikro, alias hanya kita saja yang
melakukannya. Tidak apa. Allah melihat niat kita. Dan memang kita niatkan itu
sebagai bagian dari upaya penyatuan ukhuwah yang selama ini seperti kain
rombeng, sebagaimana kata Ustadz Salim A. Fillah.
Aduh,
menyebut nama Ustadz itu, saya jadi ingat lagi sebuah kata ‘sakral’ dalam
sebuah hubungan. Sebuah kata yang selalu dan selalu saja, menjadi tema sebuah
lagu, ataupun tulisan-tulisan berupa cerpen dan novel. Ini tentang cinta.
Saya
sering bertanya-tanya, apakah kelak, saat saya melihat kamu pertama kali, saya
akan bisa jatuh cinta? Setelah pertanyaan itu, saya akan memikirkan ‘solusi’
lain, dengan sebuah retorika. Cinta, tidak harus datang dalam sekali pandang.
Ia –insya Allah- akan tumbuh dengan
sendirinya, selama ikhlaslah senjata kita dalam bahtera. Karena saya percaya
perkataan orang Jawa, witing trisna
jalaran saka kulina. Tumbuhnya cinta itu karena kebiasaan. Setiap hari
melihat kamu, mulai dari bangun tidur, sarapan, berangkat kerja, pulang kantor,
selesai mandi, makan malam, sampai tidur lagi. Bosen? Kok, dalam teori saya,
justru bukan bosen ya yang akan muncul. Tapi, justru kata ‘ajaib’ tadi yang insya Allah akan muncul. Bosen, pasti
akan ada ya. Hanya saja, rasa-rasanya, itu akan muncul sebentar, lalu hilang
saat melihat senyum kamu.
Saya
rasa, selama niat kita adalah untuk berkomitmen dalam membina bahtera dalam
kerangka ibadah, insya Allah, itu
jauuuh lebih dari cukup, dari sekadar sebuah kata ‘cinta’. Jadi, apa kamu akan
mencintai saya nantinya? :)
Hmmm...
kita sudah ngobrol panjang lebar tentang landasan pernikahan kita. Dari niat,
tauhid, keikhlasan, ukhuwah, hingga soal cinta. Sekarang, tidakkah kamu ingin
mengenal siapa saya? Ah, tidak, tidak. Saya tidak akan menceritakan dengan
detil bagaimana saya, biar kamu penasaran sendiri saja, ya. Hihi... :p
Saya
hanyalah seorang laki-laki dengan tubuh kurus kerempeng, wajah tidak ganteng,
bahkan banyak lubang bekas jerawat. Saya juga bukan berasal dari keluarga kaya.
Kedua orang tua saya harus sama-sama bekerja, saat mereka membesarkan saya. Alhamdulillah, setelah saya bekerja,
saya bisa sedikit ikut menanggung kebutuhan-kebutuhan adik saya, yang tentunya
sedikit pula meringankan beban orang tua saya.
Saya
kasih tahu kamu; saya masih tinggal dengan orang tua dan adik saya dalam sebuah
rumah kontrakan, dimana saya pula yang bertanggung jawab atas pembayaran
kontrak rumah tersebut. Dan, saat kita sudah bertemu dalam halal nantinya, saya
ingin sekali mengontrak rumah sendiri. Hanya berdua dengan kamu. Iya, ngontrak.
Kamu gak apa-apa, kan? Atau, kamu keberatan dengan itu? Gak apa, ngomong aja,
nanti kita cari solusinya sama-sama. Hanya saja, saya ingin mengingatkan; saya
sudah memilih kamu, dan kamu pun sudah memilih saya. Tentunya, kita harus
menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan kita, kan? Dan... inilah salah satu
konsekuensi pemilihan kamu terhadap saya.
Sekali
lagi, iya, kita akan ngontrak rumah sendiri. Tapi, itu bukan berarti, tanggung
jawab saya atas rumah yang masih dikontrak orang tua akan hilang, ya. Tidak.
Justru, itu berarti, saya harus menanggung biaya kontrak dari dua rumah
sekaligus. Rumah yang ditempati orang tua dan adik saya, dan tentunya rumah
yang kita tempati sendiri. Gaji saya cukup? Insya
Allah... Kan ada kamu. Kata Ustadz kan, pernikahan itu menyatukan dua pintu
rizki.
Eh,
jangan salah paham. Bukan maksud saya menyuruh kamu ikut bekerja membantu
keuangan kita nantinya. Enggak. Kamu mau bekerja, silakan. Kamu mau fokus di
rumah, juga silakan. Saya gak akan melarang kamu soal ini. Yang saya maksud
adalah, karena saya sudah menanggung satu kepala lagi dalam tanggung jawab
saya, TIDAK MUNGKIN banget Allah akan ngasih rizki sama seperti saat saya belum
menanggung anak orang. Ya itu tadi, pernikahan menyatukan dua pintu rizki.
Entah bagaimana caranya, PASTI Allah akan mencukupkan kita. Dia Maha Kaya, masa
kita gak percaya? Hayoo... gimana dong dengan iman tauhid yang sudah kita
sepakati di awal tadi? Gak luntur kan, hanya karena persoalan ekonomi? :)
Lagipula,
mereka orang tua saya –Bapak dan Ibu saya-. Ibulah yang melahirkan saya,
merawat saya, menidurkan saya di dadanya, menggendong saya saat rewel, mengecup
lembut kepala saya. Ayahlah yang dengan bangga mendudukkan saya di pundaknya,
memamerkan pada setiap orang bahwa saya adalah anaknya, memindahkan saya saat
tertidur di depan TV, pontang-panting cari tambahan demi sekolah saya.
Merekalah yang jauuuuuuh lebih dulu mengenal saya luar-dalam, dibanding dengan
kamu.
Kamu,
adalah bagian tubuh saya yang hilang dan akhirnya saya temukan kembali. Tapi
jauh sebelum itu, ada orang tua dan adik saya yang mengisi hari-hari saya.
Tidakkah saya boleh berbuat baik pada mereka, selagi saya juga berbuat baik
kepada kamu? Tolonglah... Jika nantinya saya ikut memberi nafkah pada orang tua
saya, saya mohon, kembalilah pada ayat yang memerintahkan agar kita berbuat
baik pada orang tua kita saat mereka renta. Allah-lah yang mewajibkan itu.
Goyah lagikah iman yang sudah kita sepakati di awal pernikahan kita? Tolong,
jangan cemburu ya pada orang tua dan adik saya... Saya akan mencintai kamu,
memberi segala yang kamu butuhkan sesuai kapasitas dan kemampuan saya. Tapi di
ruang-ruang hati yang lain, tetap ada orang tua dan adik saya. Kalian semua
saya cintai, dengan porsi masing-masing. *jadi
mellow*
Kalau
misalnya kamu bekerja, artinya kamu punya penghasilan sendiri. Saya gak akan
pernah meminta uang hasil jerih payah kamu. Jadi, kalau semisalnya kamu juga
membantu orang tua kamu, atau saudara-saudara kamu, lakukanlah. Jika dengan
uang kamu sendiri masih kurang, ada nafkah yang telah saya percayakan pada kamu
untuk mengaturnya sebaik mungkin. Silakan saja, ambil seperlumu. Saya hanya gak
ingin, dengan pernikahan, seolah terputus rantai kebaikan pada orang tua dan
saudara-saudara kita masing-masing. Kamu mengerti kan maksud saya? :)
Sebagai
seorang yang hanya lulusan SLTA, dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusaah
yang menerima lulusan SLTA, memang hanya sedikit nominal yang bisa saya berikan
untuk kamu. Tapi, saya yakin dengan kemampuan kamu dalam mengelola keuangan.
Makan enak, bagi saya, sesekali saja gak masalah. Yang jauh lebih penting dari
itu, kamu akan selalu memastikan bahwa setiap suap makanan yang masuk ke mulut
kita, adalah makanan yang halal yang kita harapkan keberkahannya, dan kamu
masak dengan sepenuh cintamu untuk saya. :p *ceileeehh...*
Uhuk...
uhuk... jadi keselek nih, gara-gara kembali nyinggung soal cinta. :p
Teringat
cerita seorang teman, yang mengatakan bahwa ada seorang istri yang sangat
cantik, tapi sama sekali tidak menaruh hormat pada sang suami. Bahkan, dengan
congkaknya si istri itu memaki-maki suami, hingga meludahinya. Maka saya pun
berdoa, memohon pada Allah, agar kamu dan saya, dijauhkan dari sifat-sifat
buruk seperti itu. Saya yang tidak tampan –apalagi gagah- ini, dipertemukan
denganmu yang begitu anggun dan cantik. Semoga itu tidak membuatmu merasa
‘kurang beruntung’, hingga berani melontarkan kata-kata tercela pada orang yang
telah mengikat mitsaqan ghalizha di
hadapan ayahmu ini.
Kelak,
memilikimu adalah hal terindah yang Allah beri untuk saya. Selama kamu qana’ah, selama kamu jarang mengeluh,
selama kamu selalu tersenyum hanya untuk saya. Tetapi jika saya terjatuh dalam
sebuah kesalahan yang membawa dosa, ingatkan saya. Jangan biarkan saya tertatih-tatih
mencari jalan sendiri. Beri saya pegangan. Beri saya arahan. Beri saya cahaya
yang akan menuntun saya kembali pada prinsip.
Segala
bahtera tidak mungkin melaju tanpa ada badai yang menghadang di depan. Entah
dekat, entah masih jauh. Entah ringan, entah berat. Tapi, selama nahkoda teguh
memegang kendali, seperti yang tertulis dalam buku pedoman, maka insya Allah, menembus badai bukan hal
yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan, sebuah lagu mengatakan, bahwa badai
pasti berlalu.
Jika
ada badai, maka saya tidak akan meninggalkanmu sendirian. Dan kamu jangan pula
meninggalkan saya. Tetaplah bersama saya. Lagi-lagi, kita harus kembali pada
niat awal kita mengikat janji. Emosi itu manusiawi. Tetapi larut dalam emosi,
hingga mengesampingkan logika dan keimanan, maka syaithan sudah membisiki.
Jika
kamu menangis, ada pundak dan dada saya yang selalu lapang untukmu, meski
mungkin rasanya sedikit kurang nyaman karena kekurusan saya. Jika kamu marah,
marahlah sekadarnya, atau saya akan membuatmu segera luluh kembali. Jika kamu
mengeluh, mengeluhlah, karena masih ada sepasang telinga yang bersiap
mendengarkanmu kapanpun meski sedang terkantuk-kantuk. Ah, sepertinya saya gak
romantis banget ya? -_-
Yah,
setidaknya, itulah yang ingin saya katakan padamu. Kamu masih di Tangan Allah,
kan? Berarti, kamu masih berada di tempat yang sangat aman. Tunggu saya ya.
Akan saya pantaskan diri saya dulu. Jika Allah sudah melepasmu, maka saya akan
berlari padamu, sembari mengacungkan biodata saya. Saya harap, kamu sudi
menerima apa adanya diri saya, seperti saya yang tak mempermasalahkan apapun
keadaanmu. Selama niat dan landasan kita sejalan, cinta bisa saja datang
belakangan. Ah, hidup kita kan bukan sekadar roman picisan. :p
Saya yang menunggumu,
R.
A. W.
Ngawi,
121013


0 comments :
Post a Comment