Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Ini Prinsip Kita


Bismillahirrahmanirrahim

Untuk kamu, yang masih ada di Tangan Allah...


Saya sering memikirkan tentang kamu. Bukan wujud kamu. Tapi lebih pada harapan tentang sikap-sikap kamu. Terutama, saat saya sedang mengalami kemunduran iman. Entah karena dunia yang terasa kian seperti magnet, hingga membuat seluruh tubuh dan pikiran terpusat padanya. Atau karena memang telah ada di titik nadir kefuturan. Rasanya, ingin sekali, di saat seperti itu, ada yang dengan lembut memijit tengkuk dan pundak saya, membuatkan saya secangkir teh hangat yang manis, tersenyum dengan lengkungan bibir paling menawan. Lalu, keluarlah dari bibir mungil itu, kilasan memori, tentang apa tujuan pernikahan kita. Ya, saya menginginkan kamu di saat-saat seperti itu. Dimana kamu akan mengatakan, “Bagaimana bahtera ini bisa sampai ke dermaga, jika nahkodanya tak bisa belajar menguasai lautan?”
Sejuk sekali, jika nanti saya benar-benar mendengar itu dari kamu. :)
Mungkin, untuk saat ini, keinginan itu masih jauh, ya? Atau, sudah dekatkah untuk terealisasi?
Yang pasti, satu hal, kamu jangan pernah berpikir, bahwa saya sama sekali gak pernah mencarimu. Sudah. Allah sebagai saksi, bahwa saya sudah pernah meminta tolong pada beberapa teman yang saya kenal baik, untuk mempertemukan saya dengan kamu. Tapi, yah, Allah Maha Baik, dan Dia memang tahu waktu yang terbaik; saat ini bukanlah waktu terbaik itu.
Apa kamu juga tengah mencari saya? Sabarlah. Kelak, biodata itu pasti akan bertemu di satu titik. Di sebuah waktu yang pasti gak akan pernah kita lupakan seumur hidup kita.
Lalu sekarang, apa yang harus saya, dan kamu, lakukan, dalam masa-masa menanti bertemunya titik itu di sebuah waktu? Berbenah. Perbaiki diri. Pantaskan diri. Terutama bagi saya. Saya rasa, Allah gak mungkin akan sudi mempertemukan kamu dengan saya, saat kondisi keimanan saya masih sangat compang-camping begini.
Tapi, izinkan saya mengatakan beberapa hal. Insya Allah, kelak, kita akan memegangnya erat-erat, sebagai pondasi dan bahan bakar bahtera yang akan saya nahkodai, dengan kamu sebagai asistennya. :)
Kamu gak lupa kan, tujuan kita diciptakan? Ah, saya bukan ahlinya membawa-bawa hafalan sebuah ayat atau hadits, karena saya ini pelupa. :p Tapi, tentunya sudah mafhum, bahwa Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepada-Nya saja. Dan, pertemuan kita kelak, apakah sudah kita niatkan sebagai sebuah ibadah, untuk semakin mendekat kepada-Nya? Mungkin, salah satu sebab Dia masih enggan mempertemukan kita, adalah karena niat kita.
Pernikahan adalah sebuah ibadah. Setidaknya, itu yang kita dapat dari halaqah-halaqah yang kita ikuti selama ini, bukan? Dan memang begitulah kata manusia paling mulia; Rasulullah. Jika keinginan kita menikah, adalah agar tersalurkan hasrat-hasrat fitrah, apa itu salah? Tergantung. Ya, mungkin, niat yang kita anggap ibadah, ternyata hanyalah selubung tipis yang menutupi keinginan nafsu yang sebenarnya. Salah satu tujuan pernikahan, memang agar kita bisa saling menyalurkan hasrat biologis pada satu sama lain. Tapi jika berhenti di situ, rasanya kok kurang ya? Mungkin, niat itu harus ‘digali’ lagi. Misalnya, dengan menikah, kita berniat menghindari zina dari berbagai arah. Dan penyaluran keinginan biologis, adalah sebuah ritual penuh pahala jika kita niatkan sebagai bentuk ibadah pula pada Allah. Wah... indah ya, kalau segala hal, sampai yang terkecil sekalipun, kita niatkan untuk Allah semata. Untuk mencari ridha-Nya, dengan menghindari sesuatu yang telah Dia haramkan untuk kita.
Misal lagi, saya jujur saja ya, pernah, ada keinginan cepat menikah, agar setiap pagi ada yang membuatkan sarapan, mencuci baju-baju kotor, memijit bahu, menyapu dan mengepel lantai, membereskan tempat tidur, dan sebagainya. Lho? Saya jadi mikir, ini saya sedang nyari istri, atau nyari pembantu? Kok angan-angannya begitu amat? Akhirnya, saya buang jauh-jauh pikiran itu. Saya pun membiasakan untuk mencuci baju-baju saya sendiri, menyapu dan membereskan kamar tidur sendiri, kadang juga memasak sendiri. Saya melihat ke Ibu saya. Ternyata, hal-hal kecil seperti itu cukup meringankan beban beliau. Saya ber-azzam, jika kelak saya memiliki istri, maka, tidak sepenuhnya tugas mengurus rumah tangga itu menjadi tanggung jawab istri. Saya, sebagai suami, harus mau juga berbagi tugas. Kalau bisa, mungkin kadang-kadang kita bisa mengepel lantai bersama, cuci baju bersama, sampai saling bermain air sabun. Ah... menyenangkan, bukan? ;)
Nah, niat yang berubah, dari ‘memanfaatkan’ kamu menjadi ‘meringankan beban’ kamu, tentu akan tercatat sebagai sebuah ibadah tersendiri juga kan? Insya Allah. Saya yakin kok, karena Allah memang gak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya sekecil apapun.
Jadi, gimana sekarang niat kamu? Sudah benar-benar ikhlas berniat ibadah, atau masih disisipi keinginan-keinginan duniawi yang sesaat? Saya pun juga kembali memeriksa niat saya. Bismillah... mari kita koreksi niat sampai hati yang terdalam.
Bicara soal ikhlas, saya harap, kamu memahaminya sebagaimana saya memahaminya. Karena ada beberapa perempuan, yang mengatakan bahwa seseorang belum dikatakan ikhlas, jika masih mengharapkan pahala dan surga, serta takut akan dosa dan neraka. Maaf, saya sangat gak setuju dengan itu. Karena, bagi saya, ikhlas berkaitan erat dengan tauhid. Bagi saya, ikhlas berarti menyerahkan segala yang kita lakukan, sebagai bentuk ibadah kepada Allah, dengan rasa takut, cemas, dan penuh harap. Takut jika amal kita salah, tidak sesuai dengan petunjuk-Nya dan Rasulullah. Cemas, jika ternyata amal kita selama ini tidak diterima sedikitpun. Dan penuh harap, semoga Allah sudi membuka Tangan-Nya, dan menerima amal-amal kita, mengumpulkan kita di Surga-Nya bersama orang-orang shalih.
Ikhlas, bagi saya, adalah mentauhidkan Allah, dalam ‘uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya, serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tak ada sekutu bagi-Nya. Salah satu tujuan pernikahan kita, bukankah melahirkan jundullah-jundullah yang akan semakin memberatkan bumi ini dengan kalimat laa ilaha illallah? Lalu, bagaimana mungkin, hal itu akan bisa terwujud nyata, jika orang tuanya saja –kita- masih salah kaprah dalam memahami makna kalimat tauhid itu? Akan jauh sekali panggang dari api, ya. Kita memimpikan sebuah peradaban luhur berdasar nilai-nilai Islam. Tapi dasar dari semua itu saja, kita masih belepotan. Kita masih percaya pada para sesepuh yang mengatakan bahwa jika kita berdua nekat menikah, maka salah satu akan celaka. Kita masih percaya, jika menikah pada hari kesekian, akan ada malapetaka. Innalillah... Lalu darimana peradaban yang kita impikan itu akan bisa kita wujudkan?
Satu-satunya cara, agar saya dan kamu, bisa benar-benar satu pemahaman tentang masalah ini, adalah dengan belajar. Bukan belajar sendiri tentunya, tapi dengan bimbingan orang yang berilmu. Kita akan tahu, bahwa pembahasan pahala dan dosa, surga dan neraka, dalam esensi ikhlas, itu adalah suatu hal krusial yang sangat penting. Kita juga akan mengerti, bahwa syaithan bisa saja menyelipkan perasaan-perasaan dan keyakinan-keyakinan yang bisa menodai tauhid yang telah kita pancangkan sepenuh hati. Nah, apakah kamu memahami tauhid dan ikhlas seperti saya? Jika iya, maka insya Allah, Allah akan segera mempertemukan kita. Hehe...
Oh iya, saya juga berharap, kamu adalah sosok perempuan yang open minded, mau berbagi wawasan dan saling menghargai perbedaan. Lho, suami-istri masih bisa berbeda? Bisa saja. Dan boleh saja, bukan? Selama perbedaan itu bukan menyangkut hal-hal prinsipil, seperti pemahaman soal tauhid dan ikhlas yang tadi saya bilang itu.
Saya tidak pernah berharap, akan menemukan kamu di jamaah A, atau di jamaah B, atau bahkan di jamaah X. Terserah, saat ini, atau bahkan saat sudah menikah nanti, kamu aktif di jamaah manapun. Saya tidak akan melarang. Karena saya adalah orang yang terbuka terhadap hal seperti itu. Saya harap, kamu pun begitu.
Jika saat ini, kamu tengah bersama dengan sebuah jamaah, satu saja pesan saya sama kamu; jangan pernah bersikap, atau melontarkan statement, seolah-olah hanya jamaah yang kamu ikutilah yang memegang kunci surga, sedang jamaah yang lain pasti ke neraka karena mereka berbeda dengan kamu. Saya rasa, pemahaman kita tentang ahlus sunnah seperti yang diceritakan dalam berbagai hadits Rasulullah itu sama, bahwa hanya ahlus sunnah-lah yang akan selamat kelak, di tengah berbagai golongan yang muncul hingga akhir zaman nanti. Tapi, kita tidak punya lisensi pasti, bukan, apakah kita sudah termasuk dalam ahlus sunnah itu? Bukankah kita cuma bisa mengikuti ciri-ciri ahlus sunnah, seperti yang sudah diberitakan oleh Nabi kita?
Jangan sampai, ukhuwah kita dengan sesama saudara seiman rusak, hanya gara-gara kita saling mengklaim ‘kunci surga’. Apa kita tidak takut, jika saat ini susah payah kita membela hal yang kita anggap benar, tapi saat sakaratul maut, justru perkataan kufur yang terucap, hingga jatuhlah kita ke neraka dan gugur segala pahala yang telah kita tanam sebelumnya? Na’udzubillah... :(
Pernikahan kita kelak, jika kita dipertemukan dari dua jamaah berbeda, saya harap justru akan bisa mempererat ukhuwah antarharakah, meski hanya dalam skala mikro, alias hanya kita saja yang melakukannya. Tidak apa. Allah melihat niat kita. Dan memang kita niatkan itu sebagai bagian dari upaya penyatuan ukhuwah yang selama ini seperti kain rombeng, sebagaimana kata Ustadz Salim A. Fillah.
Aduh, menyebut nama Ustadz itu, saya jadi ingat lagi sebuah kata ‘sakral’ dalam sebuah hubungan. Sebuah kata yang selalu dan selalu saja, menjadi tema sebuah lagu, ataupun tulisan-tulisan berupa cerpen dan novel. Ini tentang cinta.
Saya sering bertanya-tanya, apakah kelak, saat saya melihat kamu pertama kali, saya akan bisa jatuh cinta? Setelah pertanyaan itu, saya akan memikirkan ‘solusi’ lain, dengan sebuah retorika. Cinta, tidak harus datang dalam sekali pandang. Ia –insya Allah- akan tumbuh dengan sendirinya, selama ikhlaslah senjata kita dalam bahtera. Karena saya percaya perkataan orang Jawa, witing trisna jalaran saka kulina. Tumbuhnya cinta itu karena kebiasaan. Setiap hari melihat kamu, mulai dari bangun tidur, sarapan, berangkat kerja, pulang kantor, selesai mandi, makan malam, sampai tidur lagi. Bosen? Kok, dalam teori saya, justru bukan bosen ya yang akan muncul. Tapi, justru kata ‘ajaib’ tadi yang insya Allah akan muncul. Bosen, pasti akan ada ya. Hanya saja, rasa-rasanya, itu akan muncul sebentar, lalu hilang saat melihat senyum kamu.
Saya rasa, selama niat kita adalah untuk berkomitmen dalam membina bahtera dalam kerangka ibadah, insya Allah, itu jauuuh lebih dari cukup, dari sekadar sebuah kata ‘cinta’. Jadi, apa kamu akan mencintai saya nantinya? :)
Hmmm... kita sudah ngobrol panjang lebar tentang landasan pernikahan kita. Dari niat, tauhid, keikhlasan, ukhuwah, hingga soal cinta. Sekarang, tidakkah kamu ingin mengenal siapa saya? Ah, tidak, tidak. Saya tidak akan menceritakan dengan detil bagaimana saya, biar kamu penasaran sendiri saja, ya. Hihi... :p
Saya hanyalah seorang laki-laki dengan tubuh kurus kerempeng, wajah tidak ganteng, bahkan banyak lubang bekas jerawat. Saya juga bukan berasal dari keluarga kaya. Kedua orang tua saya harus sama-sama bekerja, saat mereka membesarkan saya. Alhamdulillah, setelah saya bekerja, saya bisa sedikit ikut menanggung kebutuhan-kebutuhan adik saya, yang tentunya sedikit pula meringankan beban orang tua saya.
Saya kasih tahu kamu; saya masih tinggal dengan orang tua dan adik saya dalam sebuah rumah kontrakan, dimana saya pula yang bertanggung jawab atas pembayaran kontrak rumah tersebut. Dan, saat kita sudah bertemu dalam halal nantinya, saya ingin sekali mengontrak rumah sendiri. Hanya berdua dengan kamu. Iya, ngontrak. Kamu gak apa-apa, kan? Atau, kamu keberatan dengan itu? Gak apa, ngomong aja, nanti kita cari solusinya sama-sama. Hanya saja, saya ingin mengingatkan; saya sudah memilih kamu, dan kamu pun sudah memilih saya. Tentunya, kita harus menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan kita, kan? Dan... inilah salah satu konsekuensi pemilihan kamu terhadap saya.
Sekali lagi, iya, kita akan ngontrak rumah sendiri. Tapi, itu bukan berarti, tanggung jawab saya atas rumah yang masih dikontrak orang tua akan hilang, ya. Tidak. Justru, itu berarti, saya harus menanggung biaya kontrak dari dua rumah sekaligus. Rumah yang ditempati orang tua dan adik saya, dan tentunya rumah yang kita tempati sendiri. Gaji saya cukup? Insya Allah... Kan ada kamu. Kata Ustadz kan, pernikahan itu menyatukan dua pintu rizki.
Eh, jangan salah paham. Bukan maksud saya menyuruh kamu ikut bekerja membantu keuangan kita nantinya. Enggak. Kamu mau bekerja, silakan. Kamu mau fokus di rumah, juga silakan. Saya gak akan melarang kamu soal ini. Yang saya maksud adalah, karena saya sudah menanggung satu kepala lagi dalam tanggung jawab saya, TIDAK MUNGKIN banget Allah akan ngasih rizki sama seperti saat saya belum menanggung anak orang. Ya itu tadi, pernikahan menyatukan dua pintu rizki. Entah bagaimana caranya, PASTI Allah akan mencukupkan kita. Dia Maha Kaya, masa kita gak percaya? Hayoo... gimana dong dengan iman tauhid yang sudah kita sepakati di awal tadi? Gak luntur kan, hanya karena persoalan ekonomi? :)
Lagipula, mereka orang tua saya –Bapak dan Ibu saya-. Ibulah yang melahirkan saya, merawat saya, menidurkan saya di dadanya, menggendong saya saat rewel, mengecup lembut kepala saya. Ayahlah yang dengan bangga mendudukkan saya di pundaknya, memamerkan pada setiap orang bahwa saya adalah anaknya, memindahkan saya saat tertidur di depan TV, pontang-panting cari tambahan demi sekolah saya. Merekalah yang jauuuuuuh lebih dulu mengenal saya luar-dalam, dibanding dengan kamu.
Kamu, adalah bagian tubuh saya yang hilang dan akhirnya saya temukan kembali. Tapi jauh sebelum itu, ada orang tua dan adik saya yang mengisi hari-hari saya. Tidakkah saya boleh berbuat baik pada mereka, selagi saya juga berbuat baik kepada kamu? Tolonglah... Jika nantinya saya ikut memberi nafkah pada orang tua saya, saya mohon, kembalilah pada ayat yang memerintahkan agar kita berbuat baik pada orang tua kita saat mereka renta. Allah-lah yang mewajibkan itu. Goyah lagikah iman yang sudah kita sepakati di awal pernikahan kita? Tolong, jangan cemburu ya pada orang tua dan adik saya... Saya akan mencintai kamu, memberi segala yang kamu butuhkan sesuai kapasitas dan kemampuan saya. Tapi di ruang-ruang hati yang lain, tetap ada orang tua dan adik saya. Kalian semua saya cintai, dengan porsi masing-masing. *jadi mellow*
Kalau misalnya kamu bekerja, artinya kamu punya penghasilan sendiri. Saya gak akan pernah meminta uang hasil jerih payah kamu. Jadi, kalau semisalnya kamu juga membantu orang tua kamu, atau saudara-saudara kamu, lakukanlah. Jika dengan uang kamu sendiri masih kurang, ada nafkah yang telah saya percayakan pada kamu untuk mengaturnya sebaik mungkin. Silakan saja, ambil seperlumu. Saya hanya gak ingin, dengan pernikahan, seolah terputus rantai kebaikan pada orang tua dan saudara-saudara kita masing-masing. Kamu mengerti kan maksud saya? :)
Sebagai seorang yang hanya lulusan SLTA, dan mendapatkan pekerjaan di sebuah perusaah yang menerima lulusan SLTA, memang hanya sedikit nominal yang bisa saya berikan untuk kamu. Tapi, saya yakin dengan kemampuan kamu dalam mengelola keuangan. Makan enak, bagi saya, sesekali saja gak masalah. Yang jauh lebih penting dari itu, kamu akan selalu memastikan bahwa setiap suap makanan yang masuk ke mulut kita, adalah makanan yang halal yang kita harapkan keberkahannya, dan kamu masak dengan sepenuh cintamu untuk saya. :p *ceileeehh...*
Uhuk... uhuk... jadi keselek nih, gara-gara kembali nyinggung soal cinta. :p
Teringat cerita seorang teman, yang mengatakan bahwa ada seorang istri yang sangat cantik, tapi sama sekali tidak menaruh hormat pada sang suami. Bahkan, dengan congkaknya si istri itu memaki-maki suami, hingga meludahinya. Maka saya pun berdoa, memohon pada Allah, agar kamu dan saya, dijauhkan dari sifat-sifat buruk seperti itu. Saya yang tidak tampan –apalagi gagah- ini, dipertemukan denganmu yang begitu anggun dan cantik. Semoga itu tidak membuatmu merasa ‘kurang beruntung’, hingga berani melontarkan kata-kata tercela pada orang yang telah mengikat mitsaqan ghalizha di hadapan ayahmu ini.
Kelak, memilikimu adalah hal terindah yang Allah beri untuk saya. Selama kamu qana’ah, selama kamu jarang mengeluh, selama kamu selalu tersenyum hanya untuk saya. Tetapi jika saya terjatuh dalam sebuah kesalahan yang membawa dosa, ingatkan saya. Jangan biarkan saya tertatih-tatih mencari jalan sendiri. Beri saya pegangan. Beri saya arahan. Beri saya cahaya yang akan menuntun saya kembali pada prinsip.
Segala bahtera tidak mungkin melaju tanpa ada badai yang menghadang di depan. Entah dekat, entah masih jauh. Entah ringan, entah berat. Tapi, selama nahkoda teguh memegang kendali, seperti yang tertulis dalam buku pedoman, maka insya Allah, menembus badai bukan hal yang mustahil untuk dilakukan. Bahkan, sebuah lagu mengatakan, bahwa badai pasti berlalu.
Jika ada badai, maka saya tidak akan meninggalkanmu sendirian. Dan kamu jangan pula meninggalkan saya. Tetaplah bersama saya. Lagi-lagi, kita harus kembali pada niat awal kita mengikat janji. Emosi itu manusiawi. Tetapi larut dalam emosi, hingga mengesampingkan logika dan keimanan, maka syaithan sudah membisiki.
Jika kamu menangis, ada pundak dan dada saya yang selalu lapang untukmu, meski mungkin rasanya sedikit kurang nyaman karena kekurusan saya. Jika kamu marah, marahlah sekadarnya, atau saya akan membuatmu segera luluh kembali. Jika kamu mengeluh, mengeluhlah, karena masih ada sepasang telinga yang bersiap mendengarkanmu kapanpun meski sedang terkantuk-kantuk. Ah, sepertinya saya gak romantis banget ya? -_-
Yah, setidaknya, itulah yang ingin saya katakan padamu. Kamu masih di Tangan Allah, kan? Berarti, kamu masih berada di tempat yang sangat aman. Tunggu saya ya. Akan saya pantaskan diri saya dulu. Jika Allah sudah melepasmu, maka saya akan berlari padamu, sembari mengacungkan biodata saya. Saya harap, kamu sudi menerima apa adanya diri saya, seperti saya yang tak mempermasalahkan apapun keadaanmu. Selama niat dan landasan kita sejalan, cinta bisa saja datang belakangan. Ah, hidup kita kan bukan sekadar roman picisan. :p

Saya yang menunggumu,
R. A. W.

Ngawi, 121013


0 comments :

Post a Comment