Bismillahirrahmanirrahim
Belakangan ini, saya cukup ‘terusik’
dengan tulisan beberapa teman di pesbuk saya, terkait tentang keikutsertaannya
dalam komunitas One Day One Juz,
alias ODOJ.
Teman pertama, mengatakan bahwa di hati kecilnya, beliau berharap untuk keluar dari grup. Ternyata Allah benar-benar ‘mengabulkan’, dengan jalan hilangnya ponsel yang beliau gunakan untuk bergabung dalam grup ODOJ. Karena tidak pernah laporan, akhirnya beliaupun didepak dari grup. Beliau menyadari, bahwa mungkin itu adalah ‘teguran’ dari Allah. Tapi alhamdulillah, kemudian uluran tangan itu datang. Beliau kembali ditawari untuk masuk. Hingga kini, beliau masih istiqamah berada dalam komunitas itu. Walhamdulillah. Dan tulisannya yang sebenarnya hanya berupa status, kini terpampang di web resmi One Day One Juz.
Teman kedua, baru saja menulis –mungkin
kemarin atau kemarin lusa- tentang kegalauannya selama berada dalam komunitas.
Beliau merasa ada yang salah dengan niatnya. Maka beliaupun bermuhasabah; sebenarnya, beliau menyelesaikan satu juz per hari itu, benar-benar untuk Allah, ataukah hanya
untuk mengejar laporan ke grup? Akhirnya, demi meluruskan niat, beliau memutuskan
untuk keluar dari grup. Walhamdulillah,
menurutnya, keluar dari grup ODOJ, bukan berarti berhenti tilawah. Justru saat
itulah niat kita diuji; benarkah ikhlas karena Allah, atau sekadar mengejar khalas? Nyatanya, beliaupun masih rajin
tilawah, meski tak bergabung lagi dalam grup.
Teman ketiga, adalah teman yang
dulu seringkali saya lihat status-statusnya benar-benar bangga dan bersyukur berada
dalam komunitas ODOJ. Berdasar info dari beliau juga lah, akhirnya saya bisa bergabung
bersama ODOJ sejak Oktober 2013 lalu. Tapi, apa yang beliau nyatakan dalam komen
di status saya barusan, justru membuat saya kaget. Ya, beliau mengatakan telah
keluar sejak Januari lalu. Dan alhamdulillah,
tilawah juga tetap jalan terus.
Keluar dari komunitas? Jujur
saja, sejak awal-awal grup saya mulai terbentuk, sudah ada keinginan untuk
mengundurkan diri. Salah satu alasannya; niat. Iya, sama seperti teman kedua
saya, saya khawatir niat saya selama ini salah. Selain itu, saya juga merasa
terbebani, yang akhirnya akan kembali lagi pada esensi niat. Dan yang paling
saya rasakan saat itu, adalah kurangnya rasa kekeluargaan di dalam grup.
Entahlah... Saya hanya merasa, saat itu, saya kurang begitu dianggap. Saya
sering minder, dan merasa tidak pantas berada di antara mereka.
Akhirnya, saya sering mematikan
notif untuk grup itu. Sehingga saat ada chat masuk, saya gak akan terusik,
karena saya pikir, paling juga itu gak penting buat saya. Saya juga sering gak
laporan. Bukan karena saya gak menyelesaikan jatah saya yang sejuz per hari
itu. Bukan. Tapi sekali lagi, demi meluruskan niat saya. Karena saya pikir,
komitmen sebenarnya untuk menyelesaikan satu juz per hari adalah antara saya
dengan Allah, bukan dengan grup. Selain itu, juga untuk melihat, apakah akan
ada sedikit perhatian yang diberikan oleh saudara-saudara saya di grup itu,
saat melihat seorang member lama gak laporan. Ternyata? Nihil.
Iya, kebersamaan itulah yang saya
rasa sangat kurang sekali di awal-awal terbentuknya grup itu. Sekadar basa
basi. Say hi... report, thats all. Saya gak betah. Saya pengen keluar.
Berkali-kali.
Alhamdulillah, keakraban mulai terjalin perlahan. Saat ada member
yang belum laporan, ada yang menanyakan dengan halus, “Akh, sudah khalas belum?
Semangat ya!” Indah sekali... Benar-benar merasa dianggap ada dan diperhatikan.
Saya juga hadir dalam acara Grand Launching di Istiqlal kemarin.
Sekadar ingin bersilaturrahim dan menatap secara langsung wajah-wajah
saudara-saudara saya yang selama ini hanya bertukar sapa melalui grup. Saya
menemukan keikhlasan di wajah-wajah itu. Saya menemukan uluran persaudaraan
yang tulus di sana. Walhamdulillah...
(Baca: Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara)
Yang saya takutkan pun,
akhir-akhir ini mungkin sedang terjadi; efek
dari GL itu hanya bertahan sebentar saja. Beberapa hari. Mungkin seminggu.
Setelahnya, kita kembali lagi seperti saat-saat sebelum bertemu, saat-saat
sebelum GL.
Mungkin... saya masih akan
bertahan. Entah sampai kapan. Yang pasti, saya akan keluar, jika saya sudah
tidak merasakan eratnya persaudaraan di dalam grup itu. Tapi jika ada satu
orang saja yang membujuk saya untuk mengurungkan niat, mungkin saya akan
kembali bertahan. Iya, satu orang saja.
Di saat yang lain masih sibuk
mengurusi niat, saya justru sudah mengesampingkannya. Itu urusan saya dengan
Allah, demikian juga komitmen tilawah. Yang memberatkan saya, hanya jalinan ukhuwah
itu. Meski sebenarnya tanpa berada dalam grup pun, masih tetap bisa saling
berkomunikasi. Tapi akan sangat berbeda rasanya.
Iya. Saya masih bertahan, meski
keinginan keluar itu pun tetap ada. Setidaknya hingga detik ini. Hingga tulisan
ini dibuat. Namun entah dengan esok hari, lusa, kapan pun. Allah-lah Sang Maha
Pembolak-balik Hati... Wallahul muwwafiq...
:)
Ngawi, 260514
NB: Mohon maaf, tulisan ini tidak membicarakan kebaikan ataupun keburukan
ODOJ. Sehingga tolong jangan beri komentar, bahwa dengan ikut komunitas ODOJ
akan bisa begini dan begini. Saya gak mengajak untuk meninggalkan komunitas ODOJ,
ataupun bergabung dengannya. Tulisan ini murni hanya sekadar curcolan saya
saja, tentang apa yang saya rasakan. ^_^

0 comments :
Post a Comment