Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Ini Tentang Jalinan yang Kita Rajut di Udara



Bismillahirrahmanirrahim


Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya

Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...

Sigma - Senandung Ukhuwah

Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma. Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.

Pada akhirnya, aku hanya mampu melakukan flashback singkat. Menekuri kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di depan banner, dan lainnya.

Masih jelas dalam memori, bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...


Pulas sekali ya... :D

Lalu, tentang engkau yang lain. Yang begitu bersemangat melakukan eksekusi penjemputan. Pertama kali pula, kita bersitatap, bersalaman erat. Hangat. Meski aku masih canggung. Kau coba menepisnya dengan berkata,

“Gak usah kaku gitu, Akh, sama ane! Hahaha...”

Aku pun cengar-cengir saja. Maafkan aku. Aku bukan orang yang mudah cair dan larut dalam pembicaraan dengan orang yang baru kutemui. Mungkin itu terbawa saat berinteraksi pertama kali denganmu. Lagipula, dulu aku membayangkanmu adalah orang yang sudah berusia 30 tahun lebih. Hahaha...

Lalu, di sore itu, saat berbagai rangkaian acara usai, kau, aku, kita semua, berkumpul bersama. Akhirnya. Setelah seharian penuh kita berusaha saling jumpa, namun takdir Allah belum mengizinkannya.

Kutemui wajah-wajahmu yang lain. Ada engkau yang berwajah ceria, yang sudah kutemui saat aku menukar kupon makan siang. Ada engkau sang pengantin baru, yang sering kujapri diam-diam. Ada engkau yang benar-benar baru kuketahui wajahmu. Dan ada engkau, sang panutan dalam grup, yang dulu begitu bersemangat menggerakkan grup ini. Masya Allah... 

 Difoto dulu oleh Kang Admin :D




Kita abadikan gambar kita. Sekadar mengukuhkan ukhuwah itu. Kita saling bertukar pikiran. Saling mengobrol ke sana kemari. Lalu tertawa bersama. Indah ya? Seakan tak ingin aku berpisah denganmu, Kawan.

 Biar kelihatan Istiqlal-nya :D


 Di 'red carpet' One Day One Juz :D

Sayang, semuanya begitu singkat. Teramat singkat. Saat itu, aku ingin protes terhadap waktu. Mengapa ia tak istirahat saja sejenak? Sayang, ia hanya patuh pada Rabbnya, yang memerintahkannya untuk terus berlari. Tapi itu justru makin membuat perjumpaan ini terasa begitu istimewa. Apa itu juga yang kaurasakan?

Lalu, satu persatu kita memohon diri. Ditunggu istri, ataupun karena sudah terlalu sore. Aku memaklumi. Sungguh. Meski berat rasanya berpisah. Meski seakan tak ingin kulepaskan tautan tangan dan pelukan. Tapi urusan masing-masing harus terus berjalan.

Pada akhirnya, tinggallah aku denganmu. Engkau yang hampir seharian itu tak bersamaku. Dan engkau yang kutemui dan kukenal di kereta, yang seharian itu selalu bersama-sama. Tinggallah kita bertiga. Berharap bisa mengistirahatkan mata dan badan malam ini di dalam masjid kebanggaan masyarakat Indonesia.

Aduh... adegan selanjutnya, adalah adegan paling ‘sadis’ dalam perantauan kita. Haha... Seorang satpam tiba-tiba datang, dan menginstruksikan pada kita untuk segera meninggalkan masjid, karena masjid akan ditutup. Aku kasihan melihat engkau berdua, yang telah tertidur pulas, kini harus membereskan barang-barang dan berjalan keluar dengan mata yang masih merah.

Qadarallah, masya Allah, Allah memberi hikmah dari ‘adegan pengusiran’ itu. Kutemui wajah-wajah lain yang juga ‘terusir’. Banyak sekali. Satu persatu engkau memperkenalkan diri, menyebutkan biodata singkat dan padat. Kita gelar banner di trotoar depan masjid, lalu kita saling mengobrol, bertukar info dan pengalaman.

Sedikit gambaran suasana di sepanjang trotoar kenangan :D

Ada engkau yang selalu kudengar nada cemas saat mengirimiku pesan. Perasaan tidak enak dan kecemasan itu juga kurasakan dari suaramu. Sudahlah, kubilang, kau tidur saja, bukankah kau juga lelah di hari selarut itu? Tak usah memikirkan aku dan yang lainnya di sini. Kami sudah cukup bahagia bisa merebahkan badan sejenak di trotoar ini. Izinkan ini menjadi bekal pengalaman, yang tak akan pernah kami lupakan hingga nanti. Biarkan ini menjadi bibit-bibit cerita, yang akan diperdengarkan pada saudara-saudara yang lain.

Yah, meski kuakui, aku kesulitan untuk tidur, karena nyamuk Istiqlal ternyata sangat ganas. Hahaha... Herannya, engkau yang di sebelahku, sudah bisa tertidur sangat pulas sejak tadi, dan baru bangun saat gerbang kembali dibuka (itupun karena aku bangunkan). Padahal, banyak sekali nyamuk yang mengerubungi kakimu. Luarrr biasa! Hahaha... Ah, setidaknya, aku juga sudah sempat menyambangi alam mimpi, meski sebentar sekali. Itu sudah cukup. Karena selanjutnya aku sudah tidak bisa tidur lagi.

Lalu, saat mentari mulai naik, kutemui engkau; seorang pensiunan polisi, yang rela pensiun dini demi mendalami Islam dan demi dakwah. Karena, menurutmu, dakwah dari luar lebih bisa diterima, daripada dakwah dari dalam. Subhanallah... Sungguh, banyak pelajaran yang bisa kuambil darimu, Eyang...



Sayang, pertemuan dan kebersamaan yang begitu singkat itupun harus berakhir. Usai menuntaskan pengambilan gambar di depan Istiqlal, satu persatu kita pamit undur diri, karena mengejar urusan dan transportasi yang sudah direncanakan. Sekali lagi, akupun memaklumi.

Kini, tinggallah aku sendiri. Denganmu. Si tukang tidur. Haha... Kita putuskan untuk mencoba jalan-jalan ke Monas. Yah, lumayan bisa dapat keringat, karena meski masih pagi, matahari sudah begitu terik.

Di sana, kita berbagi tentang banyak hal. Banyak sekali. Ingin sekali kurekam obrolan kita dalam ingatanku yang terdalam. Kita bicara tentang jodoh dan pernikahan (topik favorit para bujanghidin). Kita bicara tentang apa saja.

Saat perut mulai protes, kita putuskan kembali ke Istiqlal untuk sarapan. Dan kita kembali masuk ke dalam masjid, seraya berharap tak bertemu lagi dengan ‘satpam jahat’. :D

Ba’da Dhuhur, engkau meneleponku. Menyatakan permintaan maaf dan penyesalanmu karena tak bisa datang untuk mengantar. Tak apa, kubilang. Kami sudah cukup merepotkanmu. Lalu engkau beri arahan, tentang alternatif apa saja yang bisa kami tempuh. Kaujelaskan dengan begitu detail. Sampai aku merasa seperti anak-anak yang tak dibiarkan tersesat di tengah belantara Jakarta. Haha... Sungguh, aku terharu dengan perhatianmu. Ah, ingin sekali kupeluk erat engkau untuk terakhir kalinya, Akh... :’)

Kini, aku dan engkau. Kita melangkah bersama, mencari busway. Di sana, sejenak mengubah logat jadi ‘elu-gue’ ternyata asyik juga. Hahaha... Gokil! :D

Sampai di shelter Senen, kita turun. Subhanallah... Panas begitu menyengat. Kita masih harus berjalan beberapa ratus meter untuk sampai ke stasiun. Alhamdulillah, sampai juga kita dengan selamat di stasiun yang sudah berjubel orang.

Sambil menunggu jam keberangkatan, kita duduk bersama, dan engkau kembali bercerita. Kali ini, tentang hal-hal yang begitu pribadi. Aku pun kembali menyediakan telinga untuk mendengar ceritamu. Juga menajamkan hati, untuk memahami apa yang mengganggu pikiranmu. Lama kita mengobrol, bertukar cerita. Hingga saat sudah naik ke kereta pun, kita masih saling bercerita. Kebersamaan yang begitu indah. :’)

Lagi-lagi, lapar menyerang. Karena lupa tidak beli makanan saat masih di stasiun tadi, aku berinisiatif untuk membeli makan di kereta. Tapi saat bertanya harga, aku urungkan. Mengingat, ternyata, dana tersisa di dompetku tidak cukup untuk membeli dua porsi makanan yang harganya melangit itu. Sambil berharap, semoga di stasiun-stasiun selanjutnya, masih bisa membeli nasi bungkus dengan harga rakyat.

Satu hal mengejutkan pun terjadi. Saat aku tengah mencoba untuk tidur, tiba-tiba ada suara keras, lalu serpihan-serpihan halus ‘menyerang’ku. Segera kututupi  kepala dengan hoodie. Penumpang satu gerbong pun heboh. Tadinya, kukira, lampu di atasku pecah. Nyatanya, ada yang melempari kaca jendela dengan batu besar. Alhamdulillah, tidak ada yang terluka.

Lagi-lagi, aku kasihan padamu. Engkau sedang enak-enak tidur, harus ‘diganggu’ lagi dengan insiden pelemparan kaca. Hehe...

Makin mendekati Solo, perasaan tak ingin berpisah itu semakin menebal. Tapi waktu memang terus berlari. Sampailah akhirnya di Stasiun Solo Jebres. Engkau harus turun. Kita bersalaman dan berpelukan. Sebuah pelukan yang tidak ingin kulepaskan. Sebab kita tidak pernah tahu, akankah kita bersua kembali suatu hari nanti?

Kawan... Tahukah engkau, apa yang menjadi salah satu harapan terbesar dalam hidupku, yang setidaknya bisa aku dapatkan sebelum aku mati? Ukhuwah, Kawan. Ukhuwah yang benar-benar tulus, yang hanya bertemu dan berpisah karena Allah.

Tahukah engkau, saat pertama kali bergabung bersama dalam grup itu, aku sering merasa tidak percaya diri? Engkau, kalian, dalam pandanganku, adalah orang-orang dengan semangat tinggi dalam ber-Islam, orang-orang yang cerdas, yang pandai bergaul dan sebagainya. Aku malu. Aku tidak ada apa-apanya jika harus dibandingkan dengan kalian.

Kadang, aku pun minder soal pendidikan. Apalagi jika sudah ditanya, “Dulu kuliah dimana? Angkatan berapa?” Aku belum pernah merasakan bangku kuliah, Kawan. Keinginan itu ada, tapi Allah belum mengizinkan. Aku sering merasa rendah diri. Aku tak sebanding denganmu dalam strata pendidikan. Aku tak secerdas kalian. Wajar kan, bila merasa minder?

Aku juga tak pernah tergabung dalam organisasi manapun. Aku introvert. Pendiam. Tak mahir bersosialisasi apatah lagi berorganisasi. Itu juga sebabnya kadang aku merasa tidak pantas berada di antara kalian.

Tapi yang kurasakan, kalian tak melihat itu. Karena kita berlomba dalam akhirat, bukan dunia. Uluran persaudaraan itupun kurasakan getar keikhlasannya. Terima kasih, Kawan, telah menjadi penyempurna salah satu harapanku sebelum mati. Meski aku, kita, tak tahu, bilakah kita diizinkan untuk bersua kembali... Jazzakumullah khairan katsira...

Ini tentang jalinan yang kita rajut di udara, lalu membumi dengan Al Quran, dan insya Allah melangit kembali kita bersama...

Takkan kulupakan wajah-wajah penuh senyum; yang tak bisa menyembunyikan ikhlas. Takkan hilang dari ingatan; genggam tangan dan pelukan hangat saat satu persatu melepas pergi.

Ikhwah... Pertemuan itu sangat, sangaaat, singkat. Tapi jadikan ia membekas, hingga jadi tiket pertemuan kita kembali di Jannah-Nya.

Jika kelak tak kaudapati wajahku di sana, maka kumohon, pintalah pada Allah, agar sudi mengumpulkanku bersamamu, para Ahlul Quran. Insya Allah...

Ngawi, 08052014


6 comments :

Wah si tanteh ngasih jempol segala :D

 

Huhu aamiiin ya Rabb

 

kaaaaaaaaaaaaaannggg...
subhanallah..

 

Post a Comment