Bismillahirrahmanirrahim
Di awal kita bersua mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita
Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridha-Nya
Sahabat, tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di surga...
Sigma - Senandung Ukhuwah
Telah kucoba menulis tentangmu, diiringi nasyid 'romantis' dari Sigma.
Tentang pertemuan yang teramat singkat itu. Tapi entah. Jemariku selalu jadi
kaku. Rentetan alur di kepalaku seolah dihadang sebuah tembok. Stuck! Padahal, ingin kuabadikan setiap
momen yang telah kita lalui bersama, meski hanya dalam catatan kecil. Agar tak
hilang begitu saja dari ingatan. Agar tak lekang perasaan itu dalam kenangan.
Pada akhirnya, aku hanya mampu
melakukan flashback singkat. Menekuri
kembali gambar-gambar kebersamaan kita. Dalam kereta, di dalam Istiqlal, di
depan banner, dan lainnya.
Masih jelas dalam memori,
bagaimana tergopohnya engkau saat mengejar kereta. Ada bahagia yang menyeruak
begitu saja saat pertama kali melihat wajahmu secara langsung. Mendengar
suaramu saat bercerita kesana-kemari, mampu mencairkan suasana yang semula
kupikir akan jadi kaku. Ah, sayang, kau pun tertidur usai Magrib. Hehe...
Pulas sekali ya... :D
Lalu, tentang engkau yang lain.
Yang begitu bersemangat melakukan eksekusi penjemputan. Pertama kali pula, kita
bersitatap, bersalaman erat. Hangat. Meski aku masih canggung. Kau coba
menepisnya dengan berkata,
“Gak usah kaku gitu, Akh, sama
ane! Hahaha...”
Aku pun cengar-cengir saja.
Maafkan aku. Aku bukan orang yang mudah cair dan larut dalam pembicaraan dengan
orang yang baru kutemui. Mungkin itu terbawa saat berinteraksi pertama kali
denganmu. Lagipula, dulu aku membayangkanmu adalah orang yang sudah berusia 30
tahun lebih. Hahaha...
Lalu, di sore itu, saat berbagai
rangkaian acara usai, kau, aku, kita semua, berkumpul bersama. Akhirnya.
Setelah seharian penuh kita berusaha saling jumpa, namun takdir Allah belum
mengizinkannya.
Kutemui wajah-wajahmu yang lain.
Ada engkau yang berwajah ceria, yang sudah kutemui saat aku menukar kupon makan
siang. Ada engkau sang pengantin baru, yang sering kujapri diam-diam. Ada
engkau yang benar-benar baru kuketahui wajahmu. Dan ada engkau, sang panutan
dalam grup, yang dulu begitu bersemangat menggerakkan grup ini. Masya Allah...
Difoto dulu oleh Kang Admin :D
Kita abadikan gambar kita.
Sekadar mengukuhkan ukhuwah itu. Kita saling bertukar pikiran. Saling mengobrol
ke sana kemari. Lalu tertawa bersama. Indah ya? Seakan tak ingin aku berpisah
denganmu, Kawan.
Biar kelihatan Istiqlal-nya :D
Di 'red carpet' One Day One Juz :D
Sayang, semuanya begitu singkat.
Teramat singkat. Saat itu, aku ingin protes terhadap waktu. Mengapa ia tak
istirahat saja sejenak? Sayang, ia hanya patuh pada Rabbnya, yang
memerintahkannya untuk terus berlari. Tapi itu justru makin membuat perjumpaan
ini terasa begitu istimewa. Apa itu juga yang kaurasakan?
Lalu, satu persatu kita memohon
diri. Ditunggu istri, ataupun karena sudah terlalu sore. Aku memaklumi.
Sungguh. Meski berat rasanya berpisah. Meski seakan tak ingin kulepaskan tautan
tangan dan pelukan. Tapi urusan masing-masing harus terus berjalan.
Pada akhirnya, tinggallah aku
denganmu. Engkau yang hampir seharian itu tak bersamaku. Dan engkau yang
kutemui dan kukenal di kereta, yang seharian itu selalu bersama-sama.
Tinggallah kita bertiga. Berharap bisa mengistirahatkan mata dan badan malam
ini di dalam masjid kebanggaan masyarakat Indonesia.
Aduh... adegan selanjutnya,
adalah adegan paling ‘sadis’ dalam perantauan kita. Haha... Seorang satpam
tiba-tiba datang, dan menginstruksikan pada kita untuk segera meninggalkan
masjid, karena masjid akan ditutup. Aku kasihan melihat engkau berdua, yang
telah tertidur pulas, kini harus membereskan barang-barang dan berjalan keluar
dengan mata yang masih merah.
Qadarallah, masya Allah, Allah
memberi hikmah dari ‘adegan pengusiran’ itu. Kutemui wajah-wajah lain yang juga
‘terusir’. Banyak sekali. Satu persatu engkau memperkenalkan diri, menyebutkan
biodata singkat dan padat. Kita gelar banner di trotoar depan masjid, lalu kita
saling mengobrol, bertukar info dan pengalaman.
Sedikit gambaran suasana di sepanjang trotoar kenangan :D
Ada engkau yang selalu kudengar
nada cemas saat mengirimiku pesan. Perasaan tidak enak dan kecemasan itu juga
kurasakan dari suaramu. Sudahlah, kubilang, kau tidur saja, bukankah kau juga
lelah di hari selarut itu? Tak usah memikirkan aku dan yang lainnya di sini.
Kami sudah cukup bahagia bisa merebahkan badan sejenak di trotoar ini. Izinkan
ini menjadi bekal pengalaman, yang tak akan pernah kami lupakan hingga nanti.
Biarkan ini menjadi bibit-bibit cerita, yang akan diperdengarkan pada saudara-saudara
yang lain.
Yah, meski kuakui, aku kesulitan
untuk tidur, karena nyamuk Istiqlal ternyata sangat ganas. Hahaha... Herannya,
engkau yang di sebelahku, sudah bisa tertidur sangat pulas sejak tadi, dan baru
bangun saat gerbang kembali dibuka (itupun karena aku bangunkan). Padahal,
banyak sekali nyamuk yang mengerubungi kakimu. Luarrr biasa! Hahaha... Ah,
setidaknya, aku juga sudah sempat menyambangi alam mimpi, meski sebentar
sekali. Itu sudah cukup. Karena selanjutnya aku sudah tidak bisa tidur lagi.
Lalu, saat mentari mulai naik,
kutemui engkau; seorang pensiunan polisi, yang rela pensiun dini demi mendalami
Islam dan demi dakwah. Karena, menurutmu, dakwah dari luar lebih bisa diterima,
daripada dakwah dari dalam. Subhanallah... Sungguh, banyak pelajaran yang bisa
kuambil darimu, Eyang...
Sayang, pertemuan dan kebersamaan
yang begitu singkat itupun harus berakhir. Usai menuntaskan pengambilan gambar
di depan Istiqlal, satu persatu kita pamit undur diri, karena mengejar urusan
dan transportasi yang sudah direncanakan. Sekali lagi, akupun memaklumi.
Kini, tinggallah aku sendiri.
Denganmu. Si tukang tidur. Haha... Kita putuskan untuk mencoba jalan-jalan ke
Monas. Yah, lumayan bisa dapat keringat, karena meski masih pagi, matahari
sudah begitu terik.
Di sana, kita berbagi tentang
banyak hal. Banyak sekali. Ingin sekali kurekam obrolan kita dalam ingatanku
yang terdalam. Kita bicara tentang jodoh dan pernikahan (topik favorit para
bujanghidin). Kita bicara tentang apa saja.
Saat perut mulai protes, kita
putuskan kembali ke Istiqlal untuk sarapan. Dan kita kembali masuk ke dalam
masjid, seraya berharap tak bertemu lagi dengan ‘satpam jahat’. :D
Ba’da Dhuhur, engkau meneleponku.
Menyatakan permintaan maaf dan penyesalanmu karena tak bisa datang untuk
mengantar. Tak apa, kubilang. Kami sudah cukup merepotkanmu. Lalu engkau beri
arahan, tentang alternatif apa saja yang bisa kami tempuh. Kaujelaskan dengan
begitu detail. Sampai aku merasa seperti anak-anak yang tak dibiarkan tersesat
di tengah belantara Jakarta. Haha... Sungguh, aku terharu dengan perhatianmu. Ah,
ingin sekali kupeluk erat engkau untuk terakhir kalinya, Akh... :’)
Kini, aku dan engkau. Kita melangkah
bersama, mencari busway. Di sana, sejenak mengubah logat jadi ‘elu-gue’
ternyata asyik juga. Hahaha... Gokil! :D
Sampai di shelter Senen, kita
turun. Subhanallah... Panas begitu menyengat. Kita masih harus berjalan
beberapa ratus meter untuk sampai ke stasiun. Alhamdulillah, sampai juga kita
dengan selamat di stasiun yang sudah berjubel orang.
Sambil menunggu jam
keberangkatan, kita duduk bersama, dan engkau kembali bercerita. Kali ini, tentang
hal-hal yang begitu pribadi. Aku pun kembali menyediakan telinga untuk
mendengar ceritamu. Juga menajamkan hati, untuk memahami apa yang mengganggu
pikiranmu. Lama kita mengobrol, bertukar cerita. Hingga saat sudah naik ke
kereta pun, kita masih saling bercerita. Kebersamaan yang begitu indah. :’)
Lagi-lagi, lapar menyerang.
Karena lupa tidak beli makanan saat masih di stasiun tadi, aku berinisiatif
untuk membeli makan di kereta. Tapi saat bertanya harga, aku urungkan.
Mengingat, ternyata, dana tersisa di dompetku tidak cukup untuk membeli dua
porsi makanan yang harganya melangit itu. Sambil berharap, semoga di
stasiun-stasiun selanjutnya, masih bisa membeli nasi bungkus dengan harga
rakyat.
Satu hal mengejutkan pun terjadi.
Saat aku tengah mencoba untuk tidur, tiba-tiba ada suara keras, lalu
serpihan-serpihan halus ‘menyerang’ku. Segera kututupi kepala dengan hoodie. Penumpang satu gerbong
pun heboh. Tadinya, kukira, lampu di atasku pecah. Nyatanya, ada yang melempari
kaca jendela dengan batu besar. Alhamdulillah, tidak ada yang terluka.
Lagi-lagi, aku kasihan padamu.
Engkau sedang enak-enak tidur, harus ‘diganggu’ lagi dengan insiden pelemparan
kaca. Hehe...
Makin mendekati Solo, perasaan
tak ingin berpisah itu semakin menebal. Tapi waktu memang terus berlari.
Sampailah akhirnya di Stasiun Solo Jebres. Engkau harus turun. Kita bersalaman
dan berpelukan. Sebuah pelukan yang tidak ingin kulepaskan. Sebab kita tidak
pernah tahu, akankah kita bersua kembali suatu hari nanti?
Kawan... Tahukah engkau, apa yang
menjadi salah satu harapan terbesar dalam hidupku, yang setidaknya bisa aku
dapatkan sebelum aku mati? Ukhuwah, Kawan. Ukhuwah yang benar-benar tulus, yang
hanya bertemu dan berpisah karena Allah.
Tahukah engkau, saat pertama kali
bergabung bersama dalam grup itu, aku sering merasa tidak percaya diri? Engkau,
kalian, dalam pandanganku, adalah orang-orang dengan semangat tinggi dalam
ber-Islam, orang-orang yang cerdas, yang pandai bergaul dan sebagainya. Aku malu. Aku tidak ada apa-apanya jika harus dibandingkan dengan
kalian.
Kadang, aku pun minder soal
pendidikan. Apalagi jika sudah ditanya, “Dulu kuliah dimana? Angkatan berapa?”
Aku belum pernah merasakan bangku kuliah, Kawan. Keinginan itu ada, tapi Allah
belum mengizinkan. Aku sering merasa rendah diri. Aku tak sebanding denganmu
dalam strata pendidikan. Aku tak secerdas kalian. Wajar kan, bila merasa
minder?
Aku juga tak pernah tergabung dalam organisasi manapun. Aku introvert. Pendiam. Tak mahir bersosialisasi apatah lagi berorganisasi. Itu juga sebabnya kadang aku merasa tidak pantas berada di antara kalian.
Tapi yang kurasakan, kalian tak
melihat itu. Karena kita berlomba dalam akhirat, bukan dunia. Uluran
persaudaraan itupun kurasakan getar keikhlasannya. Terima kasih, Kawan, telah
menjadi penyempurna salah satu harapanku sebelum mati. Meski aku, kita, tak
tahu, bilakah kita diizinkan untuk bersua kembali... Jazzakumullah khairan katsira...
Ini tentang jalinan yang kita rajut di udara, lalu membumi dengan Al
Quran, dan insya Allah melangit kembali kita bersama...
Takkan kulupakan wajah-wajah penuh senyum; yang tak bisa menyembunyikan ikhlas. Takkan hilang dari ingatan; genggam tangan dan pelukan hangat saat satu persatu melepas pergi.
Ikhwah... Pertemuan itu sangat, sangaaat, singkat. Tapi jadikan ia membekas, hingga jadi tiket pertemuan kita kembali di Jannah-Nya.
Jika kelak tak kaudapati wajahku di sana, maka kumohon, pintalah pada Allah, agar sudi mengumpulkanku bersamamu, para Ahlul Quran. Insya Allah...
Ngawi, 08052014








6 comments :
jempol
Wah si tanteh ngasih jempol segala :D
Huhu aamiiin ya Rabb
kaaaaaaaaaaaaaannggg...
subhanallah..
aamiin...
dalem kang jufri? :)
Post a Comment