Bismillahirrahmanirrahim
She’s a month now! Masha
Allah!
Sama sekali gak terasa, bahwa
ternyata dia sudah satu bulan ada di dunia ini. Waktu terasa cepat banget
berlalu.
Rasanya, seperti baru kemarin saat saya dan istri berkunjung ke dokter kandungan untuk pertama kalinya pada malam tahun baru, dan mendapati hasil kandungan yang masih kosong. Rasanya juga baru saja, saat saya mulai merasakan repot karena istri sering mual-muntah gak karuan sampai usia kandungannya 4 bulan.
Actually, saya pengen banget dari kemarin-kemarin itu nulis di blog
ini, sekadar ‘mengabadikan’ momen-momen kehamilan istri saya dalam tulisan.
Tapi emang sayanya yang pemalas, akhirnya blog ini pun terbengkalai selama
ratusan tahun.
Pun saat anak saya lahir,
pengennya segera nulis, posting ke blog. Kenyataannya, pasca kelahiran adalah
saat-saat paling repot dan paling melelahkan tapi menyenangkan, hingga satu
bulanan ini. Kalau saya gak bertekad kuat untuk nulis, mungkin selamanya saya
gak akan nulis lagi. Bahkan opsi untuk menonaktifkan blog sudah pernah terpikir
di otak saya.
Alhamdulillah, mungkin ini hidayah dari Allah. Bahwa saya harus
kembali menulis. Meski saat menulis tulisan pertama saya, tahu-tahu aja anak
saya udah usia 1 bulan. Kece kan masa hibernasi saya yang ratusan tahun itu?
-_-
Anak saya lahir pada tanggal 8
September 2015 kemarin, jam 22.40. Lahir normal di rumah Bu Bidan. Saya turut
membantu istri saat ia mulai mengejan untuk melahirkan anak kami. Proses
mengejan berjalan selama kurang lebih satu setengah jam. Saya sampai harus
membantu mendorong dari atas supaya anak kami lekas bisa menghirup udara dunia.
Tak disangka, ternyata di leher
bayi saya ada lilitan tali pusat. Sesuatu yang sama sekali gak kelihatan waktu
USG di Obgyn. Setelah lilitan dilepas oleh Bu Bidan, beliau pun menarik
perlahan tubuh anak saya. Masya Allah…
pertama kali saya melihatnya. Badannya putih, bersih, dengan bibir merah
merekah. Cantik sekali.
IMD segera akan dilakukan. Tapi,
bayi saya belum menangis! Saya sudah sangat khawatir. Bu Bidan masih berusaha
ngasih bantuan dengan alat entah apa namanya. Yang pada akhirnya, terdengarlah
tangisan singkat dari bayi saya. Alhamdulillah,
walau tangisnya hanya sebentar, seenggaknya paru-parunya sudah bekerja dengan
baik.
Sementara bayi saya ada di dada Mamanya,
dan Bu Bidan sibuk memotong tali pusatnya, saya kumandangkan adzan di telinga
kanan, dan iqamah di telinga kiri bayi saya. Iya, saya termasuk orang yang
memegang pendapat bahwa ini termasuk amalan yang baik.
Alhamdulillah, saya benar-benar lega, saat bayi saya mulai membuka
mata. Saat melihat dada dan perutnya naik turun karena mengikuti gerakan
napasnya.
Di hari ke-7, dengan menyebut
nama Allah, saya aqiqahkan dia. Karena orangnya gak mau ribet, maka saya pakai
saja jasa aqiqah yang ada di Madiun. Dan alhamdulillah
saya puas dengan hasilnya. Di hari ke-7 ini, ada beberapa sunnah yang sebaiknya
dilakukan oleh orang tua bayi;
- · Menyembelih kambing. Dua ekor kambing untuk anak laki-laki, dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Tapi kalau gak mampu, anak laki-laki disembelihkan satu ekor kambing pun sudah sah.
- · Mencukur rambut. Kebiasaan masyarakat kita, rambut bayi hanya dipotong sedikit, sebagai ‘syarat’ saja. Padahal, kalau membaca nash hadits, hendaknya dicukur bersih. Karena rambut bayi itu rambut kotor, dan sekaligus untuk menguatkan kulit kepalanya. Sayangnya, karena istri dan saya eman-eman dengan rambut bayi kami yang bagus dan lebat, kami pun hanya memotong sebagiannya. Selain itu tentunya karena emang saya sendiri belum berani kalau harus mencukur habis rambut bayi yang kepalanya masih belum keras itu.
- · Mentahnik. Sebutir kurma dikunyah halus, kemudian usapkan kunyahan itu ke tempat tumbuhnya gigi dan ke langit-langit mulut, seraya didoakan.
- · Bershadaqah senilai timbangan rambut. Nah, ini dia. Harusnya rambut bayi dicukur habis di hari ke-7, kemudian ditimbang, lalu dikonversikan dengan harga emas/perak. Nilai itulah yang kita shadaqahkan. Mungkin ini sunnah yang paling dilupakan pada saat pelaksanaan aqiqah.
- · Memberi nama yang baik. Aturan pemberian nama dalam Islam, ada dua. Pertama, saat bayi baru dilahirkan, langsung diberi nama. Atau yang kedua, pemberian nama dilakukan pada hari ke-7 kelahirannya. Saat bayi saya lahir, sebenarnya saya sudah memberi dia nama. Hanya saja belum saya umumkan ke keluarga dan orang lain.
Kalau gak bisa melaksanakan semua
sunnahnya, ya jangan pula ditinggalkan semuanya. Lakukan yang bisa dilakukan.
Berusaha semaksimal mungkin menghidupkan sunnah Rasulullah. Tapi berhubung
moment penggundulannya udah lewat, ya udah saya sih gapapa. Beberapa hari ke
depan insya Allah juga bakalan saya
gundul kok nih kepala bocah. Tepatnya bukan saya sih yang ngegundul. Saya tetep
gak berani lah. :v
Ini dia anak pertama yang Allah
amanahkan ke saya. A baby girl! Saya
beri dia nama; Ayesha Radhwa Ameruleya. Seorang perempuan yang penuh
keridhaan, anaknya si Amerul. Hahaha… Biarlah di dunia nyata saya gak pakai
nama Amerul, tapi nama pena itu tersemat abadi pada anak saya. Haha… xD
Foto pertama dia, diambil pada
pagi hari setelah kelahiran dia.
Yang ini adalah foto terakhir
dia, saat usianya sudah 1 bulan.
Daddy really loves you, Nak… Tumbuh jadi anak yang shalihah ya, yang sami’na wa atha’na pada perintah Allah dan Rasul-Nya, yang berbakti
pada kedua orang tuanya, yang cerdas dan menebar manfaat bagi sesama…. ^_^
Magetan, 101015


0 comments :
Post a Comment