Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Mereka Pergi Satu Persatu



Bismillahirrahmanirrahim


Kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang berjiwa pasti akan mengalami mati. Begitulah sunnatullah. Tidak mungkin kita mengelak dari kematian. Ia tidak akan bisa kita hindari, meski kita berlindung di balik benteng yang tinggi dan tebal sekalipun. Ia tidak akan bisa dimajukan, ataupun dimundurkan. Setiap kita, ‘dihantui’ oleh limit kehidupan itu. Tidak bisa tidak.


Baru kemarin pagi, saat sahur, tiba sebuah kabar duka. Seorang sahabat baik istri saya meninggal, setelah sebelumnya sakit, hingga dinyatakan koma. Ternyata takdir berkata lain. Saat orang lain tengah sahur, ia justru meninggalkan dunia yang fana ini menuju keabadian.


Lalu pagi ini, baru saja saya duduk di kursi, sebuah pesan singkat dari Bapak masuk ke hape.

“Ki mas anang meninggal.”

Innalillahi wa innailaihi raji’un…. Langsung saya gemetar, dan memutuskan untuk izin pulang ke Ngawi.

Mas Anang adalah sepupu saya, putra pertama dari Budhe, Mbaknya Ibu saya. Sudah beberapa bulan ini terbaring sakit. Terakhir saya menjenguk, tubuhnya sudah kurus kering dengan perut yang membesar. Dia sudah tidak mau lagi berobat ke rumah sakit. Katanya, sakitnya makin parah setelah sebelumnya dirawat di sebuah rumah sakit swasta ternama di Ngawi. Dan ternyata, pagi ini, Allah memanggilnya.

Setelah sebelumnya, Mbak Ti (ibunya Ibu saya), berpulang lebih dulu. Belum ada tiga bulan sejak kepergian Mbah. Kini sudah pergi lagi satu kerabat dekat. Lebaran nanti akan benar-benar berbeda dari sebelum-sebelumnya. Karena ada dua orang yang biasanya selalu ada saat berkumpul di rumah Mbah, yang sudah berpulang terlebih dahulu.

Sebelum kepergian Mbah, terlebih dahulu, Ibu mertua saya juga berpulang tahun lalu. Padahal saya belum sempat mengenal beliau lebih jauh, karena pasca pernikahan saya, sakit beliau justru bertambah parah, hingga akhirnya tiada.

Seminggu sebelum ibu mertua saya, ada pula tetangga saya yang selama ini dekat dengan keluarga saya, juga dipanggil lebih dulu oleh-Nya.

Begitu banyak orang-orang yang dekat dengan saya, harus berpulang satu persatu dalam waktu kurang dari satu tahun. Membuat saya terhenyak, saya pun, bisa Dia panggil kapanpun Dia mau.

Ah, kematian, begitu dekat dengan kita. Lalu setelah itu, ada masa di dalam kubur yang tidak kita tahu, bisakah kita melewatinya dengan selamat ataukah penuh siksa. Setelahnya, ada pengadilan Allah yang seadil-adilnya untuk menentukan nasib kita selanjutnya. Apakah masuk ke dalam ahli surga, ataukah ahli neraka. Sebegitu dekat kita dengan pemutus kenikmatan, lantas kita masih sibuk mengejar dunia yang hanya sebentar saja?

Wallahul musta’an….

Ngawi, 200615

0 comments :

Post a Comment