Bismillahirrahmanirrahim
Kullu nafsin dzaiqatul maut, setiap yang berjiwa pasti akan
mengalami mati. Begitulah sunnatullah. Tidak mungkin kita mengelak dari
kematian. Ia tidak akan bisa kita hindari, meski kita berlindung di balik
benteng yang tinggi dan tebal sekalipun. Ia tidak akan bisa dimajukan, ataupun
dimundurkan. Setiap kita, ‘dihantui’ oleh limit kehidupan itu. Tidak bisa
tidak.
Baru kemarin pagi, saat sahur,
tiba sebuah kabar duka. Seorang sahabat baik istri saya meninggal, setelah
sebelumnya sakit, hingga dinyatakan koma. Ternyata takdir berkata lain. Saat
orang lain tengah sahur, ia justru meninggalkan dunia yang fana ini menuju
keabadian.
Lalu pagi ini, baru saja saya
duduk di kursi, sebuah pesan singkat dari Bapak masuk ke hape.
“Ki mas anang meninggal.”
Innalillahi wa innailaihi raji’un…. Langsung saya gemetar, dan
memutuskan untuk izin pulang ke Ngawi.
Mas Anang adalah sepupu saya,
putra pertama dari Budhe, Mbaknya Ibu saya. Sudah beberapa bulan ini terbaring
sakit. Terakhir saya menjenguk, tubuhnya sudah kurus kering dengan perut yang
membesar. Dia sudah tidak mau lagi berobat ke rumah sakit. Katanya, sakitnya
makin parah setelah sebelumnya dirawat di sebuah rumah sakit swasta ternama di
Ngawi. Dan ternyata, pagi ini, Allah memanggilnya.
Setelah sebelumnya, Mbak Ti
(ibunya Ibu saya), berpulang lebih dulu. Belum ada tiga bulan sejak kepergian
Mbah. Kini sudah pergi lagi satu kerabat dekat. Lebaran nanti akan benar-benar
berbeda dari sebelum-sebelumnya. Karena ada dua orang yang biasanya selalu ada
saat berkumpul di rumah Mbah, yang sudah berpulang terlebih dahulu.
Sebelum kepergian Mbah, terlebih
dahulu, Ibu mertua saya juga berpulang tahun lalu. Padahal saya belum sempat
mengenal beliau lebih jauh, karena pasca pernikahan saya, sakit beliau justru
bertambah parah, hingga akhirnya tiada.
Seminggu sebelum ibu mertua saya,
ada pula tetangga saya yang selama ini dekat dengan keluarga saya, juga
dipanggil lebih dulu oleh-Nya.
Begitu banyak orang-orang yang
dekat dengan saya, harus berpulang satu persatu dalam waktu kurang dari satu
tahun. Membuat saya terhenyak, saya pun, bisa Dia panggil kapanpun Dia mau.
Ah, kematian, begitu dekat dengan
kita. Lalu setelah itu, ada masa di dalam kubur yang tidak kita tahu, bisakah
kita melewatinya dengan selamat ataukah penuh siksa. Setelahnya, ada pengadilan
Allah yang seadil-adilnya untuk menentukan nasib kita selanjutnya. Apakah masuk
ke dalam ahli surga, ataukah ahli neraka. Sebegitu dekat kita dengan pemutus
kenikmatan, lantas kita masih sibuk mengejar dunia yang hanya sebentar saja?
Wallahul musta’an….
Ngawi, 200615

0 comments :
Post a Comment