Bismillahirrahmanirrahim
Mencintaimu seperti merasakan pagi. Semula dingin, lalu berangsur hangat ditemani cahaya fajar yang mulai mengintip. Jangan kamu tanya mengapa cinta itu bisa hadir. Saya pun tidak tahu. Dan tidak mau tahu. Yang saya tahu, saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu. Pasti akan begitu sulit.
Tahukah kamu, saya sulit melepaskan senyum manja kamu? Atau, wajah merona yang kamu hadirkan ke hadapan saya. Atau, terkadang sentuhan kamu ke pundak ataupun punggung saya saat kamu sedang gemas pada saya.
Tahukah kamu, berjalan beriringan denganmu di sepanjang jalur rel saat senja itu, adalah saat paling membahagiakan dalam perjalanan kereta hidup saya? Kita hanya beriringan. Tanpa bergandeng tangan. Tapi kamu terus bercerita. Saya bahagia mendengarkan suara kamu. Saya senang melihat binar di mata kamu yang seperti bintang utara. Ah, apa saya bilang tadi? Bintang utara? Bahkan saya tidak pernah tahu apa itu bintang utara. Ah, abaikan saja kata-kata saya ini.
Senja saat itu begitu emas. Entah refleks dari mana, kamu perlahan merapat ke saya, lalu merangkulkan tanganmu ke lengan saya. Saya diam, tanpa menunjukkan padamu bahwa dada saya bergetar hebat. Bahwa saya lemas seketika itu. Untung saja kamu tidak melihat muka saya, karena pasti kamu akan tertawa cekikikan begitu melihat muka saya yang berekspresi aneh.
Tahukah kamu, duduk berdua denganmu di peron stasiun sore itu, adalah saat paling hitam dalam perjalanan lokomotif hidup saya? Bukan karena saya harus pergi jauh, meninggalkan kamu sendiri di kampung kecil romantis itu. Bukan pula karena saya melihat kamu berusaha mengulum senyum ketika merapat pada saya. Tapi karena ketika saya beranjak, kamu menahan tangan saya.
“Kamu percaya airmata tak pernah kering?” katamu.
Saya tidak mengerti. Bukankah airmata selalu bisa kering? Airmata kamu jatuh, lalu menguap, dan kering seperti air pada umumnya. Bukankah begitu?
“Kamu percaya mawar hitam memerangkap airmata?”
Mawar tak ada yang berwarna hitam. Kamu pasti bercanda.
“Simpanlah ini.” Kamu serahkan sebuah benda pada saya. Seperti mawar. Tapi… hitam. Ada yang aneh dari mawar hitam itu. Ia segar. Tidak layu. Ada butiran-butiran air di sekitar mahkotanya yang merekah.
“Aku sudah menyiraminya dengan airmataku. Kamu akan selalu tahu bahwa aku merindukanmu, karena rindukulah yang membuatnya tetap segar.”
Saya tersenyum. Sedikit kikuk, dan aneh dengan sikap kamu. Tapi saya tidak bisa terlalu lama berpikir. Kereta saya akan pergi. Saya harus pergi. Hidup tanpa melihat kamu secara nyata. Ah, saat itu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa kamu. Saya pun pergi. Dari balik kaca jendela kereta, saya masih menatap kamu yang melambai lemah. Tubuh saya pun melemah.
Beberapa hari, beberapa bulan, beberapa tahun, saya tinggal di negeri bersalju putih. Diiringi sonata yang lembut yang menerbangkan angan saya, padamu. Lalu, saya ingat, sudah dua bulan saya tidak menengok mawar pemberianmu. Apakah masih sama? Karena saya sendiri heran dan takjub, sudah hampir tiga tahun dan mawar itu masih segar. Masih ada titik-titik air bening di kelopak dan mahkotanya. Warnanya pun masih hitam. Hanya saja, tangkainya mulai mengering.
Saya tergesa, membuka kotak tempat mawar itu saya simpan. Saya tertegun. Mawar itu… berubah cokelat. Dan layu. Tak ada titik-titik serupa embun di mahkotanya. Tak ada hitam pekat yang selama ini saya lihat di sana. Tak ada lagi airmatamu… Saya diam. Airmata saya jatuh, perlahan. Satu titik. Dua titik. Hanya itu.
Ah, yang pasti, mencintaimu masih saja seperti pagi. Dan akan selalu seperti itu. Bagi saya. Entah bagimu, saya tidak tahu.
Ngawi, 270611

8 comments :
misi2...hehehe...
tulisannya bagus,cuma bisa komentar gitu :-)
mbak eni: monggo monggo, pinarak riyin.. :D
adelia: makaseh...
tiba-tiba gerimis :)
dan saya pun hujan... kehujanan ding. hehe.. xD
Salam kenal..^^
Ini tulisan kamu yg paling sya suka..
salam kenal juga. wahhh... makasih sudah mampir2
^^
bagus tulisannya, kata-katanya manis.....
salam kenal ya..
Post a Comment