Bismillahirrahmanirrahim
Apa yang sudah kamu lakukan pada saya? Sejak mengenal kamu, hari murung saya selalu penuh dengan tawa. Minimalnya, sekadar senyuman kecil.
Sejauh ingatan saya, kita hanya berbagi canda. Berbagi tawa. Berbagi bahagia. Kamu senang mengirimi saya kata-kata yang selalu membuat bibir saya melengkung, bahkan sakit perut menahan tawa. Kamu terlihat puas ketika berhasil membuat muka saya memerah.
Saya masih ingat, kamu berlari dari belakang, menyenggol bahu saya, lalu berbalik menghadap saya. Kamu julurkan lidah kamu. Kamu mengejek saya. Saya tersenyum, mengejar kamu yang sudah berlari seperti kuda. Ya, larimu seperti kuda. Bahkan saya tidak pernah bisa menyaingi larimu ketika saya tantang kamu balap lari bersama.
Gerimis itu, kita terjebak di halte. Kendaraan tak juga kunjung lewat di depan kita. Kamu menepuk bahu saya.
“Jalan kaki. Berani?” Kamu menantang saya.
Saya amati gerimis. Masih kecil-kecil memang. Tapi saya rentan. Saya mudah…
“Huhhh… Cemen!” Tanpa saya sadari, kamu sudah berlari di trotoar, di tengah gerimis yang masih deras.
“Heh, balapan sampai halte depan!” Kamu berteriak. Astaga! Kamu sudah ada beberapa puluh meter dari tempat saya berdiri.
Ah, saya tak mau lagi terlalu banyak berpikir. Saya terobos gerimis kecil-kecil yang sudah berubah jadi hujan. Mengejar kamu. Mengejar sesuatu dalam diri kamu. Entah apa.
Napas saya terengah-engah, kamu tertawa. Saya kedinginan. Kamu masih tertawa.
“Hei!” Kamu ciprati muka saya dengan air hujan. Bibir saya membiru. Gemetar. Kamu masih tersenyum lebar.
Lagi, kamu ciprati muka saya. Rasa dingin itu menguar. Saya akan membalas kamu. Di bawah emper toko, saya cipratkan air yang deras itu ke kepala kamu. Kamu histeris. Tertawa. Lepas. Bahagia. Kamu tahu kan bahwa saya benci hujan? Tapi kali ini, hujan memberi saya rasa yang lain. Saya tidak tahu apa itu.
Esoknya, saya sakit. Sejak itu kamu tahu bahwa saya tidak terlalu suka hujan. Kamu datang, meminta maaf. Saya melihat tulus itu jatuh dari mata kamu. Bening. Seperti mata air yang jatuh dari atas tebing. Namun sejuk.
Kita pun pernah terjebak dalam hujan, di sebuah taman rindang. Untung saja ada tempat untuk kita berteduh, karena kamu tidak lagi berani mengajak saya menerobos hujan. Di sana, saya melihat kamu terdiam. Mengamati asap yang muncul ketika titik-titik hujan itu jatuh mengenai lampu taman. Kamu seakan menikmati melody yang diciptakan gemericik hujan. Tenang saja, kelak, saya akan membuatkan sebuah sonata untuk kamu. Mungkin akan saya beri judul, Rain Sonata. Tidak kreatif ya?
Saya membayangkan kamu akan duduk di samping saya. Melihat saya memainkan piano berupa sonata-sonata hujan. Di sebuah ruang temaram bercahaya lilin, dan iringan gerimis tipis di luar sana. Saya akan menarikan jari saya di atas tuts-tuts piano. Dan kamu pun terkesima. Kamu menatap mata wajah saya, dan saya kikuk. Ah, sayang, saya tidak kapan itu akan terjadi. Karena sampai sekarang saya belum bisa memainkan piano. Menyentuhnya pun belum pernah. Jadi, lupakan saja bayangan saya itu.
Saya memandang kamu. Masih diam bertopang dagu. Rambut kamu yang tidak ditata, tak beraturan ke sana kemari, sedikit basah karena cipratan hujan. Sepertinya hujan masih akan lama. Kita tidak mungkin semalaman di taman ini.
Saya berdiri, keluar dari tempat kita berteduh. Berada tepat di bawah hujan yang mengguyur saya. Kamu terkejut.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa sakit!” Kamu berseru.
Saya justru tersipu. Raut wajah kamu mengatakan bahwa kamu sangat khawatir dengan saya. Saya hanya diam. Menengadahkan satu tangan, mengumpulkan air hujan di sana. Saya melirik kamu yang gelisah, lalu saya lemparkan air itu ke wajah kamu.
“Kamu bisa sakit! Cepat ke sini!”
Sekali lagi, saya lempari wajah kamu dengan air hujan. Saya tertawa melihat ekspresi kamu yang mendadak aneh. Sangat lucu.
“Kamu…” Sebelum kamu menyelesaikan kata-katamu, saya tarik lengan kamu, ke bawah hujan. Berlari di sepanjang jalan setapak kecil di taman itu.
“Bukannya kamu membenci hujan?”
Saya tatap mata kamu. Binar itu lucu. Tampak sangat ingin mendapatkan jawaban. Haruskah saya jawab sekarang?
Bibir saya masih terkatup. Diam. Tapi asal kamu tahu, saya tidak lagi membenci hujan sejak hari itu. Saya menyukai gerimis. Saya mencintai hujan. Seperti saya mencintai kamu. Meski hanya diam.
Ngawi, 280611

6 comments :
keselek, hahaha
cieeee... cieeeee, kau suka sama siapa sih? XD
suka sama si hujan
xD
saya lupa kapan pertama kalinya saya suka hujan
(_ _")
yang pasti sudah jauh jauh hari sekali sebelum kau mengenal Rain! xD
Baca postingan ini sambil dengar lagu Sparks Fly-nya Taylor Swift. Meriding.
Bagian favoritku waktu di guyuran hujan itu ketika 'kamu' bilang 'saya' cemen... Lalu 'saya' mengejar...
"Saya tak mau lagi terlalu banyak berpikir. Saya terobos gerimis kecil-kecil yang sudah berubah jadi hujan. Mengejar kamu. Mengejar sesuatu dalam diri kamu." <-- paragraf favorit
eh, bentar2, saya baru nyadar lho kalo di postingan ini ada salah ketik (ada kata2 yg belum dimasukkan). O.o
anyway, makasih udah mampir. :D
Post a Comment