Bismillahirrahmanirrahim
Friends. What are you thinkin’ about that word? A
lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you
need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?
Saya lupa, dulu saya pernah nulis
ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini,
saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang,
dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin
sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.
Iya, saya jadi sadar, bahwa
nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran
facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran
satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah
kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah.
Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja,
saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan
berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren
di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di
warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang
saya tempati.
Saat orang-orang bercerita,
mereka sudah pernah ke tempat A, berwisata ke B, jalan-jalan ke C, dan
sebagainya, saya hanya bisa diam sambil melongo, merutuki betapa menyedihkannya
saya. Lagian, mau kemana-mana juga mau sama siapa? Teman? Saya gak punya teman
di lingkungan rumah saya. Puas? Teman-teman yang saya sebutkan di
lingkaran-lingkaran tadi, minimal jarak rumahnya adalah sekitar setengah jam
perjalanan dari rumah saya. Keren kan?
Introvert
Saya bahkan sudah lupa, sejak
kapan saya kenal kata itu. Introvert.
Terdengar ‘mengerikan’ gak? Karena, diakui atau enggak, memang masih banyak
sekali orang yang menganggap, bahwa menjadi seorang introvert itu adalah sebuah
‘kesalahan’.
Lalu, apa hubungannya dengan kata
‘friends’ yang saya tulis sejak awal tulisan ini? Tentu saja ada.
Saya seorang introvert. Bagaimana
bisa saya mengambil konklusi seperti itu? Oke, silakan cari definisi dan ciri
seorang introvert. Tanya Mbah Gugel saja, karena sudah banyak sekali tulisan
tentang kepribadian yang bertebaran di internet.
Saya seorang yang pemalu dan
pendiam. Bagi mereka yang hanya mengenal saya sebatas di dunia maya, mungkin
gak begitu merasakan ini. Tapi bagi mereka yang berinteraksi langsung di dunia
nyata, akan sangat tahu bagaimana karakter saya. Bahkan di rumah saja, saya
juga lebih memilih diam kalau memang gak ada yang harus saya bicarakan.
Saya bukan seorang yang
anti-sosial, yang benar-benar menghindar dari hingar bingar kehidupan sosial.
Saya tetap manusia normal, manusia biasa, yang masih membutuhkan orang lain.
Hanya saja, saya sangat selektif memilih teman. Nah, ini dia. Friends. Betapa selektifnya saya, hingga
jika saya hitung, jumlah mereka yang benar-benar bisa ‘masuk’ dan ‘klik’ dengan
saya, tidak akan sampai menggunakan seluruh jari tangan untuk menghitungnya.
Biasanya, kalau sudah merasa ‘klik’
dengan seseorang, akrab, saya akan berusaha mempertahankan hubungan pertemanan
itu. Sebaliknya, jika saya sudah merasa gak nyaman, perlahan tapi pasti, saya
akan mundur, dan menjauh pelan-pelan.
Saya juga orang yang sulit
berbicara dengan orang lain. Kalau saya gak merasa ‘klik’ dengan orang itu,
saya akan kesulitan mencari bahan pembicaraan, selain sekadar basa basi.
Kadang, saya ‘mengincar’ seseorang untuk dijadikan teman, karena saya merasa
dia adalah orang yang baik. Tapi ternyata, dari respon-respon yang dia berikan,
sepertinya dia kurang nyaman dengan saya. Kalau sudah begitu, saya pun gak
memaksakan diri. Saya mundur pelan-pelan lagi. Begitulah.
Ah, satu lagi. Karena seorang
introvert itu selektif dalam menerima orang lain untuk ‘masuk’ dalam dunianya,
itu artinya, seorang introvert juga adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta
(uhuk!). Sekali mereka jatuh cinta, dan cinta itu pun bersambut, jika suatu
saat hubungan itu kandas, seorang introvert akan seringkali mengalami momen
yang kerennya disebut ‘gagal move on’.
Dia akan butuh waktu panjang untuk benar-benar bisa melanjutkan hidupnya.
Tapi, dengan begitu, itu berarti,
seorang introvert, tidak mudah berpindah ke lain hati. Dia orang yang setia.
Ingat itu! Jangan mudah berburuk sangka, saat seorang introvert dekat dengan
orang lain, bukan berarti dia telah memalingkan hatinya. Sama halnya dengan
manusia normal, ia bisa jenuh. Dan itu hanya sekadar pelampiasan kejenuhan, meski
jalan yang ia tempuh adalah salah. Jangan judge dia. Jangan ragukan kesetiaan
hatinya. Ungkapkan segalanya padanya. Seorang introvert juga adalah orang yang
selalu ingin membahagiakan orang yang ia cintai, meski kadang tanpa ia sadari
ia justru melukai.
Ah, di dua paragraf itu saya
ngomong apaan sih? Copas kayaknya. -_- Eh, tapi coba aja cari di Mbah Gugel,
adakah kata-kata yang mirip dengan dua paragraf saya di atas?
Kenapa tiba-tiba ujung-ujungnya,
saya membicarakan tentang cinta? Karena, insya Allah pernikahan di depan mata.
Lupakan sejenak tentang cinta pada pasangan, karena dua paragraf di atas sudah
menjelaskan semuanya. Yang jadi ketakutan terbesar saya adalah; lingkungan
baru, dengan orang-orang yang sama sekali baru. Mampukah saya beradaptasi?
Adaptasi
Dulu, sewaktu pertama kali
bekerja, saya pun sendirian. Dengan lingkungan yang baru, dan orang-orang yang
belum saya kenal. Saya sendiri. Tapi alhamdulillah, nyatanya saya tetap bisa ‘survive’
sampai sekarang. Masih ‘baik-baik saja’ dengan lingkungan ini, meski teori
selektif dalam berteman itu tetap saya terapkan. Iya, hanya beberapa orang saja
dimana saya merasa nyaman untuk bergaul.
Tapi, pernikahan sangat berbeda
dengan pekerjaan. Yang dihadapi nanti adalah; mertua, saudara-saudara pasangan
kita, kerabat-kerabat yang dekat dan yang jauh. Sangat ‘menyeramkan’ dalam
bayangan saya. :(
Meski saya yakin, insya Allah
kelak bisa melaluinya, tapi tetap saja ‘ketakutan’ itu ada.
Mungkin, yang perlu dilakukan
oleh orang-orang introvert, adalah memilih pasangan yang memiliki kepribadian
yang berkebalikan; ekstrovert. Agar terjadi keseimbangan. Agar ada saling
melengkapi dan menutupi. Agar tak benar-benar mati kutu, saat berada di
lingkungan baru. Agar kita tetaplah menjadi diri kita –introvert- tanpa harus
memaksakan diri menjadi kepribadian yang lain.
Saya tulis ini, karena saya
pernah bercerita pada seorang teman, bahwa tinggal bersama mertua beberapa hari
setelah pernikahan, adalah sesuatu yang ‘mengerikan’ bagi saya, karena saya
seorang yang sangat pendiam. Solusi dari dia, sudah bisa ditebak seperti
kebanyakan orang, ‘Belajarlah untuk lebih bergaul.’
Mungkin, kebanyakan orang
berpikir, kalau ingin diterima, ya bersikaplah ‘terbuka’. Dengan kata lain,
jadilah ekstrovert. Mereka bukan memberi solusi tentang bagaimana seorang
introvert beradaptasi dalam lingkungan pasca pernikahan, dengan tetap berada
dalam lingkup kepribadian introvert, tanpa harus menjadi kepribadian lain.
Orang-orang introvert itu
bukannya orang yang tidak mau bergaul dan punya banyak teman. Mereka hanya
sulit membuat suasana cair, dan terlalu selektif dalam memilih teman yang bisa
ia persilakan ‘masuk’ dalam kehidupannya. Jadi tolong, jangan suruh kami
berubah menjadi kepribadian lain yang kami tidak nyaman dengannya. Karena menjadi
introvert itu bukanlah dosa dan kesalahan. Thats it!
Ngawi, 280414
*Ini tulisan tanpa arah dan geje
banget. Mohon maaf. Efek karena lama gak buka ms. Word. -_-


0 comments :
Post a Comment