Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

It's Not a Fault



Bismillahirrahmanirrahim


Friends. What are you thinkin’ about that word? A lot of people around you, who cares ‘bout you, who always be there when you need ‘em, or... something like... you can be yourself when you’re with ‘em?

Saya lupa, dulu saya pernah nulis ini atau belum. Yang jelas, entah kenapa saya pengen banget nulis tentang ini, saat ini. Karena, semakin saya dewasa, semakin saya bertemu dengan banyak orang, dan menjalin komunikasi –meski terbatas- dengan orang-orang baru, saya semakin sadar, betapa ‘sendiri’nya saya ternyata.

Iya, saya jadi sadar, bahwa nyatanya, saya hidup di lingkaran pertemanan yang ‘itu-itu’ saja; lingkaran facebook, lingkaran alumni sekelas saat STM, lingkaran pekerjaan, dan lingkaran satu grup di whatsapp. Saya juga baru ‘ingat’, bahwa ternyata saya gak pernah kemana-mana. Saya stuck di sini. Sejak dulu, sepulang sekolah, saya di rumah. Sudah. Ya di rumah saja. Gak pernah kemana-mana. Sekarang pun, pulang kerja, saat sampai di rumah, ya sudah, saya juga akan diam di rumah saja. Jangan berharap saya tahu gossip terkini di lingkungan saya, atau apa yang sedang ngetren di kalangan bapak-bapak, karena memang saya gak pernah sekalipun nongkrong di warung kopi di dekat rumah. Sedekat apapun warung kopi itu dengan rumah yang saya tempati.


Saat orang-orang bercerita, mereka sudah pernah ke tempat A, berwisata ke B, jalan-jalan ke C, dan sebagainya, saya hanya bisa diam sambil melongo, merutuki betapa menyedihkannya saya. Lagian, mau kemana-mana juga mau sama siapa? Teman? Saya gak punya teman di lingkungan rumah saya. Puas? Teman-teman yang saya sebutkan di lingkaran-lingkaran tadi, minimal jarak rumahnya adalah sekitar setengah jam perjalanan dari rumah saya. Keren kan?


Introvert

Saya bahkan sudah lupa, sejak kapan saya kenal kata itu. Introvert. Terdengar ‘mengerikan’ gak? Karena, diakui atau enggak, memang masih banyak sekali orang yang menganggap, bahwa menjadi seorang introvert itu adalah sebuah ‘kesalahan’.

Lalu, apa hubungannya dengan kata ‘friends’ yang saya tulis sejak awal tulisan ini? Tentu saja ada.
Saya seorang introvert. Bagaimana bisa saya mengambil konklusi seperti itu? Oke, silakan cari definisi dan ciri seorang introvert. Tanya Mbah Gugel saja, karena sudah banyak sekali tulisan tentang kepribadian yang bertebaran di internet.

Saya seorang yang pemalu dan pendiam. Bagi mereka yang hanya mengenal saya sebatas di dunia maya, mungkin gak begitu merasakan ini. Tapi bagi mereka yang berinteraksi langsung di dunia nyata, akan sangat tahu bagaimana karakter saya. Bahkan di rumah saja, saya juga lebih memilih diam kalau memang gak ada yang harus saya bicarakan.

Saya bukan seorang yang anti-sosial, yang benar-benar menghindar dari hingar bingar kehidupan sosial. Saya tetap manusia normal, manusia biasa, yang masih membutuhkan orang lain. Hanya saja, saya sangat selektif memilih teman. Nah, ini dia. Friends. Betapa selektifnya saya, hingga jika saya hitung, jumlah mereka yang benar-benar bisa ‘masuk’ dan ‘klik’ dengan saya, tidak akan sampai menggunakan seluruh jari tangan untuk menghitungnya.

Biasanya, kalau sudah merasa ‘klik’ dengan seseorang, akrab, saya akan berusaha mempertahankan hubungan pertemanan itu. Sebaliknya, jika saya sudah merasa gak nyaman, perlahan tapi pasti, saya akan mundur, dan menjauh pelan-pelan.

Saya juga orang yang sulit berbicara dengan orang lain. Kalau saya gak merasa ‘klik’ dengan orang itu, saya akan kesulitan mencari bahan pembicaraan, selain sekadar basa basi. Kadang, saya ‘mengincar’ seseorang untuk dijadikan teman, karena saya merasa dia adalah orang yang baik. Tapi ternyata, dari respon-respon yang dia berikan, sepertinya dia kurang nyaman dengan saya. Kalau sudah begitu, saya pun gak memaksakan diri. Saya mundur pelan-pelan lagi. Begitulah.

Ah, satu lagi. Karena seorang introvert itu selektif dalam menerima orang lain untuk ‘masuk’ dalam dunianya, itu artinya, seorang introvert juga adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta (uhuk!). Sekali mereka jatuh cinta, dan cinta itu pun bersambut, jika suatu saat hubungan itu kandas, seorang introvert akan seringkali mengalami momen yang kerennya disebut ‘gagal move on’. Dia akan butuh waktu panjang untuk benar-benar bisa melanjutkan hidupnya.

Tapi, dengan begitu, itu berarti, seorang introvert, tidak mudah berpindah ke lain hati. Dia orang yang setia. Ingat itu! Jangan mudah berburuk sangka, saat seorang introvert dekat dengan orang lain, bukan berarti dia telah memalingkan hatinya. Sama halnya dengan manusia normal, ia bisa jenuh. Dan itu hanya sekadar pelampiasan kejenuhan, meski jalan yang ia tempuh adalah salah. Jangan judge dia. Jangan ragukan kesetiaan hatinya. Ungkapkan segalanya padanya. Seorang introvert juga adalah orang yang selalu ingin membahagiakan orang yang ia cintai, meski kadang tanpa ia sadari ia justru melukai.

Ah, di dua paragraf itu saya ngomong apaan sih? Copas kayaknya. -_- Eh, tapi coba aja cari di Mbah Gugel, adakah kata-kata yang mirip dengan dua paragraf saya di atas?

Kenapa tiba-tiba ujung-ujungnya, saya membicarakan tentang cinta? Karena, insya Allah pernikahan di depan mata. Lupakan sejenak tentang cinta pada pasangan, karena dua paragraf di atas sudah menjelaskan semuanya. Yang jadi ketakutan terbesar saya adalah; lingkungan baru, dengan orang-orang yang sama sekali baru. Mampukah saya beradaptasi?


Adaptasi

Dulu, sewaktu pertama kali bekerja, saya pun sendirian. Dengan lingkungan yang baru, dan orang-orang yang belum saya kenal. Saya sendiri. Tapi alhamdulillah, nyatanya saya tetap bisa ‘survive’ sampai sekarang. Masih ‘baik-baik saja’ dengan lingkungan ini, meski teori selektif dalam berteman itu tetap saya terapkan. Iya, hanya beberapa orang saja dimana saya merasa nyaman untuk bergaul.

Tapi, pernikahan sangat berbeda dengan pekerjaan. Yang dihadapi nanti adalah; mertua, saudara-saudara pasangan kita, kerabat-kerabat yang dekat dan yang jauh. Sangat ‘menyeramkan’ dalam bayangan saya. :(

Meski saya yakin, insya Allah kelak bisa melaluinya, tapi tetap saja ‘ketakutan’ itu ada.

Mungkin, yang perlu dilakukan oleh orang-orang introvert, adalah memilih pasangan yang memiliki kepribadian yang berkebalikan; ekstrovert. Agar terjadi keseimbangan. Agar ada saling melengkapi dan menutupi. Agar tak benar-benar mati kutu, saat berada di lingkungan baru. Agar kita tetaplah menjadi diri kita –introvert- tanpa harus memaksakan diri menjadi kepribadian yang lain.

Saya tulis ini, karena saya pernah bercerita pada seorang teman, bahwa tinggal bersama mertua beberapa hari setelah pernikahan, adalah sesuatu yang ‘mengerikan’ bagi saya, karena saya seorang yang sangat pendiam. Solusi dari dia, sudah bisa ditebak seperti kebanyakan orang, ‘Belajarlah untuk lebih bergaul.


Mungkin, kebanyakan orang berpikir, kalau ingin diterima, ya bersikaplah ‘terbuka’. Dengan kata lain, jadilah ekstrovert. Mereka bukan memberi solusi tentang bagaimana seorang introvert beradaptasi dalam lingkungan pasca pernikahan, dengan tetap berada dalam lingkup kepribadian introvert, tanpa harus menjadi kepribadian lain.

Orang-orang introvert itu bukannya orang yang tidak mau bergaul dan punya banyak teman. Mereka hanya sulit membuat suasana cair, dan terlalu selektif dalam memilih teman yang bisa ia persilakan ‘masuk’ dalam kehidupannya. Jadi tolong, jangan suruh kami berubah menjadi kepribadian lain yang kami tidak nyaman dengannya. Karena menjadi introvert itu bukanlah dosa dan kesalahan. Thats it!


Ngawi, 280414

*Ini tulisan tanpa arah dan geje banget. Mohon maaf. Efek karena lama gak buka ms. Word. -_-

0 comments :

Post a Comment