Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Ilmu Dulu Deh!

Bismillahirrahmanirrahim

Hal yang selalu saya ingat, entah dari penyampaian para asatidz sewaktu kajian, ataupun dari buku-buku yang saya baca, tentang sebuah bab pembuka dalam Shahih Bukhari yang berjudul “Al ‘Ilmu Qabla Qaul wal ‘Amal”, berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal. Dari situlah, saya jadi sering takut dalam membicarakan hal-hal yang ada di luar kapasitas saya. Dengan dasar itu pulalah, dalam blog ini seringnya saya hanya sharing kalau menyangkut masalah Islam, dengan harapan akan ada yang meluruskan. Saya gak berani membawakan sebuah ayat, ataupun hadits, kalau sebelumnya saya gak paham dulu apa maknanya.


Dalam Islam, pemakaian akal itu gak dilarang. Justru akallah yang membedakan kita dengan makhluk selain manusia. Tapi pemakaiannya harus pada tempatnya. Mafhum dipahami, bahwa akal harus tunduk pada dalil. ‘Ali ibn Abi Thalib saja pernah bilang, yang intinya, jika akal adalah sumber utama, maka seharusnya yang dibasuh ketika wudhu adalah bagian bawah sepatu, bukan bagian atasnya (karena Rasulullah memerintahkan bagi yang memakai sepatu, bisa berwudhu tanpa harus melepas sepatu, dengan membasuh bagian atasnya).

Sayangnya, sebagian saudara kita, ada yang ‘tergesa-gesa’ dalam berpendapat. Mereka banyak baca. Dari berbagai sumber tentunya. Mereka merasa paham dan mengerti, padahal sejatinya mereka sedang berada dalam sebuah kebingungan akut. Akhirnya, kesalahan terfatalnya, adalah mereka berani bicara, bahkan melakukan judgement pada beberapa hukum dalam Islam, atau pada beberapa kelompok dalam Islam, hanya dengan berdasar apa yang dibaca dan apa yang dipahami oleh akal sempitnya.

Ambil contoh, ada yang mengatakan, “Islam itu moderat. Tidak terlalu lunak dan tidak terlalu keras.” Ini betul. Karena Islam memang merupakan agama pertengahan. Islam tidak terlalu keras seperti Yahudi, ataupun terlalu lunak seperti Nashrani. Islam itu tengah-tengah.

Yang jadi permasalahan, ketika membahas sebuah masalah, ‘dalil’ itu juga dipakai untuk ‘menyerang’ kelompok yang tidak sepemahaman dengan jalan pikir mereka. Kita ambil contoh, tentang penolakan Miss World misalnya. Orang-orang dengan modal akal, seringkali saya dengar mencaci ormas-ormas Islam yang menolak penyelenggaraan Miss World. Mereka menyebut ormas-ormas itu adalah Islam yang kolot, konservatif dan primitif, yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan tidak bisa bertoleransi. Hmm... padahal nih ya, orang-orang dalam ormas-ormas tersebut adalah mereka yang sudah dibekali dengan ilmu yang mereka dapatkan dari ulama-ulamanya, baik secara langsung ataupun melalui guru-gurunya. Sedang mereka yang mengatai kolot konservatif itu, menjejakkan kaki di majelis ilmu saja gak pernah. Gimana bisa mereka ‘menilai’ sebuah kelompok, kalau tolok ukur penilaiannya hanya berdasar akal yang tiap orang gak sama?

Contoh lain, tentang jilbab. Ada yang berpendapat, bahwa pemakaian jilbab itu wajib, tetapi harus diiringi dengan kesiapan dan kemantapan hati. Mereka dengan pedenya membawakan dalil dari Al Quran tentang perintah untuk mengenakan jilbab. Mereka meyakini kewajibannya. Tapi untuk memakainya, mereka butuh kemantapan hati. Mungkin, istilah kerennya, pengen ‘menjilbabi hati’ dulu kali ya? -_-

Oke, pantesan aja, orang banyak yang gak shalat. Mungkin, dasar mereka sama. Shalat itu wajib, tapi pelaksanaannya menunggu kemantapan hati mereka untuk melaksanakannya. Jadi, kalau gak mantap-mantap, gak ‘terpanggil’ juga, mereka gak akan shalat. Sama kan logikanya? Ntar nyesel lho, kalau hatinya belum ‘terpanggil’ juga, tapi sayangnya nyawanya udah dipanggil duluan. :3

Tentang jilbab lagi, yang berdasar pada akal manusia yang sempit. Dulu saya pernah mendengar, ada yang mengatakan, “Temen-temen gue banyak yang berjilbab, tapi akhlaknya kayak gitu. Pacaran, suka ngebogongin temen, suka marah-marah.” Oke, jadi ini masalah lingkungan, yang kemudian digeneralisir oleh akal, bahwa kebanyakan perempuan ‘berjilbab’ zaman sekarang adalah seperti apa yang ada di pikiran mereka.

Kalau mau sama-sama pakai akal, coba deh mereka ini cari pergaulan dengan teman-teman baru yang bener-bener shalih. Coba ikut ngaji deh. Saya jamin, pemikiran dangkal seperti itu bakalan berubah. Karena yang akan mereka lihat adalah perempuan-perempuan tangguh yang konsisten dengan jilbabnya, menjaga harga dirinya.

Orang yang gak berjilbab, belum tentu akhlaknya buruk. Orang yang berjilbab, belum tentu juga akhlaknya baik. Tapi setidaknya, dengan mereka berjilbab, mereka akan berusaha menjadi baik, memperbaiki akhlak dan keimanannya.

Logikanya begini. Ada seorang pasien yang divonis menderita sebuah penyakit. Dokter mewajibkan dia mengkonsumsi sebuah obat, yang dia gak suka banget. Tapi demi kesembuhannya dari penyakit, akhirnya, biarpun sebenernya hatinya menolak, tetep dia laksanakan juga. Awalnya mungkin dia masih ogah-ogahan. Tapi lama kelamaan, setelah dia bener-bener merasakan manfaat dari obat yang dikasih dokter tadi, dia jadi nyaman-nyaman aja, karena nyatanya penyakitnya berangsur sembuh. Setelah sembuh, dia masih harus mengkonsumsi vitamin atau apalah gitu, supaya penyakitnya itu gak kembali. Dan dia laksanakan itu, karena itu sebuah kewajiban demi dirinya sendiri.

Sama halnya dengan jilbab. Jilbab bisa saja mengobati penyakit hati lho. Katakanlah, saat ini hatinya masih gak siap dengan jilbab. Tapi karena wajib, ya ‘terpaksa’ dia kerjakan juga. Lama-kelamaan, dia belajar, gimana sih pakai jilbab yang bener? Gimana sih seharusnya sikap seseorang yang berjilbab? Mungkin aja pembelajarannya ini juga masih dalam keadaan ‘terpaksa’, karena hatinya yang belum mantap tadi. Tapi lama-lama, saat dia udah mulai merasakan ada yang berubah dari dirinya, penyakit-penyakit hatinya jadi semakin lama semakin sembuh, dia akan dengan senang hati memakai jilbab, dan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Demi dirinya sendiri juga kan? :)

Ada lagi yang bilang, bahwa Islam adalah agama yang fleksibel. Wew... fleksibel? Jadi kalau orang ke kiri, kita juga ke kiri. Orang ke kanan, kita juga ke kanan. Orang nyebur sumur, kita juga nyebur sumur? Kan fleksibel. -_-

Mungkin maksudnya dalam hal toleransi ya? Hmmm... toleransi pun ada batas-batasnya, dan ini yang gak dipahami oleh mereka yang suka asal bicara tanpa punya kapasitas ilmu yang cukup.

Udahan ah ngoceh paginya. Udah waktunya mandi dan ngantor. Eh iya, saya pernah denger seorang ulama salaf berkata, yang intinya, barang siapa yang gurunya adalah buku, maka salahnya lebih banyak dari benarnya. Jadi, belajar dengan seorang pembimbing, tentu lebih baik kan? ;)


Ngawi, 270913

6 comments :

intinya saya males pake jilbab, mas. tapi muter muter dulu nyari temen yang 'samaan' biar keren. :v hohohoho...

 

ohhh gitu yak? bilang kek dari tadi :v

 

Bagus, Mas, postingannya. Saya jadi takut kalau-kalau atau mungkin saya pernah kyk di atas, :/ saya jadi takut kasih2 pendapat (lbh banyak gatau soalnya, hehehe)

Ho'oh, saya suka kesel kalau ada yg bilang islam itu fleksibel--banyak lg yg blg kyk gtu dsni--kata 'fleksibel' tuh seolah membenarkan semua pendapat2 yg mereka pikir ya. Terus, pendapat orang2 tentang jilbab itu... sudah dijawab semua bantahan2nya di Yuk Berhijab-nya Felix Siauw. :))

Makasih jg dulu sudah diingatkan jangan hanya baca2, tp jg ikut2 ngaji. Alhamdulillah, Allah kasih banyak kemudahan.

 

wahhh... alhamdulillah kalo udah ngaji juga. ke deket rumah sama yg kemaren diceritain itu ya? alhamdulillah, ikut seneng saya. semoga istiqamah ya. :D

 

hari selasa kemaren ust fellix di masjid UGM, saya sedih gak bisa datang . :(

 

kemaren kapan hari itu ada ustadz Salim A. Fillah. Saya juga gak dateng. Sayang banget. :(

 

Post a Comment