Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Decision


Bismillahirrahmanirrahim
 

Sejak beberapa waktu yang lalu, Akh J –sebut saja begitu- sangat bersemangat untuk menghubungkan saya dengan ‘organisasi tertentu’, agar saya bisa mengikuti kajiannya. Karena Akh J tahu –dari cerita saya- bahwa hati saya sudah cukup lama gak tersentuh oleh untaian ilmu diin. Akh J bilang, beliau sudah menghubungi bagian pengurus ‘organisasi tertentu’ itu. Nantinya, akan ada yang menghubungi saya.

Tapi sampai beberapa minggu, saya masih adem ayem aja, gak ada yang menghubungi. Hingga kemarin, saat sedang asyiknya bekerja, ada sebuah sms masuk. Katanya, dapat amanah dari Akh J di kota S untuk menghubungi saya. Saya baca aja. Karena saya masih cukup repot waktu itu.

Sorenya, setelah sampai rumah, baru saya balas. Akhirnya disepakati untuk bertemu. Dan, bertemulah saya, Pak A dan seorang lagi –lupa namanya- sebut saja Pak S ba’da Isya’ di depan Masjid Agung.

Seperti biasa, saya ‘diinterview’. Tentang nama, alamat rumah, bapak ibu, saudara, pekerjaan, dan tentu saja yang pasti, sudah berapa tahun kenal dakwah. Pak A gak begitu kaget saat saya bilang, dulu saya biasa mengikuti kajian setiap Ahad di Masjid Agung. Tapi semenjak 2012, saya mulai jarang aktif (wah, sudah lama juga ya ternyata). Tahun 2013, saya juga pernah ngaji dengan ustadz dari ‘organisasi tertentu’ juga. Tapi hanya bertahan beberapa bulan.

Pak A bertanya sekali lagi, tentang kesiapan saya. Terutama mental. Karena nantinya, saya akan ‘berseberangan’ dengan jamaah yang sudah sejak 2006 saya ikuti. Kemarin-kemarin, mungkin saya memang belum siap, jika teman-teman dari ‘jamaah tertentu’ itu mengetahui bahwa saya berbelok ngaji ke orang-orang dari ‘organisasi tertentu’. Saya takut dicap begini, dirasani begitu, dan sebagainya. Karena saya tahu betul, betapa tidak sukanya temen-temen dari ‘jamaah tertentu’ itu terhadap temen-temen dari ‘organisasi tertentu’. Saking gak sukanya,dulu pernah saya bercanda dengan satu teman dan saya menyebut nama ‘organisasi tertentu’ itu. Spontan dia berkata, “Astagfirullah...” seakan-akan, ‘organisasi tertentu’ itu benar-benar organisasi yang salah jalan.

Namun sekarang, saya semakin dewasa, insya Allah. Saya harus bisa membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Ini hidup saya sendiri. Sayalah yang menjalani. Tentu ada konsekuensi dari setiap jalan yang saya ambil. Dan bukankah saya yang akan bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri kelak? Maka, bismiLlah, saya pun berkata, insya Allah mantap untuk bergabung, ngaji bersama ‘organisasi tertentu’ itu.

Toh, saya tetap berprinsip; kita itu Muslim, satu tubuh. Dimanapun kita menggabungkan diri pada sebuah jamaah, selama jamaah itu masih memegang prinsip-prinsip ahlussunnah, why not? Kita tetap Muslim. Kita tetap bersaudara. Saya menghormati jamaah A, jamaah B, ormas C, partai D, dan sebagainya.

Saya gak suka pengkotak-kotakan Islam. Kita satu. Titik. Maka setelah bergabung dalam komunitas ‘organisasi tertentu’ nantinya, saya ingin tetap seperti itu.

Ah, saya jadi gak sabar untuk mulai ngaji. Pak A bilang, saya masih dicarikan kelompok. Yang masih dalam lingkup satu kecamatan. Yang usia anggotanya juga sebaya dengan saya. Agar gak terlalu jauh nantinya untuk menyesuaikan diri. Semoga, teman-teman dari kelompok saya nantinya bisa menerima kehadiran saya, bersedia membimbing saya, dan menjadikan saya bagian dari mereka.

Sebuah ukhuwah yang kuat. Itu yang saya cari selama ini. Hingga saya benar-benar yakin, saya tidak salah dalam mengambil keputusan.

Allahul muwwafiq.

Ngawi, 300414


*Jazzakallah khair untuk Akh J, yang sudah susah payah dan bersedia repot demi saya. Love you, Akh... Hehe... :D

0 comments :

Post a Comment