Bismillahirrahmanirrahim
Selalu ada masa yang ingin kita
kubur dalam-dalam. Kita enyahkan jauh-jauh dari ingatan. Kita lupakan agar bahkan
kenangan pun tak meninggalkan jejak. Jika ada yang bertanya, masa apakah yang
begitu ingin dihilangkan? Jawab saya, masa enam tahun menempuh pendidikan
dasar.
Entah kenapa, saya ingin
melupakan masa itu. Pikiran saya seolah telah membentuk sebuah benteng memori,
yang tidak bisa saya tembus satu per satu. Mungkin alam bawah sadar saya memang
‘baik’, hingga mengerti apa yang saya inginkan. Ya, begitu banyak kenangan di
masa enam tahun itu yang telah terhapus sempurna. Sebagian masih membekas,
menghadirkan slide-slide singkat yang sedikit buram. Tapi
lagi-lagi, pikiran saya telah ‘membungkus’ memori itu, hingga yang buram
tetaplah buram.
Mungkin, karena di masa itu, saya
merasa sendiri. Sangat sendiri. Tidak memiliki teman yang benar-benar seorang
teman. Saya merasa tidak berarti, justru setelah saya keluar dari masa itu dan
menyadari keterasingan saya selama di sana. Saya hanyalah seorang anak cupu dan
cengeng dengan tubuh kecil dan otak pas-pasan kala itu. Saya tidak suka bermain
bola bersama teman-teman yang lain. Saya... entahlah. Saya sudah hampir lupa
dengan sempurna, bagaimana sosok saya kala itu.
Hanya ada satu anak yang
benar-benar bisa menjadi teman sekaligus sahabat saya selama perjalanan enam
tahun itu. Tapi setelah masa itu usai, dia pun menghilang. Benar-benar hilang
dari sosok yang dulu pernah saya kenal.
Selepas masa itu, adalah
masa-masa mulai diwarnai dengan berbagai cerita remaja tanggung. Beberapa teman
yang merupakan bagian dari masa enam tahun itu pun masih satu atap dengan saya
selama menempuh pendidikan tiga tahun berikutnya. Tapi, tahukah? Saya merasa,
seolah mereka menjauh. Jika bertemu, jarang sekali saling menyapa. Tak ada
keakraban yang dulu pernah ada dalam masa enam tahun bersama. Di sanalah saya
menyadari bahwa saya tak ada artinya selama enam tahun itu.
Lepas dari tiga tahun pertama,
berlanjut ke tiga tahun berikutnya sebagai remaja seutuhnya. Di saat itulah
saya merasakan bebas dan jadi diri saya sendiri. Tanpa ada bayang-bayang dari
masa lalu yang ingin saya lenyapkan.
Ya, selalu ada masa di mana kita
ingin memusnahkannya, meski masa itu sebenarnya sangat berarti dalam perjalanan
hidup kita. Saya bukan berharap saya tidak mengalami masa-masa seperti itu.
Justru saya sangat bersyukur pernah melaluinya. Saya hanya tidak ingin
mengingatnya. Tidak meski hanya secuil kenangan.
3 Ramadhan 1433 H

2 comments :
Masa 6 tahun merah putihku...mmm...ya, hampir sebagiannya menyakitkan, tapi tidak ingin kulupakan. pada akhirnya...ketika aku dan teman-teman bertemu kembali saat sama-sama dewasa...cerita itu menjadi kisah yang bisa diceritakan beurlang-ulang...
biarlah dilupakan. karena semua kisah hanya tentang mereka. bukan aku.
Post a Comment