Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Melupakan Sebuah Masa


Bismillahirrahmanirrahim



Selalu ada masa yang ingin kita kubur dalam-dalam. Kita enyahkan jauh-jauh dari ingatan. Kita lupakan agar bahkan kenangan pun tak meninggalkan jejak. Jika ada yang bertanya, masa apakah yang begitu ingin dihilangkan? Jawab saya, masa enam tahun menempuh pendidikan dasar.

Entah kenapa, saya ingin melupakan masa itu. Pikiran saya seolah telah membentuk sebuah benteng memori, yang tidak bisa saya tembus satu per satu. Mungkin alam bawah sadar saya memang ‘baik’, hingga mengerti apa yang saya inginkan. Ya, begitu banyak kenangan di masa enam tahun itu yang telah terhapus sempurna. Sebagian masih membekas, menghadirkan slide-slide singkat yang sedikit buram. Tapi lagi-lagi, pikiran saya telah ‘membungkus’ memori itu, hingga yang buram tetaplah buram.

Mungkin, karena di masa itu, saya merasa sendiri. Sangat sendiri. Tidak memiliki teman yang benar-benar seorang teman. Saya merasa tidak berarti, justru setelah saya keluar dari masa itu dan menyadari keterasingan saya selama di sana. Saya hanyalah seorang anak cupu dan cengeng dengan tubuh kecil dan otak pas-pasan kala itu. Saya tidak suka bermain bola bersama teman-teman yang lain. Saya... entahlah. Saya sudah hampir lupa dengan sempurna, bagaimana sosok saya kala itu.


Hanya ada satu anak yang benar-benar bisa menjadi teman sekaligus sahabat saya selama perjalanan enam tahun itu. Tapi setelah masa itu usai, dia pun menghilang. Benar-benar hilang dari sosok yang dulu pernah saya kenal.

Selepas masa itu, adalah masa-masa mulai diwarnai dengan berbagai cerita remaja tanggung. Beberapa teman yang merupakan bagian dari masa enam tahun itu pun masih satu atap dengan saya selama menempuh pendidikan tiga tahun berikutnya. Tapi, tahukah? Saya merasa, seolah mereka menjauh. Jika bertemu, jarang sekali saling menyapa. Tak ada keakraban yang dulu pernah ada dalam masa enam tahun bersama. Di sanalah saya menyadari bahwa saya tak ada artinya selama enam tahun itu.

Lepas dari tiga tahun pertama, berlanjut ke tiga tahun berikutnya sebagai remaja seutuhnya. Di saat itulah saya merasakan bebas dan jadi diri saya sendiri. Tanpa ada bayang-bayang dari masa lalu yang ingin saya lenyapkan.

Ya, selalu ada masa di mana kita ingin memusnahkannya, meski masa itu sebenarnya sangat berarti dalam perjalanan hidup kita. Saya bukan berharap saya tidak mengalami masa-masa seperti itu. Justru saya sangat bersyukur pernah melaluinya. Saya hanya tidak ingin mengingatnya. Tidak meski hanya secuil kenangan.


3 Ramadhan 1433 H

2 comments :

Masa 6 tahun merah putihku...mmm...ya, hampir sebagiannya menyakitkan, tapi tidak ingin kulupakan. pada akhirnya...ketika aku dan teman-teman bertemu kembali saat sama-sama dewasa...cerita itu menjadi kisah yang bisa diceritakan beurlang-ulang...

 

biarlah dilupakan. karena semua kisah hanya tentang mereka. bukan aku.

 

Post a Comment