Bismillahirrahmanirrahim
Sudah berapa lama saya tidak
menulis sebuah cerita utuh? Tepatnya, sudah berapa lama saya menulis sebuah
kisah Islami seperti yang biasa saya tulis dulu?
Entah mengapa, ada kerinduan yang
tiba-tiba menyergap. Saya merasa telah berkhianat pada komitmen yang dulu
pernah saya pancangkan. Tulis cerita yang berhikmah dan mengandung nilai-nilai
Islam. Sudah berapa lama saya melupakannya?
Kejenuhan saya pada fiksi Islami
mulai muncul saat di toko buku hampir penuh oleh novel-novel maupun kumpulan
cerpen ‘Islami’. Jujur, saya juga jenuh membaca novel milik seorang penulis
sastra Islami ternama, yang buku-bukunya pernah difilmkan. Jenuh, karena meski
cerita cukup bagus, saya sebagai pembaca merasa digurui oleh tokoh dalam
cerita, ataupun oleh narasi cerita itu sendiri. Hei, saat saya membaca novel
ataupun cerpen, saya menginginkan sebuah kisah yang indah dan berhikmah, bukan
sebuah buku adab, akhlak, apalagi fiqh!
Dari sana, sejenak saya berhenti.
Untuk berpikir. Jangan-jangan, apa yang saya tulis selama ini pun terkesan
menggurui? Dari perhentian sementara, membuat saya kian enggan menulis dengan
embel-embel ‘Islami’. Saya menulis. Sebatas cerita, apa saja. Meski tetap nilai
Islam saya masukkan sedikit-sedikit, tak sebanyak dulu seperti cerpen saya ‘Hanya
Desahku’ pada antologi pertama saya, ataupun seperti cerpen-cerpen saya yang
menumpuk di drive notebook.
Tapi kini, saya kembali rindu
menuliskan kisah-kisah serupa itu. Tentu dengan packaging yang berbeda dengan
yang biasa saya tulis dulu. Tapi tentang apa? Apa saja. Tentang senja, hujan,
stasiun. Tentang dia, mereka, saya, kita.
Jadi, Islami tanpa kesan
menggurui? Tidak mudah. Tapi –insya Allah- bisa. :)
2 Ramadhan 1433 H
3 comments :
hei bro sastra yang bagus dan bener2 bagus
adalah yang gak membuat pembacanya bosan dalam sekali baca
jika itu terjadi
sehebat apapun
nama pengarangnya
itu masih saja picisan
semoga baik
aamiin
jadi teringat penulis Islami favorit saya, Sakti Wibowo. Beberapa tahun lalu saya baca bukunya Ada Merpati Ingkar Janji. Dari situlah saya mulai pengen berjilbab. Benar2 terinspirasi walaupun ceritanya nggak menggurui. Eh tapi kok saya sekarang kesulitan ya, nyari novel2 kayak gitu, banyakan yang ada novel yang ke-Korea2an gitu... :D
Kopi Susu: betul, saya setuju. sastra yang baik tidak membuat pembacanya bosan dalam sekali baca. tapi kembali lagi ke subjektivitas. semuanya kembali ke selera pembaca kan? :)
Mbak Anita Sari: sama, saya juga fansnya Mas Sakti. Bahasanya enak. Gak menggurui. Tapi dulu saat sastra Islami sedang meledak2nya, yg kebanyakan muncul malah tulisan2 yang menggurui. Kalo sekarang sih, emang banyakan yg ke-Korea2an gitu xD
Post a Comment