Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Rindu...


Bismillahirrahmanirrahim


Sudah berapa lama saya tidak menulis sebuah cerita utuh? Tepatnya, sudah berapa lama saya menulis sebuah kisah Islami seperti yang biasa saya tulis dulu?

Entah mengapa, ada kerinduan yang tiba-tiba menyergap. Saya merasa telah berkhianat pada komitmen yang dulu pernah saya pancangkan. Tulis cerita yang berhikmah dan mengandung nilai-nilai Islam. Sudah berapa lama saya melupakannya?

Kejenuhan saya pada fiksi Islami mulai muncul saat di toko buku hampir penuh oleh novel-novel maupun kumpulan cerpen ‘Islami’. Jujur, saya juga jenuh membaca novel milik seorang penulis sastra Islami ternama, yang buku-bukunya pernah difilmkan. Jenuh, karena meski cerita cukup bagus, saya sebagai pembaca merasa digurui oleh tokoh dalam cerita, ataupun oleh narasi cerita itu sendiri. Hei, saat saya membaca novel ataupun cerpen, saya menginginkan sebuah kisah yang indah dan berhikmah, bukan sebuah buku adab, akhlak, apalagi fiqh!


Dari sana, sejenak saya berhenti. Untuk berpikir. Jangan-jangan, apa yang saya tulis selama ini pun terkesan menggurui? Dari perhentian sementara, membuat saya kian enggan menulis dengan embel-embel ‘Islami’. Saya menulis. Sebatas cerita, apa saja. Meski tetap nilai Islam saya masukkan sedikit-sedikit, tak sebanyak dulu seperti cerpen saya ‘Hanya Desahku’ pada antologi pertama saya, ataupun seperti cerpen-cerpen saya yang menumpuk di drive notebook.

Tapi kini, saya kembali rindu menuliskan kisah-kisah serupa itu. Tentu dengan packaging yang berbeda dengan yang biasa saya tulis dulu. Tapi tentang apa? Apa saja. Tentang senja, hujan, stasiun. Tentang dia, mereka, saya, kita.

Jadi, Islami tanpa kesan menggurui? Tidak mudah. Tapi –insya Allah- bisa. :)


2 Ramadhan 1433 H

3 comments :

hei bro sastra yang bagus dan bener2 bagus
adalah yang gak membuat pembacanya bosan dalam sekali baca

jika itu terjadi
sehebat apapun
nama pengarangnya
itu masih saja picisan


semoga baik
aamiin

 

jadi teringat penulis Islami favorit saya, Sakti Wibowo. Beberapa tahun lalu saya baca bukunya Ada Merpati Ingkar Janji. Dari situlah saya mulai pengen berjilbab. Benar2 terinspirasi walaupun ceritanya nggak menggurui. Eh tapi kok saya sekarang kesulitan ya, nyari novel2 kayak gitu, banyakan yang ada novel yang ke-Korea2an gitu... :D

 

Kopi Susu: betul, saya setuju. sastra yang baik tidak membuat pembacanya bosan dalam sekali baca. tapi kembali lagi ke subjektivitas. semuanya kembali ke selera pembaca kan? :)

Mbak Anita Sari: sama, saya juga fansnya Mas Sakti. Bahasanya enak. Gak menggurui. Tapi dulu saat sastra Islami sedang meledak2nya, yg kebanyakan muncul malah tulisan2 yang menggurui. Kalo sekarang sih, emang banyakan yg ke-Korea2an gitu xD

 

Post a Comment