Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Tepian Tegar


Bismillahirrahmanirrahim



ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat mata. Mampu kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.

Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka, justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah yang mulia?

Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar, dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan ketakutan yang entah dari mana datang.

Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!


Entah bagaimana buncahan emosionalnya. Tapi kubisa meraba sebuah kekecewaan. Bahkan aku pun turut geram. Apa yang ada di benak mereka; kerabat-kerabatnya, pengikut-pengikutnya, pasukannya, bahkan putra-putranya?? Mengapa banyak yang cepat menyerah pada adikuasa sang tirani? Tidakkah mereka marah karena Al Haram telah dinajisi darah-darah pengkhianat? Ah, mungkin mereka telah lelah. Lebih dari tujuh bulan mereka berupaya. Mereka lelah...

Lelaki itu terduduk di lututnya. Sejak perang ini dimulai, ia telah kehilangan seluruh putranya. Hilang. Sebab lelah menanggung beban, dan memilih menyerah pada mereka yang berkuasa.

Kini sunyi dunianya meski di sekitarnya masih lalu lalang kepanikan manusia. Masih meringkik kuda-kuda yang berlari tanpa penunggangnya. Masih hingar ratapan-ratapan penghuni Makkah. Gelegar qishwah yang terbakar pun masih menghiriskan duka. Rabbi, bukankah aku benar? mungkin begitu pikirnya.

                                                                   ***

 WANITA tua itu mendesah pelan. Berat. Tubuh kurusnya dibalut kain hitam tebal yang menjuntai dari kepala hingga menenggelamkan kakinya. Ia terduduk. Putranya bersimpuh di pangkuannya.

”Ibu, ....,” ujar lelaki itu berat. ”... aku telah ditinggalkan. Sekarang semua merendahkan aku. Bahkan istri dan anak-anakku pun memilih menjadi abdi mereka, dari pada mendukung aku yang telah payah jiwa dan raga. Tidak ada yang membersamai aku, selain mereka yang masih mampu bersabar dengan iman. Itu pun aku tidak tahu. Mungkin sebentar lagi, kesabaran mereka pun akan habis, lalu meninggalkan aku. Aku merasa sendiri, Ibu! Sendiri menghadapi perang yang nampaknya sudah mustahil untuk dimenangkan.”

Wanita tua yang telah hampir satu abad berkelana dalam hidup itu menelan ludah. Sekedar menelan sebuah kepahitan agar tak lagi ia rasakan.

”Mereka menawarkan aku harta dan kuasa. Tapi engkau tahu, aku tidak menginginkannya sedikit pun, Ibu! Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Air mata lelaki tua berbaju zirah itu kembali meleleh. Membasahi kain di pangkuan sang ibu tua.

Ia seorang ibu. Ya, ibu! Tentu mendidih perasaannya mendengar tutur putranya. Marah pada ketidakadilan dan kekejaman yang tak manusiawi. Ibu tua itu pastilah sudah mendengar apa saja yang telah dilakukan orang bernama Al Hajjaj Ats Tsaqafi itu!

Ribuan manusia yang melawan di bawah komando putranya, habis dipenggal. Kepalanya ditumpuk, dijajar rapi membentuk gundukan. Seolah Al Hajjaj ingin mengoleksinya. Lalu ia tertawa girang, membawa air api dan meneguknya, lalu duduk di atas gundukan kepala manusia dengan keangkuhannya. Bengis! ‘Ulama’ yang dulunya termasuk salah satu perumus harakat Al Qur’an itu menajisi Al Haram Makkah dengan congkaknya.

Ibu tua itu juga sudah mendengar, akan qishwah yang telah terbakar oleh bola-bola api yang dilempar pasukan Al Hajjaj.

Ia geram. Tangannya mengepal keras. Giginya terdengar bergemelutuk.

Sekarang ia mendengar putranya bertutur, bahwa biadab itu telah menipu pengikut, bahkan keluarga putranya. Menipunya dengan dunia sementara, agar meninggalkan putranya yang masih enggan tunduk pada kuasa tirani beradab jahili.

Perempuan itu membelai lembut kepala putra yang tinggal satu-satunya ia miliki. Lelaki tua itu tampak sebagai seorang anak yang tengah merasakan belaian manja ibunda. Wajahnya kini yang diusap penuh kasih oleh perempuan tua itu.

Andai perempuan renta itu masih mampu  melihat, tentu ia akan menyaksikan wajah yang kini diusapnya penuh kasih itu tengah kalut, di balik air mata dan darah pengorbanan yang terlukis rapi di wajahnya yang menua.

Wallahi, aku tahu bahwa kau lebih mengetahui tentang dirimu sendiri, Putraku. Jika kau yakin bahwa engkau berada di atas kebenaran, dan kau menyeru manusia padanya, maka teruslah berjuang. Sahabat-sahabatmu telah terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Aku yakin, anak-anak Bani Umayyah itu tidak akan bermain-main dengan lehermu. Jangan menjadi lemah karena ketakutanmu, Nak.

Lelaki tua itu mendengarkan dengan penuh takzim.

“Jika kau lebih memilih dunia, maka bagiku kau adalah Abdullah yang paling buruk dari yang terburuk! Itu bukan sikap seorang Abdullah yang pernah disanjung Nabi. Bukan pula sikap seorang mukmin sejati! Berapa lama lagi kau akan menikmati dunia itu? Bagiku syahid jauh lebih mulia!”

Abdullah, lelaki tua itu, memandang wajah keras ibunya. Wajah yang begitu teduh, sekaligus begitu keras mempertahankan prinsip keyakinan yang digenggamnya. Entah, berapa lama lagi ia masih akan mampu memandang wajah keriput itu, dan mendengar untaian nasihat dari bibirnya. Sebab.... ia tahu, mungkin ini kesempatan terakhirnya.

“Ibu,.... aku.....,” suaranya tercekat. “.... aku khawatir, bila mereka telah membunuhku, para penduduk Syam itu akan memotong-motong, atau mungkin menyalib tubuhku!”

“Abdullah,....,” perempuan tua itu menahan nafas. Memaksakan senyum di bibir keringnya. ”... kambing yang sudah disembelih, tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti.” 

Perempuan itu terdiam sejenak, sekadar mengatur napas yang mulai tersengal karena menahan buncahan emosi. “Tetaplah berjalan di atas bashirah-mu, dan minta tolonglah pada Allah. Dia sebaik-baik Penolong.”

Abdullah kembali memandangi ibunya. Ya, wanita tua itu benar! Untuk apa ia khawatir? Toh dia sama sekali tidak akan merasakan sakit ketika ia sudah mati!

Abdullah berdiri. Bersiap menuju takdir dengan jalan bashirah-nya.

Perempuan tua yang buta itu pun berdiri di hadapan putranya. Kembali memaksakan senyum, meski aku tahu, itu berat jika mengingat dan membayangkan apa yang akan ditemui putranya nanti. Ia maju untuk melepas putranya dengan sebuah pelukan. Ia mencoba meraba-raba, mencari dimana lengan putranya. Tapi ia tersentak ketika merasa telah menyentuh baju zirah yang masih melekat di tubuh Abdullah.

”Apa ini, Abdullah? Apakah dengan ini orang akan mendapatkan syahid?!” serunya.

Tanpa berkata apapun, Abdullah melepas semua perlengkapan zirahnya. Jika saja mata wanita itu masih mampu melihat, di hadapannya kini berdiri seorang lelaki tua berjubah lusuh, penuh debu perang dan safar yang belum juga berakhir. Tapi kali ini, mungkin safarnya segera berakhir, berlabuh pada tujuannya.

Perempuan tua itu memeluk erat putranya. Setegar apapun hatinya, ia tetap seorang wanita. Ia seorang ibu yang akan melepas putranya ke medan yang mungkin memisahkannya selamanya.

”Pergilah, Nak! Dapatkan mulianya syahid!” bisiknya.

                                                                     ***

 KINI, aku masih menekuri kisahmu, Ibu, saat berita itu datang padamu. Abdullah terbunuh. Kepalanya dipenggal, dan dihadiahkan pada Sang Khalifah. Sedang tubuhnya disalib di atas pohon Tinah.

Hina? Mungkin iya bagi mereka yang memang menginginkan ia mati dengan cara seperti itu. Tapi mulia bagimu, Ibu.

Meski aku tahu (ah, maafkan aku jika aku selalu merasa tahu tentangmu, Ibu), matamu gerimis. Jantungmu serasa ditikam perlahan. Kepalamu berdenyut, menjejalkan nyeri di leher yang entah sampai kapan mampu kau tanggung. Hatimu tersayat, berdarah pedih dan mengental. Seolah hanya kau yang merasakan sakitnya perlawanan tanpa hasil. Dan kini masih saja berusaha menepikan ketegaranmu.

Di tengah tangismu, ia datang. Berlagak angkuh mengucap salam. Merasakannya ada di hadapanmu, tiba-tiba ketegaranmu kembali. Oh, dia betul-betul sudah tidak tahu adab rupanya?! Beraninya dia menemuimu berhadapan seperti itu, menyingkap kain tabir usang yang telah engkau pasang untuk menerima tamu laki-laki.

Angkuhnya sempurna. Hitam hatinya pun mungkin sudah terlalu pekat. Hingga tak mampu lagi melihat cahaya. Ia lebih buta darimu, Ibu.

Engkau tidak melihatnya, namun perasaanmu jauh lebih mampu memandang keangkuhannya. Mungkin jika engkau mampu melihat, memandang wajahnya yang seolah tanpa dosa di depanmu itu, akan membuat engkau muak, perutmu bergolak ingin memuntahkan apa yang pernah engkau telan.

”Wahai, Ibuku,” ia berujar. ”... sesungguhnya Amirul Mukminin telah memerintahkan aku untuk berbuat baik kepadamu dan memenuhi semua keperluanmu. Karena engkau adalah wanita mulia yang telah merasakan perjuangan bersama Nabi. Katakan saja kepadaku, apa saja yang engkau perlukan, Ibuku?”

Ibuku? Bah! Dia memanggilmu dengan ’Ibuku’?! Aku tahu, telingamu sakit mendengarnya, Ibu.

Engkau hadapkan wajahmu kepadanya. Keras.

”Aku bukan ibumu! Aku adalah ibu dari orang yang kau salib di atas pohon Tinah. Dan aku tidak butuh bantuanmu untuk memenuhi kebutuhanku. Terima kasih atas kata-kata manismu, Al Hajjaj. Tapi aku juga tidak butuh dengan bualan-bualanmu. Mungkin kau yang butuh untuk mendengar sebuah perkataan dari wanita renta ini. Perkataan yang, demi Allah, aku mendengarnya sendiri dari Rasulullah. Beliau mengatakan, bahwa di Tsaqif akan muncul pendusta dan perusak. Kami sudah maklum siapa pendusta itu. Musailamah Al Kadzdzab yang mengaku nabi! Sedangkan perusak, sekarang aku tahu, bahwa itu adalah kau, Putra Yusuf dari Tsaqif!”

Ah.... begitu anggun dan tenang caramu berbicara, duhai Ibu.

Lihatlah dia. Keningnya berkerut mendengar engkau bicara.

”Ya, aku yang telah memenggal putramu. Memangnya kenapa, Asma’?”

Engkau tersenyum, Ibu. Seakan kemenangan ada padamu dan kau ingin menggetarkan musuhmu dengan senyum tegarmu.

”Kau telah merusak dunianya, dan dia telah merusak akhiratmu!”

Ia geram. Mendengus kesal. Mungkin jika tak mengingat perintah Sultannya untuk berbuat baik kepadamu, engkau sudah diperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan orang yang menentangnya. 

Dengan hati yang tertohok, dia pergi. Meninggalkan engkau sendirian.

Kini yang kulihat, engkau kembali mengucurkan kasihmu yang menetes-netes dari mata air yang dulu mampu memandang dunia. Engkau terguncang perlahan, namun aku seakan mampu mendengar isak yang coba engkau tahan. Ah, menangislah, Ibu.... Bagaimana pun engkau adalah seorang ibu, yang pernah mengandung Sang Penentang Enam Khalifah, putra pertama yang lahir dalam keIslaman. Engkau yang merawatnya dengan penuh kasih di tengah gejolak hijrah dan tekanan kaummu dahulu. Ia, yang merupakan satu dari tiga Abdullah yang dipuji Sang Nabi.

Menangislah, Ibu. Menangislah, dan biarlah dinding tegarmu memantulkanmu pada cermin yang memperlihatkan putramu yang tengah masyuk di bawah hijau surga. 

Desiran pasir bergerak perlahan. Mendesah kering seakan berpamitan. Ia menelusur, menepikan tegar yang terbawa cinta dari wanita bersabuk dua....

***
01.37 WIB
Rumah, 251209
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

NB: Cerpen singkat ini selesai saya tulis tanggal 25 Desember 2009 lalu, jam 01.37 dini hari, usai membaca buku Sirah Shahabiyyah. Pernah saya posting di Facebook, tapi sudah saya hapus lagi. Sekarang, karena tiap hari di TV ada film Omar (Umar bin Khaththab), saya jadi inget lagi soal cerpen ini. Pengen aja share cerpen ini di blog. Karena ini cerpen epik pertama saya (sampai sekarang belum berani bikin epik beginian lagi), dan tiap saya baca ulang, saya selalu kembali merinding. Semoga bermanfaat. ^_^

7 Ramadhan 1433 H


0 comments :

Post a Comment