Bismillahirrahmanirrahim
ANGIN gurun membawa luka di bawah terik yang menyengat. Anyir darah
mengaroma, jasad-jasad tanpa nyawa dengan luka ternganga, seakan lumrah dilihat
mata. Mampu
kurasakan itu, meski hanya lewat untaian kata-kata yang berkisah duka.
Geramnya hati melihat Ka’bah terkoyak, qishwah-nya yang anggun telah hangus
oleh api kebencian yang dilontarkan ketapel raksasa. Tak sadarkah mereka,
justru mungkin, kelak bola-bola api yang mereka lempar itu akan membakar tubuh
mereka, merajam hingga mungkin tak lagi bersisa, karena telah menodai rumah
yang mulia?
Aku melihat seorang lelaki tua berusia tujuh
puluhan di sana, di samping Ka’bah. Tubuhnya terbalut zirah perak yang memudar,
dengan pedang yang tersimpan tenang di sampingnya. Jenggot panjangnya telah
memutih. Kerutan-kerutan di wajahnya, bagiku bukan karena usia, tetapi lebih
karena dendam. Ya, dendam akan ketidakadilan, kemarahan akan kekejaman, dan
ketakutan yang entah dari mana datang.
Ada lelehan di matanya. Tak peduli pada luka-luka
goresan yang masih menganga di pipi kanannya. Biadab! Semoga laknat Allah bagi
yang menghinakan dan membakar bait suci-Nya!
Entah bagaimana buncahan emosionalnya. Tapi
kubisa meraba sebuah kekecewaan. Bahkan aku pun turut geram. Apa yang ada di
benak mereka; kerabat-kerabatnya, pengikut-pengikutnya, pasukannya, bahkan
putra-putranya?? Mengapa banyak yang cepat menyerah pada adikuasa sang tirani?
Tidakkah mereka marah karena Al Haram telah dinajisi darah-darah pengkhianat?
Ah, mungkin mereka telah lelah. Lebih dari tujuh bulan mereka berupaya. Mereka
lelah...
Lelaki itu terduduk di lututnya. Sejak perang
ini dimulai, ia telah kehilangan seluruh putranya. Hilang. Sebab lelah
menanggung beban, dan memilih menyerah pada mereka yang berkuasa.
Kini sunyi dunianya meski di sekitarnya masih
lalu lalang kepanikan manusia. Masih meringkik kuda-kuda yang berlari tanpa
penunggangnya. Masih hingar ratapan-ratapan penghuni Makkah. Gelegar qishwah yang terbakar pun masih
menghiriskan duka. Rabbi, bukankah aku
benar? mungkin begitu pikirnya.
***
WANITA tua itu mendesah pelan. Berat. Tubuh kurusnya dibalut kain hitam tebal yang menjuntai dari kepala hingga menenggelamkan kakinya. Ia terduduk. Putranya bersimpuh di pangkuannya.
WANITA tua itu mendesah pelan. Berat. Tubuh kurusnya dibalut kain hitam tebal yang menjuntai dari kepala hingga menenggelamkan kakinya. Ia terduduk. Putranya bersimpuh di pangkuannya.
”Ibu, ....,” ujar lelaki itu berat. ”... aku
telah ditinggalkan. Sekarang semua merendahkan aku. Bahkan istri dan
anak-anakku pun memilih menjadi abdi mereka, dari pada mendukung aku yang telah
payah jiwa dan raga. Tidak ada yang membersamai aku, selain mereka yang masih
mampu bersabar dengan iman. Itu pun aku tidak tahu. Mungkin sebentar lagi,
kesabaran mereka pun akan habis, lalu meninggalkan aku. Aku merasa sendiri,
Ibu! Sendiri menghadapi perang yang nampaknya sudah mustahil untuk
dimenangkan.”
Wanita tua yang telah hampir satu abad
berkelana dalam hidup itu menelan ludah. Sekedar menelan sebuah kepahitan agar
tak lagi ia rasakan.
”Mereka menawarkan aku harta dan kuasa. Tapi
engkau tahu, aku tidak menginginkannya sedikit pun, Ibu! Lalu sekarang apa yang
harus aku lakukan?”
Air mata lelaki tua berbaju zirah itu kembali
meleleh. Membasahi kain di pangkuan sang ibu tua.
Ia seorang ibu. Ya, ibu! Tentu mendidih perasaannya mendengar tutur
putranya. Marah pada ketidakadilan dan kekejaman yang tak manusiawi. Ibu tua
itu pastilah sudah mendengar apa saja yang telah dilakukan orang bernama Al Hajjaj
Ats Tsaqafi itu!
Ribuan
manusia yang melawan di bawah komando putranya, habis dipenggal. Kepalanya
ditumpuk, dijajar rapi membentuk gundukan. Seolah Al Hajjaj ingin
mengoleksinya. Lalu ia tertawa girang, membawa air api dan meneguknya, lalu duduk
di atas gundukan kepala manusia dengan keangkuhannya. Bengis! ‘Ulama’ yang
dulunya termasuk salah satu perumus harakat Al Qur’an itu menajisi Al Haram
Makkah dengan congkaknya.
Ibu tua
itu juga sudah mendengar, akan qishwah
yang telah terbakar oleh bola-bola api yang dilempar pasukan Al Hajjaj.
Ia geram.
Tangannya mengepal keras. Giginya terdengar bergemelutuk.
Sekarang
ia mendengar putranya bertutur, bahwa biadab itu telah menipu pengikut, bahkan
keluarga putranya. Menipunya dengan dunia sementara, agar meninggalkan putranya
yang masih enggan tunduk pada kuasa tirani beradab jahili.
Perempuan
itu membelai lembut kepala putra yang tinggal satu-satunya ia miliki. Lelaki
tua itu tampak sebagai seorang anak yang tengah merasakan belaian manja ibunda.
Wajahnya kini yang diusap penuh kasih oleh perempuan tua itu.
Andai
perempuan renta itu masih mampu melihat,
tentu ia akan menyaksikan wajah yang kini diusapnya penuh kasih itu tengah
kalut, di balik air mata dan darah pengorbanan yang terlukis rapi di wajahnya
yang menua.
“Wallahi, aku tahu bahwa kau lebih
mengetahui tentang dirimu sendiri, Putraku. Jika kau yakin bahwa engkau berada
di atas kebenaran, dan kau menyeru manusia padanya, maka teruslah berjuang.
Sahabat-sahabatmu telah terbunuh karena mempertahankan kebenaran itu. Aku
yakin, anak-anak Bani Umayyah itu tidak akan bermain-main dengan lehermu.
Jangan menjadi lemah karena ketakutanmu, Nak.”
Lelaki tua
itu mendengarkan dengan penuh takzim.
“Jika kau
lebih memilih dunia, maka bagiku kau adalah Abdullah yang paling buruk dari
yang terburuk! Itu bukan sikap seorang Abdullah yang pernah disanjung Nabi.
Bukan pula sikap seorang mukmin sejati! Berapa lama lagi kau akan menikmati
dunia itu? Bagiku syahid jauh lebih mulia!”
Abdullah,
lelaki tua itu, memandang wajah keras ibunya. Wajah yang begitu teduh,
sekaligus begitu keras mempertahankan prinsip keyakinan yang digenggamnya.
Entah, berapa lama lagi ia masih akan mampu memandang wajah keriput itu, dan
mendengar untaian nasihat dari bibirnya. Sebab.... ia tahu, mungkin ini
kesempatan terakhirnya.
“Ibu,....
aku.....,” suaranya tercekat. “.... aku khawatir, bila mereka telah membunuhku,
para penduduk Syam itu akan memotong-motong, atau mungkin menyalib tubuhku!”
“Abdullah,....,” perempuan tua itu menahan
nafas. Memaksakan senyum di bibir keringnya. ”... kambing yang sudah
disembelih, tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti.”
Perempuan itu terdiam sejenak, sekadar
mengatur napas yang mulai tersengal karena menahan buncahan emosi. “Tetaplah berjalan di atas bashirah-mu, dan minta tolonglah pada Allah. Dia sebaik-baik
Penolong.”
Abdullah kembali memandangi ibunya. Ya,
wanita tua itu benar! Untuk apa ia khawatir? Toh dia sama sekali tidak akan
merasakan sakit ketika ia sudah mati!
Abdullah berdiri. Bersiap menuju takdir dengan
jalan bashirah-nya.
Perempuan tua yang buta itu pun berdiri di
hadapan putranya. Kembali memaksakan senyum, meski aku tahu, itu berat jika
mengingat dan membayangkan apa yang akan ditemui putranya nanti. Ia maju untuk
melepas putranya dengan sebuah pelukan. Ia mencoba meraba-raba, mencari dimana
lengan putranya. Tapi ia tersentak ketika merasa telah menyentuh baju zirah
yang masih melekat di tubuh Abdullah.
”Apa ini, Abdullah? Apakah dengan ini orang
akan mendapatkan syahid?!” serunya.
Tanpa berkata apapun, Abdullah melepas semua
perlengkapan zirahnya. Jika saja mata wanita itu masih mampu melihat, di
hadapannya kini berdiri seorang lelaki tua berjubah lusuh, penuh debu perang
dan safar yang belum juga berakhir. Tapi kali ini, mungkin safarnya segera berakhir,
berlabuh pada tujuannya.
Perempuan tua itu memeluk erat putranya.
Setegar apapun hatinya, ia tetap seorang wanita. Ia seorang ibu yang akan
melepas putranya ke medan yang mungkin memisahkannya selamanya.
”Pergilah, Nak! Dapatkan mulianya syahid!” bisiknya.
***
KINI, aku masih menekuri kisahmu, Ibu, saat berita itu datang padamu. Abdullah terbunuh. Kepalanya dipenggal, dan dihadiahkan pada Sang Khalifah. Sedang tubuhnya disalib di atas pohon Tinah.
KINI, aku masih menekuri kisahmu, Ibu, saat berita itu datang padamu. Abdullah terbunuh. Kepalanya dipenggal, dan dihadiahkan pada Sang Khalifah. Sedang tubuhnya disalib di atas pohon Tinah.
Hina? Mungkin iya bagi mereka yang memang
menginginkan ia mati dengan cara seperti itu. Tapi mulia bagimu, Ibu.
Meski aku tahu (ah, maafkan aku jika aku
selalu merasa tahu tentangmu, Ibu), matamu gerimis. Jantungmu serasa ditikam
perlahan. Kepalamu berdenyut, menjejalkan nyeri di leher yang entah sampai
kapan mampu kau tanggung. Hatimu tersayat, berdarah pedih dan mengental. Seolah
hanya kau yang merasakan sakitnya perlawanan tanpa hasil. Dan kini masih saja
berusaha menepikan ketegaranmu.
Di tengah tangismu, ia datang. Berlagak
angkuh mengucap salam. Merasakannya ada di hadapanmu, tiba-tiba ketegaranmu
kembali. Oh, dia betul-betul sudah tidak tahu adab rupanya?! Beraninya dia
menemuimu berhadapan seperti itu, menyingkap kain tabir usang yang telah engkau
pasang untuk menerima tamu laki-laki.
Angkuhnya sempurna. Hitam hatinya pun mungkin
sudah terlalu pekat. Hingga tak mampu lagi melihat cahaya. Ia lebih buta
darimu, Ibu.
Engkau tidak melihatnya, namun perasaanmu
jauh lebih mampu memandang keangkuhannya. Mungkin jika engkau mampu melihat,
memandang wajahnya yang seolah tanpa dosa di depanmu itu, akan membuat engkau
muak, perutmu bergolak ingin memuntahkan apa yang pernah engkau telan.
”Wahai, Ibuku,” ia berujar. ”... sesungguhnya
Amirul Mukminin telah memerintahkan aku untuk berbuat baik kepadamu dan
memenuhi semua keperluanmu. Karena engkau adalah wanita mulia yang telah
merasakan perjuangan bersama Nabi. Katakan saja kepadaku, apa saja yang engkau
perlukan, Ibuku?”
Ibuku? Bah! Dia memanggilmu dengan ’Ibuku’?!
Aku tahu, telingamu sakit mendengarnya, Ibu.
Engkau hadapkan wajahmu kepadanya. Keras.
”Aku bukan ibumu! Aku adalah ibu dari orang
yang kau salib di atas pohon Tinah. Dan aku tidak butuh bantuanmu untuk memenuhi
kebutuhanku. Terima kasih atas kata-kata manismu, Al Hajjaj. Tapi aku juga
tidak butuh dengan bualan-bualanmu. Mungkin kau yang butuh untuk mendengar
sebuah perkataan dari wanita renta ini. Perkataan yang, demi Allah, aku
mendengarnya sendiri dari Rasulullah. Beliau mengatakan, bahwa di Tsaqif akan
muncul pendusta dan perusak. Kami sudah maklum siapa pendusta itu. Musailamah
Al Kadzdzab yang mengaku nabi! Sedangkan perusak, sekarang aku tahu, bahwa itu
adalah kau, Putra Yusuf dari Tsaqif!”
Ah.... begitu anggun dan tenang caramu
berbicara, duhai Ibu.
Lihatlah dia. Keningnya berkerut mendengar
engkau bicara.
”Ya, aku yang telah memenggal putramu.
Memangnya kenapa, Asma’?”
Engkau tersenyum, Ibu. Seakan kemenangan ada
padamu dan kau ingin menggetarkan musuhmu dengan senyum tegarmu.
”Kau telah merusak dunianya, dan dia telah
merusak akhiratmu!”
Ia geram. Mendengus kesal. Mungkin jika tak
mengingat perintah Sultannya untuk berbuat baik kepadamu, engkau sudah
diperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan orang yang menentangnya.
Dengan hati yang tertohok, dia pergi.
Meninggalkan engkau sendirian.
Kini yang kulihat, engkau kembali mengucurkan
kasihmu yang menetes-netes dari mata air yang dulu mampu memandang dunia.
Engkau terguncang perlahan, namun aku seakan mampu mendengar isak yang coba
engkau tahan. Ah, menangislah, Ibu.... Bagaimana pun engkau adalah seorang ibu,
yang pernah mengandung Sang Penentang Enam Khalifah, putra pertama yang lahir
dalam keIslaman. Engkau yang merawatnya dengan penuh kasih di tengah gejolak
hijrah dan tekanan kaummu dahulu. Ia, yang merupakan satu dari tiga Abdullah
yang dipuji Sang Nabi.
Menangislah, Ibu. Menangislah, dan biarlah
dinding tegarmu memantulkanmu pada cermin yang memperlihatkan putramu yang
tengah masyuk di bawah hijau surga.
Desiran pasir bergerak perlahan. Mendesah
kering seakan berpamitan. Ia menelusur, menepikan tegar yang terbawa cinta dari
wanita bersabuk dua....
***
01.37 WIB
Rumah, 251209
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
NB: Cerpen
singkat ini selesai saya tulis tanggal 25 Desember 2009 lalu, jam 01.37 dini
hari, usai membaca buku Sirah Shahabiyyah. Pernah saya posting di Facebook,
tapi sudah saya hapus lagi. Sekarang, karena tiap hari di TV ada film Omar
(Umar bin Khaththab), saya jadi inget lagi soal cerpen ini. Pengen aja share
cerpen ini di blog. Karena ini cerpen epik pertama saya (sampai sekarang belum
berani bikin epik beginian lagi), dan tiap saya baca ulang, saya selalu kembali
merinding. Semoga bermanfaat. ^_^
7 Ramadhan 1433 H

0 comments :
Post a Comment