Bismillahirrahmanirrahim
Aku tidak akan bicara tentang cinta
Tapi ini tentang sebuah tanggung jawab
Bukan sebab dosa
Mungkin karena doanya
Aku memilihnya, dan tak akan
melepaskannya
Bahkan jika Tuhan bersikeras
merebutnya
Ah... tapi aku bisa apa?
Jika Dia sudah bertitah, semua Kata
menjadi nyata
Lelaki itu diam seraya memandangi wajah tirus di hadapannya.
Cantik, meski tanpa polesan make up apapun. Perlahan, lelaki itu mendekat dan
duduk di samping perempuan yang tampak sangat lelap dalam mimpinya. Entahlah,
lelaki itu tidak tahu pasti, apakah saat ini perempuan masih bisa bermimpi.
Ia raih tangan halus yang tergolek
lemah di tepi tempat tidur. Ia tautkan jemarinya, mengisi kekosongan di sela-sela
jari perempuan itu. Ia genggam tangan itu erat-erat, seakan enggan
melepaskannya lagi untuk saat ini dan seterusnya. Ia bawa genggaman tangan itu
ke bibirnya, lalu ia kecup perlahan.
Matanya tiba-tiba saja memanas kala
melihat mata perempuan itu bergetar. Mungkin perempuan itu akan bangun dari
tidurnya. Setetes kristal cair meleleh dari matanya karena tak ia dapati
perempuan itu membuka mata. Kembali ia kecup genggaman tangan itu.
“Aku memilihmu. Jangan tinggalkan aku,”
ujarnya pelan dengan suara seraknya.
Lelaki itu bangkit, lalu mendekatkan
bibirnya hingga hanya berjarak beberapa senti dari telinga perempuan itu.
“Aku mencintaimu,” bisiknya.
~O~
5 Ramadhan 1433 H

5 comments :
Wah, ini bagus banget. Adegannya. Pemilihan kata. Penutupnya.
Lanjut. xD
gak tau ini, tiba2 aja tercetus pengen ditulis
xD
membaca puisinya, aku seperti membaca perasaan seorang perempuan yang kukenal... :/
sinten mbak? :|
super!
Post a Comment