Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Satu 'Atap' Kok Beda?



Bismillahirrahmanirrahim


Sudah lama sekali gak mengikuti kajian langsung di masjid. Mumpung ada waktu luang di hari Ahad, okelah ayo ngaji bareng istri. Kita pun berangkat. Alhamdulillah, kayaknya sih kajiannya baru mulai. Tapi ya mungkin gara-gara lama gak ngaji rutin, jadinya waktu satu jam saja sudah terasa lamaa banget. Sampai ngantuk-ngantuk. xD

Selesai shalat Dhuhur, kita pulang dong. Lapar pisan. Lalu tiba-tiba, istri cerita, kalau dia ketemu dengan temannya di tempat akhwat tadi. Alhamdulillah, akhirnya istri saya gak bakal sendirian lagi kalau ngaji di tempat akhwat. Seenggaknya ada yang dia kenal.


Dan sampailah pada cerita yang membuat saya agak mengernyitkan dahi.


“Aku kirain kamu ikut kajian yang pagi, Dek,” kata istri saya ke temennya itu. Kajian yang kita ikutin ini dimulainya jam 10 pagi. Sebelum itu, ada kajian dari kelompok pengajian lain yang dimulai jam 7:30 dan selesai jam 8:30.

“Oh, enggak, Mbak. Aku ikut yang siang,” jawab temen istri saya. Ribet amat ya, kita sebut aja namanya Kamboja (karena nama ‘Bunga’, ‘Mawar’, ‘Melati’, sudah terlalu mainstream xD).

“Udah lama, Dek, ikut kajian yang ini?” tanya istri saya lagi.

“Baru, Mbak. Sekitar tiga tahunan lah.”

“Tahu jadwal kajian di Madiun gak, Dek?”

“Di Madiun susah, Mbak. Makanya aku ke sini aja.”

“Oh, kirain tahu. Suami ane sih bilang katanya di masjid XXX ada. Tapi kita gak tahu jadwalnya.”

“Yang ngisi ustadz siapa, Mbak?”

“Kata suami sih, kadang ada Ustadz Fulan dan lain-lain gitu, Dek.”

“Oh, Ustadz Fulan itu kan sesat, Mbak.”

“Hah?”

“Itu surury. Banyak penyimpangannya, Mbak.”

Hmm… Sampai di sini, saya sudah agak terkejut. Walah, ngapain bahas ginian yak? Pikir saya. Istri saya juga jadi bingung. Dia bilang, bahwa selama ini nonton kajian dari video di Youtube, dari streaming, dll.

“Dulu ana juga awalnya via streaming, Mbak. Tapi lama-lama kok pengen ikut secara langsung, jadinya ya ana kesini aja. Insya Allah kalau yang di sini lurus, Mbak,” tambah Kamboja.

Subhanallah… Doeng doeng!!! Istri saya pun makin bingung. Kenapa yang sebutannya pakai satu nama, bisa saling serang begini ya? Perasaan, di tempat istri saya ngaji dulu, gak pernah ada perselisihan yang sampai saling mengatakan sesat saudaranya yang lain. Begitu kira-kira uneg-uneg istri saya.

Lantas kemudian, saya imbangi cerita Kamboja tadi. Bahwa saya sendiri, sejak awal ngaji juga sudah ‘ditakut-takuti’ dengan hal-hal semacam itu.

Dulu, waktu masih awal-awal kenal manhaj salaf, saya suka baca-baca majalah Elfata. Bisa dibilang, dari sanalah saya mulai mengerti, bahwa kita hidup sebagai muslim, haruslah berpegang dengan Al Quran dan As Sunnah, dengan pemahaman generasi terbaik ummat ini. Dari sana pula, muncul keinginan saya untuk mulai mengikuti kajian secara langsung.

Saat saya shalat di masjid dekat rumah, qadarallah saya melihat-lihat papan pengumuman. Di sana tertempel jadwal kajian ahlus sunnah tiap Ahad sore ba’da ‘Ashr. Entah kenapa, hati saya berbisik, mungkin inilah kajian yang selama ini saya cari. Singkat kata, dengan modal nekat, saya pun mulai ngaji.

Ketika mulai berkenalan dengan ikhwan-ikhwan di sana, mereka pun mulai tanya-tanya alamat saya, sekolah saya, kok saya bisa kenal dengan manhaj salaf, dan sebagainya. Yang intinya, saya pun bercerita bahwa selama ini saya membaca majalah Elfata, dan pernah sekali membeli majalah As Sunnah. Tapi jawaban mereka apa?

“Wah, itu majalahnya surury. Lebih baik ditinggalkan saja. Banyak penyimpangannya di sana. Insya Allah yang bagus itu majalah Asy Syariah, diasuh oleh ustadz-ustadz besar.” Kira-kira seperti itulah. Saya sudah lupa dong gimana persisnya omongan mereka, wong itu sudah 10 tahun yang lalu. :D

Lalu mulailah saya dicekoki bahwa selain yang ikut ngaji dengan ustadz-ustadz salafynya majalah Asy Syariah, berarti adalah surury! Oke. Jiwa muda saya bergelora. Saya telan mentah-mentah. Tanpa mencari tahu dulu, gimana sih modelnya yang disebut ‘surury’ itu.

Tiap ada teman yang mulai tertarik dengan manhaj salaf, saya langsung mewanti-wanti. Hati-hati dengan majalah A, B, C, dengan penerbit D, E, F, mereka itu bukan salafy. Hati-hati dengan yayasan X, Y, Z, yang digawangi Ustadz Fulan, Fulin, Fulon, mereka itu surury, pengikutnya Muhammad Surur Zainal Abidin yang konon ‘sembunyi’ di London.

Ya, begitulah, saya pernah berada dalam fase seperti Kamboja. Langsung memberi label surury pada mereka yang bukan berasal dari sisi majalah Asy Syariah.

Lambat laun, saya coba kenali satu persatu asatidz sebelah yang selama ini dicap ‘menyimpang’. Saya ikuti Facebooknya, saya buka situs-situsnya, saya download audio dan video-video ceramahnya. Apa yang saya dapati? Ilmu.

Tidak ada di sana hal-hal yang selama ini dituduhkan. Tidak ada. Oke katakanlah, bisa jadi mereka tidak menampakkan hal itu kepada publik. Then? Lalu apa? Ya syukurlah tidak ditampakkan, karena nyatanya memang yang mereka perlihatkan hanyalah tentang ilmu-ilmu Islam yang begitu luas. Bahkan dalam beberapa tulisan, saya dapati mereka sendiri memperingatkan ummat dari bahayanya pemikiran sururiyyah. Saya juga dapati tulisan-tulisan mereka, yang ‘membela diri’, di saat mereka menerima tudingan-tudingan miring dari saudara-saudaranya, yang sebelumnya begitu dekat dengan mereka. Dan pembelaan diri itu, sungguh, indah sekali. Alangkah indahnya tabayyun, mendengar penjelasan dari dua pihak. Melakukan konfirmasi.

Di belakangan hari ini, saya merasakan, dakwah salaf berkembang dengan sangat pesat. Beberapa artis yang sering tampil di layar kaca pun, beberapa sudah tersentuh dengan dakwah ini. Dan dari kubu manakah dakwah ini bisa jauh lebih dikenal oleh masyarakat luas? :) Alhamdulillah, saya sendiri juga merasakan manfaat yang besar dengan semakin maraknya situs-situs ahlus sunnah, ditambah dengan radio-radio, dan channel-channel TV yang menawarkan tuntunan, bukan sekadar tontonan.

Banyak orang yang mengenal manhaj salaf, justru awalnya dari kubu mereka yang ditahdzir sebagai ‘surury’. Semisal saya, yang mengenal manhaj salaf dari majalah Elfata dan As Sunnah. Banyak orang lain yang mengenal manhaj ini melalui radio Rodja, RodjaTV, ataupun YufidTV. Masya Allah, walhamdulillah…

Yah, mungkin saya ini juga sudah ‘menyimpang’, sudah berpemikiran ‘gado-gado’, sudah jadi ‘surury’. Terserahlah cap apalagi yang akan melekat ke saya. Whatevaaaa… Saya sudah capek. Sudah gak mau lagi mikir bahwa yang nerima dana dari yayasan A berarti surury, yang membolehkan nyoblos saat pemilu adalah surury, mboh ah…

Kalau toh sampai sekarang saya masih ngikut kajian di tempat awal saya, itu karena memang saya perlu ilmunya. Karena bagaimanapun, saya menganggap semuanya ini salafy. Gak ada beda. Hanya yang satu lebih saklek, sedang yang satunya agak moderat. Gak masalah.

Yang jadi poin saya sebenarnya simpel. Singkat. Plis deh, kalau ada yang baru ngaji, gak usahlah dicekokin dengan masalah-masalah seperti itu. Gak usah sebut-sebut ustadz fulan sesat, banyak penyimpangan, dsb. Kalau toh memang itu yang ingin ditanamkan, nanti seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pemahaman, pasti akan mudheng sendiri kok. Jangan bikin orang yang baru tertarik ngaji, jadi ilfil dan takut.

Seperti kata istri saya, “Gimana sih, satu atap (sama-sama beratapkan Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih) kok beda dan saling bilang sesat?” Allahul musta’an.

Semoga Allah memberi kita semua petunjuk ke jalan yang lurus.

Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.


Magetan, 150615

0 comments :

Post a Comment