Bismillahirrahmanirrahim
Sudah lama sekali gak mengikuti
kajian langsung di masjid. Mumpung ada waktu luang di hari Ahad, okelah ayo
ngaji bareng istri. Kita pun berangkat. Alhamdulillah, kayaknya sih kajiannya
baru mulai. Tapi ya mungkin gara-gara lama gak ngaji rutin, jadinya waktu satu
jam saja sudah terasa lamaa banget. Sampai ngantuk-ngantuk. xD
Selesai shalat Dhuhur, kita
pulang dong. Lapar pisan. Lalu tiba-tiba, istri cerita, kalau dia ketemu dengan
temannya di tempat akhwat tadi. Alhamdulillah, akhirnya istri saya gak bakal
sendirian lagi kalau ngaji di tempat akhwat. Seenggaknya ada yang dia kenal.
Dan sampailah pada cerita yang
membuat saya agak mengernyitkan dahi.
“Aku kirain kamu ikut kajian yang
pagi, Dek,” kata istri saya ke temennya itu. Kajian yang kita ikutin ini
dimulainya jam 10 pagi. Sebelum itu, ada kajian dari kelompok pengajian lain
yang dimulai jam 7:30 dan selesai jam 8:30.
“Oh, enggak, Mbak. Aku ikut yang
siang,” jawab temen istri saya. Ribet amat ya, kita sebut aja namanya Kamboja
(karena nama ‘Bunga’, ‘Mawar’, ‘Melati’, sudah terlalu mainstream xD).
“Udah lama, Dek, ikut kajian yang
ini?” tanya istri saya lagi.
“Baru, Mbak. Sekitar tiga tahunan
lah.”
“Tahu jadwal kajian di Madiun
gak, Dek?”
“Di Madiun susah, Mbak. Makanya
aku ke sini aja.”
“Oh, kirain tahu. Suami ane sih
bilang katanya di masjid XXX ada. Tapi kita gak tahu jadwalnya.”
“Yang ngisi ustadz siapa, Mbak?”
“Kata suami sih, kadang ada
Ustadz Fulan dan lain-lain gitu, Dek.”
“Oh, Ustadz Fulan itu kan sesat,
Mbak.”
“Hah?”
“Itu surury. Banyak penyimpangannya, Mbak.”
Hmm… Sampai di sini, saya sudah
agak terkejut. Walah, ngapain bahas
ginian yak? Pikir saya. Istri saya juga jadi bingung. Dia bilang, bahwa
selama ini nonton kajian dari video di Youtube, dari streaming, dll.
“Dulu ana juga awalnya via streaming, Mbak. Tapi lama-lama kok
pengen ikut secara langsung, jadinya ya ana kesini aja. Insya Allah kalau yang
di sini lurus, Mbak,” tambah Kamboja.
Subhanallah… Doeng doeng!!! Istri saya pun makin bingung. Kenapa yang sebutannya
pakai satu nama, bisa saling serang begini ya? Perasaan, di tempat istri saya
ngaji dulu, gak pernah ada perselisihan yang sampai saling mengatakan sesat
saudaranya yang lain. Begitu kira-kira uneg-uneg istri saya.
Lantas kemudian, saya imbangi
cerita Kamboja tadi. Bahwa saya sendiri, sejak awal ngaji juga sudah
‘ditakut-takuti’ dengan hal-hal semacam itu.
Dulu, waktu masih awal-awal kenal
manhaj salaf, saya suka baca-baca majalah Elfata. Bisa dibilang, dari sanalah
saya mulai mengerti, bahwa kita hidup sebagai muslim, haruslah berpegang dengan
Al Quran dan As Sunnah, dengan pemahaman generasi terbaik ummat ini. Dari sana
pula, muncul keinginan saya untuk mulai mengikuti kajian secara langsung.
Saat saya shalat di masjid dekat
rumah, qadarallah saya melihat-lihat
papan pengumuman. Di sana tertempel jadwal kajian ahlus sunnah tiap Ahad sore
ba’da ‘Ashr. Entah kenapa, hati saya berbisik, mungkin inilah kajian yang
selama ini saya cari. Singkat kata, dengan modal nekat, saya pun mulai ngaji.
Ketika mulai berkenalan dengan
ikhwan-ikhwan di sana, mereka pun mulai tanya-tanya alamat saya, sekolah saya,
kok saya bisa kenal dengan manhaj salaf, dan sebagainya. Yang intinya, saya pun
bercerita bahwa selama ini saya membaca majalah Elfata, dan pernah sekali
membeli majalah As Sunnah. Tapi jawaban mereka apa?
“Wah, itu majalahnya surury. Lebih baik ditinggalkan saja.
Banyak penyimpangannya di sana. Insya Allah yang bagus itu majalah Asy Syariah,
diasuh oleh ustadz-ustadz besar.” Kira-kira seperti itulah. Saya sudah lupa
dong gimana persisnya omongan mereka, wong
itu sudah 10 tahun yang lalu. :D
Lalu mulailah saya dicekoki bahwa
selain yang ikut ngaji dengan ustadz-ustadz salafynya majalah Asy Syariah,
berarti adalah surury! Oke. Jiwa muda
saya bergelora. Saya telan mentah-mentah. Tanpa mencari tahu dulu, gimana sih
modelnya yang disebut ‘surury’ itu.
Tiap ada teman yang mulai
tertarik dengan manhaj salaf, saya langsung mewanti-wanti. Hati-hati dengan
majalah A, B, C, dengan penerbit D, E, F, mereka itu bukan salafy. Hati-hati
dengan yayasan X, Y, Z, yang digawangi Ustadz Fulan, Fulin, Fulon, mereka itu surury, pengikutnya Muhammad Surur
Zainal Abidin yang konon ‘sembunyi’ di London.
Ya, begitulah, saya pernah berada
dalam fase seperti Kamboja. Langsung memberi label surury pada mereka yang bukan berasal dari sisi majalah Asy
Syariah.
Lambat laun, saya coba kenali
satu persatu asatidz sebelah yang selama ini dicap ‘menyimpang’. Saya ikuti
Facebooknya, saya buka situs-situsnya, saya download audio dan video-video
ceramahnya. Apa yang saya dapati? Ilmu.
Tidak ada di sana hal-hal yang
selama ini dituduhkan. Tidak ada. Oke katakanlah, bisa jadi mereka tidak
menampakkan hal itu kepada publik. Then?
Lalu apa? Ya syukurlah tidak ditampakkan, karena nyatanya memang yang mereka
perlihatkan hanyalah tentang ilmu-ilmu Islam yang begitu luas. Bahkan dalam
beberapa tulisan, saya dapati mereka sendiri memperingatkan ummat dari
bahayanya pemikiran sururiyyah. Saya
juga dapati tulisan-tulisan mereka, yang ‘membela diri’, di saat mereka
menerima tudingan-tudingan miring dari saudara-saudaranya, yang sebelumnya
begitu dekat dengan mereka. Dan pembelaan diri itu, sungguh, indah sekali.
Alangkah indahnya tabayyun, mendengar
penjelasan dari dua pihak. Melakukan konfirmasi.
Di belakangan hari ini, saya
merasakan, dakwah salaf berkembang dengan sangat pesat. Beberapa artis yang
sering tampil di layar kaca pun, beberapa sudah tersentuh dengan dakwah ini.
Dan dari kubu manakah dakwah ini bisa jauh lebih dikenal oleh masyarakat luas? :)
Alhamdulillah, saya sendiri juga merasakan manfaat yang besar dengan semakin
maraknya situs-situs ahlus sunnah, ditambah dengan radio-radio, dan
channel-channel TV yang menawarkan tuntunan, bukan sekadar tontonan.
Banyak orang yang mengenal manhaj
salaf, justru awalnya dari kubu mereka yang ditahdzir sebagai ‘surury’. Semisal saya, yang mengenal
manhaj salaf dari majalah Elfata dan As Sunnah. Banyak orang lain yang mengenal
manhaj ini melalui radio Rodja, RodjaTV, ataupun YufidTV. Masya Allah,
walhamdulillah…
Yah, mungkin saya ini juga sudah
‘menyimpang’, sudah berpemikiran ‘gado-gado’, sudah jadi ‘surury’. Terserahlah cap apalagi yang akan melekat ke saya. Whatevaaaa… Saya sudah capek. Sudah gak
mau lagi mikir bahwa yang nerima dana dari yayasan A berarti surury, yang membolehkan nyoblos saat
pemilu adalah surury, mboh ah…
Kalau toh sampai sekarang saya
masih ngikut kajian di tempat awal saya, itu karena memang saya perlu ilmunya.
Karena bagaimanapun, saya menganggap semuanya ini salafy. Gak ada beda. Hanya
yang satu lebih saklek, sedang yang satunya agak moderat. Gak masalah.
Yang jadi poin saya sebenarnya
simpel. Singkat. Plis deh, kalau ada yang baru ngaji, gak usahlah dicekokin
dengan masalah-masalah seperti itu. Gak usah sebut-sebut ustadz fulan sesat,
banyak penyimpangan, dsb. Kalau toh memang itu yang ingin ditanamkan, nanti
seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pemahaman, pasti akan mudheng
sendiri kok. Jangan bikin orang yang baru tertarik ngaji, jadi ilfil dan takut.
Seperti kata istri saya, “Gimana
sih, satu atap (sama-sama beratapkan Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman
salafush shalih) kok beda dan saling bilang sesat?” Allahul musta’an.
Semoga Allah memberi kita semua
petunjuk ke jalan yang lurus.
Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.
Magetan, 150615

0 comments :
Post a Comment