Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

My Avilla, Akhir Sebuah Pencarian


Bismillahirrahmanirrahim

My Avilla. Nih nopel saya beli seminggu yang lalu. Tapi gak tahu kenapa, dorongan untuk segera membaca nopel ini begitu kuat, sehingga terpaksa saya tunda dulu buku-buku lain yang juga ngantri. Maap yeee... :3

Saya adalah penggemar nopel-nopel hasil racikan ‘tangan dingin’ seorang Ifa Avianty sejak dulu. Yang paling saya suka adalah cara berceritanya yang seringkali nyantai banget, sehingga yang baca ini sama sekali gak ngerasa bosan. Mau tema yang ringan, sampai yang ‘berat’, Ifa Avianty selalu menyajikannya dengan ringan. Atau, emang sudah berusaha nulis yang agak ‘berat’, tapi nyatanya tetep kebawa sama signature style-nya? :D

Salah satu nopel ‘berat’nya adalah My Avilla ini. Katanya sih, nopel ini beda dari nopel-nopel beliau yang sebelum-sebelumnya. Nopel ini lebih ‘berat’, karena mengangkat tema tentang pencarian Tuhan.
Judul : My Avilla
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Afra Publishing
Harga : Rp26.000,-

Mengangkat cerita tentang seorang cewek bernama Trudy. Dia punya seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya, Margriet. Kakaknya itu baik banget, berjilbab, bahkan bisa dengan mudah sekali memaafkan kesalahan paling fatal yang Trudy lakukan. Ada juga Fajar, teman sekelas yang ditaksir Trudy, tapi ternyata Fajar justru dengan ‘gagah berani’ menyatakan perasaan kagum dan cintanya pada Margriet yang terpaut usia 4 tahun di atasnya.


Fajar, adalah seorang yang tumbuh dalam dua keyakinan, Islam dan Katolik. Ia selalu mencari jalan bagaimana menemukan dan mencintai Tuhan dalam agama-agama. Ia Muslim, tapi juga selalu bergetar begitu mendengarkan kidung-kidung pujian umat Katolik. Bahkan ia pernah ingin sekali menjadi seorang biarawan. Ia memutuskan kuliah di Roma, setelah Margriet menolaknya saat ia menyatakan cinta.

Ada juga Phil, seorang bule, dosen baru di tempat Margriet mengajar. Phil seorang yang tidak begitu mempercayai Tuhan, karena tidak mau terjebak pada ‘ritual abad pertengahan’. Tapi ia berubah setelah bertemu Margriet dan jatuh cinta padanya. Phil akhirnya menemukan muara cintanya yang sesungguhnya pada Tuhan. Dia memeluk Islam, dan akhirnya menikahi Margriet.

Saya menikmati sekali saat membaca nopel ini. Mengalir sekali, tanpa pernah ada niatan untuk berhenti. Beneran deh, saya akan terusin bacanya dalam sekali duduk, kalau aja saya gak ngantuk duluan. xD

Tapi, saya nyari-nyari, ini dimana ‘berat’nya? Bahasanya ringan banget gini. -_-

Iya sih, beberapa pembicaraan Fajar dan Margriet emang terasa agak berat. Tapi tetep disampaikan dengan cara yang cukup ringan kalau menurut saya.

Seperti biasa, kayaknya tokoh dalam nopel-nopel Ifa Avianty, selalu seorang perempuan dan laki-laki yang memiliki intelektual yang tinggi, dari kalangan kelas menengah ke atas, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yang cewek seringkali adalah seorang yang ceria, tapi bermental baja. Yang cowok biasanya seorang yang pendiam, introvert, tapi ganteng mampus, berwibawa dan saat bicara bikin cewek klepek-klepek. Iya gak sih? Kalaupun enggak, yang jelas saya ngerasa begitulah persamaan tokoh-tokoh yang dibangun Ifa Avianty dalam nopel-nopelnya.

Selain itu, satu lagi nih, PASTI tokohnya suka film dan lagu-lagu jaduuuul banget. Gile, gak tanggung-tanggung. Kesukaannya lagu-lagu jaman ’50-an, ’60-an, paling banter ya ’90-an. Begitupun di My Avilla ini. Lumayan gak mudheng sama seleranya. -_-

Nopel ini keren, tapi bukan berarti tanpa kelemahan. Salah satunya dari segi point of view. Nopel ini menggunakan POV 1 untuk semua tokoh. Artinya, semua tokohnya bercerita dalam novel ini, dengan kata ganti ‘aku’. Sayangnya, kok saya ngerasa gaya bahasanya semuanya sama ya? Bahkan Fajar yang pendiem itu, saat mendapat ‘tugas’ dari Ifa Avianty untuk bercerita tentang dirinya sendiri, bisa selancar itu dan gak ada kesan kakunya. Untung aja, tiap pergantian sudut pandang tokoh, ada keterangan di atasnya. Kalau enggak, bisa bingung karena gaya bahasanya mirip semua. >_<

Saya lumayan suka dengan gaya penceritaan di Cinta Semusim, karena sedikiiit ada perbedaan gaya bahasa di antara tokoh-tokohnya yang saling bercerita dengan POV 1. Yah, sedikit sih. Karena cuman perbedaan antara ‘aku’, dan ‘saya’. Yang udah pernah baca, pasti ngerti deh yang saya maksud.

Lalu, perpindahan agama Phil. Rasanya kok kurang dieksplor ya? Gejolak batin Phil itu gak begitu terasa. Sedikit penceritaan, eh tahu-tahunya si Phil udah mualaf aja. Terus, tahu-tahunya udah ditawarin nikah. Sama Margriet sang pujaan hatinya pula. Dorongan-dorongan, kebimbangan-kebimbangan, dan sebagainya itu cuman ditampakkan sekilas-sekilas saja. Sayang banget.

Kemudian, tentang Fajar. Cowok ‘labil’ yang kebanyakan ‘galau’ karena masih bingung terus mau belok ke agama yang mana. Di satu sisi, dia muslim dan terus belajar tentang Islamnya. Di sisi lain, dia menganggap semua agama sama saja. Makin bingung deh dia. Bertahun-tahun galau dan gak sembuh-sembuh. Apa karena pikirannya yang ‘terlalu kritis’ itu? Entahlah. Saya cuman orang bodoh yang gak terlalu memahami apa yang ada di otak para intelek yang sangat ‘kritis’. -_-

Di bagian akhir, saya merasa alur terlalu terburu-buru. Kayak ngejar detlen. Tahu-tahu begini, lompat ke paragraf setelahnya sudah begitu. Beneran buru-buru banget rasanya. Seakan penulis gak sabar pengen segera menuntaskan cerita ini. Sehingga, ending yang harusnya jadi hal yang paling membekas, nopel ini telah gagal memberikannya pada saya. Saat menutup buku, yang di pikiran saya cuman, “Udah? Gitu aja?”. :3

Overall, nopel ini layak kok untuk dikoleksi. Terutama buat yang suka dengan tema ‘berat’ seperti ini. Meskipun nyatanya, emang gak seberat Zukhruf Kasih-nya Azzura Dayana, atau Bumi Cinta-nya Kang Abik. Tapi masih layak untuk direkomendasikan. ^_^

Allahu a’lam.

Madiun, 260913

1 comments :

ternyata kita sama-sama membandingkan novel keren ini salah satunya dengan novel Zukhruf Kasih ya hehe ini resensi saya http://ridhodanbukunya.wordpress.com/2013/12/27/kisah-sang-pencinta-mencari-tuhan/ silakan kalau mau mampir :)

 

Post a Comment