Bismillahirrahmanirrahim
My Avilla. Nih nopel saya
beli seminggu yang lalu. Tapi gak tahu kenapa, dorongan untuk segera membaca
nopel ini begitu kuat, sehingga terpaksa saya tunda dulu buku-buku lain yang
juga ngantri. Maap yeee... :3
Saya adalah penggemar nopel-nopel hasil racikan ‘tangan dingin’ seorang Ifa Avianty sejak dulu. Yang paling saya suka adalah cara berceritanya yang seringkali nyantai banget, sehingga yang baca ini sama sekali gak ngerasa bosan. Mau tema yang ringan, sampai yang ‘berat’, Ifa Avianty selalu menyajikannya dengan ringan. Atau, emang sudah berusaha nulis yang agak ‘berat’, tapi nyatanya tetep kebawa sama signature style-nya? :D
Salah satu nopel ‘berat’nya
adalah My Avilla ini. Katanya sih, nopel ini beda dari nopel-nopel beliau yang
sebelum-sebelumnya. Nopel ini lebih ‘berat’, karena mengangkat tema tentang pencarian
Tuhan.
Mengangkat cerita tentang seorang cewek bernama Trudy. Dia punya seorang kakak perempuan yang sangat menyayanginya, Margriet. Kakaknya itu baik banget, berjilbab, bahkan bisa dengan mudah sekali memaafkan kesalahan paling fatal yang Trudy lakukan. Ada juga Fajar, teman sekelas yang ditaksir Trudy, tapi ternyata Fajar justru dengan ‘gagah berani’ menyatakan perasaan kagum dan cintanya pada Margriet yang terpaut usia 4 tahun di atasnya.
Fajar, adalah seorang yang tumbuh
dalam dua keyakinan, Islam dan Katolik. Ia selalu mencari jalan bagaimana
menemukan dan mencintai Tuhan dalam agama-agama. Ia Muslim, tapi juga selalu
bergetar begitu mendengarkan kidung-kidung pujian umat Katolik. Bahkan ia
pernah ingin sekali menjadi seorang biarawan. Ia memutuskan kuliah di Roma, setelah
Margriet menolaknya saat ia menyatakan cinta.
Ada juga Phil, seorang bule,
dosen baru di tempat Margriet mengajar. Phil seorang yang tidak begitu
mempercayai Tuhan, karena tidak mau terjebak pada ‘ritual abad pertengahan’.
Tapi ia berubah setelah bertemu Margriet dan jatuh cinta padanya. Phil akhirnya
menemukan muara cintanya yang sesungguhnya pada Tuhan. Dia memeluk Islam, dan
akhirnya menikahi Margriet.
Saya menikmati sekali saat
membaca nopel ini. Mengalir sekali, tanpa pernah ada niatan untuk berhenti.
Beneran deh, saya akan terusin bacanya dalam sekali duduk, kalau aja saya gak
ngantuk duluan. xD
Tapi, saya nyari-nyari, ini
dimana ‘berat’nya? Bahasanya ringan banget gini. -_-
Iya sih, beberapa pembicaraan
Fajar dan Margriet emang terasa agak berat. Tapi tetep disampaikan dengan cara
yang cukup ringan kalau menurut saya.
Seperti biasa, kayaknya tokoh
dalam nopel-nopel Ifa Avianty, selalu seorang perempuan dan laki-laki yang
memiliki intelektual yang tinggi, dari kalangan kelas menengah ke atas,
cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yang cewek seringkali adalah seorang yang
ceria, tapi bermental baja. Yang cowok biasanya seorang yang pendiam, introvert, tapi ganteng mampus,
berwibawa dan saat bicara bikin cewek klepek-klepek. Iya gak sih? Kalaupun
enggak, yang jelas saya ngerasa begitulah persamaan tokoh-tokoh yang dibangun
Ifa Avianty dalam nopel-nopelnya.
Selain itu, satu lagi nih, PASTI
tokohnya suka film dan lagu-lagu jaduuuul banget. Gile, gak tanggung-tanggung.
Kesukaannya lagu-lagu jaman ’50-an, ’60-an, paling banter ya ’90-an. Begitupun
di My Avilla ini. Lumayan gak mudheng sama seleranya. -_-
Nopel ini keren, tapi bukan
berarti tanpa kelemahan. Salah satunya dari segi point of view. Nopel ini menggunakan POV 1 untuk semua tokoh.
Artinya, semua tokohnya bercerita dalam novel ini, dengan kata ganti ‘aku’.
Sayangnya, kok saya ngerasa gaya bahasanya semuanya sama ya? Bahkan Fajar yang
pendiem itu, saat mendapat ‘tugas’ dari Ifa Avianty untuk bercerita tentang
dirinya sendiri, bisa selancar itu dan gak ada kesan kakunya. Untung aja, tiap
pergantian sudut pandang tokoh, ada keterangan di atasnya. Kalau enggak, bisa
bingung karena gaya bahasanya mirip semua. >_<
Saya lumayan suka dengan gaya
penceritaan di Cinta Semusim, karena
sedikiiit ada perbedaan gaya bahasa di antara tokoh-tokohnya yang saling
bercerita dengan POV 1. Yah, sedikit sih. Karena cuman perbedaan antara ‘aku’,
dan ‘saya’. Yang udah pernah baca, pasti ngerti deh yang saya maksud.
Lalu, perpindahan agama Phil.
Rasanya kok kurang dieksplor ya? Gejolak batin Phil itu gak begitu terasa.
Sedikit penceritaan, eh tahu-tahunya si Phil udah mualaf aja. Terus,
tahu-tahunya udah ditawarin nikah. Sama Margriet sang pujaan hatinya pula.
Dorongan-dorongan, kebimbangan-kebimbangan, dan sebagainya itu cuman
ditampakkan sekilas-sekilas saja. Sayang banget.
Kemudian, tentang Fajar. Cowok ‘labil’
yang kebanyakan ‘galau’ karena masih bingung terus mau belok ke agama yang
mana. Di satu sisi, dia muslim dan terus belajar tentang Islamnya. Di sisi
lain, dia menganggap semua agama sama saja. Makin bingung deh dia.
Bertahun-tahun galau dan gak sembuh-sembuh. Apa karena pikirannya yang ‘terlalu
kritis’ itu? Entahlah. Saya cuman orang bodoh yang gak terlalu memahami apa
yang ada di otak para intelek yang sangat ‘kritis’. -_-
Di bagian akhir, saya merasa alur
terlalu terburu-buru. Kayak ngejar detlen. Tahu-tahu begini, lompat ke paragraf
setelahnya sudah begitu. Beneran buru-buru banget rasanya. Seakan penulis gak
sabar pengen segera menuntaskan cerita ini. Sehingga, ending yang harusnya jadi hal yang paling membekas, nopel ini telah
gagal memberikannya pada saya. Saat menutup buku, yang di pikiran saya cuman, “Udah?
Gitu aja?”. :3
Overall, nopel ini layak kok untuk dikoleksi. Terutama buat yang
suka dengan tema ‘berat’ seperti ini. Meskipun nyatanya, emang gak seberat Zukhruf Kasih-nya Azzura Dayana, atau Bumi
Cinta-nya Kang Abik. Tapi masih
layak untuk direkomendasikan. ^_^
Allahu a’lam.
Madiun, 260913

1 comments :
ternyata kita sama-sama membandingkan novel keren ini salah satunya dengan novel Zukhruf Kasih ya hehe ini resensi saya http://ridhodanbukunya.wordpress.com/2013/12/27/kisah-sang-pencinta-mencari-tuhan/ silakan kalau mau mampir :)
Post a Comment