Dulu, saya pernah sedikit
membahas tentang aneka bentuk 'jilbab' yang tersebar di dunia Islam saat
ini. Sekarang, saya ingin fokus pada satu topik yang lebih rinci. Tentang
selembar kain. Bukan yang menutupi kepala seorang muslimah, melainkan yang
menutupi wajahnya. Ya, ini tentang cadar, purdah,
ataupun niqab.
Dulu, mungkin tahun 2008, saya punya
blog di wordpress. Dan saya pernah
mengunggah tulisan saya ke blog itu tentang cadar. Nama blognya apa, saya
sendiri udah lupa. Yang pasti, tulisan saya tentang cadar waktu itu, kesannya ‘menggurui’
banget. Jauh berbeda dengan gaya tulisan saya yang jauh lebih santai kayak
sekarang ini. :p
Lalu, emangnya sekarang apa sih
yang mau saya obrolin tentang sehelai kain kecil penutup wajah itu? Haduh... apa
ya? Saya sendiri kok jadi bingung. O.o
Dasar Pemakaian Cadar
Seperti yang sudah saya singgung
di tulisan-tulisan saya yang lain, bahwa blog ini hanya berisi sharing saja, dan seringkali tidak
menghadirkan teks dalil. Tapi insya Allah,
yang saya sampaikan ini ada dalil yang menyertainya. Hanya saja, untuk teks
lengkapnya, silakan gugling sendiri. Mbah Gugel kan pinter banget kalau disuruh
nyari-nyari. :D
Dasar utama para pengguna cadar,
adalah perintah Allah pada para muslimah untuk menutupkan jilbab ke seluruh tubuh mereka (Al Ahzab: 59).
Dari sinilah, sebagian ulama berkesimpulan bahwa seluruh tubuh seorang muslimah
adalah aurat. Tapi kemudian dibantah dengan hadits Asma’ binti Abu Bakr yang
masyhur itu, bahwa wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.
Selain itu juga banyak
riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa para ummahatul
mukminin dan sebagian shahabiyah
di masa Rasulullah, menutup wajah mereka dari pandangan laki-laki ajnabi. Syaikh Al Albani menyebutkannya
dalam 2 buku, Jilbab Al Mar’atul Muslimah
dan Ar Raddul Mufhim.
Intinya, memakai cadar memang
memiliki dasar dalam Islam, dan bukan sekadar budaya Arab. That’s it!
Wajibkah?
Hohoho... maap yeee... di sini
bukan tempatnya bahas khilafiyah
dalam fiqh. Sebagian ulama memang ada
yang mewajibkan, tapi sebagian menganggapnya mustahab alias sunnah
saja. Mau ngikut yang mana? Silakan dicari dalil-dalil dan penjelasannya
sendiri ya... :)
Saya pribadi sih, mengikuti
pendapat yang menganggap bahwa menutup wajah itu hukumnya mustahab saja, gak sampai wajib.
Serem dan Eksklusif
Beberapa orang di zaman sekarang
ini, ternyata masih saja ada yang menganggap bahwa orang yang bercadar itu
kelihatan serem. Seluruh pakaiannya berwarna gelap, panjang-panjang, masih
ditambah wajahnya tertutup pula. Wajar sih kalau dianggap serem.
Ada juga yang menganggap pemakai
cadar itu cenderung tertutup alias eksklusif. Mereka jarang mau bicara dengan
orang lain, terutama laki-laki selain suaminya. Bener gak sih?
Soal serem? Hmm... okelah, ini
subyektif banget. Tapi coba lihat deh dokter-dokter dan perawat-perawat di
Rumah Sakit. Seringkali kita lihat mereka pake baju putih-putih, panjang, dan
wajahnya ditutupi masker. Tapi kita ngelihatnya juga biasa aja kan? Terus
kenapa kalau ada muslimah bercadar kita anggap serem? Karena bajunya hitam? Lah
kalau bajunya putih, bisa jadi kita malah kencing berdiri. Apalagi pas ngelihat
di kegelapan malam, tiba-tiba muncul sesosok serba putih yang mukanya gak
kelihatan. Nah lho! -_-
Eksklusif? Hmm... emangnya ente
siapanya dia, berani ngajakin ngobrol? Lagian yang diobrolin apaan dulu? Saya
pribadi, menganggap ‘keeksklusifan’ mereka itu sebagai sesuatu yang classy, berkelas. Iya, mereka itu
muslimah-muslimah berkelas, yang gak sembarangan bisa diajak ngobrol sama
laki-laki yang gak mereka kenal. Ente pengen ngajak ngobrol Mariah Carey, yang
diva dunia itu? Gak mungkin kan? Nah, muslimah bercadar itu jauh lebih berharga
lho daripada sekadar diva dunia. Mereka ini divanya surga kali. #eeeaaaaa :D
Teroris
Ah, itu mah issue lama. Dulu, setelah bom Bali, emang sih istri-istri para
tersangka itu pada pakai cadar. Dari situ, masyarakat menggeneralisir bahwa
teroris itu berjenggot panjang, bercelana ngatung, dan perempuannya bercadar.
Anggapan yang enggak banget.
Tapi setelah film Ayat-ayat Cinta
booming pada 2008, sedikit banyak sepertinya masyarakat mulai tahu, bahwa
ternyata seorang perempuan bercadar, memang ‘hanyalah’ perempuan ‘biasa’
seperti perempuan pada umumnya. Hanya tingkat iman dan pakaian saja yang
membedakan mereka.
Setelah itu, booming juga sinetron-sinetron yang menampilkan tokoh bercadar.
Hah... penyakit industri pertelevisian di Indonesia kan gitu; latah! -_-
Macam-macam Penutup Wajah
Banyak sih. Ada cadar yang satu
sisinya udah dijahit di tepi jilbab bagian wajah, dan sisi lain dikasih
kancing, sehingga bisa dibuka-tutup. Ada juga yang sudah dipatenkan menyatu
dengan jilbabnya, gak bisa dilepas, tapi bisa dibuka-tutup karena dikasih
resleting di sisi samping. Ada yang mengikatkan purdah ke dahinya, sehingga
mata juga tertutup. Ada yang wajahnya sudah tertutup, tapi ditambah lagi dengan
menarik kain tipis di atas jilbabnya untuk melapisi penutup wajahnya, sehingga mata
juga ikutan tertutup. Ada yang kayak dipakai Aisha di film Ayat-ayat Cinta. Ada
pula yang seperti dipakai sama perempuan-perempuan Afghanistan. Banyak deh.
Terserah mau pakai yang mana. (eh, emang abis baca ini ada yang mau pakai ya?
:D)
Mereka Muslimah Tangguh
Para muslimah bercadar itu memang
muslimah-muslimah tangguh. Kebayang gak sih apa yang harus mereka hadapi saat
mereka memutuskan untuk memakai cadar? Mulai dari keluarga yang mungkin syok
dengan keputusan putrinya, kemudian tetangga-tetangga yang pastinya
berkasak-kusuk, kesulitan mencari pekerjaan, pandangan aneh dari orang-orang
saat berada di keramaian, dan sebagainya. Tapi para muslimah bercadar itu
mencoba gak menghiraukan pandangan manusia, karena yang mereka cari adalah
pandangan Allah pada mereka. Jika mereka belum bersuami, satu-satunya hal
penting yang harus mereka yakinkan adalah kesiapan orang tuanya. Jika orang
tuanya merestui, insya Allah, dada
mereka akan lapang meski mendapat cemoohan dari orang lain.
Dulu, saya pernah mendengar seseorang
bicara pada saya, tentang pendapatnya mengenai perempuan yang berjilbab dan
bercadar, “Saya paling gak suka sama orang yang meninggalkan tradisi asli
tempat dia dilahirkan dan justru membawa tradisi Arab! Sombong sekali, wajah
saja gak kelihatan!” Di pikiran saya, kesannya justru pernyataan dia ini yang
menyiratkan kesombongan. Ah, tapi mungkin karena dia juga belum ngerti sih apa
dasar pemakaian jilbab dan cadar itu. :)
Di negeri barat sono, jangankan
cadar, memakai hijab aja masih banyak yang membenci, yang merupakan efek dari Islamophobia. Jadi, muslimah yang berani
bercadar di sana, apalagi kata yang tepat selain ‘keren’ dan ‘tangguh’?
Hanya muslimah tangguhlah yang
akan bersedia menutupi wajahnya dari pandangan manusia, selain mahramnya,
karena mereka yakin mereka melakukan sesuatu yang benar. Para istri Rasulullah
melakukan ini. Para shahabiyah juga
sebagian melakukan ini. Nyatanya, tidak ada larangan dari Rasulullah tentang
menutup wajah, yang menunjukkan diperbolehkannya melakukan itu, bahkan
merupakan sunnah yang disukai jika
diniatkan untuk mengikuti jejak para istri Rasulullah.
Mereka ini muslimah tangguh yang
super keren. Mereka menutup semua pintu fitnah, bahkan sampai celah terkecil
sekalipun. Siapa yang akan tertarik dengan penampilan mereka? Mereka gak peduli
kecantikan di mata manusia. Mereka sudah merasa cantik, dengan
mempersembahkannya pada suaminya saja. Keren kan?!
Gimanapun juga, selalu, saya
merasa kagum pada muslimah-muslimah tangguh itu. Yang istiqamah dengan jilbab lebarnya saja, saya sudah terkagum-kagum.
Apalagi yang dengan keimanan penuh, memutuskan untuk bercadar, demi menutup
celah-celah terkecil yang bisa menimbulkan fitnah di hati lawan jenisnya. Masya Allah... keren banget deh! Keren!
Keren! Kereeenn!!! ;)
Sebagai penutup, berikut saya
kutipkan apa yang disampaikan sama Syaikh Yusuf Al Qaradhawi -hafizhahullah- tentang
perempuan yang bercadar dalam Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid II,
“Bahkan seandainya wanita muslimah tersebut tidak menganggap wajib menutup wajah, tetapi ia hanya menganggapnya lebih wara’ dan lebih taqwa demi membebaskan diri dari perselisihan pendapat, serta dia mengamalkan yang lebih hati-hati, maka siapakah yang akan melarang dia dari mengamalkan pendapat yang lebih hati-hati untuk dirinya dan agamanya? Dan apakah pantas dia dicela selama tidak mengganggu orang lain, dan tidak membahayakan kemaslahatan (kepentingan) umum dan khusus? Sungguh mengherankan! Mengapa wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggang-lenggok dan bergaya untuk memikat orang lain kepada kemaksiatan dibebaskan saja tanpa ada seorang pun yang menegurnya? Kemudian mereka tumpahkan seluruh kebencian dan celaan serta caci-maki terhadap wanita-wanita berpurdah, yang berkeyakinan bahwa hal itu termasuk ajaran agama?“
Allahu a’lam. ^_^
Madiun, 140913



8 comments :
Aku juga punya pendapat yang sama, Muslimah bercadar itu keren!! meski aku sendiri belum bias, tapi aku selalu mengagumi mereka. Dan saat Umrah aku juga beberapa kali mencoba bercadar saat keluar hotel, rasanya damai, dan aman dari tatapan lelaki nakal hehehe :)
iya mbak. cowok2 yg 'normal' biasanya sih males mbak ngliat perempuan yg sama sekali gak keliatan 'apa2'nya. tapi buat yg 'gak normal' karena udah pernah ngaji, justru ngelihat perempuan yg tertutup semua gitu adalah 'godaan iman' yang berat banget :v
Ukhtii izin share ke page para pelajar muslimah bercadar di facebook, ya? Boleh, ngga? Ntar saya sertakan sumbernya, kok :-)
Boleh, silakan saja. Oh iya, saya bukan ukhti. Hehe ^_^
Assalaamu 'alaikum, Cil setuju. Wanita bercadar itu, hebat! Oya, izin repost, boleh? Dipaketkan sama sumbernya kok. ^_^
'Alaikumussalam warahmatullah... Tafadhal... :)
Barakallahu fiikum, ya Allah ana membaca artikel ini sampai saya menangis karena artikel ini sangat mrnyentuh diri ana sendiri, dan ini membuat ana menjadi bersemangat mrnjalankan syariat Allah Subahana Wataala, dan semoga ana tetap Istiqomah Amin
alhamdulillah aku bercadar doakan istiqomah ya dan komen balik ya
Post a Comment