Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Sunnah Style For Men

Bismillahirrahmanirrahim


Sebagai orang yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini, yang serba globalisasi, banyak banget kan invasi-invasi fashion dari dataran Eropa dan Amerika yang serta merta jadi tren, dan kemudian diikuti oleh sebagain kita? Biasanya sih, yang jadi ‘korban’ fashion adalah kaum wanita. Tapi jangan salah, Gan, kaum pria juga banyak kok yang ikut-ikutan tren. :p

Nah, berhubung kayaknya udah sering dan banyak banget ya yang bahas fashion wanita dalam Islam itu seperti apa, kayak tulisan saya tentang jilbab dan cadar kemaren, maka di tulisan kali ini, saya pengen ngobrolin tentang fashion buat para pria dalam Islam. Tapi kali ini, saya mencukupkan pada 2 fashion item yang seringkali disindir oleh masyarakat awam. Apa itu? Jenggot, dan celana ngatung!


Jenggot

Beberapa waktu lalu, keluar sebuah peraturan baru dari perusahaan saya yang mengatur penggunaan seragam dan tata cara berpakaian pegawai. Salah satu yang mengusik saya, adalah poin yang menyiggung tentang kumis dan jenggot. Intinya, bagi pegawai yang berkumis, berjambang atau berjenggot, harap mencukur rapi.

Ternyata bukan cuman saya yang terusik, tapi seorang teman saya yang masinis pun juga ketar-ketir dengan aturan itu. Secara, dia gak pernah memotong jenggotnya, sehingga jenggotnya sekarang panjang. Memotong jenggot, bagi dia sama halnya dengan dosa. Karena setahu saya, dia termasuk orang yang memegang pendapat bahwa memelihara jenggot itu wajib, dan tidak boleh dicukur.

Jenggot, dimiliki hampir seluruh laki-laki di Bumi ini, kecuali mereka yang emang terlahir dengan dagu dan wajah ‘polos’ dan ‘licin’, yang diusahakan bagaimanapun juga jenggot gak bisa numbuh di wajah mereka. Tapi jenggot menjadi kekhususan tersendiri bagi ummat Islam. Kenapa? Karena memang ada perintah dari Rasulullah untuk memelihara jenggot.

Salah satu dasar yang masyhur tentang sunnahnya memelihara jenggot ini, adalah hadits yang menyebutkan tentang 10 hal yang termasuk ke dalam fitrah manusia. Dan memelihara jenggot adalah salah satu hal fitrah tersebut. Banyak juga hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis.

Makanya, gak heran, kebanyakan orang yang disebut sebagai ulama, adalah mereka yang berjenggot. Entah panjang atau pendek, yang pasti ada jenggotnya. Yah, kecuali yang emang ‘licin’ tadi ya.

Jenggot juga merupakan pembeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan berkumis? Udah jamak kita jumpai. Tapi perempuan berjenggot? Dikit banget kan, karena hanya mereka dengan kelainan hormonal saja yang mengalaminya.  Makanya, dalam banyak hadits sering disebutkan bahwa anak laki-laki yang masih kecil itu mirip perempuan. Ya karena dia belum punya jenggot, dan suaranya pun masih kecil persis perempuan.

Saya sering disindir temen, yang nanya kenapa saya memelihara jenggot dan gak mencukurnya kecuali terpaksa. Sebagian temen menimpali bahwa itu sunnah. Sebagian lagi mengatakan, bahwa jenggot kita adalah tempat bergelantungannya para bidadari di surga nanti. Allahu a’lam deh. Untuk alasan kedua itu saya kok belum pernah nemu haditsnya ya? -_-

Tapi, bener gak sih, jenggot sama sekali gak boleh dicukur? Sebagian ulama emang gak membolehkan mencukur jenggot, karena lafadz-lafadz hadits dengan tegas mengatakan a’ful liha, peliharalah jenggot. Imam Nawawi –salah satu ulama dari madzhab Syafi’i- malah mengatakan bahwa seluruh kata tersebut maknanya sama, yakni biarkan saja sebagaimana adanya, tanpa harus diusik alias dicukur. Sebagian ulama lagi, mengatakan bahwa jenggot itu sunnah, tapi mencukurnya juga gak apa-apa, karena bukan sebuah kewajiban.

Nah, karena saya gak pengen terjebak dalam dilema khilafiyah seperti itu, saya ambil kesimpulan: jenggot itu sunnah, kalau bisa sih gak usah dicukur, dan hanya dicukur untuk merapikan jenggot yang posisinya gak karuan, atau karena terpaksa. Jika terpaksa mencukur, kalau bisa jangan sampai tercukur habis (kecuali terpaksaaaa banget).

Makanya, saya take it easy aja sama peraturan baru dari perusahaan yang saya singgung di atas itu. Yang diperintah sama perusahaan kan dirapikan, dan merapikan itu kan gak harus dicukur habis toh? Yang penting kan kelihatan rapi, dan saya udah rapi kok (menurut saya). So, saya sih nyantai aja. :p


Celana Ngatung

Ini fashion item pria yang cukup mencolok juga. Celana di atas mata kaki!

Dasar pemakaian fashion item yang satu ini cukup jelas juga. Banyak hadits yang mengatakan bahwa kain yang berada di bawah mata kaki, maka tempatnya di neraka. Banyak juga yang menyebutkan, bahwa Allah tidak akan mengajak bicara pada hari kiamat nanti, salah satunya adalah pada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong. Dan masih banyak lagi. Ente bisa gugling sendiri deh, Gan. :p

Tapi, sama halnya dengan masalah jenggot tadi, masalah yang satu ini pun gak lepas dari ranah khilafiyah alias perbedaan pendapat dan pandangan. Banyak ulama yang mengatakan bahwa yang dilarang hanyalah mereka yang melakukan isbal –mengulurkan pakaian melebihi mata kaki- dengan diiringi kesombongan saja yang diharamkan, kalau melihat pada nash hadits. Tapi juga gak sedikit, yang berpendapat bahwa isbal itu haram pada semua keadaan, baik karena sombong ataupun enggak. Bahkan dengan dia mengisbal kainnya saja, itu sudah masuk dalam kategori kesombongan, meski tanpa dia sadari.

Saya pribadi sih mendingan gak usah isbal-isbalan deh. Emang sih, banyak hadits tentang isbal, yang seringkali diiringi kata-kata ‘karena sombong’. Tapi banyak juga hadits yang lafadznya umum, yang gak mencakup kesombongan aja, dan hadits-hadits itu juga shahih. Sampai-sampai Al Hafizh Ibnu Hajar –seorang ulama dari madzhab Syafi’i juga- membuat kesimpulan dalam Fathul Bari, tentang 2 ketentuan batasan kain untuk laki-laki:
  • Dianjurkan, dengan mencukupkan diri pada pertengahan betis,
  • Diperbolehkan, yaitu hingga mata kaki.
Batasnya sampai mata kaki, Bro! Asal gak sampai di bawah mata kaki, insya Allah masih gak apa-apa. Celana dengan panjang segitu, kayaknya juga udah cukup panjang kan ya? Lagian, banyak kok manfaatnya gak isbal ini. Di antaranya:

  • Merasa tenang; karena niatnya mengikuti sunnah,
  • Gak ribet; seringkali pas beli celana kan panjangnya sampai lantai tuh, dan itu ribet banget kalau buat saya mah, karena harus melipat celana lagi biar gak nyentuh lantai dan gak keinjek sepatu,
  • Lebih bersih; karena gak menyentuh sepatu, apalagi lantai, alhasil jadinya lebih bersih dan lebih aman dari najis. ^_^
Ada sebagian besar orang, terutama yang mulai mengenal Islam, yang panjang celananya sampai di bawah mata kaki, tapi saat shalat mereka lipat celananya sampai ke atas mata kaki. Mungkin, anggapan mereka, hanya saat shalat saja kita wajib mengangkat kain ke atas mata kaki, karena emang ada hadits yang mengatakan bahwa orang yang shalat dalam keadaan isbal, mereka berada dalam keadaan yang tidak dihalalkan dan tidak pula diharamkan Allah. (Sipp... silakan gugling haditsnya)

Saya juga gak nge-judge mereka-mereka yang masih tetap isbal. Mungkin, mereka termasuk orang yang mengambil pendapat bahwa isbal itu boleh asalkan gak sombong. Nah itu Aa’ Gym, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefry Al Buchori –rahimahullah-, dan masih banyak lagi, celana dan sarungnya juga isbal. Nah, makanya itu saya gak nge-judge apalagi negative thinking. Beliau-beliau ini dikenal sebagai ulama lho, yang pasti keilmuannya gak diragukan lagi. Jadi pasti udah paham masalah kayak gini, dan juga sudah mengambil sikap. Tugas kita adalah menghormati sikap tersebut. Betul?

Yang menyedihkan itu, ada orang yang penampilannya nyunnah banget. Jenggot lebat, pakai gamis atau jubah, celana pakai sirwal yang longgar dan ngatung. Tapi selalu memandang negatif pada mereka-mereka yang jenggotnya tercukur, dan celananya isbal. Parahnya, menganggap dirinya lebih baik dalam hal pengamalan agama, karena tampilannya yang nyunnah itu. Hoho... apa itu malah bukan sebuah kesombongan yang terselubung, Gan? :p

Prinsip saya sih satu: kalau kita mampu, kenapa kita enggan melaksanakan sunnah yang sudah jelas pahalanya? Kalau gak bisa melaksanakan seluruhnya, ya minimalnya sebagiannya kita kerjakan. Insya Allah, hidup kita lebih tenang deh. Gak pakai galau-galauan lagi. :D



Ngawi, 150913


4 comments :

Masih "kesulitan" memelihara jenggot. Punya saya berjambang, dan sampe ke leher-leher, jadi rasanya kayak geli kalau udah panjangnya udah mulai tanggung. Entah, belum terbiasa, mungkin.

 

iya sih, kadang suka berasa geli gitu. makanya saya 'rapikan' aja yg bikin geli itu :p

 

oohh. jadi yang disisakan itu yang di dagu dan sekitarnya aja ya?

 

enggak, Al. yg dinamakan liha itu adalah face hair, itu mencakup jambang yang tumbuh di pipi, bawah bibir, dagu, sampai leher. yg saya maksud 'dirapikan' itu yah dicukur sedikit biar kelihatan rapi, gak 'liar' gitu arahnya. :D

 

Post a Comment