Amerul Rizki

Kutuliskan apa saja. Sesukaku....

Vakum Menulis Fiksi Karena 'Haram'


Bismillahirrahmanirrahim

Perkenalan saya dengan dunia kepenulisan, bisa dibilang sudah cukup lama, sejak tahun 2005 lalu kalo gak salah. Berawal dari Annida, saya sadar, bahwa saya sudah jatuh cinta. Ya, saya jatuh cinta pada fiksi dengan nafas Islami. Maka sejak saat itu, saya mulai rajin corat coret di buku tulis. Maklum, modalnya memang cuma pulpen sama buku tulis, gak ada komputer. Kalo pengen ngetik, ya ke rental aja. Tapi untuk ke rental pun, saya harus melakukan ‘pengorbanan’, dengan memangkas uang untuk makan sehari-hari (maklum lagi, namanya juga anak kos).

Tapi biarpun cuman coretan-coretan di buku dengan tulisan ceker ayam, ada aja temen yang pinjam untuk dibaca. Saya heran, apa gak sakit ya matanya?

Sayangnya, saya harus vakum dari dunia tulis menulis. Setidaknya untuk beberapa waktu.


Vakum

Ketika membaca sebuah artikel, dahi saya berkerut. Saya lupa bagaimana isi persisnya. Yang jelas-jelas saya ingat adalah intinya. Artikel itu membawakan sebuah fatwa dari seorang ulama, bahwa fiksi adalah haram karena masuk dalam kategori kedustaan. Sehingga berdosa orang yang menulisnya. Sedangkan pembacanya, adalah orang-orang yang rugi karena telah menyia-nyiakan waktu untuk membaca sebuah kedustaan.

Akhirnya, karena kepolosan saya, saya telan mentah-mentah isi artikel itu. Hasilnya? Mulai pertengahan 2006, buku saya yang semula penuh dengan coretan ceker ayam, tidak pernah lagi saya buka. Saya menyatakan vakum, dan tidak akan menulis fiksi lagi. Saya berhenti!


Pencarian Jawaban

Sayangnya, keinginan berhenti itu harus terusik, ketika awal-awal 2008, Ayat-ayat Cinta mulai marak diperbincangkan. Hehe… Karena penasaran banget, akhirnya saya baca juga novel itu, biarpun cuman pinjem dari mantan guru saya sih. :p

Ah, akhirnya, saya membaca sebuah fiksi lagi…

Ketika menyelami lembar demi lembar, saya kembali tersadar. Subhanallah… Ini fiksi lho. Sesuatu yang diklaim sebagai sebuah dusta. Namun mengapa dampaknya begitu luar biasa bagi keimanan? Ada suatu kerinduan iman ketika menyelami kedalaman makna ceritanya.

Lalu, saya kembali menulis? Enggak. Tapi kalau sekadar membaca, iya. Kenapa? Karena saya pikir, dosanya kan gak seberapa kalo dibandingin sama yang nulis. Hihi… :p

Setelah banyak membaca fiksi lagi, terutama fiksi-fiksi Islami, pertengahan 2009, saya tergugah untuk mulai menulis lagi, meskipun masih dengan bayang-bayang ‘haramnya fiksi’.  Tapi lama-lama, saya sangat terganggu. Gak tenang gitu. Tahu sendiri kan, bagaimana rasanya ketika kita melakukan suatu perbuatan, dimana perbuatan itu kita anggap sebagai sebuah dosa?

Maka saya pun mencari tahu lagi, sebenarnya, gimana sih kedudukan sebuah fiksi dalam Islam? Saya bertemu dengan beberapa majalah, yang kebetulan juga membahas masalah ini. Semuanya mengatakan boleh, karena fiksi juga bisa menjadi media untuk dakwah. Saya browsing, tanya-tanya sama Mbah Gugel. Artikel yang saya dapat? Kebanyakan seperti dulu. Haram. Ada yang mengatakan mubah, tapi lebih baik ditinggalkan karena merupakan bentuk menyia-nyiakan waktu. Tapi banyak juga saya mendapatkan artikel seperti yang ada di majalah-majalah yang saya baca, bahwa fiksi diperbolehkan.

Ah, kalau begini terus, bisa pusing gua, pikir saya ketika itu. Maka saya beranikan bertanya pada seseorang di Facebook. Seorang penulis, tapi bukan spesialis fiksi. Beliau juga merupakan seorang ustadz yang beberapa bukunya menjadi best seller. Setelah menunggu beberapa hari, ada jawaban di inbox saya. Sebuah jawaban singkat, padat, namun sangat jelas.


Kedustaan itu mengatakan hal yang TIDAK BENAR sebagai hal yang BENAR. Adapun menyampaikan hal yang tidak benar dan sudah dimafhumi ketidakbenarannya nilainya tergantung dari 'ibrah apa yang diambil darinya. Bukankah bagi kita, selalu ada kebenaran dalam 'ketidakbenaran'..? ^_^


Tapi jawaban singkat itu, sepertinya belum memuaskan saya. Maka kembali saya bertanya sana sini. Akhirnya, saya menemukan penjelasan yang sangat saya butuhkan.


Kenapa Nulis Lagi?

Al Quran dipenuhi dengan kisah. Rasulullah banyak memberi pelajaran dengan kisah. Kitab-kitab para ulama ditaburi dengan berbagai kisah. Memang semuanya bukan fiksi, namun yang saya lihat adalah tujuan dari kisah-kisah itu diceritakan. Pengambilan ibrah-lah tujuannya.

Ah, kenapa saya jadi membicarakan masalah fiqh? Rasanya bukan di sini tempat untuk membicarakan fiqh ini. Yang jelas, saya sudah menemukan jawaban yang saya cari. Saya menulis, apapun, untuk turut mencoba memberikan sebertik manfaat bagi orang lain. Bukankah Allah Maha Tahu, dan tidak akan menyia-nyiakan kebaikan ataupun manfaat yang telah kita berikan pada saudara-saudara kita sedikit pun? Apakah jika manfaat yang bisa saya bagi untuk orang lain, maka amalan saya dianggap sebagai sebuah kesia-siaan dan pemborosan waktu?

Saya pun menulis. Apapun. Yang saya yakini hanya satu, bahwa tujuan saya adalah mencoba memberi sedikit ibrah bagi setiap mereka yang membaca tulisan saya. :)


Ke Media?

Iya sih, saya memang sudah kembali menulis, setelah melalui kevakuman yang panjang. Tapi lama gak nulis, membuat saya jadi kikuk ketika menulis lagi. Jadi, boro-boro mau menyerbu media, lha wong nulisnya saja masih acak-acakan. :p

Dulu, awal-awal mulai ‘bergerak’ untuk nulis lagi, saya memanfaatkan media Facebook. Di note-nya itu lho. Alhamdulillah sih, berkat latihan dan hasil ‘pemaksaan’ sana sini untuk memberi comment pada setiap notes yang saya posting di Facebook, saya mendapatkan banyak sekali ilmu tentang kepenulisan, yang sebelumnya tidak saya dapatkan secara otodidak.

Berawal dari sana, saya mulai sering mengikuti lomba dan audisi untuk antologi. Walhamdulillah, beberapa di antaranya ‘menghasilkan’ antologi bersama, baik fiksi maupun non fiksi, meskipun kebanyakan masih lewat jalur penerbitan indie, yang artinya gak dijual di toko buku. :) Sejauh ini, hanya antologi Semiliar Cinta Untuk Ayah aja yang bisa didapatkan di toko buku-toko buku di seluruh Indonesia.

Awal 2011, alhamdulillah lagi, cerpen pertama saya, hasil duet sama seorang ‘saudara kembar yang telah terpisah selama 200 tahun’, akhirnya dimuat di sebuah majalah. Cihuuyyy! Senengnya bukan kepalang tuh! Berasa keren gitu! :D

Tapi, makin lama, saya makin kesulitan nulis fiksi. Bukan lagi karena beranggapan bahwa fiksi haram. Bukan. Karena saya sudah memegang pendapat yang membolehkan penulisan fiksi, asalkan ada manfaat yang bisa diambil dari kisahnya. Kesulitan saya, lebih dikarenakan... apa ya? Mmm... karena 2012 saya pernah vakum lagi sih. Dan sayangnya, kevakuman saya dari fiksi kali ini, bener-bener berefek susahnya saya menulis fiksi. -_-

Sekarang, saya lebih nyaman nulis hal-hal seperti ini. Artikel, pengalaman, sharing, review, yang pasti bukan fiksi. Saya juga gak pernah mengejar-ngejar media cetak hanya demi sebuah eksistensi dan ‘pengakuan’. Saya nyaman nulis di blog sendiri. Karena saya boleh nulis gagasan apapun, selama ada manfaatnya. Biarpun gak menutup kemungkinan, suatu saat saya bisa menyelesaikan draft fiksi yang sudah berkarat itu, lalu mewujud dalam sebuah buku. Haha... diaminkan aja deh ya. xD

Terakhir, saya hanya berharap, semoga saya masih mampu untuk mengisi pena saya dengan dakwah , hingga kuburlah yang menjadi pengeringnya, dan Allah meridhai jalan yang saya tempuh ini. Insya Allah… :)

Ngawi, 130913

NB: Ini merupakan tulisan lama di tahun 2010, saya modifikasi aja karena ternyata belum pernah saya post di blog. Semoga manfaat. :)


3 comments :

Aaamiin...
Dulu saya jg pernah bergaul dengan akhwat Salafi, lalu dia jg bilang klo nulis fiksi itu haram karena bohong.

Gak lama Mba Helvy menyebutkan bahwa dari awal jg sudah dijelaskan bahwa FIKSI adalah cerita yang dituliskan berdasarkan KARANGAN (khayalan) penulisnya, jadi memang TIDAK BENAR. So, sejak awal, pembaca sudah tahu bahwa itu TIDAK BENAR. Artinya, kita gak membohongi pembaca krn memang tulisan itu hanya berdasarkan imajinasi dan pembaca pun sudah mengetahuinya.

Akhirnya, saya gak pernah galau mau nulis fiksi ato gak. Wong skrg aja fiksi islami kalah jauh dgn fiksi Korea, apalagi klo gak ada fiksi islami, gak ada media yg berusaha mensibghoh pikiran para pembaca fiksi toh? XD

 

alhamdulillah sih kalau sekarang udah gak pernah galau karena itu mbak waktu mau nulis fiksi. galaunya itu lebih karena, "ini nulis kok susah banget sih!! ide mana ide???" xD

 

Dan sekarang saya sedang galau. Dimana saya tiba2 jatuh cinta lagi untuk belajar menulis, yang telah ditinggalkan sekian lama. Tp tiba2 suami bilang haram, tak rela istrinya menulis cerita dusta. Serasa menjadi seorang anak yang cintanya tak direstui orang tuanya :'(

 

Post a Comment